Suara Pensil Marina

TAUSYIAHJuly 27, 2007 3:10 am

 

Oleh: CASNADI

 

Waaah, disini masih banyak burung ya ki………..” Kata Mauala, yang tengah duduk beristirahat digubuk ditengah ladang.

 

“Ya Nak, sengaja aki membiarkan pepohonan itu, agar populasi hewan disini, terutama burung-burung itu, tetap lestari………” Kata Ki Bijak.

 

“Iya ki, ditempat-tempat lain, sekarang sudah jarang dijumpai burung-burung bebas beterbangan seperti disini……….” Kata Maula.

 

“Kadang Aki malu pada burung-burung itu Nak Mas……………….” Kata Ki Bijak.

 

Malu pada burung ki…..?” Tanya Maula keheranan.

 

“Iya Nak, coba Nak Mas pikirkan, burung-burung itu sama sekali tidak punya cadangan makanan disarangnya, kemudian burung-burung itu juga tidak punya pekerjaan tetap, burung-burung itu tidak punya kantor, tidak punya saham apalagi memiliki perusahaaan………..” Kata Ki Bijak.

 

“Lalu ki……………..?” Tanya Maula penasaran.

 

“Dengan kondisi yang serba tidak punya itu, burung-burung tidak pernah merasa khawatir bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa menghidupi anak-anaknya, tidak pernah resah esok makan apa, mereka menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kepada setiap mahluk-Nya……….” Kata Ki Bijak.

 

“Burung tidak pernah resah hingga tidak bisa tidur misalnya, burung tidak pernah panik karena tak punya tabungan misalnya, mereka, dengan berbekal keyakinan kepada Allah, terbang dari sarangnya setiap pagi untuk mengais rezeki yang telah dipersiapkan Allah untuk mereka, dan seperti Nak Mas lihat, burung-burung itu, mereka sehat dan tidak kekurangan apapun…………..” Kata Ki Bijak.

 

Maula mulai tertarik untuk mengamati burung-burung yang datang dan pergi, hinggap dipucuk pepohonan, mereka nampak cantik dan anggun, bertengger sambil berkicau riang……

 

“Coba Nak Mas bandingkan dengan kehidupan kita, kita punya pekerjaan tetap, kita mempunyai penghasilan tetap, dirumahpun kita memiliki persediaan makanan minimal untuk satu minggu kedepan, tabungan pun kita masih memilikinya, bahkan banyak diantara kita yang memiliki saham dan perusahaan sendiri, tapi tengok kehidupan kita, hampir setiap hari kita dihinggapi perasaan tidak puas dengan pekerjaan dan penghasilan kita, hampir setiap hari kita dijangkiti rasa khawatir kalau persediaan kita habis, hampir setiap hari kita selalu dipusingkan dengan keinginan untuk menambah penghasilan, sehingga ketika pulang sore hari hingga menjelang tidur, mata kita sulit terpejam, sehingga ketika pagi tiba, tubuh dan pikiran kita pun lelah tak karuan, uring-uringan dan lain sebagainya, apa yang kurang pada kita……………?” Kata Ki Bijak.

 

Maula tertegun, menyadari kebenaran ucapan gurunya, karena ia pun kerap merakan hal yang sama seperti yang diucapkan gurunya, ia kerap merasa bingung meskipun baru sehari yang lalu gajian, ia pun kerap merasa resah meskipun persediaan makanan masih berkecukupan, ia pun kerap merasa khawatir dengan hari esok yang belum pasti dan masih dalam khayalan………..;

 

“Iya ya ki, Apa yang kurang dari kita ………?” Kata Maula setengah bertanya.

 

“Yang kurang dari kita adalah keimanan dan keyakinan kita terhadap kebenaran janji Allah, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki seluruh mahluk-mahluk-Nya………..” Kata Ki Bijak.

 

“Nak Mas perhatikan firman Allah berikut”  Kata ki Bijak menguti firman Allah dalam surat Huud:6

 

* $tBur `ÏB 7p­/!#yŠ ’Îû ÇÚö‘F{$# žwÎ) ’n?tã «!$# $ygè%ø—Í‘ ÞOn=÷ètƒur $yd§s)tFó¡ãB $ygtãyŠöqtFó¡ãBur 4 @@ä. ’Îû 5=»tGÅ2 &ûüÎ7•B ÇÏÈ   
6.  Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

 

[709]  yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710]  menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

 

“Semut yang berada didalam bumi paling bawah, ikan yang berada didasar laut yang paling dalam, beruang yang berada dikutub, kuman yang terkecil sekalipun, gajah dilebatnya hutan sekalipun, dan apalagi kita manusia, tidak ada satupun yang luput dari Allah, dan pasti mereka mendapatkan jatah rezeki dari Allah……..”Kata Ki Bijak.

 

“Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa seperti burung-burung yang senantiasa riang, tanpa terlalu dipusingkan oleh urusan dunia yang berlebihan, ki………..’Tanya Maula.

 

“Berlakulah seperti burung-burung itu Nak Mas, yang pertama yang harus kita miliki adalah pondasi keimanan yang benar, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kita, bukan atasan, bukan pula perusahaan, untuk itu jika kita berkerja, bekerja-lah untuk Allah saja, bukan semata demi gaji, bukan semata karena ingin dipuji, lillahita’ala, insya Allah,kita akan lebih rileks dan ringan menjalani kehidupan kita……….” Kata Ki Bijak

 

“Yang kedua,”terbanglah” setiap hari untuk menjemput rezeki kita, jangan malas, jangan bermimpin bahwa rezeki datang dari langit, sementara kita hanya berpangku tangan, karena kita masih berada dialam ihtiar, maka sempurnakan ihtiar kita, kemudian serahkan hasil ihtiar kita sepenuhnya kepada Allah …..”Kata Ki Bijak

 

“Yang ketiga, perkayalah diri kita dengan sikap qana’ah, rasa kecukupan, terlepas dari berapa pun yang kita dapatkan dari ihtiar kita, insya Allah, kita tidak lagi akan menanggung beban yang terlalu berat akibat keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang berlebihan……….” Kata Ki Bijak lagi.

 

“dan jangan lupa, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, jangan menggerutu, jangan mengeluh, karena sesungguhnya Allah telah memberi kita jauh lebih banyak dari apa yang kita minta……..” Kata Ki Bijak.

 

“Lebih banyak ki…..?Tanya Maula.

 

“Ya, pemberian Allah kepada kita jauh melebihi apa yang kita minta,kesehatan yang hampir tak pernah kita minta, Allah telah memberinya, kelengkapan jasmani kita, tangan kita, mata kita, kaki kita dan lainnya, adalah pemberian Allah yang kita tidak pernah memintanya, tapi Allah telah memberikan semua itu sebagai modal kita untuk mengabdi kepada-Nya…….”Kata Ki Bijak.

 

“Allah-pun telah memuliakan kita melebihi kemulian yang diberikan Allah kepada mahluk-Nya yang lain, akal kita, iman dan islam kita, yang Allah tekah karuniakan kepada kita, jauh lebih banyak dan lebih besar dari sekedar permintaan kita untuk naik gaji, naik pangkat, minta jabatan dan lainnya……..”Kata Ki Bijak.

 

Tak terasa, air bening mengalir kepipi Maula, matanya memerah, nafasnya sedikit tersengal, Ki Bijak membiarkan muridnya untuk menumpahkan segenap rasa yang bergejolak didada Maula.

 

“Astaghfirullaaah…, astaghfirullah……..” rintih pelan terdengar dari mulut Maula.

 

Ki Bijak maklum dengan perasaan muridnya yang memang sensitif ketika mendengarkan wejangan-wejangannya,

 

 “Masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri jika selama ini kita masih banyak mengeluh, jika selama ini kita selalu saja menggerutu dan khawatir dan tidak yakin dengan janji Allah, bersegerlah bertobat, mumpung kita masih diberi waktu……….” Kata Ki Bijak.

 

Tak terdengar jawaban apapun dari Maula, hanya isaknya terdengar lebih menyesakan, air matanya berlinang, bersyukur bahwa Allah mengingatkannya melalui lisan Ki Bijak Gurunya.

 

Wassalam

 

Juli 26, 2007
TAUSYIAH 2:51 am

Oleh: CASNADI

Dalam sebuah acara pengajian di Masjid Mifthahusallam Cikampek beberapa waktu lalu, Pak Kyai membuka Tausiahnya dengan kata pembuka yang “tidak lazim” dan tidak seperti biasanya;
“Kepada para calon ahli kubur yang dimuliakan Allah……………………………dst” Demikian kata pembuka dari Pak Kyai.
Sambutan dan kata pembuka dengan kata ganti “ahli kubur” adalah mungkin pertama kali didengar oleh jama’ah yang hadir, sehingga mereka tampak sedikit “heran”
“Bapak, ibu ridha saya panggil calon ahli kubur?” Sambung Pak Kyai sepert mengerti keheranan dilubuk hati kami.
“Ridha…………….” Jawaban sebagian jama’ah, sementara sebagian yang lain masih tampak kebingungan.
“Bapak, ibu dan hadirin sekalian, sengaja saya membuka Tausiyah ini dengan menyapa hadirin dengan sebutan calon ahli kubur, karena sekarang ini sudah banyak diantara kita yang lupa akan kematian, sudah banyak diantara kita yang lupa bahwa suatu saat nanti, pasti ia akan menjadi mayat dan menghuni kubur…………………..” Jelas Pak Kyai selanjutnya.
Jama’ah yang hadir nampak mulai menemukan titik terang arah pembicaraan Pak Kyai, yakni untuk mengingatkan kepada jama’ah khususnya dan kepada semua manusia, bahwa kehidupan ini ada batasnya, bahwa hidup ini ada akhirnya, bahwa kita semua akan mati!
“Bapak, ibu hadirin sekalian, kenapa kita harus mengingat mati? Pancing Pak Kyai
Tanpa menunggu jawaban dari jama’ah yang hadir, Pak Kyai melanjutkan;
“Banyaknya orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta, hingga kadang lupa waktu, lupa kewajiban terhadap tuhannya, atau bahkan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan dan menumpuk harta kekayaan, salah satu faktornya adalah karena mereka lupa bahwa mereka akan mati”.
Harta kekayaan yang mereka kumpulkan sama sekali tidak akan mampu membebaskan mereka dari sunnatullah kematian, harta kekayaan mereka juga tak mungkin menolak kehadiran sang tamu terakhir yaitu Malaikat Maut.
Harta kekayaan yang mereka banggakan didunia, sama sekali tidak dapat dijadikan teman mereka didalam dekapan tanah kuburan yang dingin dan gelap serta sempit, sama sekali tidak!
“Kemudian kita juga sering menyaksikan dan menjumpai orang yang rela mengorbankan segalanya, termasuk akidah sekalipun untuk memperoleh pangkat dan jabatan, seolah-olah pangkat dan jabatan itu mampu menyelamatkan mereka dari kematian”.
Sekali-kali tidak! Kematian akan datang menjemput siapapun, karena itu merupakan sunnatullah, bahwa setiap yang bernyawa akan mati.
Kita juga sering menyaksikan betapa banyak orang yang berfoya-foya dalam hidupnya, menghabiskan waktu dan jatah umurnya hanya untuk berandai-andai dan panjang angan, betapa banyak orang yang menghabiskan jatah umurnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang tidak berguna bahkan menyimpang jauh dari tujuan penciptaan mereka, mereka menghabiskan waktu dimeja judi, mereka menghabiskan waktu ditempat karaoke, mereka menghabiskan waktu untuk bercanda yang tiada guna, mereka menghabiskan waktu dengan mengumbar cerita dusta, seakan-akan mereka akan hidup selamanya, sehingga waktu yang menggeroti jatah hidupnya tak lagi dipedulikan dan diperhatikannya.
Kematian adalah nasehat….ajal yang menjemput seolah berkata-kata kepada kita;
“Kini saatnya engkau meninggalkan jasadmu dan meninggalkan semua yang kau cintai didunia ini”
“Tak guna apa yang kau usahakan diduniamu dengan keserakahan, karena pada hari ini, aku, maut menjemputmu tanpa menyertakan apapun yang kau miliki”
“Tak guna hartamu yang bertumpuk dan berlimpah, karena aku, sang maut tak pernah terhalang oleh tumpukan harta untuk mencabut nyawamu”
“Tak berarti tinggi pangkatmu, karena aku, sang maut tak pernah peduli setinggi apa kedudukanmu didunia”
“Tak mungkin aku, sang maut mengulur waktu barang sedetikpun untuk memberi kesempatan kepadamu untuk bertobat, karena selama ini engkau telah lalai dalam menghabiskan waktumu”
“Tak ada jatah tambahan bagimu, meski engkau menyesal seluas langit dan sepenuh bumi, karena saat ini adalah akhir bagi kehidupanmu”
Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersiap diri dengan bekal perjalanan abadi nanti, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.
Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menggunakan waktu dengan bijaksana, karena waktu dan jatah hidup kita bukan tanpa batas
Kematian mengajarkan kepada kita bahwa harta, pangkat dan jabatan yang kita sandang didunia menjadi tiada guna.
“Wahai sahabat, mungkin hari ini engkau yang mengantar jenazah saudaramu kesini, kekuburan ini, esok lusa mungkin tiba giliranmu untuk diusung dikeranda dan ditimbun dengan tumpukan tanah, sahabat, sanak keluarga serta semua orang yang mengantarmu, mereka beramai-ramai menimbunmu dengan tanah, menginjak-injak kuburanmu yang basah, dan setelah itu mereka berlalu meninggalkanmu sendirian dalam himpitan liang lahat yang gelap dan menakutkan, tanpa menoleh, tanpa peduli bagaimana kondisimu didalam kubur sana”
Jika engkau termasuk orang yang beriaman dan beramal shaleh, rajin dan baik amalmu selama didunia, maka kuburmu mungkin menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagimu selama menunggu kiamat tiba. Tapi jika engkau termasuk orang-orang dhalim lagi berdosa, maka kuburmu adalah neraka, karena disana engkau akan merasakan kedinginan, kegelapan, dan siksa.Naudzubullah.
“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa tertawa, tapi siapa yang menjamin besok kita bisa melakukannya? Esok lusa, ketika kematian datang, jangankan tertawa, untuk sekedar senyumpun kita tak akan mampu lagi, mulut kita akan tertutup rapat disumpal kapas putih yang akan menemani kita keliang lahat.
“Mulut dan lidah yang kala didunia digunakan untuk menyampai kebenaran dan dakwah, akan dibalasi Allah dengan rahmat-Nya, sementara mulut dan lidah yang kala didunia lebih banyak digunakan untuk ghibah dan fitnah, akan diberi minum dari cairan panas yang mendidih, yang akan menghancurkan rongga mulut dan lidah kita, Naudzubullah”
“Wahai sahabat, hari ini mungkin mata kita masih melihat matahari, tapi siapa yang tahu esok atau lusa, ketika kematian datang, mata kita akan terpejam rapat tanpa bisa berkedip sekalipun”
“Mata yang ketika didunia senantiasa menangis menyesali dosa dan bertaubat, mata yang ketika didunia digunakan untuk berjaga dalam jihad dijalan Allah, mata yang kala didunia terjaga dari pandangan nakal dan syahwat, adalah mata yang tidak akan menangis diakhirat kelak karena rahmat Allah, sementara mata yang liar tak terkendali dari hal-hal yang diharamkan Allah, mata yang tak pernah menangis menyesali dosa kala didunia,mata yang begadang karena hal yang tiada guna, akan menangis tersedu sedan menahan sakitnya siksa neraka, Naudzubillah”
“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa melangkahkan kaki dan mengerakan tangan kita, tapi esok atau lusa, ketika kematian menjelang, tangan dan kaki kita terbujur kaku tanpa daya”
“Tangan yang senatiasa bersedekah, tangan yang senantiasa tengadah berdo’a dan mohon ampun kepada Allah, tangan yang ringan untuk menolong sesama, tangan yang senatiasa terjaga dari berbuat kerusakan, tangan ini akan mendapat rahmat Allah Swt, sementara tangan yang selalu berbuat kerusakan, selalu bersembunyi dibalik punggung karena kekikiran, tangan yang tak pernah terulur untuk membantu sesamanya, adalah tangan yang akan mendapat azab dari Allah Swt, Naudzubilla”
“Kaki yang senantiasa ringan melangkah kemasjid, kaki yang senantiasa riang menuju majlis ilmu, kaki yang senantiasa berdiri kokoh untuk shalat, adalah kaki yang dirahmati, sementara kaki yang melangkah pasti ketempat maksiat, kaki yang malas melangkah kemasjid dan masjlis ilmu, kaki yang gontai kala shalat karena malas, adalah kaki-kaki yang dilaknati, Naudzubullah.
Maka dari itu, ingatlah akan kedatangan kematianmu yang pasti terjadi, agar engkau tidak lalai dalam menggunakan waktumu, agar engkau tidak silau dengan gemerlap duniamu, agar engkau sadar, bahwa kematian adalah sebuah kepastian.
Kematian, bagi orang beriman dan beramal shaleh adalah sebuah gerbang menuju perjumpaan dengan sang Pencipta.
Kematian, bagi orang yang kafir lagi durjana, adalah gerbang yang akan menggiring mereka kedalam tungku neraka.
Maka dari itu, mari kita segera bersujud mengumpulkan bekal terbaik kita untuk perjalanan panjang nanti, dan bekal itu bisa berupa harta yang dinafkahkan dijalan Allah dengan Ikhlas, Ilmu yang diamalkan, bisa pangkat dan jabatan yang digunakan untuk menegakan agama Allah, jihad fi amwalikum wan anfusikum, agar kelak menjelang kepulangan kita kekampung abadi, buah amal harta kita, buah amal ilmu kita, buah amal pangkat dan jabatan kita, buah amal jihad kita, dapat menjadi bekal yang akan menemani perjalanan panjang nanti.
Wassalam
April 11, 2007
General, CERPENJuly 25, 2007 9:01 am


“Mbak kenalin, ini Mutia …Mutia ini Mbak Rieka…”

            Aku mendongak dari kertas kerjaku mendapati  Ben adikku dan seorang gadis di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku.

            “Hai,…aku Rieka, mudah mudahan Ben cerita yang baik baik saja tentang aku..”selorohku sambil mataku menyisir gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

            “Ben cerita tentang Mbak baik semua kok Mbak..” gadis itu menuai senyum.

            Ben mengajak Mutia ke ruang keluarga meninggalkan kamar kerjaku setelah sedikit berbasa basi aku meneriakkan Surti menghidangkan minuman.

            Melihat mereka keluar aku tersandar di kursi kerjaku. Tulisan yang sejak sejam lalu berusaha kurampungkan terabaikan.

            Kuperhatikan punggung mereka berdekatan di depan TV di ruang keluarga. Kulit Ben yang putih bersih begitu kontras dengan Mutia, gadis itu. Menurut ku seperti iklan Benetton.

            Aku berpikir apakah Ben sedang mabuk atau kena trauma di suatu tempat, sehingga belakangan ini ceritanya padaku melulu soal Mutia yang ditemuinya di kampus. Dalam bayanganku selama ini, gadis bernama Mutia itu..pastinya cantik, berkulit putih bersih, berambut lurus berkilau seperti iklan shampoo. Minimal tidak kurang cantik dengan mantan mantan Ben yang dulu ; Shirley yang wajahnya kerap muncul di cover majalah ,Mitha pramugari sebuah Maskapai nomor satu di Indonesia, Clara dan Susan, dua nama terakhir itu teman sekampusnya. Aku pernah sampai pusing menerima puluhan sms dari gadis gadis itu ,meratapi hubungannya dengan Ben yang kandas satu persatu.

            Ben adikku memang berbeda. Wajahnya mewarisi wajah Papa. Hidungnya bangir, kulitnya bersih dengan garis laki laki yang membuatnya terlihat begitu jantan. Dia seperti pangeran pangeran tampan di komik komik jepang. Tubuhnya begitu atletis padahal ia tidak begitu rajin meluangkan waktunya untuk kebugaran. Berjalan dengan Ben di pertokoan terkadang membuatku risih juga, karena pastinya beberapa pasang mata akan menoleh kesekian kalinya pada Ben, bahkan para pencari bakat yang gemar duduk duduk di Mall untuk mencari bintang bintang baru kerap menyambangi kami. Ben Cuma tertawa dan bilang tidak.

            Kini Ben kembali memperkenalkan seorang gadis yang dicintainya padaku. Apa yang kubayangkan tentang seorang Mutia buyar sudah. Yang dibawa Ben ke hadapanku bukan seorang gadis cantik berparas bak manekin di toko baju, tapi seorang gadis biasa. Sangat sangat biasa. Tidak semampai, rambutnya tidak terurai lurus berkilau tapi ikal dan tambah aneh dengan diikat bergelung, dan berkulit hitam.

            “Mbak, kita mau pesan Pizza, Mbak mau apa?” tiba tiba Ben sudah di hadapanku lagi, berdiri dengan tubuhnya yang menjulang atletis. Adikku yang ganteng ini.

            “Mbak…Mbak nggak kenapa kenapa kan?”

            Aku berdehem mengusir halusinasiku barusan. Walaupun itu nyata bukan ilusi belaka.

            “Ben, itu…Mutia yang itu ..kan?”

            Alis mata Ben bertaut, kelihatan sekali ia bingung. Ia melirik ke arah ruang TV dimana Mutia-nya masih duduk manis di situ.

            “Ya…iya…yang belakangan ini aku cerita ke Mbak…pacarku….kenapa sih..?”

            “Ooh…ya nggak apa apa…”kataku sambil memusatkan pandangan ke laptop.

            “Mbak pesenin salad saja,Ben…”

            Ben berlalu lagi dari hadapanku. Aku menatap punggungnya gamang.

————–ooOOoo———————

            Memangnya waktu itu kenapa putus dengan Ben?

            Aku menekan tombol send pada ponselku. Dan gambar amplop terbang muncul di layar. Baru saja aku membalas  sms dari Susan, pacar terakhir Ben sebelum Mutia. Susan masih uring uringan dan belakangan sering berbasa basi menelponku atau kirim sms sekedar ingin tau perkembangan mantan pacarnya, adikku. Aku selalu meladeni teman teman Ben dengan sabar, karena menurutku sebagai kakak aku harus bisa masuk ke  ke hidupan adikku, aku harus bisa menjadi teman bagi Ben, menjadi kakak dan bahkan menjadi ibu. Karena kami Cuma tinggal berdua semenjak Papa dan  mama meninggal tiga tahun lalu.

            Ponsel ku mengeluarkan bunyi Bip Bip dua kali.

            Ben naksir anak fakultas lain,semenjak kenal itu cewek sifatnya berubah drastic padaku,Mbak. Namanya Mutia. Sudah dikenalin,Mbak?

            Hee…?? Ben bisa berpaling dari Susan yang wajahnya lebih cantik dari model iklan sabun di TV ..karena Mutia?

            Aku meletakkan ponselku di sisi laptop. Menerawang  ke luar jendela kantorku yang berada di lantai dua puluh.

            Ada apa dengan adikku. Kenapa seleranya jadi drop begitu. Kalau dia akan bilang karena cinta aku akan berpaling muka menyembunyikan senyum sinisku. Aku tak percaya  cinta bisa membuat  buta mata.

            Belum lagi, Ben harus berhadapan dengan keluarga besar kami. Aku tak mau membayangkan apa yang ada dalam kepala mereka jika suatu saat Ben ternyata serius dan memperkenalkan Mutia.

            Sepertinya aku harus bicara dengan Ben. Mungkin Ben bisa memberikan alasan yang bisa membuatku mengerti tentang pilihannya.

            “Ben,temenin Mbak ngopi yuk…”sapaku lewat ponsel.

            Kami bertemu setengah jam kemudian di coffee shops lantai dasar kantorku.

            “Ben, Mbak mau Tanya….kamu tuh beneran sama Mutia..?” aku mengaduk  cappuccino ku tanpa memandang wajah adikku.

            “Bener Mbak….nggak ada yang salah kan sama dia..?”

            “Memang nggak ada yang salah sih Ben,..Cuma kok yang ini beda sekali sama pacar pacar kamu dulu….”

            “Bedanya..?”

            Aku meneguk minumanku. Apa yang ada dalam pikiran Ben saat ini. Dia bertanya bedanya padaku..??

            “Hm…yaa secara..secara…penampilan begitu…”

            “Fisik?”

            “Yaa begitulah, tumben banget kamu pilih yang tipe ini….sampai bisa bikin kamu mutusin Susan?”

            Ben terkekeh pelan. Wajah tampannya terlihat memerah sedikit. Tepatnya merona merah. Rasanya dulu waktu pun ia pacaran dengan si model Shirley dia tidak pernah merona rona merah seperti ini, persis ABG yang baru merasakan jatuh cinta.

            “Susan nggak ada apa apanya dengan Mutia Mbak….dan yang minta putus itu Susan…bukan aku”

            Aku hampir tersedak waktu Ben bilang Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia,sembari kuingat ingat apakah sebetulnya Ben mengatakan sebaliknya cuma aku salah dengar? Harusnya Mutia yang nggak ada apa apanya dibanding Suzan?

            “Dalam hal apa Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia?”

            Ben memandangku, rona merahnya sudah hilang. Kali ini yang menatapku adalah mata serius nya.

            “Aku nggak bisa mendefinisikannya Mbak…semuanya dari hati sih….Pokoknya Mutia the best buat aku..susah ya dijelasin,Mbak..”

            Dan sore itu berlalu tidak seperti yang kuharapkan. Tetap saja aku tidak mendapatkan jawaban yang logis. Kalau atas nama cinta aku tidak bisa menerima dalam pikiran sehatku.

            Semenjak sore itu, Ben makin sering membawa Mutia ke rumah, dan semakin dalam ketidakpercayaanku akan apa yang di lihat Ben dari Mutia. Gadis itu pendiam pula, dengannya lebih banyak aku yang bertanya dan bicara. Dan dia hanya menjawab apa yang kutanyakan selebihnya hanya senyumnya mengembang.

            Gadis itu pencinta alam, dia sudah mendaki Everest bersama tim pendaki kampusnya. Terlihat sih di tangan tangannya yang berurat. Dan kalau sedang digenggam oleh tangan Ben aku lebih baik tidak melihatnya. Terlalu kontras. Kadang terpikir untuk memberikan ide perawatan kulit buat Mutia pada Ben, misalnya ikut therapy memutihkan kulit, menghaluskan dan sebagainya. Tapi selalu urung kulontarkan.

            Mutia terlihat sangat mencintai Ben. Pasti lah. Ben ganteng dan walaupun  kami yatim piatu kami masih bisa hidup serba berkecukupan dengan peninggalan orang tua kami. Kami tak kurang suatu apapun.

            Gadis itu terkadang datang sendiri, dan tidak selalu pada saat Ben ada di rumah. Misalnya sehabis mengajar anak anak jalanan di rumah singgah dia suka mampir ke rumah.

            Seperti hari ini ketika aku sudah dua hari tidak bisa masuk kantor karena vertigo ku kumat. Maklum, bekerja kadang tak kenal waktu dan tidak cukup memanjakan tubuh dengan istrirahat.

            Mutia datang dengan menenteng satu kotak donut. Pandanganku masih berputar putar ketika gadis itu menghampiriku di kamar.

            “Mbak, makan yuk….” Katanya sambil menyentuh lenganku dengan telapak tangannya yang mungkin tidak pernah tersentuh hand body lotion.

            Aku menggeleng,sejak tadi aku sibuk mencari posisi berbaring yang enak supaya mual dan peningku tidak menjadi jadi, “Nggak Mut….belom bisa makan…kamu dari mana?”

            “Dari habis ngajar ,Mbak…Mbak ada obat yang harus diminum nggak, biar ku ambilkan?”

            Aku menggeleng, dalam keadaan mata tertutup pun semua yg kurasakan  berputar hebat.Isi perutku bergejolak ingin keluar.

            “Mut…mbak mau…”

            Hoeekkk !! Aku terlonjak kearah Mutia dan keluarlah isi perutku. Aku bisa melihat muntahku membasahi baju dan roknya.

            Mutia membantuku duduk dan mengurut leherku lembut,”Keluarkan semuanya mbak, muntahkan saja, supaya lega…muntahakan saja Mbak!”

            Aku masih muntah beberapa kali. Mutia menggapai minyak angin dan menggosokkannya ke leher dan kepalaku. Tubuhnya basah sudah. Oleh mutahku. Yang aku sendiri jijik, tapi ekspresi wajah gadis itu biasa saja. Tidak sedikitpun tersirat rasa jijik atau geli. Dengan sigapnya ia menggantikan bajuku dan mengelap bekas bekas muntahku dibantu Surti yang baru datang beberapa menit terakhir.

            Aku merasakan kelegaan di kepala dan perutku.

            “Mut..maaf kamu jadi kotor begitu…ambil saja baju Mbak..pakai dulu Mut…” ujarku.

            Mutia masuk ke kamar mandi yang letaknya di dalam kamarku dan keluar dengan mengenakan baju rumah milikku. Wajah dan tubuhnya sudah bersih, dan dia kembali duduk di sisiku.

            “Mut maaf ya jadi ngerepotin kamu…”aku merasa betul betul sungkan. Kalau aku jadi dia mungkin aku sudah ikut muntah muntah di tempat karena jijiknya.

            “Ah Mbaak nggak apa apa kok…namanya juga sedang sakit. Mbak mesti isi perut tuh kan sudah keluar semua isinya…”

            Aku menemukan sorot mata  yang lembut di balik poninya yang tidak menarik itu, begitu lembut dan bening. Begitu tulus.

            Ketika sore Ben pulang dari kampus dan bingung mendapatiku dan Mutia mengobrol akrab di kamarku dan Mutia dengan mengenakan bajuku.

            Ada binar binar di mata adikku itu. Entah haru entah apapun. Dan rona merah itu menyemburat lagi.

            Dan ketika Ben pamit untuk mengantar Mutia pulang aku mengiyakan dengan tulus. Kali ini betul betul tulus tanpa ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aku merangkul Mutia. Entah kenapa aku ingin melakukan itu. Aku bisa merasakan aroma shampo samar samar dari rambutnya, yang kutahu pasti bukan shampoo mahal seperti yang kupakai.

            Sekali lagi kuucapkan terimakasih yang tulus padanya. Mutia hanya tersenyum saja. Dan aku baru menyadari juga kalau senyum nya itu begitu biasa tapi penuh keihlasan.

            ————————oooOOooo—————-

            Malamnya Ben pulang dari mengantar Mutia dan langsung kupanggil masuk ke kamarku.

            “Ben…antar Mutia sampai rumah kan?”

            Ben mengangguk,”Kenapa Mbak…”

            “Mutia cerita nggak kejadian siang ini…”

            Ben adikku memandangku  dengan wajah bingung,”Cuma bilang Mbak pusing pusing dan muntah aja…”

            Hmm…gadis itu bahkan tidak menceritakan betapa menjijikkannya mendapat hadiah muntahanku ke seluruh baju dan roknya.

            “Ben…sekarang Mbak ngerti kenapa kamu mencintai Mutia….dia..memang beda…”

            Adikku duduk di hadapanku dengan kening bertaut,”Mbak, sebetulnya Mutia belum bilang menerimaku…dia Cuma bilang jalanin aja dulu yang bisa kita jalani…nggak perlu mengumbar kata kata cinta atau apalah…”

            Wow…!

            Mungkin buat seorang gadis biasa seperti Mutia, kata kata cinta itu tidak perlu. Sementara perempuan lain di sekitar Ben sangat ingin mendengar kata itu keluar dari mulut Ben dan akan segera menganggukkan kepala.

            Mungkin kata kata cinta justru membuat gadis itu jengah?

            Sekarang aku mengerti apa yang ada dalam kepala adik laki lakiku. Dan memang ternyata Shirley atau Susan atau siapaun tidak ada apa apanya dibanding Mutia.

            “Kamu jaga saja hubungan kamu Ben,…dia gadis yang baik..Kakak mengakui deh…” ujarku pelan,”soal fisik…hmm kulitnya itu…mungkin …bisa pakai braso atau apa gitu…supaya lebih cemerlang….buktinya..pajangan Mama yang menghitam saja bisa  lebih bersih pakai braso…”

            Ben memapahku ke tempat tidur seolah aku sedang sakit parah,”Mbak perlu istirahat banyak nih mbak…” ujarnya.

—————-ooOOoo————————–

                                                                                                                                                    24-07-2007

           

           

           

MY FLASH FICTIONFebruary 3, 2007 4:27 pm

Burhan menatap taman di hadapan kami dengan mata nanar. Udara pagi ini terasa begitu dingin, menusuk tulang.

            Aku merapatkan jaket, “Han,sudahlah…tidak usah dipikirkan… …”

            Burhan menoleh padaku pelan pelan, “Seharusnya kita bisa menikah…”

            Kutekan kepalaku dengan  ujung jari yang terasa dingin. Sudah dua hari kami membicarakan tentang jalinan cinta ini.

            Burhan menghela nafas pelan, “Kamu harus berjanji Rat, kamu akan baik baik saja,..menjaga kesehatanmu…seandainya mungkin aku ingin sekali selamanya berada di dekatmu. Menikahimu…”

            Ah, betapa romantisnya. Telah berapa lama dari usiaku aku tak merasakan gejolak cinta seromantis dengan Burhan. Entah berapa lama.

            Tapi demikian indahnya jalinan cinta ini kami sulit untuk bersatu.

            “Aku akan selalu mengingatmu Rat,…”

            Aku menitikkan airmata. Hari ini kami akan berpisah.

            “Mbaah!!” 

            Tiga orang laki laki dan perempuan muda mendekati kami duduk. Yang satu menangis memeluk Burhan yang juga menitikkan airmata.

            Jadi Burhan akan dijemput Oleh cicitnya setelah sekian lama berdiam di sini.

            Seorang dari mereka menoleh ke arahku sambil mengangguk ragu.

            Kenapa? Kalian aneh melihat kekasih Mbah Buyutmu ini? Begitu rentanya, duduk di atas kursi roda.

            “Ini Mbah Ratini…” kata Burhan sambil menatapku dengan mata berair.

            Lalu anak anak muda itu mendorong kursi roda Burhan menjauh. Meninggalkanku terpekur menatapnya sampai menghilang di pintu pagar panti werda tempat kami bertemu dan saling jatuh cinta. Di usiaku yang sembilan puluh delapan tahun ini. (216 words)

MY FLASH FICTIONJanuary 25, 2007 3:13 am

“Memang kenapa sih Bu? “

“Pokoknya kamu nggak boleh main lagi ke rumah Ricky. Ibu Nggak suka! Titik!”

“Iyaa tapi kenapa? Ricky kan baik. Dia selalu mau jagain aku, setiap hari!”

Meira menatap anaknya dengan tatapan marah. Luna ,yang diajak bicara malah melengos dan berjalan menjauh. Meira berdiri dan mengejarnya.

“Hei! Ibu belum selesai!” teriak Meira gemas.

“Pokoknya Ricky baik! Ibu nggak tau sih!” Luna berhenti dan memandang ibunya marah.

 Ia duduk dengan kesal.Kenapa Ibu nggak ngerti sih. Ricky itu cowok yang paling baik yang dikenalnya. Dewasa dan pengertian. Setiap sore ia selalu siap di halaman menunggu Ricky pulang kuliah. Lalu cowok ganteng itu akan menyapanya dengan sayang, dengan gemas dan dengan matanya yang bagus itu. Ketika malam datang, ia sering memimpikan cowok tetangga sebelah itu.

“Bu, tau nggak sih. Ricky itu selalu bilang aku cantik! “

Luna menerawang…karena itulah ia sekarang rajin bersolek.

Ketika Luna kembali berdiri dan siap siap untuk pergi,Meira menangkap lengan putrinya lalu menariknya ke kursi. Di dudukkannya gadis cilik itu. Luna menjulurkan kakinya dengan sebal dan membiarkan Ibunya memasang kaus kaki pink itu.

“Kamu itu baru kelas satu sekolah dasar! Seharusnya juga memanggil Ricky itu dengan Oom! Oom Ricky mau ujian skripsi, kamu jangan ganggu dia terus!”

Luna menghentakkan kakinya kesal.

“Dan satu lagi,jangan suka pakai Lipstick Mama! Kamu masih kecil!” (216 words)

MY PROJECTSJanuary 21, 2007 1:47 pm

Astaga! Hujan lebat sekali di luar. Baru pukul 7.25. Rambut Meli basah oleh hujan. Security gedung yang berdiri dekat lift menahan senyum melihatnya. Separah apa tampangku saat ini? Piker gadis itu sambil menerobos masuk lift.

“Pagi,Mbak!” sapa seorang office boy, ketika keluar dari lift di lantai 15. Meli mengagguk dan langsung mempercepat langkah ke Toilet untuk mengeringkan rambut dan memperbaiki dandanan yang…….Ups!!

“Sorry…” seseorang hampir ditabraknya  di koridor. Gile pagi begini sudah nongol di kantor., pikirnya takjub. Biasanya baru dia  saja bareng satpam sama office boy yang sudah hadir sepagi ini.

Hah!! Gadis itu  menjerit tertahan melihat rambut dan dandanannya yang porak poranda diterpa hujan pagi ini.

“Kemana aja? Sakit?” Diana menghampiri meja Meli yang sudah penuh dengan dokumen dokumen.

“He eh…” gadis itu  menelusuri satu persatu berkas berkas yang menumpuk. Satu minggu  absen, terbaring sakit di rumah. Dan mejanya sudah seperti kapal pecah.

“Heh!!” Meli mendongak. Mas Pram berdiri di hadapannya  dengan setumpuk lagi dokumen,” Yang itu belum seberapa ,say! Nih aku tambah! Jangan lupa minta tandatangan untuk Aplikasi Kredit Limitnya PT Sanur…Okey?”

Tuhan…keluhnya.

“Sudah baikkan kan,Mel…?” Mas Pram masih di depannya sambil tersenyum jahil.

            Gadis itu meraih map berisi berkas yang tadi diminta Mas Pram dan setengah belari menuju ruangan Pak Baskoro, direktur utama.            “He Mel ! Mo kemana??” sergah Mas Pram.

            “Ya ke ruangan Babe lah minta tandatangan!” jawab gadis itu meneruskan langkah. Masih terdengar lagi Mas Pram memanggil, tapi dia  cuek saja, pasti mau iseng lagi. Tebaknya.            “Babe lagi kosong, Ris?” Meli menghampiri meja  pada Rista sekretaris Pak Baskoro. Yang ditanya  Cuma mengangguk sambil memandangnya.

            Dibukanya handle pintu ruangan Pak Baskoro setelah mengetuknya pelan.            “Ya..?”

            Bukan Pak Baskoro yang ada di dalam ruangan. Seorang laki-laki muda memandang gadis itu dengan kening berkerut.            Meli menoleh lagi ke Rista yang sedang cengar cengir di luar,”Kok..?”

            “Itu Pak Jodie, anaknya Babe…”Rista berbisik di mejanya” Makanya ,jangan nyelonong aja!”            Meli  berpaling pada Laki laki yang masih duduk santai menikmati wajahnya yang merah padam.

            “Masuk saja…” katanya.            “Maaf Pak, saya tidak tau kalau….”

            “Kamu yang tadi pagi kehujanan kan…?” tebak laki-laki itu.            Oh, dia toh yang tadi pagi aku tabrak di koridor. Apes, mana nggak sepatahpun kata maaf keluar dari mulutku tadi pagi.
            Meli mengangguk kisruh. :”Saya mau minta tandatangan Pak Baskoro” lapornya.

            Jodie mengambil berkas di tangannya  dan meletakkannya di Meja “Sebentar Lagi juga Bapak datang…” katanya.            “Nanti saya kembali lagi, terimakasih” Meli  berbalik pergi.

            “Heh Nona….”            Jodie berdiri dari duduknya, baru terlihat posturnya yang tinggi langsing. Dengan kedua belah tangan di saku celana dia menghampiri Meli

“Sepertinya saya tidak pernah melihat kamu…”

            “Iya betul,Pak! Saya juga baru melihat Bapak….Saya karyawan kontrak untuk 6 bulan di bagian EXIM. Nama saya Meli…”

            Jodie menjabat tangan nya  erat,Meli jadi bisa melihat  tangannya yang putih bersih. Apa apaan sih?!! Jadi melantur.Bentaknya pada diri sendiri.            “Hmm…..Jodie Firmansyah Baskoro. Saya pun baru seminggu diminta Bapak untuk mulai membantu di sini.”

            Tapi kok dari tadi nggak ada senyumnya sama sekali. Garing.

            “Permisi Pak. Maaf soal tadi pagi.”            Jodie  mengangguk kecil.Meli  berjalan cepat dan menutup pintu dengan cepat juga. Lalu menarik nafas di balik pintu. Haahhh….

            “Woi…kenapa Mel…?”            Di depannya Mas Pram, Daniel dan Rista memandangk dengan  aneh.

            “Kok kayak kepiting rebus gitu. Kaget ya ngeliat cowok cakep di kamar Pak Baskoro…HAHAHAAA”            “Ih ngapain sih?!!”

            Terdengar suara mereka tertawa di belakang. Sial. Kok nggak ada yang kasih tau kalo ada bos baru, sungutnya.

            Jam 6. sore. Meli melirik orang orang di sekelilingnya. Sebagian besar meja sudah ditinggalkan pemiliknya untuk pulang. Cuma satu dua orang saja yang masih sibuk di muka komputer. Sama seperti dirinya.

            Meli merasa bersyukur karena minggu ini masih libur semester, jadi nggak harus kuliah sepulang kerja. Padahal kerjaan sedang lucu lucunya menumpuk. Dokumen ekspor, perhitungan royalty dan komisi,laporan bulanan, Debit note dan teman temannya.            Semenjak mulai masuk kembali tiga hari lalu, Meli merasa hampir  hampir tidak bisa melihat Matahari terbit sampai tenggelam lagi. Perkerjaan yang  selama seminggu terabaikan sedikit demi sedikit harus dikejar. Beberapa pekerjaan sudah dibantu oleh Mas Pram dan Diana, tapi sisanya masih terlalu banyak.

            Matanya berkunang-kunang , sudah sejak jam 3 tadi mencocokkan dan memasukkan data satu persatu. Rasanya mata terasa  berat dan berair.Kantuk mulai timbul.             Wuaaahhhh….!! Ia menguap dengan puasnya. Belom lagi mulutnya terkatup matanya yang juga belum sempurna terbuka menangkap bayangan di pelupuk mata.

            “Enak..?”            Meli mengatupkan mulut dan menelan ludah, “Maaf,Pak…” katanya kikuk. Sambil berpikir, sebesar apa lebarnya mulut tadi ya…astaga.
            Jodie meletakkan berkas aplikasi kredit di hadapan gadis itu, lalu berlalu dengan gayanya yang santai dan cuek. Beda banget sama Ayahnya yang baik hati, tapi tegas.

            “Mel, gak pulang?” Rudi berdiri di sampingnya,” Bareng gak…?”            Meli  menggeleng, “Aku belom selesai. Kamu duluan aja deh, makasih…”

            “Ya udah, eh..muka kamu pucet banget tau…ati ati ya say,..ntar kalo kamu ada apa apa aku  bisa sedih…”            “Hhhh dasar playboy cap ember….” Sungutnya.

            Perhitungan royalty dan komisi sudah hampir selesai, tinggal di setting saja. Dan kepalanya mulai senut senut. Wah kacau nih, sudah nggak bisa diajak kompromi. Rasanya apa yang dilihatnya mulai jugkir balik, ……….

            Meli membuka matanya perlahan. Rasa penat di kepala masih terasa. Diperhatikannya langit langit kamar yang  terasa asing. Dia bukan berada dikamarnya.

            “Bagus kamu sudah sadar….” Gumam seseorang.            Jodie  duduk di kursi dekatnya terbaring. Melia  langsung melonjak bangun.

            “Saya kenapa Pak…?”            “Kamu pingsan tadi. Lalu diboyong Slamet ke ruanganku…”

            Tangannya yang kokoh masih mengaduk aduk teh dan menyodorkannya             Melia meneguknya dengan susah payah.

            “Kalau sudah agak baikan, cepat habiskan minum kamu. Saya antar pulang…”            Ia melirik jam. Pukul 9.15 Malam!!! Berapa jam aku pingsan barusan?

            “Biar saya pulang sendiri Pak. Sepertinya saya sudah agak baik…” Meli beranjak berdiri, “Oya, terima kasih sudah menolong saya…”            “Hei! Kamu mau kemana…?”

            “Pulang…”            Wajah keras yang selalu terlihat muram itu mendadak berubah, sedikit demi sedikit menyembul senyum dan lesung di pipinya. Meli memandangnya takjub, orang ini seperti berganti topeng. Perubahan wajahnya begitu drastic.

            “Coba ngaca dulu Nona. Tampangmu jelek sekali!” Jodie masih terus tersenyum geli, diambilnya tas ransel Meli yang tergeletak di sofa, “Ayo pulang…”             

            Enak saja ini orang bilang tampangku jelek. Meli  melewati kaca wastafel di depan Toilet ketika mereka berjalan keluar. Astaga!!            “Pak, sebentar Pak!!” serunya  berlari ke dalam toilet. Rambutnya sangat berantakan, wajah sudah polos dan pucat seperti mayat.

            Sebetulnya apa yang dibilang orang itu bener juga,pikirnya sebal, Cuma…to the point amat sih!!

            “Saya turun di sini Pak,…”

            Jodie menepikan mobil di muka parkiran rumah susun. Matanya memandang ke arah Rumah susun di hadapan mereka.            “Kamu tinggal di sini…?”

            Melia mengangguk sambil membuka pintu mobil, “Terima kasih Pak, maaf merepotkan…”             “Tidak Apa-apa. Besok lebih baik kamu tidak usah masuk dulu. Saya lihat kondisi kamu masih belum beres….”

            “Ya, terimakasih…” sahut gadis itu  pelan. Kepalanya  masih pening dan tubuhnya masih terasa lemas. Ia juga menebak nebak apa yang ada dalam pikiran anak bosnya itu saat ini, soalnya sepanjang jalan dari kantor ke sini ia tertidur pulas.             Meli bergidik, …apa tadi mulut ku terbuka lebar waktu tidur…atau malahan sudah ngiler…?.ups…mudah mudahan nggak…

            Suara azan terdengar lamat-lamat. Meli bangun susah payah dengan kepala berat menuju kamar mandi untuk berwudhu.            “Ya, Tuhan…” seusai sholat, “ Berikanlah kebahagiaan bagi Bapak dan Ibuku di sisimu. Juga lindungilah aku selalu dan berikan aku kesehatan yang baik agar semua cita cita ku tercapai…Amin”

            Matanya basah.. Selalu begitu setiap kali selesai berdoa untuk Bapak dan Ibunya.            Selalu teringat wajah lembut Ibunya menyiapkan sarapan pagi , juga Bapak yang selalu memacu semangat belajarnya. Sampai kecelakaan itu memisahkan mereka.

            Selalu terbayang kembali tubuh Bapak dan Ibunya yang hancur  di dalam mobil butut mereka yang  terseret kereta. Sebuah keajaiban ia selamat meski lecet lecet sedikit.            Apa yang gadis itu tau adalah bahwa sepanjang hidup orangtuaya adalah perjuangan, setelah limabelas tahun  menanti kehadiran seorang anak, baru lah Tuhan menghadiahkan dirinya  untuk  Bapak dan Ibu.

            Sepanjang hidupnya  Bapak dan Ibu adalah kerja keras agar Ia dapat sekolah. Untung masih ada rumah ini untuk tempatnya berteduh. Ia  tak ingin hidup menumpang kerabat Bapak. Meskipun Pak De Dino berulang kali membujuk  untuk tinggal bersamanya, Meli tetap tidak bergeming.            Lebih nyaman baginya tinggal bersama kenangan dengan Bapak dan Ibu. Dan Meli merasa Tuhan juga berbaik hati padanya, Dia mengirimkan Pak Baskoro ;bekas komandan Bapak semasa perjuangan dulu datang melayat ketika Bapak dan Ibu dikebumikan dan menawarkannyau untuk bekerja secara kontrak diperusahaan yang dipimpinnya.

            Dengan gaji yang didapat Ia bisa menghemat untuk membiayai kuliah. Ia cukup bersyukur.

            Bapak, Ibu…jangan khawatir padaku. Meski di sana, kalian akan kubuat bangga terhadapku. Amien. Melia mengusap wajah mengakhiri doanya.

           

Supermarket Guardy agak sepi pengunjung. Meli  menebar pandang mencari ikan sarden kaleng. Sesekali makan makanan yang lumayan, Kebetulan baru dapat honor menulis sebuah artikel di majalah. Lagipula Ia masih ada dua hari izin dokter untuk tidak masuk kerja, jadi agak sempat untuk memasak.

            Tiba-tiba kerlingnya menangkap bayangan yang dikenalnya ketika melewati rak obat-obatan. Jodie. Tidak dengan pakaian formil, tapi berbalut kaos ketat lengan panjang warna hitam. Hm..kelihatan seribu kali lebih muda.            “Pak ….…” sapanya.

            Jodie menengok dan terlihat agak terkejut melihat siapa yang menyapanya. Senyumnya yang baru sekali sekalinya dilihat Meli  kemarin itu menyembul sedikit demi sedikit.            “Kamu. Bagaimana keadaanmu?” katanya sambil mengambil 3 strip obat sakit kepala.

            “Lumayan Pak! Bapak sama siapa?”            “Sendirilah ,cari obat ….” Pak Jodie memandang gadis itu  dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meli  mundur selangkah ketika mata bos-nya itu  sampai di kaki. Soalnya Ia tidak pakai sepatu, Cuma pakai sendal jepit.

            “Kenapa Pak…”            “Kalau begini, kamu terlihat masih anak-anak. Mungkin karena selama ini bedak kamu terlalu tebal…”

            Sial! Ini juga yang jadi pembicaraan cewek-cewek di kantor, cara bicara Pak Jodie yang seringkali tanpa saringan. Meli membathin            “Jangan marah, Non!” katanya.

            “Ah nggak marah kok. Ya udah, selamat belanja Pak,…” ujar Melia  sambil mengangguk dan meninggalkan Jodie            “He Nona,… kebetulan ketemu kamu. Saya mau makan di foodcourt di lantai 2 Mall ini. Mau temani saya?”

            Hah…makan bareng makhluk kelabu ini. Tidak terbayang deh, mau ngomongin apa nanti.??            “Yuk!”

            Meli seperti tersengat listrik ketika Jodie  tiba-tiba menarik lengannya  keluar dari Supermarket!

            Jodie dengan santai melahap Ifumie pesanannya.             “Saya suka sekali Ifumie…”

Sementara gadis di hadapannya merasa kaku menyantap Mie goreng.

            “Kamu tadi belanja apa?”

            Meli mengankat bahu, “Cuma cari Ikan sarden kalengan….”            “Sakitmu gimana…”

            “Mulai pulih. Sudah agak kuat sekarang, makanya berani pergi ke luar..”            Jodie  menyeruput minumannya perlahan. Dia begitu relax. Tidak seperti di kantor. Di sini senyumnya seringkali muncul, juga lesung di pipinya yang putih.

            Sebetulnya dia enak dipandang, Meli menilai, Kalau dilihat dari penampilannya juga mungkin umurnya tidak seberapa jauh dariku.

            “Apa….makanku terlihat rakus…?”kata Jodie  mengejutkan. Tangannya mengibas di depan wajah Meli            “Hh….?”

            “Kamu melihatku sedemikian rupa, apa aku terlihat terlalu rakus…?”            Wajah Meli memerah menyadari sejak tadi ia memandangi Jodie sedemikian rupa.

            “Nggak….Cuma saya yang belum berselera makan. ..” elaknya.            “Kamu bisa masak ya?”

            Meli  mengagguk, “Semua harus bisa saya kerjakan sendiri Pak….”            Cowok dihadapannya memandang sekilas” “Karena kamu hidup sendirian..” gumamnya.

            Lalu senyum itu mucul lagi,”Sudah deh,…sekarang kamu pelan pelan mesti habiskan makananmu. Saya antar kamu pulang. Tapi tidak perlu buru-buru….”            Di perjalanan pulang Jodie tidak banyak bicara, Meli juga  lebih banyak diam saja.

            “Pak Jodie suka Ifumie…?” tayanya ketika mobil menepi di muka Rumah susun.            Entah setan mana yang membuatnya  bertanya seperti itu.

            Terlihat jelas Jodie sedikit kaget.            “Suka banget.Kenapa…?”

            “Besok saya mau masak. Saya mau mengudang Bapak makan siang…”            “Makan siang..”gumamnya.

            Ini ide gila banget, pikir Meli, mengundang atasan makan siang!

            “Maaf Pak, kalau terlalu lancang..”            “Eh nggak ! Mmm…gimana kalau makan malam saja ,boleh…?” alis matanya laki-laki itu  bertaut, “Kalau siang waktuya sempit…”

            Senyum Meli mengembang,”Oke! Saya tunggu besok Pak. Dan terimakasih atas makan malamya malam ini  juga tumpangannya.            Jodie mengangguk dengan senyum khasnya yang sangat irit, tiba tiba menarik lengan Meli ketika gadis itu hendak melangkah keluar Mobil.

            “Saya punya satu syarat….” Ujarnya.            Meli mengerutkan dahi dengan heran.

            “Jangan panggil saya Bapak kalau di luar kantor…”             Meli tersenyum simpul, “Jadi …?”

            “Panggil saya Kakak, atau Jodie saja…”

            Meli mengangguk , barulah Jodie melepaskan cengkramannya di lengan gadis itu.

            Jodie melarikan mobilnya menerobos malam. Ada perasaan asing ketika disadarinya ia cepat sekali akrab dengan gadis kecil bernama Melia itu. Anak Alm. Pak Bambang, menurut ayahnya.

            Ia juga merasakan keheranan yang sama ketika dengan mudahnya menerima tawaran makan siang Meli, malahan merubahnya menjadi Makan Malam. Padahal beberapakali cewek2 di kantor menyampaikan undangan yang sama , tak satupun di gubrisnya. Ia lebih memilih pergi dengan George,  teman kuliahnya dari  London.

           

           

            Pukul 7 malam sudah lewat. Meli memandangi cap cay dan mie kering yang sudah dihidangkan di meja.            Belum ada kabar dari Jodie. Meli merengut kesal. Katanya jam enam sudah bakal di sini. Tapi jam segini belum muncul juga.

            Heran betul, aku juga sih yang sinting, berani beraninya ngundang makan anak babe, pikirnya, udah jelas korban sudah banyak berjatuhan. Diana, Rista, Dewi, undangan mereka satupun tak ada yang di terima Pak Jodie. Tentu saja dengan berbagai alasan yang masuk akal dan tidak menyakitkan. Tapi intinya tetap sama; Menolak.

            Meli melirik lagi jam butut di dinding. Jam 7 lewat empat puluh lima ketika pintu diketuk.            Jodie berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja kerja dan dasi yang sudah masuk di saku baju.

            “Sorry….”ujarnya sambil mengatur nafas yang memburu karena sedikit berlari menaiki tangga, “Tadi ada tamu dari Singapore, meeting sampai jam setengah tujuh. “            “Gak apa-apa…masuk yuk…”Meli menelan ludah menyurutkan marahnya ketika dilihat wajah lusuh itu di ambang pintu.

            Kasihan, dia pasti ngebut…pikirnya ge-er.            Jodie mengedarkan pandang ke seluruh ruangan yang sempit itu. Cuma ada satu set meja di ruang depan. Tidak ada meja makan.

            Makanan juga di sajikan Meli di meja itu.            “Langsung makan ya?” Melia menuangkan air putih ke gelas Jodie, “Maaf, nggak ada meja makan. Meja ini jadi meja serbaguna. Ya buat terima tamu, ya buat belajar dan buat makan….”

            “Silakan Pak…”            Jodie melotot,”Inget janji kamu kemaren…” gumamnya sambil menuangkan cap cay di piringnya.

            “Terus terang saya nggak sanggup panggil nama saja…”ujar Meli kikuk.            “Kalo nggak sanggup, panggil Kakak aja. Kan memang saya lebih tua dari kamu…….Itu dong aku mau sambelnya….”Jodie menujuk piring kecil berisi sambal di dekat siku Meli.

            “Oya memang umur kamu berapa sih? Sembilan belas? Dua puluh?” cowok itu bertanya lagi.            “Dua puluh….”

            “Ya sudah, cukup lah kalau kamu paggil saya kakak. Beda 7 tahu kan banyak! Lagi pula nggak ada yang pernah panggil saya kakak selama ini…”kata Jodie serius, “…..kamu kok dari tadi begong aja? Makan dong!”            Meli tertawa melihat ekspresi Jodie yang keheranan.

            “Enak nggak…?”            “Lumayan….Cuma kurang banyak!” ujar Jodie sambil memamerkan senyumya yang irit, “Jangan-jangan kamu nggak ikut makan karena takut nggak cukup ya…?”

            “Ih nuduh!” Meli bersungut sambil menuangkan sedikit cap cay di piringnya. Dia memang tidak begitu berselera.            “Aku mau tukar baju, boleh…?” pinta Jodie sambil mengambil bungkusan yang tadi dibawanya dari mobil, “Gerah nih pakai baju formil begini, mana habis makan lagi…”

            “Di kamar mandi?”tanya Meli.            “Kamar kamu juga boleeeh…” jawab Jodie seenaknya.

            Meli mencibir dan meunjukkan arah ke kamar mandi yang juga sempit. Tapi ia cukup terharu karena Jodie sama sekali tidak menujukkan rasa canggung melihat keadaan rumahnya.            Kalau sifatnya yang ini, Jodie mirip Pak Baskoro. Meli menaruh rasa hormat yang tinggi pada mantan atasan Bapak itu. Sikapnya samasekali tidak arogan ketika datag ke sini menengok Meli yang masih dalam keadaan berkabung. Itu kali ke dua Pak Baskoro datang, kali ini untuk menawarkan Meli bekerja di kantornya. Sekaligus mematahkan keinginan Pak De Dino untuk membawa Meli ke Jogja membantunya di Toko.

            “Mel…”            Meli terkesiap. Jodie sudah berdiri lagi di hadapannya, dengan kaos warna hijau lumut strech yang memperjelas bentuk tubuhnya yang atlletis.

            “Kenapa…?” Jodie duduk di hadapannya, “Kamu sedih ya makanannya saya habisin….?”            Meli mendadak terbahak bahak. Jodie melangkah mundur.

            “Mel…Woii!! Kenapa sih..?!”            “Abis  lucu banget sih! Ternyata. Padahal kalo di kantor boro boro mau senyum apalagi ngomong yang konyol-konyol kayak begini….”

            “Ya masak di kantor mesti senyam seyum begini, yang ada justru kalian nanti yang ngetawain saya…Lagipula saya orang yang susah untuk beramah tamah sama orang…apalagi cewek…”            “Iya sih, keliatan kok…” jawab Meli masih tersenyum, “Tapi sama saya buktinya bisa!”

            Ganti Jodie yang terdiam.            “Soalnya kamu memang orangnya aneh. Nggak biasa….tapi saya justru seneng yang model kamu. Orang lain di kantor, terutama cewek, kalau berhadapan dengan saya kalau bisa mungkin sampai kaki mereka menunduk. Dan banyak basa basi….Saya gak suka…”

            Mereka membereskan piring bersama sama. Meski Melia melarang tapi Jodie merasa tidak enak melihat tuan rumah beres beres sendirian.            “Sudah malam, saya pulang ya….?”

            Melia sudah selesai merapikan piring.            “Terima kasih mau memenuhi undangan saya,Pak…”

            “Ya, Mbok…Makanan Mbok  enak banget….besok besok jualan  aja di depan kantor saya…” sahut Jodie enteng.            “Tega banget sih!!”

            “Lagian kamu sudah saya bilang panggil saya KAKAK kalau di luar kantor! Kurang jelas apa?!”            “Oke….oke Kaakak….Rambut Kakak bagusss deeh…”

            Jodie tersenyum sambil geleng geleng. Ketika sampai di pintu ia berhenti sejenak.

            Meli bernyanyi kecil di belakangnya “Kakak…Kakak di dinding…diam diam merayap….datang seekor….”
            “Itu Cicak,Mel….”.

           

            Jodie menekuri laporan bulanan dari Pram satu persatu. Meski ingatannya sebagian tidak ke angka angka di hadapannya.            Barusan George menelponnya, “Kita bertemu di Muzi Café seperti biasa…Please…”

            Sudah beberapa kali cowok itu menghubunginya untuk bertemu meski belakangan ini kebanyakan rasa enggan yang timbul setiap kali George menghubunginya.             “Jod,….”

            Jodie tersentak. Ayahnya sudah berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya.            “Kenapa lagi…?”

            Jodie meletakkan berkas berkas kerja di meja. Wajahnya yang putih kelihatan begitu kisruh. Ia menarik nafas resah, sambil menggeleng.            “George telpon…” gumamnya.

            Pak Baskoro duduk di hadapan anaknya, “Papa tak bisa memaksa kamu, tapi….cobalah untuk berubah…Cuma kamu satu satunya harapan Papa.”

            Jodie menatap Ayahnya putus asa.

           

            Melia terkejut ketika membuka pintu depan. Jodie berdiri di ambang pintu. Masih dengan pakaian kerja.

            “Sorry gak bilang bilang kalao mau datang…” kata cowok itu sambil tersenyum letih. Melia mempersilahkannya masuk.            Jodie menghempaskan di kursi tamu. Kemudian duduk menunduk , tangannya yang kukuh meremas rambutnya yang agak gondrong . Melia Cuma duduk terpaku di seberangnya, memandangnya dengan heran tapi lebih memilih mendiamkan saja sampai Jodie sendiri yang bicara.

            “Kenapa,Mel…” sapa Jodie pelan setelah disadarinya Meli Cuma melongo di hadapannya.            “Harusnya saya yang tanya, kamu kenapa?”sahut Meli, “Ada masalah?”

            Jodie menggeleng pelan, “Kita keluar yuk?”            Meli melirik jam. Pukul tujuh lewat seperempat.

            “Kemana..?”            “Kemana aja deh, pokoknya keluar…please…”Cowok itu memandang Melia memelas.

            Melia mengangguk dan masuk ke dalam untuk tukar pakaian.

            Sepuluh menit kemudian mereka sudah melesat meninggalkan rumah Meli, menembus malam. Dan Jodie banyak membisu.

            “Kenapa sih….” Melia membuka percakapan ketika mereka sudah duduk memesan makanan di Café Muzi. Jodie baru saja kembali dari rest room untuk tukar pakaian.

            Di panggung mini di sudut ruangan terdengar life musik dari penyanyi café. Baru saja terdengar lagu “Perbedaan” Ari Lasso mengalun lembut.            “Gak apa-apa,…Cuma mungkin sedikit capek…”ujar Jodie sambil memandang ke penyanyi yang sedang bernyanyi.

            “Maaf aku mungkin merepotkan dan mengejutkanmu malam ini. Tapi, aku membutuhkan seseorang untuk ku ajak bicara. Kamu tau sendiri, di sini aku tidak banyak teman. Temanku yang paling baik Cuma kamu…”            “Saya nggak keberatan…sejak pertama saya kenal, saya sudah tau kamu  pasti punya masalah. Tapi saya nggak bisa nebak masalahnya apa. Kadang kamu terlihat agak misterius…”

            Jodie tersenyum, “Sok tau kamu….”            “Tuh udah bisa senyum, udah bagus!”

            Mereka tertawa berdua. Melia menertawakan kelakuan Jodie yang umurnya jauh lebih dewasa tapi terkadang lebih kekanak kanakan. Mungkin karena cowok ini dibesarkan dalam lingkungan serba ada. Dan kasih sayang yang berlimpah dari Ayahnya.            “Hi!”

            Melia terkesiap ketika seorang cowok bule menghampiri meja mereka. Jodie juga terlihat agak kaget meski kemudian sikapnya biasa biasa saja.            “George…”

            Cowok yang bernama George itu menatap Jodie dan Melia berganti ganti seperti kebingungan. Melia mengamatinya sekilas. Wajah cowok itu sangat tampan, kalau dia perempuan pasti sangat cantik sekali. Garis wajahnya halus. Badannya tinggi tegap.            “Mil, Ini George, teman ku waktu di London dulu. Dia kerja di London, tapi sedang dinas beberapa bulan di sini….”ulas Jodie, “George this is Melia…”

            Melia menyambut jabatan tangan George. Cowok itu masih saja berdiri di sisi meja.            “Is she your girl ?” Tanyanya pada Jodie.

            Jodie menatap Melia sekilas, “I hope…” jawabnya pelan.             Melia merasa wajahnya merah mendengar jawaban Jodie barusan. Enak bener  nih cowok, nggak kompromi dulu sebelumnya.
            George tersenyum tipis, “Okey, I should meet someone. Enjoy your dinner…Bye” ia menepuk bahu Jodie pelan dan berlalu dengan cepat.

            Jodie kembali menatap ke panggung. Kali ini lagu “Reality”-nya Richard Anderson mengalun.            “kamu kok ngomong gitu sih?!!” protes Melia.

            Jodie meneguk Orange juice-nya, matanya yang selalu bersorot tajam itu menatap lurus ke arah Melia, “Ngomong apa…?”            “Waktu tadi George Tanya apa aku adalah pacar kamu, kamu jawab I hope!!”

            “Memang salah?”            “Ih! Ngomong kok nggak kompromi dulu…”sungut gadis itu

            Jodie meletakkan gelasnya , tangan kirinya meraih tangan Melia yang terkulai di meja. Wajah cewek itu makin merah. Darahnya terasa mengalir kian deras.            “Memangnya saya nggak pantas ya jadi pacar kamu…?” kata Jodie lebih seperti gumaman, “Apa saya terlihat seperti punya kelainan…?”

            Melia melepaskan tangannya pelan pelan. Membiarkannya dalam genggaman Jodie membuat detak jantungnya tidak normal, itu bahaya. Bisa bisa dia pingsan mendadak.            “Kak…kamu sedang mencoba mengatakan bahwa kamu suka sama saya??”

            Jodie tersenyum lebar, membuat lensung pipitnya menyembul, “Aku kan Cuma nanya, apa saya nggak pantas jadi pacar kamu??”            “Lho?! Jadi…?” Melia makin bingung .

            “Sudahlah, makan dulu tuh steak kamu…..habis ini kita pulang…”jawaban Jodie semakin membuat Melia geleng geleng. Aneh bener ini orang, pikirnya.

            Jodie menghabiskan steaknya pelan pelan. Melia tau dari mata cowok itu, pikirannya sedang mengembara entah ke mana.

            Mereka sampai lagi di depan pintu rumah Melia, di lantai dua rumah susun itu. Sepanjang perjalanan pulang tadi Jodie  lebih banyak diam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mendengarkan alunan suara Sade dari CD player di mobil Jodie.

            “Mau masuk?”Melia melirik Jodie yang berdiri di sampingnya.            Jodie menggelang,”Sudah malam banget…”

            “Kalau gitu sampai ketemu besok. Aku besok kan mulai masuk kantor lagi…”ujar Melia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.            Jodie menarik lengan Meli pelan, “Mel, terimakasih sudah mau menemani saya malam ini…”

            Melia menggeleng. Bukan apa-apa, detak jantungnya mulai tidak normal lagi. Ia mulai menggerutu dalam hati            “Kalau sikap saya menyinggung perasaan kamu, tolong maafkan saya… saya sama sekali tidak bermaksud mempermainkan atau mempermalukan kamu. Maafin saya ya…?”

            “Malam ini Saya juga senang kok. Jadi nggak ada masalah. …”            Jodie mengagguk, “Selamat Malam…sampai ketemu besok…”

            Melia melepaskan tangannya dari pegangan Jodie. Kali ini ia benar benar melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Dihempaskannya tubuh di kasur dalam kamarnya yang sempit.            Pikirannya berkelana. Sebagian terbesar adalah pikiran pikiran tentang Jodie. Sikap anehnya malam ini, sekaligus sentuhan sentuhan lembut yang tak terduga yang dilakukannya. Melia merasakan sensasi aneh setiap kali mengingat genggaman tangan Jodie dan tatapannya yang kadang keras dan bisa tiba tiba melembut kepadanya.

            Cowok yang aneh,…Melia menyimpulkan sambil menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.

            “Mel, enak benerrr abis cuti panjaaaang,…”celoteh Diana di mejanya.            Melia tertawa, baru saja menghempaskan pantat di kursi sudah ada yang berkotek!

            “Namanya juga orang sakit,Mbaaak…”            “Tapi kamu cukup beruntung , soalnya Bos muda nggak ngomel. Kemarin si Rahel absen  dua hari dia ngomel….” Mas Pram menyahut dari balik Note Book-nya.

            “Kan aku pake surat dokter! Masa orang sakit beneran diomel! Itu si Rahel gak ada suratnya kalee!” bela Melia, “Mm,…memangnya Pak Jodie suka ngomel juga…?”            “Eits, jangan salah Neng,…gitu gitu dia lebih teges dari Pak Baskoro lho! Mungkin karena kita udah kerja lama sama Pak Baskoro yang kekeluargaan kali, nah tiba tiba anaknya ikut masuk, suasana jadi berubah deh…”

            Melia tercenung. Diliriknya sekilas pintu kamar kerja Jodie yang tertutup rapat.            “Do’I gak masuk ya Mbak…?” tanyanya tiba tiba.

            Diana mengangkat bahu, “Nggak kelihatan dari pagi….kemaren sore keliatan agak suntuk tuh!”            Kemana dia? Pikir Melia. Tadi malam dia nggak bilang mau nggak masuk.

            “Hei! Pujaan hati nggak masuk?!” Rita sudah berdiri di dekatnya. Matanya melirik ke pintu kamar Jodie. Diana yang di ajak bicara terkekeh.            “Pujaan hati! Lo siap siap patah hati deh Riit, Do’i homreng tau!?” bisik Diana agak keras.

            Melia memandang mereka heran,”homreng…?”            “Ssst! Anak kecil nggak usah ikut campur!” hardik Rita sambil terkekeh kekeh berdua dengan Diana.

            Melia mengangkat bahu mencoba tidak perduli. Kasihan Jodie.pikirnya.            Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Jodie belum muncul juga. Ia mengeluarkan HP dari tasnya dan mulai menulis SMS (short message service).

            Selama siang, …Tidak masuk kantor?

            Lama tak ada balasan sampai kemudian HP nya bergetar lagi.            Mungkin nggak. Kurang enak badan. Kamu nanti lembur atau On time?
            Melia menulis lagi; On time, hari ini saya mulai kuliah lagi. Selesai pukul 8 malam.Kenapa?
            Saya jemput di kampus kamu jam 8. balas Jodie.

            Melia memandang SMS dari Jodie barusan. Pikiranya berkecamuk.

            “Sudah lama?” sapa Melia ketika masuk ke dalam mobil.            Jodie menggeleng, “Berapa mata kuliah?”

            “Cuma satu. Semester ini saya nggak ambil banyak, soalnya fisikku nggak kuat.”            “Gimana tadi kantor?”

            Melia terdiam sesaat, teringat obrolan Diana dan Rita tadi pagi, “Biasa aja…Kita mau kemana?”            “Kamu capek…?”

            Melia menggeleng, dekat dengan Jodie sepertinya dia nggak pernah merasa capek. Kenapa ya…?            “Ngobrol di rumahku aja ,Mau?”         

            Jodie menggeleng, “Nggak enak sama tetangga kamu ngeliat aku sering datang dan lama lama di rumah kamu…..mm…kita ke pantai aja deh…”            —————

            Mereka duduk di dalam mobil menghadapi pantai. Udara di luar terlalu kencang, karena itu Jodie lebih memilih duduk di dalam mobil.            “Belakangan ini terus terang kamu keliatan aneh….” Ujar Melia ketika Jodie banyak terdiam.

            “Mungkin…” aku Jodie.            “Seringkali kamu ngajak aku keluar tanpa tujuan, seperti sekarang. Lalu sebagian besar waktu cuma ngeliatin kamu bengong. Sekalinya ngomong omonganmu banyak mengejutkanku……”Melia memiringkan posisi duduknya memandang Jodie. Memandang rambut gondrongya yang berkibar dan matanya yang kelam.

            “Walaupun kita baru bertemu, tapi sebetulnya hubungan kekeluargaan kita kan sudah ada jauh sebelum  kita lahir. Bapakku dan Pak Baskoro sangat dekat. Jadi, kamu bisa menganggap saya adik. Kalau ada masalah. Ceritain aja sama saya…mungkin sih saya nggak bisa Bantu cari solusi, tapi minimal kamu punya pendengar yang baik…”            Jodie mengalihkan pandangannya dari pantai ke wajah Melia yang terlihat sangat serius. Kalau sedang begini, gadis ini tidak lagi seperti gadis kecil yang baru  2 tahun lulus SMA. Tatapan matanya yang bersungguh sungguh sangat meneduhkan.

            “Terima kasih ya Mel,…kamu betul betul membesarkan hati saya…” gumam Jodie, “Saya Cuma bisa berharap, pandangan kamu terhadap saya akan selalu sebaik saat ini…”            “Memangnya kenapa sih…?”

            Jodie menatap mata Melia resah, “Nggak apa-apa. Cuma, kalau kamu tau bagaimana saya yang sebenarnya, Saya takut kamu akan berubah sama sekali.  Sungguh, saya betul betul nggak ingin itu terjadi. Saya ingin kamu tetap begini, berceloteh dengan bebas, berteman dengan leluasa dengan saya, penuh perhatian seperti saat ini….”            Melia menghela nafas putus asa. Semakin banyak Jodie bicara, dirinya makin tidak mengerti.

            “Jod, terus terang saya nggak ngerti, tapi kalau kamu keberatan untuk ceritapun saya tidak masalah.Dan  Saya tidak akan pernah berubah”            Jodie mengangguk. Baginya saat ini Melia mulai sangat memberi arti. Ada sedikit kelegaan setiap kali disadarinya ia sedang memikirkan gadis ini, entah di rumah, entah di kantor, entah sedang diskusi dengan Papanya, atau bahkan ketika sedang ngobrol dengan George.

            Padahal sebetulnya tak ada yang istimewa dalam diri Melia. Dibanding Diana, Rita, Rahel atau gadis gadis lain yang dikenalnya, Melia sangat biasa. Tapi gadis kecil ini punya sepasang mata yang selalu bersorot jujur dan jernih. Ia pun punya keberanian dalam hidupnya. Buktinya ia bisa berjuang seorang diri, menghidupi diri sendiri dan sangat mandiri. Sejak pertama kali bertemu, tak sedikitpun gadis itu menunjukkan sikap takut atau berbasa basi yang terlalu. Biasa saja.            Ayahnya mengambil langkah benar ketika memutuskan mempekerjakan Melia di kantor, dalam bekerja ia juga punya dedikasi tinggi.

            Jodie merasa keterbatasan Melia justru membuatnya melirik dan kagum. Sementara ini memang seperti itu yang di rasakannya.            Cowok itu menggigil ketika sesekali timbul keinginan untuk mengecup bibir mungil Melia ketika gadis itu sedang berceloteh di sisinya. Atau keinginan menyentuh matanya yang polos. Sebuah rasa yang sangat tidak biasa. Membuatnya sangat sedih.

            Ia teringat George, dan tiga  tahun berlalu di London bersama cowok itu. Berkali kali Ayahnya memintanya pulang tapi Jodie tak perduli. Ia mulai menyukai George pada tahun pertama kuliah. Cowok yang begitu modis itu amat sangat meneduhkannya. Menetramkan hatinya yang baru saja remuk rendam akibat perbuatan Mama yang ternyata punya pria lain dalam hidupnya dan meninggalkan Ayahnya.            Kadang sikap George yang labil juga membangkitkan hasrat nya untuk melindungi cowok itu. Tiga tahun bersama, George telah memberikan tahun tahun terbaik dalam hidup Jodie. Ia bisa menjadi Ibu, menjadi sahabat dan juga kekasih.

            Mereka sering mengabiskan waktu duduk di tepi sungai Themes, ngobrol dan bercanda.            Ayahnya pernah mengalami serangan jantung ringan ketika menyadari perubahan pada hidup Jodie. Anak satu satunya , tumpuan harapan dan hari tuanya ternyata telah menjadi seorang gay.

            Ia masih ingat bagaimana Ibunya melontarkan kata kata melecehkan ketika mengetahui keadaan Jodie. Jodie begitu sakit dan makin membenci wanita setengah bule itu.            Baru ketika Ayahnya mengalami serangan untuk ketiga kalinya, Jodie memutuskan untuk memenuhi panggilan ayahanya dan melepaskan pekerjaannya sebagai akuntan di London. Juga memutuskan untuk meninggalkan George. Meski berat.

            Jalan yang dilaluinya untuk menenenangkan George juga sangat berliku. Pernah beberapa waktu sebelum keberangkatannya, ia menemukan George terkapar penuh darah di kamar mandi mereka. Laki laki itu mencoba memotong nadinya. Untung nyawanya tertolong. Dan dunia Jodie semakin tak menentu.            Hal yang paling  tak diduganya adalah, Geroge meminta perusahaan tempatnya bekerja untuk pindah tugas sementara ke kantor cabang di Jakarta. Ia berkeras untuk mengikuti Jodie.

            Ia masih ingat tatapan terluka George ketika diperkenalkan pada Melia malam itu di Café Muzi. Tengah malam ia menerima telpon dari George yang penuh emosi dan setengah menangis.\            Tak ada keinginan untuk menyakiti hati George. Bagaimanapun perasaan sayang masih ada untuk cowok itu. Tapi Jodie cepat sadar, apalagi melihat kondisi Ayahnya yang mulai sakit dan penuh harapan kepadanya. Membuat keinginannya meninggalkan dunianya dan George semakin besar. Ditambah lagi kehadiran Melia dan perlahan lahan tapi banyak memberi arti.

            Tapi Jodie masih ragu untuk mendefinisikan itu cinta. Apalagi, kadang masih terasa kesakitan dalam dadanya setiap kali melihat George memohonnya untuk kembali padanya dan kembali ke London.            Jodie merasa kepalanya berat.  Rasanya ada berkarung karung beras di panggulnya. Membuat dada dan punggungnya terasa sakit. Hampir tak ada waktu baginya untuk besosialisasi dengan teman temannya semasa sekolah menegah dulu di Jakarta. Sebagian besar waktunya adalah untuk kerja, dan sibuk bebenah diri.

            “Jod,…” teguran Melia mengejutkannya. Di sekanya mata yang terasa panas sambil berharap agar Melia tidak