Suara Pensil Marina

MY FLASH FICTIONJanuary 25, 2007 3:13 am

“Memang kenapa sih Bu? “

“Pokoknya kamu nggak boleh main lagi ke rumah Ricky. Ibu Nggak suka! Titik!”

“Iyaa tapi kenapa? Ricky kan baik. Dia selalu mau jagain aku, setiap hari!”

Meira menatap anaknya dengan tatapan marah. Luna ,yang diajak bicara malah melengos dan berjalan menjauh. Meira berdiri dan mengejarnya.

“Hei! Ibu belum selesai!” teriak Meira gemas.

“Pokoknya Ricky baik! Ibu nggak tau sih!” Luna berhenti dan memandang ibunya marah.

 Ia duduk dengan kesal.Kenapa Ibu nggak ngerti sih. Ricky itu cowok yang paling baik yang dikenalnya. Dewasa dan pengertian. Setiap sore ia selalu siap di halaman menunggu Ricky pulang kuliah. Lalu cowok ganteng itu akan menyapanya dengan sayang, dengan gemas dan dengan matanya yang bagus itu. Ketika malam datang, ia sering memimpikan cowok tetangga sebelah itu.

“Bu, tau nggak sih. Ricky itu selalu bilang aku cantik! “

Luna menerawang…karena itulah ia sekarang rajin bersolek.

Ketika Luna kembali berdiri dan siap siap untuk pergi,Meira menangkap lengan putrinya lalu menariknya ke kursi. Di dudukkannya gadis cilik itu. Luna menjulurkan kakinya dengan sebal dan membiarkan Ibunya memasang kaus kaki pink itu.

“Kamu itu baru kelas satu sekolah dasar! Seharusnya juga memanggil Ricky itu dengan Oom! Oom Ricky mau ujian skripsi, kamu jangan ganggu dia terus!”

Luna menghentakkan kakinya kesal.

“Dan satu lagi,jangan suka pakai Lipstick Mama! Kamu masih kecil!” (216 words)

MY PROJECTSJanuary 21, 2007 1:47 pm

Astaga! Hujan lebat sekali di luar. Baru pukul 7.25. Rambut Meli basah oleh hujan. Security gedung yang berdiri dekat lift menahan senyum melihatnya. Separah apa tampangku saat ini? Piker gadis itu sambil menerobos masuk lift.

“Pagi,Mbak!” sapa seorang office boy, ketika keluar dari lift di lantai 15. Meli mengagguk dan langsung mempercepat langkah ke Toilet untuk mengeringkan rambut dan memperbaiki dandanan yang…….Ups!!

“Sorry…” seseorang hampir ditabraknya  di koridor. Gile pagi begini sudah nongol di kantor., pikirnya takjub. Biasanya baru dia  saja bareng satpam sama office boy yang sudah hadir sepagi ini.

Hah!! Gadis itu  menjerit tertahan melihat rambut dan dandanannya yang porak poranda diterpa hujan pagi ini.

“Kemana aja? Sakit?” Diana menghampiri meja Meli yang sudah penuh dengan dokumen dokumen.

“He eh…” gadis itu  menelusuri satu persatu berkas berkas yang menumpuk. Satu minggu  absen, terbaring sakit di rumah. Dan mejanya sudah seperti kapal pecah.

“Heh!!” Meli mendongak. Mas Pram berdiri di hadapannya  dengan setumpuk lagi dokumen,” Yang itu belum seberapa ,say! Nih aku tambah! Jangan lupa minta tandatangan untuk Aplikasi Kredit Limitnya PT Sanur…Okey?”

Tuhan…keluhnya.

“Sudah baikkan kan,Mel…?” Mas Pram masih di depannya sambil tersenyum jahil.

            Gadis itu meraih map berisi berkas yang tadi diminta Mas Pram dan setengah belari menuju ruangan Pak Baskoro, direktur utama.            “He Mel ! Mo kemana??” sergah Mas Pram.

            “Ya ke ruangan Babe lah minta tandatangan!” jawab gadis itu meneruskan langkah. Masih terdengar lagi Mas Pram memanggil, tapi dia  cuek saja, pasti mau iseng lagi. Tebaknya.            “Babe lagi kosong, Ris?” Meli menghampiri meja  pada Rista sekretaris Pak Baskoro. Yang ditanya  Cuma mengangguk sambil memandangnya.

            Dibukanya handle pintu ruangan Pak Baskoro setelah mengetuknya pelan.            “Ya..?”

            Bukan Pak Baskoro yang ada di dalam ruangan. Seorang laki-laki muda memandang gadis itu dengan kening berkerut.            Meli menoleh lagi ke Rista yang sedang cengar cengir di luar,”Kok..?”

            “Itu Pak Jodie, anaknya Babe…”Rista berbisik di mejanya” Makanya ,jangan nyelonong aja!”            Meli  berpaling pada Laki laki yang masih duduk santai menikmati wajahnya yang merah padam.

            “Masuk saja…” katanya.            “Maaf Pak, saya tidak tau kalau….”

            “Kamu yang tadi pagi kehujanan kan…?” tebak laki-laki itu.            Oh, dia toh yang tadi pagi aku tabrak di koridor. Apes, mana nggak sepatahpun kata maaf keluar dari mulutku tadi pagi.
            Meli mengangguk kisruh. :”Saya mau minta tandatangan Pak Baskoro” lapornya.

            Jodie mengambil berkas di tangannya  dan meletakkannya di Meja “Sebentar Lagi juga Bapak datang…” katanya.            “Nanti saya kembali lagi, terimakasih” Meli  berbalik pergi.

            “Heh Nona….”            Jodie berdiri dari duduknya, baru terlihat posturnya yang tinggi langsing. Dengan kedua belah tangan di saku celana dia menghampiri Meli

“Sepertinya saya tidak pernah melihat kamu…”

            “Iya betul,Pak! Saya juga baru melihat Bapak….Saya karyawan kontrak untuk 6 bulan di bagian EXIM. Nama saya Meli…”

            Jodie menjabat tangan nya  erat,Meli jadi bisa melihat  tangannya yang putih bersih. Apa apaan sih?!! Jadi melantur.Bentaknya pada diri sendiri.            “Hmm…..Jodie Firmansyah Baskoro. Saya pun baru seminggu diminta Bapak untuk mulai membantu di sini.”

            Tapi kok dari tadi nggak ada senyumnya sama sekali. Garing.

            “Permisi Pak. Maaf soal tadi pagi.”            Jodie  mengangguk kecil.Meli  berjalan cepat dan menutup pintu dengan cepat juga. Lalu menarik nafas di balik pintu. Haahhh….

            “Woi…kenapa Mel…?”            Di depannya Mas Pram, Daniel dan Rista memandangk dengan  aneh.

            “Kok kayak kepiting rebus gitu. Kaget ya ngeliat cowok cakep di kamar Pak Baskoro…HAHAHAAA”            “Ih ngapain sih?!!”

            Terdengar suara mereka tertawa di belakang. Sial. Kok nggak ada yang kasih tau kalo ada bos baru, sungutnya.

            Jam 6. sore. Meli melirik orang orang di sekelilingnya. Sebagian besar meja sudah ditinggalkan pemiliknya untuk pulang. Cuma satu dua orang saja yang masih sibuk di muka komputer. Sama seperti dirinya.

            Meli merasa bersyukur karena minggu ini masih libur semester, jadi nggak harus kuliah sepulang kerja. Padahal kerjaan sedang lucu lucunya menumpuk. Dokumen ekspor, perhitungan royalty dan komisi,laporan bulanan, Debit note dan teman temannya.            Semenjak mulai masuk kembali tiga hari lalu, Meli merasa hampir  hampir tidak bisa melihat Matahari terbit sampai tenggelam lagi. Perkerjaan yang  selama seminggu terabaikan sedikit demi sedikit harus dikejar. Beberapa pekerjaan sudah dibantu oleh Mas Pram dan Diana, tapi sisanya masih terlalu banyak.

            Matanya berkunang-kunang , sudah sejak jam 3 tadi mencocokkan dan memasukkan data satu persatu. Rasanya mata terasa  berat dan berair.Kantuk mulai timbul.             Wuaaahhhh….!! Ia menguap dengan puasnya. Belom lagi mulutnya terkatup matanya yang juga belum sempurna terbuka menangkap bayangan di pelupuk mata.

            “Enak..?”            Meli mengatupkan mulut dan menelan ludah, “Maaf,Pak…” katanya kikuk. Sambil berpikir, sebesar apa lebarnya mulut tadi ya…astaga.
            Jodie meletakkan berkas aplikasi kredit di hadapan gadis itu, lalu berlalu dengan gayanya yang santai dan cuek. Beda banget sama Ayahnya yang baik hati, tapi tegas.

            “Mel, gak pulang?” Rudi berdiri di sampingnya,” Bareng gak…?”            Meli  menggeleng, “Aku belom selesai. Kamu duluan aja deh, makasih…”

            “Ya udah, eh..muka kamu pucet banget tau…ati ati ya say,..ntar kalo kamu ada apa apa aku  bisa sedih…”            “Hhhh dasar playboy cap ember….” Sungutnya.

            Perhitungan royalty dan komisi sudah hampir selesai, tinggal di setting saja. Dan kepalanya mulai senut senut. Wah kacau nih, sudah nggak bisa diajak kompromi. Rasanya apa yang dilihatnya mulai jugkir balik, ……….

            Meli membuka matanya perlahan. Rasa penat di kepala masih terasa. Diperhatikannya langit langit kamar yang  terasa asing. Dia bukan berada dikamarnya.

            “Bagus kamu sudah sadar….” Gumam seseorang.            Jodie  duduk di kursi dekatnya terbaring. Melia  langsung melonjak bangun.

            “Saya kenapa Pak…?”            “Kamu pingsan tadi. Lalu diboyong Slamet ke ruanganku…”

            Tangannya yang kokoh masih mengaduk aduk teh dan menyodorkannya             Melia meneguknya dengan susah payah.

            “Kalau sudah agak baikan, cepat habiskan minum kamu. Saya antar pulang…”            Ia melirik jam. Pukul 9.15 Malam!!! Berapa jam aku pingsan barusan?

            “Biar saya pulang sendiri Pak. Sepertinya saya sudah agak baik…” Meli beranjak berdiri, “Oya, terima kasih sudah menolong saya…”            “Hei! Kamu mau kemana…?”

            “Pulang…”            Wajah keras yang selalu terlihat muram itu mendadak berubah, sedikit demi sedikit menyembul senyum dan lesung di pipinya. Meli memandangnya takjub, orang ini seperti berganti topeng. Perubahan wajahnya begitu drastic.

            “Coba ngaca dulu Nona. Tampangmu jelek sekali!” Jodie masih terus tersenyum geli, diambilnya tas ransel Meli yang tergeletak di sofa, “Ayo pulang…”             

            Enak saja ini orang bilang tampangku jelek. Meli  melewati kaca wastafel di depan Toilet ketika mereka berjalan keluar. Astaga!!            “Pak, sebentar Pak!!” serunya  berlari ke dalam toilet. Rambutnya sangat berantakan, wajah sudah polos dan pucat seperti mayat.

            Sebetulnya apa yang dibilang orang itu bener juga,pikirnya sebal, Cuma…to the point amat sih!!

            “Saya turun di sini Pak,…”

            Jodie menepikan mobil di muka parkiran rumah susun. Matanya memandang ke arah Rumah susun di hadapan mereka.            “Kamu tinggal di sini…?”

            Melia mengangguk sambil membuka pintu mobil, “Terima kasih Pak, maaf merepotkan…”             “Tidak Apa-apa. Besok lebih baik kamu tidak usah masuk dulu. Saya lihat kondisi kamu masih belum beres….”

            “Ya, terimakasih…” sahut gadis itu  pelan. Kepalanya  masih pening dan tubuhnya masih terasa lemas. Ia juga menebak nebak apa yang ada dalam pikiran anak bosnya itu saat ini, soalnya sepanjang jalan dari kantor ke sini ia tertidur pulas.             Meli bergidik, …apa tadi mulut ku terbuka lebar waktu tidur…atau malahan sudah ngiler…?.ups…mudah mudahan nggak…

            Suara azan terdengar lamat-lamat. Meli bangun susah payah dengan kepala berat menuju kamar mandi untuk berwudhu.            “Ya, Tuhan…” seusai sholat, “ Berikanlah kebahagiaan bagi Bapak dan Ibuku di sisimu. Juga lindungilah aku selalu dan berikan aku kesehatan yang baik agar semua cita cita ku tercapai…Amin”

            Matanya basah.. Selalu begitu setiap kali selesai berdoa untuk Bapak dan Ibunya.            Selalu teringat wajah lembut Ibunya menyiapkan sarapan pagi , juga Bapak yang selalu memacu semangat belajarnya. Sampai kecelakaan itu memisahkan mereka.

            Selalu terbayang kembali tubuh Bapak dan Ibunya yang hancur  di dalam mobil butut mereka yang  terseret kereta. Sebuah keajaiban ia selamat meski lecet lecet sedikit.            Apa yang gadis itu tau adalah bahwa sepanjang hidup orangtuaya adalah perjuangan, setelah limabelas tahun  menanti kehadiran seorang anak, baru lah Tuhan menghadiahkan dirinya  untuk  Bapak dan Ibu.

            Sepanjang hidupnya  Bapak dan Ibu adalah kerja keras agar Ia dapat sekolah. Untung masih ada rumah ini untuk tempatnya berteduh. Ia  tak ingin hidup menumpang kerabat Bapak. Meskipun Pak De Dino berulang kali membujuk  untuk tinggal bersamanya, Meli tetap tidak bergeming.            Lebih nyaman baginya tinggal bersama kenangan dengan Bapak dan Ibu. Dan Meli merasa Tuhan juga berbaik hati padanya, Dia mengirimkan Pak Baskoro ;bekas komandan Bapak semasa perjuangan dulu datang melayat ketika Bapak dan Ibu dikebumikan dan menawarkannyau untuk bekerja secara kontrak diperusahaan yang dipimpinnya.

            Dengan gaji yang didapat Ia bisa menghemat untuk membiayai kuliah. Ia cukup bersyukur.

            Bapak, Ibu…jangan khawatir padaku. Meski di sana, kalian akan kubuat bangga terhadapku. Amien. Melia mengusap wajah mengakhiri doanya.

           

Supermarket Guardy agak sepi pengunjung. Meli  menebar pandang mencari ikan sarden kaleng. Sesekali makan makanan yang lumayan, Kebetulan baru dapat honor menulis sebuah artikel di majalah. Lagipula Ia masih ada dua hari izin dokter untuk tidak masuk kerja, jadi agak sempat untuk memasak.

            Tiba-tiba kerlingnya menangkap bayangan yang dikenalnya ketika melewati rak obat-obatan. Jodie. Tidak dengan pakaian formil, tapi berbalut kaos ketat lengan panjang warna hitam. Hm..kelihatan seribu kali lebih muda.            “Pak ….…” sapanya.

            Jodie menengok dan terlihat agak terkejut melihat siapa yang menyapanya. Senyumnya yang baru sekali sekalinya dilihat Meli  kemarin itu menyembul sedikit demi sedikit.            “Kamu. Bagaimana keadaanmu?” katanya sambil mengambil 3 strip obat sakit kepala.

            “Lumayan Pak! Bapak sama siapa?”            “Sendirilah ,cari obat ….” Pak Jodie memandang gadis itu  dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meli  mundur selangkah ketika mata bos-nya itu  sampai di kaki. Soalnya Ia tidak pakai sepatu, Cuma pakai sendal jepit.

            “Kenapa Pak…”            “Kalau begini, kamu terlihat masih anak-anak. Mungkin karena selama ini bedak kamu terlalu tebal…”

            Sial! Ini juga yang jadi pembicaraan cewek-cewek di kantor, cara bicara Pak Jodie yang seringkali tanpa saringan. Meli membathin            “Jangan marah, Non!” katanya.

            “Ah nggak marah kok. Ya udah, selamat belanja Pak,…” ujar Melia  sambil mengangguk dan meninggalkan Jodie            “He Nona,… kebetulan ketemu kamu. Saya mau makan di foodcourt di lantai 2 Mall ini. Mau temani saya?”

            Hah…makan bareng makhluk kelabu ini. Tidak terbayang deh, mau ngomongin apa nanti.??            “Yuk!”

            Meli seperti tersengat listrik ketika Jodie  tiba-tiba menarik lengannya  keluar dari Supermarket!

            Jodie dengan santai melahap Ifumie pesanannya.             “Saya suka sekali Ifumie…”

Sementara gadis di hadapannya merasa kaku menyantap Mie goreng.

            “Kamu tadi belanja apa?”

            Meli mengankat bahu, “Cuma cari Ikan sarden kalengan….”            “Sakitmu gimana…”

            “Mulai pulih. Sudah agak kuat sekarang, makanya berani pergi ke luar..”            Jodie  menyeruput minumannya perlahan. Dia begitu relax. Tidak seperti di kantor. Di sini senyumnya seringkali muncul, juga lesung di pipinya yang putih.

            Sebetulnya dia enak dipandang, Meli menilai, Kalau dilihat dari penampilannya juga mungkin umurnya tidak seberapa jauh dariku.

            “Apa….makanku terlihat rakus…?”kata Jodie  mengejutkan. Tangannya mengibas di depan wajah Meli            “Hh….?”

            “Kamu melihatku sedemikian rupa, apa aku terlihat terlalu rakus…?”            Wajah Meli memerah menyadari sejak tadi ia memandangi Jodie sedemikian rupa.

            “Nggak….Cuma saya yang belum berselera makan. ..” elaknya.            “Kamu bisa masak ya?”

            Meli  mengagguk, “Semua harus bisa saya kerjakan sendiri Pak….”            Cowok dihadapannya memandang sekilas” “Karena kamu hidup sendirian..” gumamnya.

            Lalu senyum itu mucul lagi,”Sudah deh,…sekarang kamu pelan pelan mesti habiskan makananmu. Saya antar kamu pulang. Tapi tidak perlu buru-buru….”            Di perjalanan pulang Jodie tidak banyak bicara, Meli juga  lebih banyak diam saja.

            “Pak Jodie suka Ifumie…?” tayanya ketika mobil menepi di muka Rumah susun.            Entah setan mana yang membuatnya  bertanya seperti itu.

            Terlihat jelas Jodie sedikit kaget.            “Suka banget.Kenapa…?”

            “Besok saya mau masak. Saya mau mengudang Bapak makan siang…”            “Makan siang..”gumamnya.

            Ini ide gila banget, pikir Meli, mengundang atasan makan siang!

            “Maaf Pak, kalau terlalu lancang..”            “Eh nggak ! Mmm…gimana kalau makan malam saja ,boleh…?” alis matanya laki-laki itu  bertaut, “Kalau siang waktuya sempit…”

            Senyum Meli mengembang,”Oke! Saya tunggu besok Pak. Dan terimakasih atas makan malamya malam ini  juga tumpangannya.            Jodie mengangguk dengan senyum khasnya yang sangat irit, tiba tiba menarik lengan Meli ketika gadis itu hendak melangkah keluar Mobil.

            “Saya punya satu syarat….” Ujarnya.            Meli mengerutkan dahi dengan heran.

            “Jangan panggil saya Bapak kalau di luar kantor…”             Meli tersenyum simpul, “Jadi …?”

            “Panggil saya Kakak, atau Jodie saja…”

            Meli mengangguk , barulah Jodie melepaskan cengkramannya di lengan gadis itu.

            Jodie melarikan mobilnya menerobos malam. Ada perasaan asing ketika disadarinya ia cepat sekali akrab dengan gadis kecil bernama Melia itu. Anak Alm. Pak Bambang, menurut ayahnya.

            Ia juga merasakan keheranan yang sama ketika dengan mudahnya menerima tawaran makan siang Meli, malahan merubahnya menjadi Makan Malam. Padahal beberapakali cewek2 di kantor menyampaikan undangan yang sama , tak satupun di gubrisnya. Ia lebih memilih pergi dengan George,  teman kuliahnya dari  London.

           

           

            Pukul 7 malam sudah lewat. Meli memandangi cap cay dan mie kering yang sudah dihidangkan di meja.            Belum ada kabar dari Jodie. Meli merengut kesal. Katanya jam enam sudah bakal di sini. Tapi jam segini belum muncul juga.

            Heran betul, aku juga sih yang sinting, berani beraninya ngundang makan anak babe, pikirnya, udah jelas korban sudah banyak berjatuhan. Diana, Rista, Dewi, undangan mereka satupun tak ada yang di terima Pak Jodie. Tentu saja dengan berbagai alasan yang masuk akal dan tidak menyakitkan. Tapi intinya tetap sama; Menolak.

            Meli melirik lagi jam butut di dinding. Jam 7 lewat empat puluh lima ketika pintu diketuk.            Jodie berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja kerja dan dasi yang sudah masuk di saku baju.

            “Sorry….”ujarnya sambil mengatur nafas yang memburu karena sedikit berlari menaiki tangga, “Tadi ada tamu dari Singapore, meeting sampai jam setengah tujuh. “            “Gak apa-apa…masuk yuk…”Meli menelan ludah menyurutkan marahnya ketika dilihat wajah lusuh itu di ambang pintu.

            Kasihan, dia pasti ngebut…pikirnya ge-er.            Jodie mengedarkan pandang ke seluruh ruangan yang sempit itu. Cuma ada satu set meja di ruang depan. Tidak ada meja makan.

            Makanan juga di sajikan Meli di meja itu.            “Langsung makan ya?” Melia menuangkan air putih ke gelas Jodie, “Maaf, nggak ada meja makan. Meja ini jadi meja serbaguna. Ya buat terima tamu, ya buat belajar dan buat makan….”

            “Silakan Pak…”            Jodie melotot,”Inget janji kamu kemaren…” gumamnya sambil menuangkan cap cay di piringnya.

            “Terus terang saya nggak sanggup panggil nama saja…”ujar Meli kikuk.            “Kalo nggak sanggup, panggil Kakak aja. Kan memang saya lebih tua dari kamu…….Itu dong aku mau sambelnya….”Jodie menujuk piring kecil berisi sambal di dekat siku Meli.

            “Oya memang umur kamu berapa sih? Sembilan belas? Dua puluh?” cowok itu bertanya lagi.            “Dua puluh….”

            “Ya sudah, cukup lah kalau kamu paggil saya kakak. Beda 7 tahu kan banyak! Lagi pula nggak ada yang pernah panggil saya kakak selama ini…”kata Jodie serius, “…..kamu kok dari tadi begong aja? Makan dong!”            Meli tertawa melihat ekspresi Jodie yang keheranan.

            “Enak nggak…?”            “Lumayan….Cuma kurang banyak!” ujar Jodie sambil memamerkan senyumya yang irit, “Jangan-jangan kamu nggak ikut makan karena takut nggak cukup ya…?”

            “Ih nuduh!” Meli bersungut sambil menuangkan sedikit cap cay di piringnya. Dia memang tidak begitu berselera.            “Aku mau tukar baju, boleh…?” pinta Jodie sambil mengambil bungkusan yang tadi dibawanya dari mobil, “Gerah nih pakai baju formil begini, mana habis makan lagi…”

            “Di kamar mandi?”tanya Meli.            “Kamar kamu juga boleeeh…” jawab Jodie seenaknya.

            Meli mencibir dan meunjukkan arah ke kamar mandi yang juga sempit. Tapi ia cukup terharu karena Jodie sama sekali tidak menujukkan rasa canggung melihat keadaan rumahnya.            Kalau sifatnya yang ini, Jodie mirip Pak Baskoro. Meli menaruh rasa hormat yang tinggi pada mantan atasan Bapak itu. Sikapnya samasekali tidak arogan ketika datag ke sini menengok Meli yang masih dalam keadaan berkabung. Itu kali ke dua Pak Baskoro datang, kali ini untuk menawarkan Meli bekerja di kantornya. Sekaligus mematahkan keinginan Pak De Dino untuk membawa Meli ke Jogja membantunya di Toko.

            “Mel…”            Meli terkesiap. Jodie sudah berdiri lagi di hadapannya, dengan kaos warna hijau lumut strech yang memperjelas bentuk tubuhnya yang atlletis.

            “Kenapa…?” Jodie duduk di hadapannya, “Kamu sedih ya makanannya saya habisin….?”            Meli mendadak terbahak bahak. Jodie melangkah mundur.

            “Mel…Woii!! Kenapa sih..?!”            “Abis  lucu banget sih! Ternyata. Padahal kalo di kantor boro boro mau senyum apalagi ngomong yang konyol-konyol kayak begini….”

            “Ya masak di kantor mesti senyam seyum begini, yang ada justru kalian nanti yang ngetawain saya…Lagipula saya orang yang susah untuk beramah tamah sama orang…apalagi cewek…”            “Iya sih, keliatan kok…” jawab Meli masih tersenyum, “Tapi sama saya buktinya bisa!”

            Ganti Jodie yang terdiam.            “Soalnya kamu memang orangnya aneh. Nggak biasa….tapi saya justru seneng yang model kamu. Orang lain di kantor, terutama cewek, kalau berhadapan dengan saya kalau bisa mungkin sampai kaki mereka menunduk. Dan banyak basa basi….Saya gak suka…”

            Mereka membereskan piring bersama sama. Meski Melia melarang tapi Jodie merasa tidak enak melihat tuan rumah beres beres sendirian.            “Sudah malam, saya pulang ya….?”

            Melia sudah selesai merapikan piring.            “Terima kasih mau memenuhi undangan saya,Pak…”

            “Ya, Mbok…Makanan Mbok  enak banget….besok besok jualan  aja di depan kantor saya…” sahut Jodie enteng.            “Tega banget sih!!”

            “Lagian kamu sudah saya bilang panggil saya KAKAK kalau di luar kantor! Kurang jelas apa?!”            “Oke….oke Kaakak….Rambut Kakak bagusss deeh…”

            Jodie tersenyum sambil geleng geleng. Ketika sampai di pintu ia berhenti sejenak.

            Meli bernyanyi kecil di belakangnya “Kakak…Kakak di dinding…diam diam merayap….datang seekor….”
            “Itu Cicak,Mel….”.

           

            Jodie menekuri laporan bulanan dari Pram satu persatu. Meski ingatannya sebagian tidak ke angka angka di hadapannya.            Barusan George menelponnya, “Kita bertemu di Muzi Café seperti biasa…Please…”

            Sudah beberapa kali cowok itu menghubunginya untuk bertemu meski belakangan ini kebanyakan rasa enggan yang timbul setiap kali George menghubunginya.             “Jod,….”

            Jodie tersentak. Ayahnya sudah berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya.            “Kenapa lagi…?”

            Jodie meletakkan berkas berkas kerja di meja. Wajahnya yang putih kelihatan begitu kisruh. Ia menarik nafas resah, sambil menggeleng.            “George telpon…” gumamnya.

            Pak Baskoro duduk di hadapan anaknya, “Papa tak bisa memaksa kamu, tapi….cobalah untuk berubah…Cuma kamu satu satunya harapan Papa.”

            Jodie menatap Ayahnya putus asa.

           

            Melia terkejut ketika membuka pintu depan. Jodie berdiri di ambang pintu. Masih dengan pakaian kerja.

            “Sorry gak bilang bilang kalao mau datang…” kata cowok itu sambil tersenyum letih. Melia mempersilahkannya masuk.            Jodie menghempaskan di kursi tamu. Kemudian duduk menunduk , tangannya yang kukuh meremas rambutnya yang agak gondrong . Melia Cuma duduk terpaku di seberangnya, memandangnya dengan heran tapi lebih memilih mendiamkan saja sampai Jodie sendiri yang bicara.

            “Kenapa,Mel…” sapa Jodie pelan setelah disadarinya Meli Cuma melongo di hadapannya.            “Harusnya saya yang tanya, kamu kenapa?”sahut Meli, “Ada masalah?”

            Jodie menggeleng pelan, “Kita keluar yuk?”            Meli melirik jam. Pukul tujuh lewat seperempat.

            “Kemana..?”            “Kemana aja deh, pokoknya keluar…please…”Cowok itu memandang Melia memelas.

            Melia mengangguk dan masuk ke dalam untuk tukar pakaian.

            Sepuluh menit kemudian mereka sudah melesat meninggalkan rumah Meli, menembus malam. Dan Jodie banyak membisu.

            “Kenapa sih….” Melia membuka percakapan ketika mereka sudah duduk memesan makanan di Café Muzi. Jodie baru saja kembali dari rest room untuk tukar pakaian.

            Di panggung mini di sudut ruangan terdengar life musik dari penyanyi café. Baru saja terdengar lagu “Perbedaan” Ari Lasso mengalun lembut.            “Gak apa-apa,…Cuma mungkin sedikit capek…”ujar Jodie sambil memandang ke penyanyi yang sedang bernyanyi.

            “Maaf aku mungkin merepotkan dan mengejutkanmu malam ini. Tapi, aku membutuhkan seseorang untuk ku ajak bicara. Kamu tau sendiri, di sini aku tidak banyak teman. Temanku yang paling baik Cuma kamu…”            “Saya nggak keberatan…sejak pertama saya kenal, saya sudah tau kamu  pasti punya masalah. Tapi saya nggak bisa nebak masalahnya apa. Kadang kamu terlihat agak misterius…”

            Jodie tersenyum, “Sok tau kamu….”            “Tuh udah bisa senyum, udah bagus!”

            Mereka tertawa berdua. Melia menertawakan kelakuan Jodie yang umurnya jauh lebih dewasa tapi terkadang lebih kekanak kanakan. Mungkin karena cowok ini dibesarkan dalam lingkungan serba ada. Dan kasih sayang yang berlimpah dari Ayahnya.            “Hi!”

            Melia terkesiap ketika seorang cowok bule menghampiri meja mereka. Jodie juga terlihat agak kaget meski kemudian sikapnya biasa biasa saja.            “George…”

            Cowok yang bernama George itu menatap Jodie dan Melia berganti ganti seperti kebingungan. Melia mengamatinya sekilas. Wajah cowok itu sangat tampan, kalau dia perempuan pasti sangat cantik sekali. Garis wajahnya halus. Badannya tinggi tegap.            “Mil, Ini George, teman ku waktu di London dulu. Dia kerja di London, tapi sedang dinas beberapa bulan di sini….”ulas Jodie, “George this is Melia…”

            Melia menyambut jabatan tangan George. Cowok itu masih saja berdiri di sisi meja.            “Is she your girl ?” Tanyanya pada Jodie.

            Jodie menatap Melia sekilas, “I hope…” jawabnya pelan.             Melia merasa wajahnya merah mendengar jawaban Jodie barusan. Enak bener  nih cowok, nggak kompromi dulu sebelumnya.
            George tersenyum tipis, “Okey, I should meet someone. Enjoy your dinner…Bye” ia menepuk bahu Jodie pelan dan berlalu dengan cepat.

            Jodie kembali menatap ke panggung. Kali ini lagu “Reality”-nya Richard Anderson mengalun.            “kamu kok ngomong gitu sih?!!” protes Melia.

            Jodie meneguk Orange juice-nya, matanya yang selalu bersorot tajam itu menatap lurus ke arah Melia, “Ngomong apa…?”            “Waktu tadi George Tanya apa aku adalah pacar kamu, kamu jawab I hope!!”

            “Memang salah?”            “Ih! Ngomong kok nggak kompromi dulu…”sungut gadis itu

            Jodie meletakkan gelasnya , tangan kirinya meraih tangan Melia yang terkulai di meja. Wajah cewek itu makin merah. Darahnya terasa mengalir kian deras.            “Memangnya saya nggak pantas ya jadi pacar kamu…?” kata Jodie lebih seperti gumaman, “Apa saya terlihat seperti punya kelainan…?”

            Melia melepaskan tangannya pelan pelan. Membiarkannya dalam genggaman Jodie membuat detak jantungnya tidak normal, itu bahaya. Bisa bisa dia pingsan mendadak.            “Kak…kamu sedang mencoba mengatakan bahwa kamu suka sama saya??”

            Jodie tersenyum lebar, membuat lensung pipitnya menyembul, “Aku kan Cuma nanya, apa saya nggak pantas jadi pacar kamu??”            “Lho?! Jadi…?” Melia makin bingung .

            “Sudahlah, makan dulu tuh steak kamu…..habis ini kita pulang…”jawaban Jodie semakin membuat Melia geleng geleng. Aneh bener ini orang, pikirnya.

            Jodie menghabiskan steaknya pelan pelan. Melia tau dari mata cowok itu, pikirannya sedang mengembara entah ke mana.

            Mereka sampai lagi di depan pintu rumah Melia, di lantai dua rumah susun itu. Sepanjang perjalanan pulang tadi Jodie  lebih banyak diam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mendengarkan alunan suara Sade dari CD player di mobil Jodie.

            “Mau masuk?”Melia melirik Jodie yang berdiri di sampingnya.            Jodie menggelang,”Sudah malam banget…”

            “Kalau gitu sampai ketemu besok. Aku besok kan mulai masuk kantor lagi…”ujar Melia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.            Jodie menarik lengan Meli pelan, “Mel, terimakasih sudah mau menemani saya malam ini…”

            Melia menggeleng. Bukan apa-apa, detak jantungnya mulai tidak normal lagi. Ia mulai menggerutu dalam hati            “Kalau sikap saya menyinggung perasaan kamu, tolong maafkan saya… saya sama sekali tidak bermaksud mempermainkan atau mempermalukan kamu. Maafin saya ya…?”

            “Malam ini Saya juga senang kok. Jadi nggak ada masalah. …”            Jodie mengagguk, “Selamat Malam…sampai ketemu besok…”

            Melia melepaskan tangannya dari pegangan Jodie. Kali ini ia benar benar melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Dihempaskannya tubuh di kasur dalam kamarnya yang sempit.            Pikirannya berkelana. Sebagian terbesar adalah pikiran pikiran tentang Jodie. Sikap anehnya malam ini, sekaligus sentuhan sentuhan lembut yang tak terduga yang dilakukannya. Melia merasakan sensasi aneh setiap kali mengingat genggaman tangan Jodie dan tatapannya yang kadang keras dan bisa tiba tiba melembut kepadanya.

            Cowok yang aneh,…Melia menyimpulkan sambil menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.

            “Mel, enak benerrr abis cuti panjaaaang,…”celoteh Diana di mejanya.            Melia tertawa, baru saja menghempaskan pantat di kursi sudah ada yang berkotek!

            “Namanya juga orang sakit,Mbaaak…”            “Tapi kamu cukup beruntung , soalnya Bos muda nggak ngomel. Kemarin si Rahel absen  dua hari dia ngomel….” Mas Pram menyahut dari balik Note Book-nya.

            “Kan aku pake surat dokter! Masa orang sakit beneran diomel! Itu si Rahel gak ada suratnya kalee!” bela Melia, “Mm,…memangnya Pak Jodie suka ngomel juga…?”            “Eits, jangan salah Neng,…gitu gitu dia lebih teges dari Pak Baskoro lho! Mungkin karena kita udah kerja lama sama Pak Baskoro yang kekeluargaan kali, nah tiba tiba anaknya ikut masuk, suasana jadi berubah deh…”

            Melia tercenung. Diliriknya sekilas pintu kamar kerja Jodie yang tertutup rapat.            “Do’I gak masuk ya Mbak…?” tanyanya tiba tiba.

            Diana mengangkat bahu, “Nggak kelihatan dari pagi….kemaren sore keliatan agak suntuk tuh!”            Kemana dia? Pikir Melia. Tadi malam dia nggak bilang mau nggak masuk.

            “Hei! Pujaan hati nggak masuk?!” Rita sudah berdiri di dekatnya. Matanya melirik ke pintu kamar Jodie. Diana yang di ajak bicara terkekeh.            “Pujaan hati! Lo siap siap patah hati deh Riit, Do’i homreng tau!?” bisik Diana agak keras.

            Melia memandang mereka heran,”homreng…?”            “Ssst! Anak kecil nggak usah ikut campur!” hardik Rita sambil terkekeh kekeh berdua dengan Diana.

            Melia mengangkat bahu mencoba tidak perduli. Kasihan Jodie.pikirnya.            Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Jodie belum muncul juga. Ia mengeluarkan HP dari tasnya dan mulai menulis SMS (short message service).

            Selama siang, …Tidak masuk kantor?

            Lama tak ada balasan sampai kemudian HP nya bergetar lagi.            Mungkin nggak. Kurang enak badan. Kamu nanti lembur atau On time?
            Melia menulis lagi; On time, hari ini saya mulai kuliah lagi. Selesai pukul 8 malam.Kenapa?
            Saya jemput di kampus kamu jam 8. balas Jodie.

            Melia memandang SMS dari Jodie barusan. Pikiranya berkecamuk.

            “Sudah lama?” sapa Melia ketika masuk ke dalam mobil.            Jodie menggeleng, “Berapa mata kuliah?”

            “Cuma satu. Semester ini saya nggak ambil banyak, soalnya fisikku nggak kuat.”            “Gimana tadi kantor?”

            Melia terdiam sesaat, teringat obrolan Diana dan Rita tadi pagi, “Biasa aja…Kita mau kemana?”            “Kamu capek…?”

            Melia menggeleng, dekat dengan Jodie sepertinya dia nggak pernah merasa capek. Kenapa ya…?            “Ngobrol di rumahku aja ,Mau?”         

            Jodie menggeleng, “Nggak enak sama tetangga kamu ngeliat aku sering datang dan lama lama di rumah kamu…..mm…kita ke pantai aja deh…”            —————

            Mereka duduk di dalam mobil menghadapi pantai. Udara di luar terlalu kencang, karena itu Jodie lebih memilih duduk di dalam mobil.            “Belakangan ini terus terang kamu keliatan aneh….” Ujar Melia ketika Jodie banyak terdiam.

            “Mungkin…” aku Jodie.            “Seringkali kamu ngajak aku keluar tanpa tujuan, seperti sekarang. Lalu sebagian besar waktu cuma ngeliatin kamu bengong. Sekalinya ngomong omonganmu banyak mengejutkanku……”Melia memiringkan posisi duduknya memandang Jodie. Memandang rambut gondrongya yang berkibar dan matanya yang kelam.

            “Walaupun kita baru bertemu, tapi sebetulnya hubungan kekeluargaan kita kan sudah ada jauh sebelum  kita lahir. Bapakku dan Pak Baskoro sangat dekat. Jadi, kamu bisa menganggap saya adik. Kalau ada masalah. Ceritain aja sama saya…mungkin sih saya nggak bisa Bantu cari solusi, tapi minimal kamu punya pendengar yang baik…”            Jodie mengalihkan pandangannya dari pantai ke wajah Melia yang terlihat sangat serius. Kalau sedang begini, gadis ini tidak lagi seperti gadis kecil yang baru  2 tahun lulus SMA. Tatapan matanya yang bersungguh sungguh sangat meneduhkan.

            “Terima kasih ya Mel,…kamu betul betul membesarkan hati saya…” gumam Jodie, “Saya Cuma bisa berharap, pandangan kamu terhadap saya akan selalu sebaik saat ini…”            “Memangnya kenapa sih…?”

            Jodie menatap mata Melia resah, “Nggak apa-apa. Cuma, kalau kamu tau bagaimana saya yang sebenarnya, Saya takut kamu akan berubah sama sekali.  Sungguh, saya betul betul nggak ingin itu terjadi. Saya ingin kamu tetap begini, berceloteh dengan bebas, berteman dengan leluasa dengan saya, penuh perhatian seperti saat ini….”            Melia menghela nafas putus asa. Semakin banyak Jodie bicara, dirinya makin tidak mengerti.

            “Jod, terus terang saya nggak ngerti, tapi kalau kamu keberatan untuk ceritapun saya tidak masalah.Dan  Saya tidak akan pernah berubah”            Jodie mengangguk. Baginya saat ini Melia mulai sangat memberi arti. Ada sedikit kelegaan setiap kali disadarinya ia sedang memikirkan gadis ini, entah di rumah, entah di kantor, entah sedang diskusi dengan Papanya, atau bahkan ketika sedang ngobrol dengan George.

            Padahal sebetulnya tak ada yang istimewa dalam diri Melia. Dibanding Diana, Rita, Rahel atau gadis gadis lain yang dikenalnya, Melia sangat biasa. Tapi gadis kecil ini punya sepasang mata yang selalu bersorot jujur dan jernih. Ia pun punya keberanian dalam hidupnya. Buktinya ia bisa berjuang seorang diri, menghidupi diri sendiri dan sangat mandiri. Sejak pertama kali bertemu, tak sedikitpun gadis itu menunjukkan sikap takut atau berbasa basi yang terlalu. Biasa saja.            Ayahnya mengambil langkah benar ketika memutuskan mempekerjakan Melia di kantor, dalam bekerja ia juga punya dedikasi tinggi.

            Jodie merasa keterbatasan Melia justru membuatnya melirik dan kagum. Sementara ini memang seperti itu yang di rasakannya.            Cowok itu menggigil ketika sesekali timbul keinginan untuk mengecup bibir mungil Melia ketika gadis itu sedang berceloteh di sisinya. Atau keinginan menyentuh matanya yang polos. Sebuah rasa yang sangat tidak biasa. Membuatnya sangat sedih.

            Ia teringat George, dan tiga  tahun berlalu di London bersama cowok itu. Berkali kali Ayahnya memintanya pulang tapi Jodie tak perduli. Ia mulai menyukai George pada tahun pertama kuliah. Cowok yang begitu modis itu amat sangat meneduhkannya. Menetramkan hatinya yang baru saja remuk rendam akibat perbuatan Mama yang ternyata punya pria lain dalam hidupnya dan meninggalkan Ayahnya.            Kadang sikap George yang labil juga membangkitkan hasrat nya untuk melindungi cowok itu. Tiga tahun bersama, George telah memberikan tahun tahun terbaik dalam hidup Jodie. Ia bisa menjadi Ibu, menjadi sahabat dan juga kekasih.

            Mereka sering mengabiskan waktu duduk di tepi sungai Themes, ngobrol dan bercanda.            Ayahnya pernah mengalami serangan jantung ringan ketika menyadari perubahan pada hidup Jodie. Anak satu satunya , tumpuan harapan dan hari tuanya ternyata telah menjadi seorang gay.

            Ia masih ingat bagaimana Ibunya melontarkan kata kata melecehkan ketika mengetahui keadaan Jodie. Jodie begitu sakit dan makin membenci wanita setengah bule itu.            Baru ketika Ayahnya mengalami serangan untuk ketiga kalinya, Jodie memutuskan untuk memenuhi panggilan ayahanya dan melepaskan pekerjaannya sebagai akuntan di London. Juga memutuskan untuk meninggalkan George. Meski berat.

            Jalan yang dilaluinya untuk menenenangkan George juga sangat berliku. Pernah beberapa waktu sebelum keberangkatannya, ia menemukan George terkapar penuh darah di kamar mandi mereka. Laki laki itu mencoba memotong nadinya. Untung nyawanya tertolong. Dan dunia Jodie semakin tak menentu.            Hal yang paling  tak diduganya adalah, Geroge meminta perusahaan tempatnya bekerja untuk pindah tugas sementara ke kantor cabang di Jakarta. Ia berkeras untuk mengikuti Jodie.

            Ia masih ingat tatapan terluka George ketika diperkenalkan pada Melia malam itu di Café Muzi. Tengah malam ia menerima telpon dari George yang penuh emosi dan setengah menangis.\            Tak ada keinginan untuk menyakiti hati George. Bagaimanapun perasaan sayang masih ada untuk cowok itu. Tapi Jodie cepat sadar, apalagi melihat kondisi Ayahnya yang mulai sakit dan penuh harapan kepadanya. Membuat keinginannya meninggalkan dunianya dan George semakin besar. Ditambah lagi kehadiran Melia dan perlahan lahan tapi banyak memberi arti.

            Tapi Jodie masih ragu untuk mendefinisikan itu cinta. Apalagi, kadang masih terasa kesakitan dalam dadanya setiap kali melihat George memohonnya untuk kembali padanya dan kembali ke London.            Jodie merasa kepalanya berat.  Rasanya ada berkarung karung beras di panggulnya. Membuat dada dan punggungnya terasa sakit. Hampir tak ada waktu baginya untuk besosialisasi dengan teman temannya semasa sekolah menegah dulu di Jakarta. Sebagian besar waktunya adalah untuk kerja, dan sibuk bebenah diri.

            “Jod,…” teguran Melia mengejutkannya. Di sekanya mata yang terasa panas sambil berharap agar Melia tidak melihat matanya yang mulai berkabut. Tapi semakin di tahannya, beban itu semakin menghimpit dan menyesakkan.            Melia mengulurkan tangan menyentuh punggung tangan Jodie yang erat menggenggam stir mobil. Jodie merasa seperti disiram air yang menyejukkan, hal yang tidak pernah dirasakannya selama kehidupannya bersama George.

            Cowok itu balas menggenggam tangan Melia lembut, dan perlahan menarik Melia dalam dekapannya. Ia menunduk dan mengecup kening gadis itu pelan.            Melia merebahkan kepalanya dalam rengkuhan tangan tangan Jodie yang kokoh. Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi, ia Cuma tahu bahwa perlakuan Jodie menghadirkan perasaan aman dan terlindungi. Ia tidak perduli masa lalu yang disembunyikan Jodie.Ia tidak perduli.

            “Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, …tapi kalau kamu mengizinkan, aku pasti akan terus mendukungmu.”            Jodie membelai rambut Meli,”Apa pernah ada yang memberitahukanmu soal masa laluku…?”

            Melia menggeleng, “Pak Baskoro pernah bercerita tentang kamu  kepadaku suatu saat, tapi tidak ada yang aneh dalam ceritanya. Cuma….”            “Cuma…?”

            Melia beranjak dari rangkulan Jodie ke posisi semula. Ditatapnya mata Jodie dengan hati hati.

            “Ada rumor yang saya dengar dari orang kantor bahwa….”

——–….sambungannya…ada deh….………

MY PROJECTSJanuary 20, 2007 2:32 pm

BAB I
Prolog


 Marla memarkir mobil berpayung batang batang Akasia yang tumbuh lebat menyerupai hutan. Memang pantas pelataran parkir kampus ini disebut “Jungle”. Karena rimbun dan tingginya pohon pohon Akasia yang tumbuh berderet.
            Sekarang jam sembilan pagi, pelataran parkir sudah hampir penuh oleh mobil mobil mahasiswa yang kuliah jam tujuh. Beruntung mobil Marla kecil, ada sisa lahan sedikit tetap bisa masuk.
            “Good!” hela gadis itu sambil menarik rem tangan. Diliriknya jam Mickey Mouse  di tangannya, berdetak detak seolah detak jantung sang Mickey.
            Baru jam 9.15.  Masih pagi. Ia mengkunci pintu mobilnya dan memberikan kode pada Kholil, tukang parkir
            “Lil, gue pulang sore, jagain mobil gue yeh!!” serunya sambil menjejalkan uang ke tangan tukang parkir item itu.
            “Beres Neng!”
            Marla mendelik, “Nang Neng Nang Neng! Gue bukan si  Neneng!!” serunya sewot. Kholil  terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang coklat.
            Cewek bernama Neneng sangat kesohor di kampus. Dibilang nggak waras, tapi kalau bicara santun dan teratur. Disebut waras juga tidak bisa. Pakai baju selalu dengan motif tabrakan, kalau atas garis garis, bawahannya bisa polkadot atau kotak kotak. Begitu juga warna, bisa perpaduan Ungu dengan  Kuning,Merraaah dengan Ungu,atau Kunniiing dengan Hijau. Selalu bikin sakit mata yang melihatnya. Belakangan ini Neneng sering nongkrong di lobby gedung Ekonomi. Cari sasaran empuk untuk diajak ngobrol soal suka dukanya sebagai Mahasiswi di Kampus. Kalau sedang nongkrong di Ekonomi, Neneng mengaku  anak semester 5 Akuntansi. Kalau sedang terdampar di Teknik Industri dia bisa ngaku anak semester akhir Elektro. Fleksible lah! Pokoknya semua kenal Neneng.
            Marla melongokkan kepala ke jendela sekretariat yang terbuka.
            “Son!! Whei!! Buka pintunya!!” teriaknya pada Olson yang terlentang nyaman sambil mendengkur di dalam.
            Cowok berukuran beruang kutub itu masih mendengkur, malahan kedengaran makin nikmat. Ruangan ber AC , tapi jendela di buka lebar lebar. Ceroboh banget sih, begitu banyak manusia lalu lalang disini bisa aja ada tangan tangan iseng ngambil laptop yang terletak dekat pintu.
             “Kenapa La?” tiba tiba Sammy sudah berada di dekatnya. Sammy ketua umum Unit Ilmiah yang sekretariatnya persis di hadapan sekeretariat Jurnalistik.
            “Tuh si Olson! Dia kunci pintu dari dalem, Ngorok! Mana Jendela di buka selebar lebarnya!”
            Sammy melongok ke jendela, dari saku jeansnya di keluarkan korek api TOKAI dan di lemparkan tepat ke permukaan jidat Olson yang landasannya luas. Pletak!!
            Olson langsung terbangun, “Siapa neh!!!!” serunya marah.
            “Gueeee!!!” sahut Marla keras.
            Wajah Olson yang tak bisa dipungkiri dan pasti diyakini mirip dengan Almarhum pelawak Darto Helm langsung berubah.
            “Eh, Elu La….hehehe tega banget siiy ngebanguninnya pake lempar korek,….lempar duit kek, lempar makanan kek,….” Katanya sambil senyum manis dan beranjak membuka pintu.
            “Besok gue lempar kacang deh, Son!” sela Sammy.
            “Emang gue Nyomet!” Olson mendelik ketus pada Sammy yang sudah berdiri di ambang pintu ketika pintu kayu itu di buka.
            “Sensitif banget sih,Son,….yang doyang kacang kan bukan Cuma Monyet…” Marla menengahi. Muka Olson kembali berubah manis.
            “Gajah juga  demen kalo dilemparin kacang….” Marla menambahi sambil melemparkan berkas berkas ketikan yang dibawanya dari rumah.
            Sammy tertawa ngakak.
            “Puaaasss..?”
            “Lho kan bukan gue yang bilang Gajah suka kacang, kenapa lo sewotnya sama gue!”Sammy membela diri, “kalo Marla yang ledek aja lo nggak sewot….”
            “Sam, Unit elo jadi ga mau nyumbang artikel?” Tanya Marla. Minggu ini sudah taraf pengumpulan materi untuk edisi depan. Berhubung moment nya sedang penerimaan mahasiswa baru, jadi akan diperbanyak space untuk perkenalan unit unit kegiatan mahasiswa. Kebetulan itu termasuk area Marla.
            “Jadi lah, gue udah nyuruh calon ketua baru bikin artikel tentang UKM gue. Tenang aja!”
            “Bagus deh, akhirnya elo lengser juga,..betewe siapa sih bakal pengganti elo?”
            “Bosen ya ngeliat gue ,La?” cetus Sammy.
            Olson gantian ketawa, sambil tangannya mencoret coret karikatur di selembar kertas A3.
            “Marlaaaa!!! Lo Nggak ikut rapat?!!!” wajah Linda menyembut dari balik pintu.
            Marla melirik si Mickey,”He?? Emang rapatnya di mana?”
            “Gedung D ! Kan gue semalem dah SMS elo!!” ujar Linda, “Cepettt!!”
            Marla mengangkut kertas kertasnya dan tape recorder kecil di meja, “Sorry Sam! Gue cabut dulu yaw!! Ayo ,Son! Gue rasa lo malahan gak tau  kalo pagi ini Rapat!”
            “Sam, gue tinggal ye…kalo kangen gue SMS aja!” seru Olson sambil menjawil dagu Sammy yang ditumbuhi bekas cambang.
            “Cuiiih!!” runtuk Sammy sebelum minggat keluar. Olson tertawa. Puasss.
 —ooOOoo—
             Ruang rapat yang dipakai hari ini terletak di lantai enam Gedung Sekeretariat Universitas  yang biasa di sebut Gedung D. Gedung itu berisi kantor Yayasan , kantor rektoran dan kantor Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang diketuai Mas Jodi , alumni Teknik Lingkungan yang sekaligus menjadi dosen tetap di Fakultas Teknologi Lingkungan.
            “Lo ga bilang bilang kalo rapatnya sama Mas Jodi! Tau gitu kan gue bawa hasil wawancara sama ketua penerimaan mahasiswa baru itu!” Marla berbisik rusuh pada  Jeffry yang menyediakannya kursi di sebelahnya.
            “Dasar Nenek, gue sudah tulis di White Board!!” jawab cowok itu .
            “Yeey…lo ga liat tuh White Board udah ganti tema jadi karikatur mukanya Donnie?!”
            Linda yang duduk di sebelahnya cekikikan. Semua tau ,White board besar di sekrertariatnya yang sedianya untuk sarana informasi seluruh anggota, sering  jadi ajang perang karikatur Olson versus Donnie , dua duanya sama sama di bagian ilustrasi dan Layout Design. Donnie juga merangkap fotografer.Sama sama dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, sama sama dari Jurusan Desain grafis.
            Tadi pagi Marla mendapati karikatur wajah Donnie dengan tubuh bayi telanjang dengan sayap dipunggungnya sedang jongkok di atas jamban. Wajahnya benar benar mirip Donnie.
            “Rese bangett tuh Olson…” gerutu Jeffry sambil mencari cari sosok tambun itu di antar anggota rapat.
            “Percuma lo nyari dia, tadi dia nyangkut di WC lantai 5 , biasaa..buang jangkar…” bisik Marla sambil terkekeh.
            Mas Jodi kali ini memimpin Rapat  Redaksi  Tabloid Mahasiswa “Suara Pensil”
            “Idealnya, edisi kali ini juga untuk penyambutan mahasiswa tahun ajaran baru…” kata Mas Jodi,”Saya sudah dengar dari Jeffry kalau kita juga akan menginformasikan mengenai proyek pembangunan dan dormitory kampus baru…”
            “Berarti terbitnya agak mundur dong ,Mas…mendekati masa Orientasi mahasiswa.” Ted,wapemred  memotong.
            “Bisa jadi begitu, karena isi nya juga harus sebagai sarana promosi semua Unit Kegiatan Mahasiswa, jadi lebih baik menunggu setelah re-organisasi, dimana pengurus pengurus baru sudah terpilih dan sudah merancang program kegiatan mereka…” jawab Mas Jodi, “Tetapi terserah kalian sih, apa sebelum edisi yang berisi penyambutan mahasiswa baru ini kalian mau menerbitkan edisi regular, itu terserah…”
            “Lebih baik sih nggak ,Mas…”kata Jeffry,”Kita mau Final test, sepertinya untuk bikin 2 edisi dalam waktu yang sempit kita kurang waktu. Jadi lebih baik sekalian menjelang masa Orientasi saja, anggap saja edisi khusus.”
            “Betul,jack!…” bisik Linda sambil menyikut Jeffry. Jeffry adalah Ketua Umum UKM Jurnalistik. Sekaligus pelopor pendiri UKM ini dua tahun lalu bersama Olson, Donnie, Ted, Marla dan Janet.
            Rapat di tutup setelah deal dengan apa yang akan menjadi tema utama edisi mendatang ini. Intinya bukan kerja yang berat karena hanya akan berisi hal hal yang menyangkut informasi kemahasiswaan. Yaah, jadi semacam panduan saja. Tidak akan memuat isyu isyu hangat di lingkungan kampus.
—oooOOooo—
             Marla menyeret langkah ke kelas  Akuntansi Keuangan II. Masih segelitir mahasiswa yang sudah datang termasuk Stacy ,salah satu karibnya di kampus. Gadis berkacamata itu sedang menekuri diktat di meja sambil sebelah tangannya memegang roti.
            Marla menarik napas lega mengetahui temannya sudah datang. Mestinya  Stacy sudah mengerjakan tugas. Nggak mungkin belum. Gadis itu berotak encer dan tekun.
            “Sta sayaang!!” sapa Marla sambil menghempaskan pantatnya di sebelah Stacy.
            “Hmm! Pasti lo mau pinjam tugas gue ya?!” tuduh Stacy.
            “Hebat! Gimana lo bisa tau?!” ujar Marla sambil menggeser kertas Folio yang berisi tugas yang sudah dikerjakan Stacy.
            “Biasa deh…” Stacy Cuma bisa geleng geleng. Ia tahu betul Marla alergi dengan mata kuliah yang namanya berbau Akuntansi. Bingung kan? Mahasiswi Jurusan Akuntansi kok ogah sama mata Kuliah Akuntansi. Itu memang ada sejarahnya.
            Marla terjebak masuk ke fakultas Ekonomi karena kalah taruhan dengan Ayahnya. Sang Ayah yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Panjajaran Bandung ingin anak perempuan semata wayangnya mengikuti jejaknya. Tapi Sejak dulu Marla lebih suka ilmu yang pasti pasti dan yang nyeni nyeni. SMA aja masuk jurusan Fisika. Ia ingin  kuliah di bidang Desain Grafis. Akhirnya setelah melalui perdebatan sengit dengan penyandang dana yaitu Ayahnya, Marla terpaksa menerima ultimatum sang Ayah; Ikuti dua macam test masuk : test masuk Design dan test masuk ke jurusan Akuntansi. Kalau Marla diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ,Marla boleh ambil. Tapi kalau tidakk lulus, harus  masuk Akuntansi.
            Tuhan berkehendak lain, Marla gagal total di ujian gambar. Gambar perspektif masih bisa di laluinya dengan enteng, tapi begitu soal kedua Marla menyerah. Ia tak ada ide bagaimana menggambar jempol kaki dalam  tiga dimensi. Ia sudah berusaha sekuat tenang, segenap jiwa raga, sampai melepas sepatu segala demi melihat bentuk jempol kakinya dan membuatnya tiga dimensi. Tapi hasilnya jauh dari yang diharapkan. Marla yakin yang memeriksa gambarnya akan menyangka kalau Marla salah membaca soal. Gambar jempol yang dibuatnya lebih mirip jambu klutuk.
            Seminggu kemudian di papan pengumuman , namanya masuk dalam daftar calon mahasiswi baru jurusan Akuntansi, dengan nilai cukup baik. Saat itu juga Marla melepaskan angan angannya menjadi desaigner grafis. Meskipun menjadi seorang Akuntan juga tak terlintas di otaknya.
            “Linda sama Janet kemana ya ,La..…” gumam Stacy.
            “Linda tadi ada ikut rapat sama gue, Janet sih pasti lah telat. Dia kan beda waktu sama kita.” Ujar Marla, “Dia Waktu Indonesia Bagian Cililitan…”     
            HP Marla berbunyi. Nama Eric, abangnya muncul di layar.
            “La, kamu nanti pulang sendiri kan? Gue ga bisa jemput !” kata Eric.
            “Iyaa, gue bawa mobil kok!”jawab Marla. Ia tau hari ini Eric pasti nggak bisa jemput selepas kuliah sore. Karena hari ini hari Ulang Tahun Winnie,pacar Eric. Pasti ada acara khusus. Marla sendiri yang memilihkan jam tangan  Guess yang harganya seharga satu ekor kambing buat Winnie.
            “Oya tadi waktu gue mau berangkat Edwin telpon. Gue bilang lo kuliah..”
            Marla setengah menjerit, “Edwin! Yaaah, Kak Erick suruh dia telpon ke Hape gue nggak??”
            “Iya gue suruh, katanya minggu depan dia pulang…udah ya. Hati hati di jalan!” ujar Eric.
            Marla meletakkan HP nya di meja. Pikirannya sudah tidak bisa konsetrasi pada tugasnya. Edwin pulang!
            “Heeh!! Kerjain tu tugas! Bengong aja!” tukas Stacy demi melihat Marla menopang dagu di atas meja dengan mata kosong.
            “Edwin pulang Sta! Minggu depan!” jawabnya seperti tidak memperdulikan teguran Stacy.
            Stacy melihat mata sahabatnya yang gemerlap. Terlalu berbinar kalau bicara soal Edwin, cowoknya.
            “Hmm, He came not in the right time! Sudah mau Final Test neh, lo bakalan nggak belajar!” Stacy membuat resume sendiri.
            Marla mencibir,”Sok Tau! Elo kan tau gue orang yang bertanggung jawab soal sekolah!”
            “Ehm,…saking tanggung jawabnya lo ngerjain tugas di sekolah juga!”Stacy mencibir .
            “Halo!” Linda dan Janet muncul bersamaan..
            “Baru dari WC ya?” tuduh Marla ketika melihat Janet mengusap usap tangannya.
            Janet menyeringai. Ia punya kebiasaan aneh. Setiap tiga puluh menit harus cuci tangan untuk menjaga tangannya tetap bersih dan higienis. Diantara  mereka berempat, Janet termasuk yang paling modis. Kalau mau berangkat perlu berjam jam untuk merias diri. Terutama melukis alis matanya yang dicukur habis. Setiap pegantian jam kuliah , ia memperbaiki  bedak dan lipstick.
            “Eh !! Edwin minggu depan pulang!” kata Marla riang.
            “Waa…pantes , corak muka lo beda hari ini….” Ujar Janet.
            “Corak ?,…lo kira muka gue kain!”
            “Eeh udah!!! Whoii! Kerjain tuh tugas! Bentar lagi Wilson masuk! Lo ga berasa nih lantai mulai gonjang ganjing??….” kata Stacy.
            Wilson Tobing, dosen Akuntasi Keuangan II memang badannya luas sekali. Dan galak. Penggemar nilai D dan E. Kecuali untuk mahasiswa yang bener bener berotak encer macam Stacy.
—-oooOOooo—–

                        BAB II
Sinetron versus realita

             “Ma, tadi Edwin telpon ya?” Marla melongokkan kepala di pintu kamar Mamanya;Eliana.
            Eliana sedang duduk di pinggir tempat tidur. Matanya sembab. Tapi sinar matanya menutupi fakta kalau ia habis menangis.
            “Kenapa ,Ma..? Ribut lagi sama Papa?”
            Wanita  tersenyum, “Iya Edwin telpon. Katanya dia pulang minggu depan karena Ayahnya mau operasi jantung.”
            Marla langsung lupa pertanyaannya tentang persoalan Ibu dan Ayahnya.
            “Nanti kalau beliau sehat kita jenguk ya..” tambah Eliana
            Marla mengangguk. Orangtuanya sudah mengenal Edwin dan keluarganya. Orangtua Edwin terutama Bapaknya begitu antusia atas hubungan puteranya dengan Marla.
            Keluarga Edwin tinggal di sebuah desa di Pantai Utara.. Bisa di bilang di sebuah desa kecil. Ayahnya adalah pengusaha tambak udang dan  memimpin koperasi di sana. Sawah ladangnya berhektar hektar. Ia juga punya perusahaan ekspor ikan laut ke negara negara tetangga.
            Ayah dan Ibunya bukan orang yang mengenyam pendidikan tinggi. Tapi berkat naluri bisnis ayahnya yang bagus, usahanya bisa begitu maju dan membuat keluarga mereka disegani, tidak hanya oleh aparat dan warga desa itu, tapi juga desa desa tetangga.
            Meskipun bisnisnya sukses, tapi paradigmanya tetang pentingnya pendidikan tidak seperti kebanyakan orang. Di antara ketiga anaknya, hanya Edwin, si bungsu yang mengenyam pendidikan sampai universitas. Kakak kakaknya semua menikah muda dan meneruskan usaha Ayah mereka.
            Bahkan kakak sulungnya yang menikah dengan seorang  petani  di usia 16 tahun kini sudah mempunnyai seorang cucu! Jadi, sudah ada yang memanggil Edwin  dengan sebutan Aki.
            Awalnya Marla terkaget kaget dengan situasi itu. Ketika pertama kali bertandang ke rumah Edwin yang megah di desa atas undangan Ayah Ibu Edwin , ia tercenung ketika seorang anak gadis berusia sekitar  16 tahun yang tengah menggendong bayi menegurnya di pintu gerbang.
            “Saya Mirza, keponakannya  Oom Edwin. Ini Teh Marla kan? ” kata gadis itu memperkenalkan diri.
            Marla mengagguk rikuh,”Dan ..ini?” katanya sambil menunjuk bayi dalam gendongan Mirza.
            “Oh, ini anak saya Teh! Baru lima bulan umurnya!”
            Kakak perempuan Edwin, Herlin, yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Edwin sama ramah dan terbukanya. Ia adalah ibunya Mirza. Sudah jadi nenek di usia 38 tahun.
            “Anak Teteh mah sudah pada menikah, neng! Si Mirza nikah dengan pengrajin sofa. Yang adiknya baru nikah setahun lalu!”jelas nya lepas.
            Marla mengangguk ngangguk, tapi dalam hati ia masih takjub.
            “Jangan kaget gitu dong,La…” kata Edwin waktu itu. Cowok itu merasa geli melihat  Marla terkaget kaget.
            “Bapak memang tidak mau memaksa anaknya sekolah. Beliau pikir, tanpa sekolah juga bisa. Buktinya dia bisa. Makanya Teh Herlin waktu lulus SMP ada yang lamar yang dinikahkan saja. Kang Didi juga anaknya sudah dua, ia nikah dengan anaknya  buruh tani Bapak”
            “Kok kamu disekolahin tinggi tinggi?” Tanya Marla tidak mengerti.
            “Sebab saya yang mau. Lagi pula sejak kecil saya lebih sering tinggal di rumah Tante di Bandung. Saya sekolah sampai SMA juga di Bandung. Kalau kakak kakak kan sekolahnya di desa  sini…Intinya, kalau mau sekolah hayo! Kalau nggak mau ya nikah dan kerja sama Bapak!””
           
—-ooOOoo—-
Marla ingat Janet dan  Stacy sama  terkejutnya ketika ia  melaporkan kunjungan nya ke rumah keluarga Edwin.
            “Ini sudah jaman apa…?” Tanya Janet,”anak anak masih piyik sudah dikawinin…”
            “Beruntung tuh cowok lo tinggal sama tantenya di Bandung, kalo nggak nasibnya sama aja dengan kakak kakaknya ya La…” kata Linda.
            “Yakin lo bakalan awet sama Edwin? Pola pikir keluarga lo sama dia kan beda banget!”
            Marla mengangguk yakin, “Yang gue pacarin kan Edwinnya. Dia tau sekolahan kok, masalah keluarganya begitu sih ga jadi masalah! Lagian, elo ngomong gitu kayak yang gue mau kawin minggu depan aja!”
            “Kalo dia ngelamar elo cepet cepet gimana? Hayo!” kata Stacy
            “Edwin emang keren, pinter, kaya lagi, tapi kalo gue disuruh berhenti kuliah trus kawin yaah maap maap aja…biar Primus yang ngelamar gue juga nehi yee,bisa pingsan orang tua gue..”
”Yakin looooe?” Janet mengedipkan matanya.
“Yakin!” tukas Marla mantab.
“Maksud gue, Yakin lo nggak mau dilamar Primus?”
Marla terkekeh. Dasar Janet gila.Semua tau Marla nge-fans berat artis lokal Primus Yustisio meskipun nggak sampai gila minta tandatangan dan foto bareng kalau bertemu langsung.
“Heran ya, yang demen Primus si Marla, gue yang dapet pacar mirip Primus…” Linda menyela dengan hidung membesar .Bangga.
“He..?Siapa mirip Primus? Bram lo?” Stacy terbelalak.
Janet ngakak sambil gebuk gebuk meja, “Mirip darimana?”
“Tampak belakang..hmm…boleh lah, mirip sedikit” kata Marla
“Tampak depan …kembar identik sama Bajaj..”
 “Fisik banget lo…” Linda bersungut sungut. Di matanya Bram itu gantengnya top abis. Badan tinggi, body sixpack. Wajah, perpaduan Primus dengan anjasmara….
Ia mengenal Bram di perguruan latihan pernapasan di kantor Ibunya. Cowok itu pegawai negeri. Dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan sih okelah buat diharapkan. Setidaknya itu yang selama ini diidamkan Linda. Sangat ingin kelak punya suami pegawai negeri, supaya kalau tua ada uang pensiunnya.
Bram sudah beberapa kali datang ke kampus. Jadi Stacy, Marla dan Janet sudah mengenalnya. Marla agak alergi bicara dengan Bram. Bram suka banget ngebahas perekonomian Indoensia yang menurut Marla nggak asyik untuk dibicarakan. Dan mentang mentang lulusan Sekolah akuntansi terkenal milik Negara, Bram suka banget menyelipkan teori teori akuntansi kalau ia dan teman temannya sedang sedikit membahas mata kuliah akuntansi. Janet dan Stacy masih bisa sangat welcome  bicara dengan cowok itu. Cetusan cetusan ‘Oya? Masa begitu? Aahh, Lo bener banget Bram!’ sering banget terdengar di bibir mereka kalau Bram mulai ‘ngajar’. Basi deh!
“Emang lo ngarti sama yang dia omongin?” bisik Marla suatu hari pada Janet menanggapi ulasan ulasan  Bram soal ekonomi.
Janet menggeleng ringan, “Ngasih tanggapan apa salahnya sih,…dia kan cowoknya temen kita juga…”
“Gue rasa kalau Phillip Kotler di sini dia bakalan bangga banget ada secret admirernya di sini…” kata Marla sambil sesekali menyumbang senyum kepada Bram. Demi Linda,Bram!
Akhirnya gue nemuin Soulmate gue, tulis Linda suatu hari di tengah tengah mata kuliah Micro. Bram baru saja pergi setelah mengantar Linda sampai pintu ruang kuliah. Setianya.
Marla meringis. Linda jangan naïf,please!
Baru kenal seminggu trus pacaran aja lo bilang soulmate.Tulis Marla.
Linda tersenyum dan kembali mencorat coret,,pegawai negeri,sama sama akuntansi,lebih tua,sudah bekerja,what else?
Bu Susi melototin elo tuh, lo ga sadar dari tadi senyam senyum sendiri?balas Marla.
 —–ooOOoo——–
 Selentingan bahwa ayahnya punya WIL di luar bukan baru kali ini di dengar Marla dari abangnya.
Perempuan itu Sinta. Seorang Customer Service di sebuah Bank swasta dekat kantor Papa.
Drs. Eldin Himawan , ayahnya , seorang Finance Director di sebuah perusahaan IT  besar. Wajar , berhubungan dengan pihak Bank adalah bagian dari pekerjaannya.
Ferdian, kakak sulung Marla adalah narasumber pertama yang mencetuskan kabar itu.. Ferdian menceritakan kecurigaannya itu pada adik adiknya.
“Bokap umurnya sudah 55,masa sih..??” kata Marla tak percaya, “Memang lo lihat sendiri?”
Ferdian menggeleng, “Johan yang bilang…”
Johan sahabat Ferdian di SMA yang mendapat pekerjaan di salah satu anak perusahaan tempat ayah Marla bekerja.
“Gosip, kalian kan tau, Papa tuh dikenal alim banget di keluarga. Malahan sodara sodara kalau ada masalah keluarga suka minta di tengahi Papa…” bela Marla.
Marla sangat mengidolakan ayahnya. Laki laki yang punya sifat kriteria pertama yang diidam idamkannya ada pada suaminya kelak. Pintar, alim,sabar, sayang anak dan keluarga. Sukses pula.
Berhubung Marla anak perempuan satu satunya, ia tumpuan kasih sayang terbesar ayahnya. Apapun asal itu membahagiakan dan baik untuk Marla, Ayahnya akan memenuhi. Sekolah musik di sekolah terbaik, kuliah di universitas swasta terbaik. Apapun. Karenanya Marla tidak begitu keberatan ketika sekali sekalinya Ayahnya memintanya untuk menjadi seorang ekonom seperti beliau, itupun masih diberikan pilihan.
“Sebetulnya gue juga agak curiga sama Bokap,…” ujar Eric yang lebih banyak diam,”Lo nggak lihat, sekarang Papa necis banget…”
Marla menggeleng dan mengibaskan tangannya, “kakak ini  berdua kebanyakan nonton sinetron!” katanya pada abang abangnya yang melongo. Nonton sinetron?
“Apa nggak kebalik?? Elo tuh yang suka nonton sinetron! “ sembur Eric.
Hari ini Marla tercenung. Ia baru saja memarkir mobil sedan Papanya di basement kampus dan mengambil diktat diktat nya di bagasi ketika tanpa sengaja menemukan tas kecil yang sering dibawa Papanya ke lapangan golf. Ada planner book di situ. Dan secarik  pas foto ukuran 2x3 keluar dari saku buku tanpa sengaja. Pas foto perempuan muda bermata agak sipit, berkulit putih. Jelas jelas bukan foto Mama waktu muda. Ini adalah foto cetakan Polaroid, jaman Mama Papa pacaran dulu sepertianya  belum ada Polaroid!
Ini Sinta? Tanyanya dalam hati.  Muda amat!
Marla bergegas memasukkan foto itu ke dalam saku planner book Ayahnya. Ia mengibas ngibaskan tangannya ke udara, mengusir pikiran pikiran parno tentang foto itu.
—-ooOOoo—–
 “Aku sudah di bandara, La…” kata Edwin di ujung telpon.
Kantuk Marla lenyap. Ini jam satu siang. Marla sedang menikmati tidur siangnya tanpa diganggu kuliah. Edwinnya sudah di Jakarta!
“Kok nggak bilang bilang? Katanya baru minggu depan!”
“Surprise dong..” tawa yang dirindukannya terdengar lembut.
“Trus ke sini sekarang kan??Mau kujemput?”
“Nggak La, aku pulang dulu ya…ini supir Bapak sudah jemput kok. Besok aku ke rumah deh…Nanti malam kutelpon. Okey?”
Marla mengiyakan kecewa. Rindu yang sudah sampai ke ubun ubun di redamnya. Baru besok semua bisa tumpah. Ya ya,kasihan Edwin. Pasti sangat mengkhawatirkan ayahnya yang akan segera menjalani operasi  jantung.
Malamnya tak ada dering telpon dari Edwin. Marla men-dial nomor rumah Edwin di pantura.
“Edwin pergi,La! Teteh kira mah ke Jakarta , kerumah Marla!”suara Teh Herlin di ujung sana. Marla menyesap kekecewaannya.
“Nggak Teh, dia nggak kesini. Katanya baru besok mau ke rumah…”
“ooh, kemana atuh kalau begitu…?” Teh Herlin bergumam.
Marla memperdengarkan tawanya, “Nggak apa apa teh ,mmm..Bapak jadi operasi lusa? “
“Iya…” teteh menceritakan kondisi Bapaknya dengan detailpada Marla. Marla menekan ujung telpon di kupingnya mencoba mendengarkan. Karena pikirannya berkelana.
—–ooOOoo——
“Son! Lo yakin sudah bikin Janji dengan Reena siang ini?” Donnie mengusik Olson yang sedang mempersiapkan daftar pertanyaan pada Reena Damar, juara I None Jakarta yang baru terpilih seminggu lalu. Reena adalah mahasiswi semester akhir Fakultas Hukum, jadi moment yang bagus untuk jadi profil mahasiswa edisi ini.
“Nggak percaya banget sih!! Tenang aja deh. Reena tuh sohib gue!” Olson tersinggung.
“Percayaaa…” Marla menengahi. Ia tak mau masalah pribadi antara Olson dan Donnie sampai mengganggu tugas wawancara mereka hari ini.
“Aslinya cantik banget ya, Son?” Donnie mendekati Olson.
Olson meliriknya sekilas sebelum kemudian kembali menulis, “Jelas! Kenapa?emang lo nggak pernah lihat dia seliweran?”
Donnie menggaruk garuk kepala. Senyum Bayi nya mengembang.
Diantara mereka umur Donnie memang jauh lebih tua. Sekitar 6 tahun. Sebetulnya, ia sudah hampir semester akhir  di jurusan Arsitektur sebelum kemudian menyerah dan mendaftar dari ulang ke jurusan Grafis, jurusan yang selama ini digemarinya. Jadinya ia satu angkatan dengan Olson dan Marla Cs.
Tapi Donnie baby face, meskipun usianya lanjut, dan tubuhnya besar (lebih besar daripada Olson) tapi wajahnya menggemaskan. Senyumnya kekanak kanakkan dan leluconnya  terkadang kartun banget. Klop dengan Olson. Donnie sudah dua tahun putus dari Rowena, mahasiswi jurusan Teknik Lingkungan yang juga pengurus UKM jurnalistik yang menerbitkan Tabloid Mahasiswa Suara Pensil. Meskipun hubungan keduanya tetap baik baik, dan Rowena sudah empat  kali ganti pacar (dua diantaranya teman baik Donnie), Donnie belum menemukan pengganti Rowena. Bahkan rela menjadi teman curhat Rowena tentang pacar pacarnya.
“Kira kira cocok nggak sama gue ya…” gumam Donnie sambil membersihkan lensa camera Nikon yang akan dibawanya.
Olson tersedak dan batuk batuk,” Halaah..Oom…ini masih pagi udah ngigo!”
“Lo cemburu ,Son? “tukas Donnie.
“Udaaaah!! Ayo cabut! Urusan kisah kasih lo berdua nanti aja lanjutin!” Marla bergegas. Mereka bertiga berangkat naik mobil Kijang milik Donnie.
Jalanan menuju perdatam macet. Matahari sedang terik teriknya. AC mobil rasanya mulai terkalahkan dinginnya.
“Begini sih, luntur make up gue!” sungut Marla sambil mengipas ngipas dengan kertas draft pertanyaan.
“Yang mau di wawancara tuh Reena, ngapain lo yang pake make up?” kata Donnie.
“Deee..lo mau gue kumel kumel wawancara dia ngewakilin tabloid kita? Kalo salah salah muka gue ke jepret kamera elo kan bisa di sangka Reena di wawancara sama pembantu!”tukas Marla,”kalo gini kan, cantik. Beda tipis lah sama Reena..”
Rumah Reena Damar terlihat antik dengan hiasan kayu sebagai ornamen utama. Halamannya luas dan garasi nya lebar, muat tiga atau empat mobil berderet.
Donnie terlihat menelan ludah berkali kali ketika Reena keluar menyambut mereka dengan senyumnya. Tubuhnya langsing dan tinggi. Pembawaannya hangat dan riang. Matanya bersinar cerdas.
Bruk!!
Donnie menabrak tiang kotak pos yang ada di pinggir setapak dekat pagar. Olson tertawa ngakak.
“Kamu nggak apa apa kan?” Tanya Reena penuh perhatian.
“Nggak,…sorry yah kotak pos kamu tiangnya kayaknya bengkok tuh…” kata Donnie grogi.
Iya lah, wong yang nyeruduk tiang itu seekor gajah!
Reena Damar terlihat menyungging senyum demi melihat ekspresi wajah bayi Donnie. Siapa sangka usia cowok itu hampir tiga puluh? Donnie lebih mirip bayi sehat dari pada perjaka.
“Sorry ya Reen, emang temen gue ini agak agak gimana ya….….Oom, are you ok? Bisa kita mulai?” kata Olson, arif. Bukan, sok arif.
Di akhir wawancara Reena bersedia di ambil fotonya beberapa kali oleh Donnie. Bayi sehat itu tidak melewatkan kesempatan emas ini. Insting fotografi nya jalan. Dengan sigap dan bersikap professional, ia mengatur pose pose terbaik untuk Reena. Donnie yang malu malu sudah berubah.
Marla duduk di pinggir taman tempat sesi foto itu berlangsung. Olson duduk di sisinya.
“Abis ini mau kemana La?” kata cowok itu pada Marla yang sibuk mencari Hp di saku jeansnya.
“Janjian sama Edwin di Starbucks!” jawab Marla. Ada message di layar HPnya.
La siang ini aku ga bisa ketemu, nanti malam saja aku ke rumah.Oke?
Itu dari Edwin. Marla menyesapkan kembali HPnya ke saku dengan gusar.
“Kenapa La,…?”
Marla terdiam,”Son,…kalo lo cinta sama cewek, lo pasti pengen ketemu setiap hari kan? Pasti lo pengen nelpon dia setiap waktu kan?”
Olson mengagguk,” Iya, sebagaimana gue sama elo lah!”
Cuih ,Gombal !!!
Marla berusaha tersenyum penuh arti pada temannya.Sayangnya Edwin tidak begitu,Son. Kembali mengeluh..
—ooOOoo–
 “Pantesan belakangan lo banyak senyum, agak dandan, setidaknya pake lisptik lah..” kata Marla pada Stacy yang bersemu merah. Stacy baru mengaku bahwa akhirnya ia jadian dengan Steve, mahasiswa Teknik Mesin. Malahan sudah dua minggu.
“Kok lo nggak bilang bilang sih?!!” sembur Janet sebal.
Stacy menyimpitkan mata amoy-nya yang sudah sipit dengan memelas, “Sorryy…gue takut diketawain..”
“Idiih ngapain juga ngetawain. Bukannya itu berita bagus??” kata Marla lagi, “Pantesan malam minggu gue telpon lo nggak ada..”
“Gue seneng lagiii kalo lo pacaran juga…berarti lo normal!” kata Linda.
“Emang selama ini gue nggak normal?!”tukas Stacy,”gue kan pengen juga kayak elo elo. Bisa cerita yang indah indah. Kayak elo sama Edwin, kayak elo sama Bram , kayak elo sama Ryan.” Stacy menunjuk temannya satu satu. Semu di pipinya masih belum hilang.
“Good!” Marla mengagguk angguk. Ia teringat Edwinnya yang kembali lenyap semalam. Cuma mengirimkan sepotong SMS bahwa ia langsung ke karawang dari urusannya di Jakarta. Nggak sempat mampir. Ini sudah hari ke tiga Edwin pulang. Dan mereka belum bertemu.
“Gimana orangnya? Baik?”
“Tipikal elo kayanya ya ,Sta?”kata Linda” wajah Nerd, konservatif..’
“Sok Teu!” tukas Stacy, nggak ingin stevenya di sebut wajah kutu buku,meskipun mendekati benar. Buat dia Steve anugrah. Berpikiran sama sederhananya dengan Stacy.
Punya orang tua yang juga jauh di seberang pulau. Pintar dan punya ambisi. Dan seiman. Mereka pertama kali ketemu waktu Stacy mendaftar pada  Unit Kegiatan Mahasiswa Budha di kampus. Steve salah satu pengurusnya. Ini yang dinamakan love at the fist sight.
Pertama kalinya Stacy sadar bahwa dia ternyata perempuan tulen, bahwa jantungnya bisa berdebar kencang menatap mata Steve yang dalam. Bahwa ia bisa tak tau apa yang harus dilakukannya setiap saat Steve mendekat. Sekarang  ia bisa mengerti mengapa selalu ada bintang di mata Marla ketika membicarakan Edwinnya, atau semu  merah di pipi Linda saat bercerita tentang Bram, juga antusiasme  pada nada suara Janet saat melukiskan hubungannya dengan Ryan yang sudah berjalan tiga tahun. Ia merasakannya kini. Dan ia merasa menjadi perempuan yang sempurna!
“Semoga dia cowok yang baik buat elo,Sta….ini kan pengalam pertama lo…” kata Marla tulus.
“Kapan kapan kita makan bareng ya, berdelapan!” usul Janet, “Kebetulan kan Edwin sedang di sini. Ya kan La?”
“hmm…boleh. Tapi, sampai hari ini aja gue belum ketemu Edwin…” suara Marla melemah.
Pak Alec sudah masuk ke ruangaan. Neraka baru akan mulai buat Marla. Ia tidak suka mata kuliah Akuntansi Biaya.
—ooOOoo—
 Operasi Bapak berjalan baik,La. Alhamdulillah.
Pesan Edwin melalu SMS. Marla menarik nafas lega.  
Alhamdulillah. Nanti aku ke sana dengan Mama dan Papa.Balas Marla cepat.
“Iya,La…Bapak sudah di kamar pemulihan…” suara Edwin terdengar letih ketika Marla menelponnya. Dada gadis situ membuncah. Betapa ia merindukan cowok itu. Sangat.
“Kamu bisa istirahat kan Ed?”
“Iya nanti aku istirahat,..maaf ya La,..sampai hari ini belum sempat menemuimu…”
“Ed, aku nggak apa apa kok. Aku tau kamu sibuk dan khawatirkan Bapak…don’t worry…” jawab Marla pelan. Atau adakah yang lain kamu khawatirkan Ed? Kenapa seperti tak ada rindu untuk menemuiku.
“Marla, kamu nggak apa apa? “ Edwin mengusik diamnya, “Katanya Mama Papa mau ke sini..?”
Mama Papa. Hmm…manisnya panggilan itu terlontar dari bibir cowok itu.
“Iya, kita memangberencana ke sana ….mungkin minggu depan. Sekarang tolong titip salamku dulu pada Bapak…semoga cepat pulih”
Marla menyudahi telpon setelah saling bertukar I miss U. Begitu datar.
—ooOOoo—
 “Sampai kapan ya gue mesti begini,La…” Janet terlentang di ranjang . Sudah sejam ia menatap langit langit kamar Marla sambil bibirnya terus bercerita.
“Apa lo nggak bisa ngomong baik baik sama Nyokap Bokap lo? Yakinin mereka dong kalau Ryan cukup baik buat elo…”
“Gue sudah capek mulut La,..nyokap maunya gue sama yang sudah mapan, dewasa….…”desah Janet, “Nyokap sibukk jodoh jodohin gue sama anak anak teman bisnisnya”
Marla memandang sahabatnya iba. Ia tahu betul Janet cinta banget pada Ryan. Dan Marla cukup dekat dengan Ryan. Ia cowok yang fun. Enak diajak ngomong. Asyik. Lucu dan bersahaja. Nggak cakep, tetapi sikapnya cukup membuat ia bisa dihargai orang.
“Apa gue kawin lari aja ya..”
Marla tersedak. Its crazy!
“Ha?Lo becanda kan,Net??”
Janet menoleh kearah Marla,”emang kenapa,La…Ryan udah kerja ini…kuliah gue juga hampir selesai…”
Bibir Marla mengerucut, “Lo kira kawin gampang! Whoii wake up,girl! Its not as simple as you’ve think! Lagian kawin lari..bukannya capek? Tar bengek lo kambuh baru rasa !”
“Monyong!” gerutu Janet, kemudian memejamkan mata.
Marla membiarkan Janet terlelap. Ia biasa begitu kalau sedang tidak ada kuliah. Rumah Marla adalah tempat terbaiknya untuk pergi.
 —ooOOoo—
 “Kamu mau cari yang model apa?” Tanya Eldin Himawan di depan butik Levi’s di Blok M Plaza.
“Pokoknya tar papa lihat deh!” ujar Marla sambil menarik lengan Ayahnya memasuki butik.
Gadis itu menarik jeans warna krem yang sedang trend. Ditunjukkannya jeans itu ke Ayahnya.
“Hmm..Bagus..coba aja!”
Di ruang ganti Marla mematut matut. Sip. Keren. Pas. Ia menggantung jeans itu di lengannya dan keluar dari kamar ganti. Ayahnya tidak terlihat.
“Ini Mbak! Saya ambil ini” katanya pada SPG yang melayaninya. Marla mencari cari ayahnya.
Tak beberapa lama  Marla melihat sang Ayah keluar dari kamar ganti yang bersebelahan dengan yang ia pakai tadi. Juga dengan jeans krem ditangannya dan menyodorkannya ke SPG yang sama.
“Lho…” Marla menatap ayahnya heran,”Papa beli juga? Kok warnanya sama?”
Ayahnya tertawa sambil mengeluarkan credit card dan menydorokannya pada kasir, “Papa lihat cocok juga buat golf…”
Lo nggak lihat, sekarang Papa necis banget…kata kata Eric seperti terngiang.
“Kok bengong La?” Ayahnya merangkul bahu anak gadis kesayangannya keluar butik.
 —ooOOoo—
 “Tadi Papa beli jeans yang sama persis sama gue..” Marla membuka percakapan dengan Eric yang sedang ketak ketik di depan computer di kamarnya..
Eric saat ini sedang skripsi. Semester ini semester terakhir. Semnester depan Marla benar benar sendirian di kampus, karena Eric yang kuliah di kampus yang sama sudah akan lulus.
“Nggak aneh…” Eric masih menatap monitor.
“Kak, lo nggak berusaha nyelidikin Bokap?” rengek Marla, beringsut duduk di sebelah abangnya.
“Akhirnya lo percaya?” Tanya Eric.
Marla terdiam ia teringat foto 2x3 di bagasi mobil waktu itu, “gue juga nemuin foto tuh cewek di planner book bokap di tas golfnya”
“Udah. Kak Ferdi udah ngomong sama Bokap kemaren….” Eric menatap adiknya sambil tersenyum, “Kata bokap dia memang kenal baik sama tuh cewek,…tapi tuh cewek sudah mau merit nggak lama lagi…so don’t worry…”
“So, berarti sebelumnnya mereka memang ada hubungan kan?” kejar Marla.
“Gini deh. Sekarang kan udah jelas. Nggak mungkin lah, tuh cewek udah mo kawin. So , jangan rusak imej baik elo terhadap Bokap gara gara ini…apapun yang terjadi sebelumnya…mudah mudah cuma kekhilafan kecil Bokap…”
—-ooOOoo—-
 Edwin muncul jam delapan malam diteras rumah Marla. Tanpa bilang bilang. Marla menahan debar jantungnya yang mulai gonjang ganjing.
Cowok itu berdiri tegap di hadapannya. Dengan balutan  kaos hitam lengan panjang yang memperjelas dadanya yang bidang.
I miss U,La…” ia merangkul Marla dan mengusap rambut gadis  itu.
Me too,…” bisik Marla penuh.
Its ok! Nothing happened. Edwin nggak berubah kok! Marla menagaskan pada dirinya.
Edwin menenggelamkan Marla dengan tatapannya. Senyumnya masih menggantung. Meskipun wajahnya terlihat letih.
“Kamu kurang istirahat ya Ed?”
Edwin menggeleng, “Kemarin sudah tidur seharian….gimana  gimana…cerita dong, kuliah kamu gimana?”
Marla menghela nafas, “Please deh Ed,…kamu kayak teman lama yang bertahun tahun nggak ketemu…”
“Lho, memang kita lama nggak ketemu kan?”
“Teman lama?” Marla menautkan alisnya menuntut jawaban.
Edwin tertawa dan menepuk nepuk punggung tangan Marla.
Sepertinya mau turun hujan. Karena udara malam terasa lebih dingin.
Marla duduk bersidekap mengusir  dingin. Pertemuan ini tidak seperti yang dibayangkan. Dan tidak seperti pertemuan demi pertemuannya dulu dengan Edwin. Beda.
“Mau minum apa Ed?” gadis itu mengalihkan pembicaraan yang tidak menghasilkan jawaban.
Edwin menggeleng dan menggeser duduknye di sebelah Marla. Matanya masih memandang  Marla. Mencari cari ke bola mata gadis itu.
“Kenapa? Ada yang aneh?” Tanya Marla. Mereka duduk di gazebo yang terletak di sudut taman di halaman rumah Marla yang luas. Tempat favorit mereka selama ini. Agak jauh dari rumah induk, temaram.
“Aku kangen banget sama kamu..” gumam Edwin
“Kamu sudah bilang kok…”kata Marla mencoba tenang, “Tapi entah kenapa sikap kamu tidak menunjukkan itu…”
Marla meraih tangan Edwin dan menggenggamnya, di tatapnya cowok itu dalam dalam. Ingin sekali mencari pembenaran dari kata katanya. C’mmon Ed, tell me the truth!
“Nggak ada yang berubah La, aku memang kangen banget sama kamu. Cuma, kesehatan Bapak belakangan menyita perhatianku…”
Hmm,…jadi kemana kamu ketika beberapa kali kutelpon tak ada di rumah. Masih soal Bapak?
“Aku ngerti…mudah mudahan cuma karena  Bapak…”gumam Marla, sambil meletakkan kepalanya di pundak Edwin.
“Maksudnya..?”
Marla menegakkan kepalanya menatap Edwin, “Maksudnya..? “
Ia tersenyum bijak.Hmm bukan, senyum pahit. Ini bukan insting kan? Hatiku berdetak aneh. Marla mengusir pikiran pikiran yang membuatnya bimbang. Tapi biasanya  ia begitu mempercayai kata hatinya, yang hampir selalu benar.
“Ed, ada masalah  lain selain Bapak kan..?” Tanya Marla. Nadanya bicara tidak mendesak.
“Aku nggak ngerti…” gumam Edwin.
“Kamu ngerti. Sangat ngerti. Ed, kamu beda. Aku  bukan cuma setahun jadi pacar kamu tapi sudah tiga tahun! Setiap kamu pulang, biasanya rumahku adalah tempat pertama yang kamu singgahi . Atau kalau nggak, malamnya atau besok paginya kamu sudah muncul di sini. Tapi kali ini nggak…kamu beda…”
“Itu karena kali ini momennya beda, sayang…” kata Edwin lembut. Tapi kenapa sorot matamu gusar begitu? Marla memandang kekasihnya sedih.
“Ed, aku nelpon kamu beberapa kali kamu nggak ada, malahan orang rumah sangka kamu ke sini,padahal nggak…jadi, kamu kemana…?”kali ini Marla mencoba menatap Edwin begitu lekat, “jangan bilang ini urusan Bapak…bukan. Ini hari ke sekian semenjak kamu pulang, dan ini kali pertama kita bertemu…”
Edwin diam. Ia menarik genggamannya.
Semenit, dua menit, tiag menit, empat menit,…lima menit. Mereka sibuk memandang malam. Marla melirik si Mickey di pergelangan tangannya, pukul sepuluh malam lewat lima belas menit.
“Ed,…aku masih kangen  sama kamu. Tapi ini sudah malam. Besok aku kharus kuliah pagi….”
Marla mengantar Edwin ke pintu pagar. Edwin memang terlihat gusar, tapi Marla tak ingin melihatnya.
“La,…apa yang ada dalam pikiranmu..” Tanya Edwin sebelum masuk ke mobilnya.
Marla menggeleng, “Aku ingin mendengarnya dari kamu. Maaf, aku nggak ada ide apa yang terjadi sama kamu,Ed. Tapi kayaknya sesuatu telah terjadi…ada yang bikin kamu bimbang..entah apa..aku ga bisa nebak…” kata Marla, “mungkin perlu consult ke paranormal barangkali untuk nebak pikiranmu…”
“Lain kali kita bicara deh Ed,…” sambung Marla lagi,”Byee…”
Deram suara mobil Edwin menjauh. Mungkin seperti hatinya yang menjauh.
—ooOOoo—
   “Marla..?” seorang cowok sudah berdiri disebelah Marla ketika gadis itu sedang sibuk memilih milih buku.
“Brian!!” pekik Marla. Mereka berjabat tangan. Brian menepuk nepuk punggung tangan Marla sambil tersenyum lebar.
“Kamu juga sedang balik?” Tanya Marla.
Brian teman kuliah Edwin di Melborne. Ia  kakak kelas Marla di SMA. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.
“Yup! Gue kan mau tunangan!” jawab Brian .
“Waaa??!! Sama Claire? Masih?”
Brian mengangguk ngangguk.
“Oke oke..hmm..kayaknya kita musti ngobrol ngobrol..gue bayar buku ini dulu ya!” Marla memperlihatkan buku Karen Amstrong yang akan dibelinya.
Starbucks tidak begitu ramai . Karena mungkin siang. Marla dan Brian ribut di meja pojok. Seperti Reuni.  Ternyata Brian masih dengan bulenya yang cantik Claire Hampton. Teman kuliahnya.
“gue pikir lo pulang bareng Edwin!” cetus Marla sambil mengaduk cream di capucino nya.
“Nggak, gue malahan nggak tau Edwin juga pulang. Beberapa waktu belakangan ini gue kan jarang ketemu. Semenjak dia pindah apartemen.”
Marla tercenung, “Pindah apartemen? Gue malahan ga tau…”
Senyum Brian hilang, “Lo baik baik aja kan sama dia?”
“Gue masih sama dia…” cetus Marla, “Kenapa…ada yang lo tau tentang Edwin di sana?”
“Kalu lo baik baik aja. Gue senang….”
Marla memandang Brian curiga, “Brian, lo tau sesuatu kan? “
Brian menggeleng.
“Brian,..Edwin berubah. Sebetulnya sih bulan bulan belakangan ini intensitas komunikasi juga mulai berkurang, tapi yang gue ngerasa banget semenjak dia pulang…Brian, please..kalau kamu tau sesuatu tolong kasih tau gue!”
“La, gue nggak mau memperkeruh..”
“Nggak ada yang diperkeruh Bri,..memang sudah keruh! Yang pulang minggu lalu itu bukan Edwin gue…!”tukas Marla, “Elo tau gue kan? Gue selalu realistis. Apapun, lojangan takut kenapa napa sama gue!”
“Oke…” Brian mencoba mengamati wajah Marla. Gadis itu terlihat antusias. Tak ada kesedihan. Hanya tatapan menuntut.
“Gue rasa Edwin punya seseorang di sana…” ujar Brian lamat lamat, “bukan orang baru katanya, namanya Dennis…dia teman kecil Edwin di Bandung…”
“Kuliah di sana?” runtut Marla.
“Nggak satu kampus sih,…Cuma tinggal berdekatan…Itu cewek sedang ambil jurusan Public Relation mulai semester lalu.”
Dennis….Marla mengingat ingat.
Good,…ia bukan teman kecil Edwin. Ia ingat Edwin pernah menceritakannya ketika mereka belum jadian.
“Dia bukan teman kecil Edwin,Bri…Dennis itu mantannya Edwin!” ungkap Marla lesu.
 —ooOOoo—
 Jadi begitu.  Masa lalu datang kembali menggoda Edwin. Edwinnya. Marla tak ada gambaran bagaimana tampang perempuan bernama Dennis itu. Tapi ia tau selera Edwin. Sangat tau.
Dennis pastilah bukan gadis biasa karena pada dasarnya Edwin bukan tipe yang mudah luluh oleh perempuan. Mestinya gadis itu smart, click saat ngobrol dan tahu betul titik luluh Edwin.
“Kenapa sekarang lo jadi doyan bengong sih La..?” seseorang menepuk punggungnya.
Jeffry sudah berdiri di hadapannya mendekap setumpukan kertas hasil layout tabloid.
“siapa yang bengong, gue lagi cari inspirasi!”tukas Marla. Sekejap pikiran tentang Edwin buyar sudah. Ia memang ada janji dengan Jeffry hari ini. Hari ini hari pertama UKMnya buka meja di gedung rektorat untuk menerima naskah naskah promosi setiap Unit KegiatanMahasiswa kampus ini.. Beberapa artikel dan naskah sudah masuk dari beberapa hari lalu. Masih berupa garis besar kegiatan kegiatan mereka untuk menarik minta mahasiswa baru.
“La, gue maunya elo sama  Ted yang wawancara sama ketua yayasan deh soal pembangunan kampus baru dan dormitory di Gunung Putri itu!”
Halaah…males banget deh wawancara wawancara yang formal begitu, gerutu Marla.
“Kenapa, lo nggak mau?” selidik Jeffry.
“Bukaaan,…lo kan tau spesialisasi gue tuh bukan porsi porsi wawancara serius kayak begini..kayaknya ini bagian lo deh Jeff!! Elo sama Ted kan lebih vocal tuh!”
Jelas Marla. Memang sangat tidak enak kalau menghadapi orang orang serius dengan topik yang serius juga. Duduk juga mesti rapi, wajah harus serius, pertanyaan pertanyaan yang diajukan juga harusnya berbobot kalau tidak mau dibilang wartawan yang tidak “berisi”. Nah, ini tugas yang paling dihindari Marla.
Jeffry memain mainkan pulpennya sambil memandang ke luar jendela, “Ya sudah gue sama Ted aja deh…”
Gitu donk!
“Jeff, gue pokoknya bagian keliling UKM UKM deh, pokoknya ditanggung beres artikel dari semua UKM akan masuk, kalau perlu sama informasi pengurus barunya…”
Jeffry mengangguk angguk,”Lo ke lantai enam deh La, meja kita sudah disiapkan untuk pos mengumpulkan struktur organisasi yang baru sama foto foto…”
“Ok,Bos….gue nunggu Olson dulu yah….biar bantu gue. Kalau ga ada mereka nanti meja kita di lantai enam bakalan rame nggak karuan aja, bukan mau ngumpulin struktur tapi mau godain gue..” jawab Marla.
“Tolong deh terik terik begini jangan bikin gue mules….”
“HALLO!!!!!! semua…pasti nungguin gue kan?” suara ngebass (bass betot) Olson serasa mengguncang guncang ruang sekretariat Suara Pensil yang mungil itu. Rasanya lantai mulai berderik derik.
“Bisa nggak kalau nggak ngagetin..?” Marla mengelus elus dada seperti baru saja disambar gempa yang dahsyat.
“Olson mana bisa pelan…..dia kan pernah keselek microphone…” Jeffry berusaha menjelaskan.
“Son! Ayo deh lo bantuin gue dulu ke lantai enam, hari ini jadwal ngumpulin struktur organisasi yang baru sama foto foto pengurus UKM…eh UKM kita bakalan ada foto gue kaaan? Tunggu, gue harus pilih dulu foto gue yang layak untuk dipajang hmmm…” Marla mengetuk ngetuk ujung pulpen di jidatnya seolah itu dapat membantunya berfikir,”Ahh!! Yayayaya….lebih baik pasang foto gue yang di Kings foto itu!!”
“Minta maap ya la,…kalau lima belas UKM semuanya masang seluruh foto pengurusnya bisa bisa tabloid kita nanti lebih mirip buku perpisahan SMA! Jadi yang bakalan terpasang Cuma ketua sama wakil saja…mohon maaaaaapppphhhh!!” Kata Olson dengan wajah ngenes, merasa bersalah, “Atau gini supaya lo nggak kecewa….gimana kalau tuh foto kasih gue aja?”
“Oooh Thank you Jack! Hehehehe…gue takut lo pelet, tar tau tau gue cinta mentok asmara kenceng sama elo…Ups….”Marla menyeret Olson keluar ruangan. Menarik tangannya saja terasa menarik gerobak dengan beberapa gallon Aqua di dalamnya….Omegod!
Di lantai 6 meja mereka sudah dijambangi oleh beberapa orang.
“Sorry ya, teman teman jadi agak menunggu!” kata Marla pada beberapa orang cowok yang berdiri dekat meja. Bersama Olson ia mulai menerima berkas berkas dari mereka..
“Haa UKM Karate! Hehehe ooohh elo calon  ketua yang baru..??” Tanya Olson pada seorang cowok tinggi tegap. Kontak saja naluri hermaprodit nya muncul. Nggak bisa lihat cowok tampan sedikit atau cewek mengkilap sedikit, bawaannya ingin kedip kedip mata . Gatel. Buat Olson jenis kelamin nggak penting, yang penting kasih sayang dan cinta kasih. Hayyoh!!!
Cowok itu menyalami kami, “Dao Ming…”
Marla lanngsung menoleh berharap betul betul ada Dao Ming Tse, anak orang kaya yang guanteng banget di serial Meteor Garden. Olson menyikut.
“Nggak ada terusan namanya?” kata Marla antusias. Dao Ming tertawa memperlihatkan deretan giginya yang sekuning jagung. Oh Tuhan!!  Bayangan Dao Ming Tse dikepalanya buyar sudah….Kenapa gigi cowok tinggi tegap ganteng bisa kuning menjijikkan begitu…??? Hooekkkk..!!! Marla mengatupkan bibirnya.
“Halo, gue Edward, dari UKM Diving!”
Marla menerima map dari cowok bernama Edward itu. Sementara Olson sibuk ber ‘Hai!! Hello!!’ dengan yang lain. Dari sekian banyak yang ia terima kebanyakan ketua ketua baru berasal dari angkatan di bawahnya.Mungkin Suara Pensil  saja UKM  yang akan mencalonkan ketua yang sama yaitu Jeffry. Menurut sebagian terbesar anggota , memang Jeffry yang paling cocok jadi ketua dan tetap paling memenuhi syarat di banding yang lain.
“Hallo,..Ini Suara Pensil kan?” seorang cowok berdiri di hadapan Marla. Berkacamata bingkai hitam, perawakan tinggi sedikit gendut.
“Gue Rico dari Unit Ilmiah..”cowok itu mengulurkan tangannya, “Disini kan untuk nyerahin artikel buat promo UKM?”
“Betul!..Ahh yaya, elo penggantinya Sammy?”Tanya Marla. Dalam hati ia berpikir ini cowok kok perawakannya kayak umur umur tiga puluh something  gitu. Kacamata tanpa bingkai itu lho yang membuatnya keliatan lebih serius. Pas banget sama tema UKM nya…jangan jangan juga kutu buku…Marla menduga duga.
“Yup, betul!” Rico menyerahkan beberapa lembar kertas yang sudah diketik rapi dan dua buah foto pengurus.
“Aaaiih Ricooo…” sambut Olson setelah ber hai hai dengan para penggemarnya. Olson itu, biarpun tampangnya bak pinang di belah dua dengan almarhum pelawak Darto Helm tapi berhubung dia cowok yang centil dan ceria jadi temannya tersebar dimana mana, di seluruh antero kampus bahkan di luar sana. Mungkin karena kebiasaannya yang suka sok kenal sok mesra barangkali.
Pernah kapan itu, Marla ,Olson dan Donnie sedang jalan ke Plaza Senayan, di Duta Suara kita berpapasan dengan Moudy Kusnadi, Olson langsung menjerit.
“Haii Moudy ….”sapanya dengan senyum lebar. Moudy juga membalas tegurannya dengan tak kalah ramah. Marla bisa melihat setiap detil wajah artis itu, cantik.Mulus….Indonesia banget.
Marla menahan diri untuk tidak bertanya pada Olson dimana dia bisa kenal Moudy. Bisa bisa pecah hidung Olson akibat terlalu hot kembang kembis karena bangga. Donnie juga Cuma cengar cengir saja. Di lantai bawah, kami berpapasan dengan Donie Kesuma ,kembali Olson menyapanya akrab. Kembali Marla menahan diri untuk bertanya pada Olson, tapi kali ini Olson pengumuman kalao Mas Donni itu temannya main Softball. Ha? Teman? Asal deh!
Mungkin kalau berpapasan dengan Primus, Marla masih mau bertanya tanya pada Olson.Tapi nggak deh, gengsi dong!
“Dia ini Asdos Fisika di Mesin lhoo,Mar..!” kata Olson sambil menekankan kata ‘Mar’. Bibir Marla mengerucut, ia paling benci di panggil Mar!  Mar! Mar! Duh kampong banget.Emangnya Komar?
“Kok lo tau,??” Rico menautkan alisnya yang nyambung…astaga! Ini cowok alis kanan dan kirinya menyatu jadi satu! Marla mengamati  cowok ‘dewasa’ di hadapannya. Ck..ck..alisnya tebel amat!!
“Temen gue kan ikut kelas lo,Ric…namanya Ebeth!”
Rico mengangguk angguk,.”hmm yaya gue tau. Dulu dia Gambar Teknik juga sama gue…”
“Nanti lo sering sering main di sekretariat gue ya, kayak si Sammy tuh, saking seringnya dia jadi cinta lokasi sama Marla. Dulu dia maksa maksa Marla masuk UKM elo tuh, tapi sama Jeffry nggak dibolehin kecuali Sammy mau nuker marla sama tiga buah bangku dari ruangan elo…maklum deh ruangan kita nggak ada bangkunya…gaya lesehan. Sementara di ruangan elo tuh bangku banyak banget, mungkin banyakan bangku daripada penghuninya…”
Kurang ajar si Olson tengil! Marla melotot. Meskipun yang diucapkan Olson betul, Jeffry pernah mau tuker Marla dengan bangku. Tega sekali.
“Jangan marah La,…I am telling the truth kan? Lagian masih mending elo dituker bangku, kalo dituker sama sandal jepit gimana?”
Janet muncul tiba tiba. Membawa setumpuk lagi kertas kertas dan amplop amplop kecil berisi foto.
“Nih La, titipan dari UKM Tennis sama English Section….gue tadi sekelas sama Tio pengurus Tennis sama Lizmy pengurus i es!”
“Eh Net, kenalin nih Rico, penggantinya Sammy!”
Janet menjabat tangan Rico. Rico terlihat agak terpana melihat Janet. Wajar sih,. Janet itu kan super modis. Dengan alis terlukis rapih dan bibir yang selalu sempurna merahnya.
“Wheii Ric….biasa aja donk!” tukas Olson cemburu. Rico Cuma  senyam senyum. Janet kelihatan cuek bebek.
“Waduh bisa bisa gagal sama Marla, nanti Janet nih yang dituker bangku!”
 —-ooOOOoo—–
 Tanpa sengaja Marla duduk menekur di depan TV. Acara Talk Shownya Jonny Indra kali ini tentang pekerjaan  seorang Customer Services. Sudah jam sebelas malam. Semua sudah lelap di peraduan. Juga papa yang baru saja pulang seperti nya juga sudah enggan keluar kamar.
Suara intercom di ruang TV nya berdecit. Marla mengangkat cepat.
“La, lo stel TV deh, lo liat tuh yang peserta nomor 3 itu si Sinta!” suara Ferdianterdengar terburu buru.
“Gue emang lagi nonton sih….Ooh ituu..CS nya Bank Keppo kan? Buset deh itu sih kayaknya seumuran sama elo ya Kak!”kata Marla sambit terus menatap ke TV.
“Ga komentar deh gue…lo nonton aja…”
Ferdi menutup horn intercom.
Semenit kemudian Papa keluar dari kamar , menuang teh yang tersedia di Bar mini pojok lalu di depan TV.
“Acara apa La..?”Eldin Scholtz menegur anak gadis semata wayangnya, “Kamu nggak tidur? Sudah malam!”
Marla menatap Ayahnya ,mencari cari keganjilan di mata tua itu ketika melihat ke TV.
“Ini Talks shownya Johhny Indra, soal bidang pekerjaan Customer Services…”sahut Marla sambil kembali mengalihkan mata ke TV.
“Jadi bagaimana kiat anda menghadapi nasabah nasabah yang mencoba menggoda anda, seperti kita tau pekerjaan anda ini kan berhubungan lebih banyak dengan nasabah. Tentu saja ,pasti banyak godaan seperti itu…”Jonny Indra melemparkan pertanyaan ke peserta nomor 3.Si Sinta itu.
Cewek itu mengembangkan senyumnya dengan kemayu (Puih! Marla merasa mual),”Kami menyadari bahwa godaan itu memang ada. Tapi kami selalu menempatkan hubungan dengan Nasabah sebagai hubungan kerja. Kami selalu menghindari untuk tidak berinteraksi lebih jauh dengan hal hal semacam itu…”
Kali ini Marla benar benar ingin muntah. Cuih! Cuih!! Muna Munaaaa!!! Pekiknya dalam hati.
“Itu kan CS nya Bank Keppo cabang Priok Pa, deket kantor papa. Kenal nggak? Kan papa sering ke sana!”
Marla melihat ayahnya mengangguk dengan anteng sambil tangannya mengupas kulit jeruk, “Iya, dia sepertinya pernah melayani papa…”
“MELAYANI???” tanpa dapat ditahan Marla agak memekik. Membuat Ayahnya terkejut memandangnya.
“Kenapa kamu ,La?….Maksudnya…CS di sana kan banyak la, Papa sering ke sana pasti pernah lah sekali dua kali diterima oleh orang itu…”
Marla berkerut. Ingin mengumpat pada Ayahnya. Tapi hatinya menahan.
….jangan rusak imej baik elo terhadap Bokap gara gara ini…apapun yang terjadi sebelumnya…mudah mudah cuma kekhilafan kecil Bokap
Itu kata Eric.
Marla malas mengikuti sisa acara itu dan segera pamit masuk ke kamarnya dengan pikiran menderu. Maaf Pa, aku tidak mempercayaimu…
 —-ooOOoo—
 Kembali ke soal Dennis, yang kembali mengganggu Edwin. Brian bilang , gadis itu baru datang semester yang lalu….kedatangan pertamanya di Aussie begitu merepotkan Edwin, karena cowok itu sibuk memilihkan apartement yang aman untuk gadis itu. Selanjutnya , bisa ditebak sendiri.
Laki laki yang sedang jauh dari keluarga dan kekasih, tiba tiba digelendoti gadis yang hangat dan ceria. Seperti menutup celah sepi dan membangkitkan gairah. Apalagi gadis situ pernah punya story , pernah jadi penghuni ruang ruang di hati. Jadi deh…
Marla menggeleng gelengkan kepalanya. Tangannya menekan nekan dadanya, seperti ada rasa sakit. Jelas sakit. Pasti bayangan wajahnya sudah pudar di ruang ruang kepala Edwin.
Ia tak tau harus bagaimana. Sebetulnya, Marla pegang kartu …Pak Wira, Bapaknya Edwin sangat menyayangi Marla. Berkali kali meyakinkan Marla untuk terus bersama Edwin. Ratusan kali berkata bahwa ia sangat bahagia atas hubungan Edwin dengan Marla. Belum lagiditambah kiriman kiriman orangtua itu ke rumah keluarga Marla berupa ikan ikan segar siap export dalam kemasan peti peti yang dilapisi bahan sejenis stereo fom untuk menjaga kesegaran ikan ikan dan udang tersebut. Atau sekarung dua karung beras pasti mampir ke rumah gadis itu setiap kali panen tiba.
Tadi siang Marla menelpon ke rumah Edwin, Pak Wira mengangkat telpon dengan suara yang masih lemah. Ia baru beberapa hari kembali ke rumah setelah menjalani Bypass jantung.
Edwin pergi,nak…Marla bagaimana kabarnya….Jangan Khawatir Nak, Bapak selalu pantau Edwin, Tidak ada siapa siapa kok selain kamu. Bapak sangat mensyukuri Edwin bersama Marla. …dan seterusnya..dan seterusnya…
Menurut Pak Wira, Edwin sedang ke Bandung menengok Toko elektronik milik keluarga yang dikelola sepupu Edwin.
Tetapi bagaimanapun sang Bapak menginginkan, tapi tak ada yangbisa menjamin isi hati anaknya. Tak ada.
Ketika menyadari Edwin jarang datang meskipun sedang berada di Indonesia, tanggapan Papa biasa biasa saja.
“Kamu jangan terlalu mengikat Edwin. Dia Laki laki. Ada kondisi tertentu di mana seorang laki laki merasa lebih nyaman tanpa kehadiran pacarnya…. We need to give him some space.….”
Ah Papa!! Apakah bilang begitu karena ada wanita lain selain Mama??
Marla merasakan hatinya remuk.
 —–ooOOoo—–
 “Kalian harus pelajari Bab Tujuh sampai Sembilan untuk Final Test…” Professor Wilson Tobing mengakhiri kuliahnya. Besok akan  dimulailah neraka jahanam yang bernama Final Test.Waktu Mid test lalu nilai Akuntansi Keuangannya Cuma 60 saja, itu pun sebagian lirak lirik Stacy sampai kepalanya pening karena harus memaksakan  biji matanya merapat rapat ke sebelah kiri  demi melihat isi kertas Stacy.
Apa jadinya kalau Stacy tidak duduk di sebelahnya. Lagipula, ini mungkin kelas terakhirnya bersama Stacy,karena mata kuliah yang di ambil Stacy sudah jauh melesat meninggalkan Marla. Gadis itu mengambil kelas Akuntansi Keuangan lagi hanya untuk memperbaiki nilainya dari B. Haaa….B mau diulang?….Gubrakk!!!
“Lo pulang atau ada kuliah lagi,la?” tegur Linda yang duduk tepat di depannya.
“Ga tau…” jawab Marla yang sibuk mencari cari HP nya yang sejak tadi berdecit.
SMS dari Eric: Pulang bareng gue sekarang La, gue tunggu depan Elektro…
Asiikk! Bisa nebeng Eric. Hari ini ia nggak bawa mobil. Karena bangun kesiangan dan sudah pasti jalanan sudah macet. Bisa bikin betisnya yang indah membesar karena harus exercise menekan kopling.
 Marla langsung terbang ke gedung Elektro setelah pamit pada teman temannya.
Eric sudah menunggunya di lobby gedung. Wajahnya berkeringan dan terlihat serius. Abangnya itu menggandeng Marla ke tempat parkir dan perlahan mobil meninggalkan pelataran parkir.
“Kusut bener ,..” tegur Marla pada Abangnya yang termangu menatap ke jalanan.
“Lo lagi berantem sama Winnie ya?” tuduh Marla.
“La,…lo yang sabar ya….”kata Eric serius,.”Ada yang mau gue omongin sebelum kita sampai di rumah..”
Wajah Marla langsung menegang, setegang wajah abangnya yang berkacamata itu.
“Kenapa Ric?Ada yang sakit di rumah?..Kenapa..?” kejar marla sambil mengecilkan suara tape mobil.
“Hmmm….”Eric menatap wajah adiknya sekilas,”Tadi Mama telpon gue…ada kabar…”
“Please deh ric, gaya lo ngomong kayak di sinetron aja!”
“Ini bukan sintron. Ini beneran. Bokap kawin lagi..dan..dan…tuh perempuan sekarang sedang hamil 2 bulan…dan dan…perempuan itu si Sinta…”
Blarr!!!! Blarrr!!!!
Ada kabut menepi membuyarkan padangannya, ada sinar sinar benderang memusingkan kepalanya , ada sejuta  peluru ditembakkan ke dadanya. Ada ribuat kilat menyambar di pelupuk matanya.
“Elo……..Mama…dapat berita ini dari …mana…”
“Mama dapat telpon dari orang. Ibu ibu, teman dari istri mantan pacarnya Sinta dulu. Jadi Sinta ini juga nggak beres. Sudah beberapa kali gaet suami orang….nah ibu ini mau kasih peringatan buat Mama…dia tau Bokap udah ngawinin sundal itu…”
 —–ooOOoo——
 Empat pasang mata menatap Eldin Himawan, menuntut jawaban.
“Ya, saya memang sudah menikah dengan Sinta…”
Tangis Marla pecah…ini Ayahnya. Tokoh Idolanya. Sekarang sedang dengan tegarnya berkata bahwa ia berpoligami.Kejam!!
“Jadi itu jawabannya ??….Kenapa pa…” bisik Marla manatap Ayahnya dengan mata basah. Ada suara tangis Eliana,ibunya yang langsung bersimpuh di kaki tempat suaminya duduk sedang mengumumkan bahwa ia dimadu.
Ada suara meja dipukul keras , oleh tangan Ferdi. Mungkin ia sebetulnya ingin melayangkan pukulan itu pada Ayahnya yang tega membohonginya dengan mengatakan Sinta  itu akan menikah.
Kenyataannya memang benar menikah. Menikah dengan Ayahnya!
Tolol!!…..kita semua Tolol!!….hardik  Marla pada nuraninya…terlalu percaya pada ucapan papa. Terlalu lamban membiarkan perselingkuhan itu terjadi berlarut larut. Sekarang perempuan itu sudah hamil 2 bulan! Terlambat sudah untuk melabraknya. Apalagi mendepaknya.Papa pasti akan melindungi perempuan itu demi anak yang kini dikandungnya.
“Saya minta maaf. Tapi ini kenyataan. Saya memang sudah menikah lagi dan dia sudah mengandung anak saya….” Eldin Himawan lamat lamat bicara, seperti sengaja hendak menggores sayatan ke ulu hati istrinya dengan kata kata itu.
Marla merasakan pipinya panas oleh airmata. Tapi ia tak ingin menggerung seperti ibunya.Tepatnya , tidak bisa. Yang terasa olehnya adalah sulitnya bernafas, dadanya yang sesak.  Ia seperti sedang tenggelam ke dalam pusaran air dan mulai kehabisan nafas.
“Saya sujud di kaki Papa, tolong tinggalkan perempuan itu…” Eliana bersimpuh. Marla teriris iris melihat ibunya. Ferdian langsung bergegas menghampiri ibunya , mengangkat bahunya untuk berdiri. Siapapun , tak akan kuat melihat seorang perempuan tua bersimpuh di kaki suaminya memohon untuk tidak dikhianati.
Eldin Himawan menunduk memandang istrinya dengan tatapan beku. Urat urat ketuaan kentara sekali di pelipisnya. Entah apa yang dirasakannya, melihat istri yang telah mendampinginya selama hampir tiga puluh  tahun merendahkan diri di kakinya agar tidak ditinggalkan.
Marla merasakan perutnya mual. Terbayang wajah perempuan muda yang dinikahi ayahnya. Seusia Ferdinan ,abangnya. Apa yang dilihat perempuan itu dari laki laki tua seperti ini? Cinta?? Huekk, perutnya bergejolak. Omong kosong!
Gadis itu berjalan meninggalkan ruangan itu. Rasanya seperti menapak di atas angin. Melayang layang. Sementara ubun ubunnya terasa panas, darah di kepala seperti berdesakan  ingin keluar.
Ia duduk di depan meja belajarnya di kamar. Tumpukan buku buku yang tak kuasa disentuhnya lagi.
 —-ooOOoo—

                   BAB III
Kemana kaki mesti menapak…

 Keesokan harinya Final Test Sistem Informasi Akuntansi I. Marla mendapat tempat menyandar pada tembok. Stacy duduk persis di depannya mengerjakan soal soal dengan tekun.
Marla mengetuk ngetuk ujung pulpennya pada lembar jawaban yang masih kosong.
Ditulisnya angka satu dan titik.
Demi Tuhan,apa yang harus kutulis? Pekiknya membathin.Tak ada sebaitpun  bahan ujian ini menclok di kepala. Apa yang telah dipelajarinya beberapa hari yang lalu buyar semua.
“Marla….masih kosong?” suara itu mengejutkannya. Bapak Ritonga Harahap berdiri di samping mejanya memandang lembar jawaban Marla yang masih bersih.
Marla memandang dosennya jengah dan kembali menekuri lembar soal, seolah berpikir.
Dua puluh menit kemudian Ritonga Harahap mengetuk meja dan meminta semua mahasiswanya mengumpulkan lembar jawaban.
Stacy melotot ketika mengambil lembar jawaban Marla. Cuma tertulis nama, Nomor Induk Mahasiswa dan matakuliah. Lalu Angka satu dan titik.
“Nggak salah lo,La..?”
Marla mengangkat bahu. Mengemasi alat alat tulisnya dan mencangklong tasnya lalu berjalan ke arah pintu. Sudah terbayang nilai mata kuliah ini di Indeks Prestasinya semester ini. Kalau tidak D ya E. PAdahal mata kuliah ini salah satu favoritnya. Pada ujian Midtest nilainya tertinggi di kelas. Percuma, final testnya hancur lebur.
Gadis itu berhenti di meja Linda yang hampir mendekati pintu kelas,“Nanti sehabis kalian Ujian Cost 2, gue tunggu di Bakmi Gm ya…gue mau konfrensi pers!!” kata Marla sebelum melengos pergi..
—–ooOOoo—–
Ruang sekretariat Suara Pensil agak ramai. Sudah ada Jeffry ,Olson dan Tari ketika Marla sampai.
“Lesu amat sih,say…” tegur Olson, sang penggembira.
“Iya Son, gue  sedang nggak bergairah…”jawab Marla asal. Diraihnya tumpukan draft tulisan yang akan masuk cetak Suara Pensil.
“Hmmm…jadi sepuluh tahun kedepan kampus baru yang termodern akan selesai…hebat juga…”
“Saat itu mungkin gue sudah jadi dosen!” kata Olson.
Jefry menoleh pada paman gembul di sampingnya, “Elo? Jadi dosen? Halah….sekarang aja IP lo ngepas!”
“Jangan gitu Jeff, gini gini Olson sekarang sudah jadi asisten dosen…Ya kan ,Son?” bela Marla.
“Oya?? Kok nggak ada bau baunya….biasanya kan dia heboh sendiri !”
“Maksut gue, betul betul asistennya dosen,Jeff…bawain tasnya dosen, disuruh foto kopi….sekaligus model…”
Olson tertawa, campur haru dibilang model.
“Model waktu sedang gambar beruang…” sambung Marla.
Olson menyeringai, “Ga apa apa deh La gue jadi boneka beruang elo juga mau…lumayan dipeluk peluk. Diletakkan di kamar. Bisa nemenim lo tidur, ngeliat elo ganti baju…..”
“Jadi boneka beruang gue aja Son!” tiba tiba kepala Donie yang bulat dan menggemaskan menyembul di balik jendela. Entah bagaimana caranya kepala besar itu bisa lolos di situ.
Dahi Olson mengernyit,”Tumben Oom nawarin, biasanya kayak perempuan hamil muda kalau ngeliat gue…mual mual. Apakah dirimu telah sebegitu putus asanya..?”
Marla senyum senyum.
Donie berusaha mengeluarkan kepalanya dari jeruji jendela.
“Huekk…wheiii..wheii tolong gue donk!!” pinta Donie memelas.
Olson dan Jefry segera menyadari kalau temannya butuh pertolongan. Dengan menahan tawa mereka berdua bahu membahu memutar mutar kepala Donie agar bisa lolos dari celah jeruji.
Marla dan Tari sudah merosot di sudut tertawa sekencang kencangnya.
Akhirnya usaha mereka berhasil. Donie terhuyung dengan wajah dan leher memar memar merah. Orang orang yang melihat adegan tadi di luar ruangan ikut tertawa tawa sambil menepuk bahu Donie.
“Come to Papa, Honey..” Olson melebarkan tangannya berusaha memeluk Donie yang malang.
“Jangan macem macem,Son!” hardik Donie sambil mengelus elus lehernya yang merah.
“Oom, lo ga boleh begitu sama orang yang berjasa menyelamatkanmu dari jeruji besi…I am  your hero,isn’t it?”
Marla menyeka matanya yang basah karena tertawa, “Gue sudah seperti nonton Srimulat tadi…”
“Gue malah seperti nonton warkop!” imbuh Tari.
Sammy dan Rico muncul dan langsung duduk bersila di karpet. Ruang sekretariat ini memang tidak punya kursi. Penghuninya lebih menyukai gaya lesehan dan meja minimalis yang kalau tidak dipakai bisa dilipat menggantung di dinding. Sengaja mereka mendisain ruangan ini agar luas yang tidak seberapa ini bisa terlihat lapang.
“Ini pengganti gue, calon ketua baru. Namanya Rico, kalian pasti udah kenal…” kata Sammy.
“Gue sudah kenal, ya kan Ric?” sapa Marla.
“Jadi, siapa calon ketua baru kalian?”Tanya Sammy.
Jeffry tersipu sipu.
“Nggak ada ketua baru Samm, kita nunjuk Jeffry lagi kok!” kata Tari.
“Gimana ,transaksi tuker bangku mau terus jalan gak?” Olson melirik Marla yang mendengus sebal.
“Gee r lo,La….kalau Rico jadi ketua ya bukan elo lah yang akan tuker guling sama bangku,tapi Janet!”
Sammy melirik Rico menuntut jawaban.
“Apa?? Ngeliat gue kayak gitu” tukas Rico sambil tertawa.
“Gue bisa melihat sorot penuh cinta pengganti lo ini ke Janet!”
“Norak lo,Son!” kara Rico, “Tapi ngomong ngomong Janet kemana..?”
Marla mencibir,” Kura kura dalam tahu lo!”
“Panjang Umur! Tuh orangnya datang!”
Janet meletakkan sepatunya di  keset kali di luar sekertariat dan berjalan masuk menghampiri  Marla. Gadis itu memandang berkeliling. Kenapa semua orang melihatnya sedemikian rupa? Ia bertanya dalam hati.
Di tengoknya baju dan celananya. Apa resleting celananya terbuka? Atau ada sebongkah upil di hidungnya?! Ia mulai meraba hidungnya yang bangir.
“Kenapa sih?!!”
Marla dan olson tertawa lepas.
“Nggak Net,…tadi Rico nanyain elo, tau tau elo muncul!” jawab Olson membuat Rico salah tingkah.
“Yeeh…bener nih Ric??” sapa Janet kenes, “Ge er nih gue!”
“Eh La, ayo! Ditungguin Linda sama Stacy tuh di Bakmi GM! Lo katanya mau konfrensi pers!!” Janet menyeret Marla, “Sorry ya Friends,…kita ada urusan penting!!”
—ooOOoo—
 Mata Stacy, Linda dan Janet melebar. Marla meletakkan sendok yang sejak tadi dipakainya mengaduk aduk Mie Ayam tanpa sedikitpunmasuk ke mulutnya. Sejak tadi bibirnya sibuk mengeluarkan rangkaian cerita.
“La, maaf..gue ga tau kalau separah itu…” cetus Janet pelan.
Semula mereka menyangka Marla sedang menceritakan sinopsis cerpen barunya.
Tapi ketika bahu Marla mulai tergoncang dan gadis itu menutup wajahnya menutupi airmata yang mengalir deras. Tanpa suara raungan. Hanya bahunya yang  bergetar dan wajahnya basah oleh airmata. Khas Marla. Saat itulah ketiga sahabatnya sadar bahwa Marla sedang bicara sebuah kenyataan.
Linda yang duduk di sampai Marla berusaha merangkul nya. Ia jarang sekali melihat Marla menangis, apalagi sampai terguncang seperti ini.
Marla menyeka airmatanya dengan Tissue. Matanya telah sembab dan merah.
“Gue ga pernah bermimpi akan mengalami hal seperti ini…..dan kenapa justru pada saat gue ditimpa masalah begini cowok gue juga seperti orang asing buat gue…Ini gila,gue sakit banget…”ujar Marla dengan suara tertekan.
“Sorry soal Papa lo ya La….lo harus tegar dan sabar….elo selalu begitu kan?! Jangan pernah berubah jadi cengeng dan menyerah pada keadaan…itu bukan elo banget!” kata Stacy sambil menggenggam tangan Marla yang terkulai di hadapannya.
“Soal Edwin, apa elo sudah cari kebenarannya…?”
Marla menggeleng. Sikap bimbang Edwin telah memberikan titik terang kemana arah dari permasalahan ini.
“Tapi , gue harus membuktikannya..sekali saja…”ujar gadis itu menerawang, “setelah semua nya jelas…ya sudah…”
“Kata lo Orang tua lo mau jenguk Bapaknya Edwin…dengan kondisi masalah Papa lo ini gimana jadinya?”
“Tetap. Nyokap sudah pesan cake ke Dutch Bakery dua hari lalu, dan sudah telpon ke tetehnya Edwin bahwa kami akan datang hari minggu ini….rasanya tidak mungkin batal…Gue juga sudah bicara sama Bapaknya di telpon dan janji mau datang…Bapaknya senang banget…” Marla mengais ngais Mie yang tak tersentuh di hadapannya.
Betapa menyenangkannya jika pada saat seperti ini ia bisa mendaratkan kepalanya di dada bidang Edwin, menceritakan semuanya, melepaskan segala beban dan mendengarkan Edwin membesarkan hatinya.Meneduhkan perasaannya.
Hei ,Marla….jangan cengeng!! Hardiknya kejam pada hatinya. Mengakhiri bayangan romantis barusan.
 —ooOOoo—
 . Marla menekan angka satu pada daftar phonebooknya. Setenang tenangnya ia menguatkan hati. Semuanya harus ada penyelesaian. Kalaupun hancur ya hancur sekalian, dari pada menggantung.
“Ed,…kamu sedang apa? Tolong sediakan sedikit waktu untukku…” ujarnya.
Terdenagr desah nafas Edwin,”La,..ada apa?”
“Ed, Apa kamu merasa hubungan kita saat ini waras?”tukas Marla. Jangan emosi,La…calm down please
Diam.
“La, maafkan aku ya…memang ada yang harus kubicarakan padamu, tapi aku belum siap…”
Tuhan,sakitnya…pekik Marla menggigil di dalam hati.
Tak perlu dilanjutkanpun ia tau kemana arah pembicaraan itu.
“Aku pasti akan menemuimu,La….”
“Ya,harus….setidaknya semua harus jelas,kan…Betul kan,Ed…”
Marla merasa tak perlu panjang panjang bicara.
“Datanglah. Aku sudah tau akan berakhir dimana. Tapi datanglah,…tatap mataku dan katakan…Aku Cuma butuh itu”
Di matikannya telpon. Di lemparkan ke atas bantal. Ia duduk mendekap lutut.
Bagus. Ia tau semua akan berakhir. Semuanya. Termasuk hubungannya dengan Edwin.
Thanks God….semua datang bersamaan. Bersamaan menghantam.
Marla merasakah tubuhnya luruh…luruh…berkeping…melayang…perih…
Tak ada orang melihatnya. Inilah aku. Dibiarkannya bahunya berguncang guncang. Ia membiarkan wajahnya basah bertopang pada lututnya yang mengigil.
—-ooOOoo—-
                    BAB IV
…….and this is what we call a true living…
 Hari terakhir Final Test!!  Manajemen Operasional I.Marla merasakan sedikit semangat daripada hari hari lalu. Drs. Bimo Arianto,SE.AK,dosen MO I ini mungkin dosen paling baik seantero kampus. Sejak pertama kali memperkenalkan diri di awal semester anak anak sudah diberikan angin yang sesegar angina pegunungan. Wajahnya yang tergolong muda di usia kepala empat, dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya membuat warna kelas menjadi adem ayem dan bersahaja.
“Tenang kalian tak usah takut! Mata Kuliah saya adalah mata kuliah yang menyenangkan. Saya juga pernah seperti kalian. Yang penting kalian mengerti saja, minimal B pasti saya berikan. Jadi, tidak usah was was…santai sajaa…”
Mau tidak mau semua jadi semangat, dijanjikan nilai minimal B, siapa yang nggak semangat?! Lagipula MO I bukan mata kuliah yang sulit.
Marla, Stacy dan Linda duduk berdekatan, sementara Janet terpakasa agak memisah karena kebiasaan telatnya yang kadang kelewatan menyebabkan teman temannya tidak bisa mempertahankan bangku kosong untuknya.
“Ingat! Santai saja…dan kalian boleh duduk tidak sesuai nomor ujian…Tugas tugas kelas ini semua bagus, jadi kalian tidak usah stress…” kata Pak Bimo sambil membagikan kertas soal dari meja deretan depan.
Ada dua soal yang Marla tidak begitu yakin, tapi dengan tambah kecap sana kecap sini jawabannya jadi terlihat padat dan penuh. Itu termasuk point penting.
Pukul  < ?xml:namespace prefix = st1 ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />11:45 tepat Pak Bimo mengumpulkan semua soal dan kertas jawaban sambil bersiul siul . Beberapa mahasiswa berusaha mendekatinya ,meloby agar bisa ikut kelas nya di mata kuliah Management Keuangan II semester mendatang. Alangkah beruntungnya kalau di mata kuliah yang rumit itu dapat dosen sebaik dosen nyentrik ini.
“Hehehehe…saya tidak tau pegang kelas mana,yaah kalau dapat saya lagi anggap saja Jackpot!” katanya enteng menanggapi kerubungan mahasiswa.
“Net, kemana kita malam ini?!” kata Linda ketika keluar ruang ujian. Habis sudah serangkaian kepenatan. Sekarang waktunya melepas lelah!
“Kita ke café aja lah. Minum. Makan. Liat liat…” usul Marla cepat, Acara perempuan! Nggak ajak ajak lekong ye!!”
“Hmm…egoiss….mentang mentang lo lagi desperado!” Janet menggerutu, telah terbayang membawa serta Bramnya untuk bersenang senang nanti malam.
“Yeah! Tau diri lah…temen lagi sakit jiwa begini…” jawab Marla , “Lo jemput gue ya Net! Gue takut tar gue mabok pulangnya!”
“Wah gue ga ikut ikut dah….lo bertiga aja lah!” Stacy seperti biasa menolak untuk ikut acara acara yang nota bene hura hura dan keluar uang banyak.
“Yep yep! Gue jemput elo! Tapi sekarang lo musti ke ruangan Ritonga Harahap, dia nyari elo tadi!”
Marla membelalak, ngapain Dosen Sistem itu cari dia?! Janet mengangkat bahu.
 —ooOOoo—
 Drs. Ritonga Harahap,SE AK memaparkan kertas ujian Marla di atas meja. Kosong. Cuma Berisi angka satu.
“Saya bukan dosen yang usil urusan mahasiswi…Tapi coba kamu lihat hasil Midtest kamu…kamu paling tinggi. Bahkan Stacy masih di bawah kamu….”
Marla agak menunduk ,nasib. Ia sudah menyangka pertanyaan itu akan muncul.
“Saya nggak belajar,Pak…”
Dahi Dosen itu berkerut, “Kamu termasuk mahasiswi dengan angka tertinggi pada Midtest lalu untuk mata kuliah ini. Coba kamu ceritakan pada saya kenapa sampai kertas jawaban Final Test kamu kosong? Mungkin saya masih bisa bertoleransi…”
Marla memandang Dosennya tertegun. Sang Dosen mengangguk.
Marla lama terdiam. Cerita ..Nggak…Cerita…Nggak….
“Bapak saya kawin lagi ,..Pak…” katanya tercekat. Bukan karena ingin menangis, tapi karena malu mengucapkan kalimat norak itu.
Lalu perlahan tapi pasti mengalir juga cerita itu. Ditambah embel embel kalau ia pasrah dengan hasil Indeks Prestasinya semester ini.
Puih…Lega…!
Gantian sang Dosen terdiam. Sambil memandang Marla dalam dalam.
Apa apaan nih, gerutu Marla misuh misuh.
“Kamu tau, setiap lihat kamu, saya selalu ingat almarhumah adik saya… dia meninggal dua tahun lalu tepat seminggu setelah Almarhumah Ibu saya meninggal. Adik saya  menyimpan perasaaannya sendiri, sampai ia sendiri tidak kuat dan pembuluh darahnya pecah…”
Wow….Marla melongo. Wajah Pak Dosen jadi melakonlis begitu.
Ini kan bukan sinetron. Wajah Pak Ritonga memang sedang sendu. Marla tersenyum pahit. Turut berduka,Pak….katanya dalam hati.
Well,..kamu boleh keluar sekarang. Semester depan kamu bisa ikut kelas SIA II di kelas saya…”
“Terimakasih ,Pak! Mudah mudahan saya bisa urus masuk kelas Bapak semester depan…”
Marla menarik nafas lega. Ia percaya pada Pak Ritonga. Meskipun tidak menjanjikan apa apa, tapi
    Dosen ini kelihatan tulus. Setidaknya mungkin Marla akan diluluskan meski dengan angka minim.
 —-ooOOoo—-
 Beep!  Beep!  Lampu handphonenya menyala nyala dan bergetar. Marla membuka matanya.
Bangun lo!! Gue jemput jam tujuh!
SMS dari Janet. Marla melesat keluar dari selimutnya. Sudah cukup dua jam tidur sore. Waktunya untuk melepas penat. Clubbing!
“La,..mau kemana…” wajah lembut ibunya mencuat dari balik pintu. Marla merasakan gesekan sakit di kerak hatinya. Melihat wajah yang biasanya sumringah itu kini ditutupi mendung.
“Mam,…aku mau pergi sama teman teman….tadi hari terakhir Final test..jadi ..mau refreshing sedikit…nanti Janet jemput.” Ujarnya, “Hmm…Mama nggak apa apa kan? Nanti Marla pulang cepat…”
Eliana, Ibunya duduk di pinggir tempat tidur sang putri bungsu yang baru selesai mandi. Ia tau putrinya juga sama terlukanya dengan dirinya.
“La,…Edwin kok nggak datang datang…”
Marla menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan rambut.
“Sejujurnya,…hubungan kami juga sedang tidak bagus….” Jawabnya jujur. Ia selama ini cukup terbuka pada Ibunya. Soal teman, soal pacar.
“Kalian …putus..?” Eliana memandang anaknya cemas,”Nggak kan,La?”
“Belum…tapi aku sih harus siap dengan segala kemungkinan…Hmm..Mama tenang aja…Marla kan masih muda Mam!”
Eliana tersenyum . Melihat putrinya tak begitu kisruh ia juga menjadi lega. Toh mereka; Edwin dan Marla; belum terikat ikatan apapun.  Nothing to Loose. Ia percaya pada anaknya.
Sepeninggal ibunya, Marla tercenung. Teringat Ayahnya yang semalam tidak pulang ke rumah. Juga teringat Edwin yang semenjak kapan itu belum pernah lagi menghubunginya. Entah butuh waktu berapa lama untuk berani menghadapinya dan menceritakan kenyataan pahit tentang hubungan mereka berdua. Kenapa cowok itu jadi sepengecut itu..?
Sudahlah! It’s Time for Fun!
Ia membuka lemari pakaiannya. Dan meraih Fitted mini dress dan under knee pants yang dibelinya di Metro Plaza Senayan sebulan yang lalu.Memulas bedak Two Way Cake diwajahnya yang kuning langsat dan mengoleskan Liquid Lip Color di bibirnya yang penuh. Chic and simple!
Sreseeet…Sreseeet!! Disemprotkannya Eternity Summer di pundaknya yang terbuka, bawah telinga, dan pergelangan tangan.
Hhmm..Marla mematut matut. Belum pernah ia seganjen  untuk sekedar clubbing. Tapi entah kenapa jiwanya butuh penyegaran. Butuh sesuatu yang baru. Supaya tidak melulu muram dan dibayangi pikiran pikiran cengeng tentang sinetron nyata yang dialaminya.
Tiiin!!! Tinn!! Suara klakson mobil Janet sudah meraung dua kali.
Ia menyambar Sling Back shoes hitam dari rak sepatu dan terbang keluar setelah mencium kedua pipi Mamanya yang mengantarnya ke pagar.
“Tanteeee!! Pergi dulu yaa!!!”teriak Janet sambil ber dadah dadah dari balik stir mobil.
“Jangan pulang terlalu malam,sayang!”
“Tenang Ma, Janet nggak bakalan mau pulang telat. Lewat dari jam dua belas malam, dia bakalan jadi Labu!”
—ooOOoo—
 Linda ternyata sudah memesan tempat di Retro Café. Tempat biasa mereka menghabiskan jumat malam. Kenapa jumat malam, sebab kalau malam minggu bukan jadwal Girls Club lagi tapi jadwal setor muka ke pacar masing masing.
“Lu booking berapa orang sih?” Tanya Marla pada Linda yang sudah nangkring lebih dulu ketika ia dan Janet datang.
“Hehehehe…malam ini nggak Cuma cewek! Tapi nanti ada Olson, ada Donnie, ada Rico, ada Sammy, ada Renata,…ada…”
“Omegod!!….lo ngundang mereka rapat di sini?!”
“Yeah nggak apa apa kan sekali sekali rame rame. Bosen gue liat tampang tampang lo mulu!” jawab Linda enteng.
“Tau gitu gue pake baju aga ketutup deh!! “ sesal marla sambil meratapi pundaknya yang terbuka.
Janet terkikik, “ Ditanggung besok si Sammy merengek minta Emaknya ngelamar elo! Lagian…lo emang tumben amat …”
Dan mereka satu persatu mulai berdatangan. Sammy langsung mengambil tempat di samping Marla demi melihat cewek itu dandan abis dengan baju yang agak irit bahan.
“Ah Marla,….Hmm…sepertinya gue ga bisa nunggu sampai lengser untuk tuker guling bangku sama elo…ck..ck..lo cantik banerr ,Babe…”
Marla mencibir, “Awas tuh bibir lu jangan kelewat maju gitu donk nanti jatoh ke piring gue ,Sam!”
“Sam..Sam…lo nggak lupa bawa  tatakan iler kan?biar nggak basah tuh kerah baju lu ngeliatin Marla melulu!” ejek Olson.
“Gue juga nggak nyangka ternyata lo cakep juga,La…” ujar Rico , yang duduk di sebelah Janet. Emang bener kayaknya ini cowok Naksir Janet.
“Ciih!! Kemana aja sih lo pada, mata lo pada siwer semua sih. Makhluk manis imut dan lembut begini lo baru pada ngeh?!” jawab Marla Anteng, “gue laperr nih..cepetan pesenn..”
“Mas kita pesen appetizer dulu lah…Calamary tiga, Jim Fries dua….” Kata Janet sambil menelusuri buku Menu.
Setengah jam kemudian mereka sibuk menyantap main course pilihan masing-masing.Marla memilih Chicken Cordon Blue, yaitu kombinasi daging ayam dan daging sapi asap goreng tepung roti yang disajikan dengan saus jamur.
Live Music dimulai pukul sepuluh  tepat. Vocalis bandnya adalah dua cewek dan satu laki laki berambut gimbal.
Hebat, semua request bisa mereka bawakan. Marla menyesali diri menuliskan lagu itu di kertas kecil yang diberika waitress untuk request lagu.
Ketika lagu Basil Valdez nya dinyanyikan, Marla merasakan sebagian dalam dirinya begitu hampa dan kosong di tengah hangar bingar musik, denting gelas, dan suara berisik teman temannya.

You give me hope
the strength and will to keep on
No one else can make me feel this way
And only you can bring out all the best I can do
I believe you turn the tide
and make me feel real good inside
**You push me up
When I’m about to give up
You’re on my side
When no one seems to listen
And if you go, you know the tears can’t help but show
You break this heart and tear it apart
and suddenly the madness starts
Chorus:
It’s your smile, your face, your lips that I miss
Your sweet little eyes that stare at me 
And make me say, I’m with you through all the way
Coz it’s you who fills the emptiness in me
It changes everything you see
When I know I’ve got you with me

—You, Basil Valdez—-
 “Ehm,,…ini lagu pesenan lu kan La?” bisik Linda keras di kupingnya. Marla menyikut lengan temannya. Ia nggak ingin yang lain tau kalau lagu itu request darinya. Lagu melow tentang betapa cintanya  seorang cowok terhadap kekasihnya. Sebagaimana Edwin dulu.Duluuuu….
Bodoh! Kenapa pilih lagu itu! Marla memaki dirinya..
Jam Sebelas lewat, mata mata para cewek sudah mulai lima watt. Mereka sepakat check out.
“La, lu gue antar pulang deh kan searah ..” Sammy berusaha segentleman mungkin menawarkan kebaikan itu pada Marla.
“Searah dari mane,Samm! Marla di Kebon Jeruk elo di Bekasi!”potong Rico, “Udah La lo gue antar pulang aja, itu si Janet dah pingsan sebentar lagi, dia minum Red Wine tiga gelas…biar Donnie nyetir mobil dia deh.”
“Gue juga kayaknya dah teler nih…sapa yang mau anter gue pulang ke orang tua gue…?” Olson memelas, menghiba.
“Halah! Lu minum Soya Bean Milk aja mabok!”Renata menjawil jidat Olson yang sejak tadi berusaha keras untuk ditutupi dengan poni agar terlihat lebih sempit.
Deal. Marla setuju nebeng Rico.
“Gue anter elo sampe keset kaki depat pintu dah!” janji Rico.
“Ric, awas lo colek colek ya calon gue…”Sammy mengancam dengan raut muka lusuh seperti dompet tanggung bulan.
 —ooOOoo—-
 “Kalau tau rumah lo searah dengan gue, lo bisa bareng gue kalau ke kampus,La…” kata Rico  diperjalanan.
Marla berusaha membuka matanya,”Co,..lu bisa gue percaya kan..?”
“Kenapa memangnya? Emangnya gue ada tampang kriminil?”
“Gue ngantuk berrat Co,…gue tidur ga apa2 ya? Tar kalau dah sampai bangunin….” Pinta Marla sambil mengerjapkan matanya berusaha terbuka.
“Ya udah tidur aja,La…nanti gue bangunin kalau sudah sampai…”
“Whoaaahhhh!!..” Marla menguap lebarr,”Thanks Co,…” kepala nya sudah rebah ke pintu masih dalam posisi duduk,
 “Oya Co,…kalo nanti ada suara suara agak menakutkan jangan kaget ya Co,..itu pasti gue…gue suka khilaf..ngorok…”
Rico tertawa geli.Sesekali diliriknya gaya Marla terlelap. Seperti bayi. Suara dengkurnya halus terdengar
Kalau dibanding Janet, Marla masih kalah cantik. Sebetulnya Marla bukan masuk katagori cantik,tetapi manis. Janet itu cantik dan modis.
“Co,…”
Rico agak terkejut mendengar panggilan lirih barusan, ”Kenapa La…”
                                 
“Gue juga suka ngiler….”lalu Marla terlelap lagi.
Paduan yang unik.Manis, bocor , pelor alias nempel langsung molor, sexy (bajunya irit bannget…), dan suka ngiler.
Hmm,.Rico menggeleng geleng sambil tersenyum geli.
 –ooOOoo—
     …….and this is what we call a true living…
 “saya sudah cukup bersabar Pa….Rasanya saya tidak bisa seperti ini terus!” Teriak Eliana pada suaminya yang bersiap berangkat ke kantor.
Eldin Himawan ,laki laki yang sudah tiga puluh  tahun menikahinya, Cuma memandang sekilas.
“Saya tidak bisa. Sebentar Papa di sana, sebentar di sini. Begini saja,…mulai sekarang silahkan Papa tinggal saja dengan perempuan itu. Tidak usah tinggal bersama kami di sini. Itu lebih baik buat saya…”
Getir memang.
“Mama serius mau begitu?!”sentak Eldin pada istrinya,”Kalau saya keluar, saya tidak akan mati karena tak makan. Bagaimana dengan kamu?!”
Lalu ia bergegas menuju lemari untuk mengambil traveling bag. Eliana menahannya.
“Jangan bawa apapun dari rumah ini, silahkan Papa keluar ….Papa sudah terlalu menyakiti hati saya dan anak anak. Perempuan itu sudah menutup mata hati dan nurani Papa…”
Eldin Himawan membanting pintu lemari dengan keras dan berjalan keluar. Memanggil Pak Ali, supirnya, masuk ke mobil dan menghilang.
 Marla menggelosor di dinding kamarnya. Yang bersebelahan dengan kamar Ayah Ibunya. Ia mendengar setiap eposide pertengkaran orang tuanya Setiap detilnya. Ia menyesapkan sakit setiap kali didengarnya Ibunya bertanya pada suami kenapa tidak pulang, dan juga tangis ibunya. Ayahnya sudah berubah. Sangat berubah. Bahkan pada Marla sekalipun.
Gadis itu bangkit dan masuk ke kamar Ibunya. Direngkuhnya, dibelainya tangan wanita yang baru saja  tercabik cabik harga diri dan perasannnya oleh suaminya.
“Ma,….jangan rapuh. Kita berempat akan menghadapi ini semua….”ujar Marla gamang. Air matanya menetes.
Ada yang mendesak desak dalam dadanya. Menghantam hantam. Sebuah bongkahan benci, yang amat parah, pada ayahnya.
  —ooOOoo—


               BAB V
It’s really over now …


 “Marla!!” suara Brian terdengar cempreng . Marla menjauhkan Hp nya dari kuping.
“Iyaa gue dengerrr…”
“Sudah terima kan sms ku,…undangan pesta pertunangan!”
Marla tersenyum, “Iyaa ,sudah….aku pasti dateng deh Bro…!”
Teringat apa yang sudah dipikirkannya masak masak tadi malam. Teringat bahwa Edwin sengaja tidak menampakkan batang hidungnya setelah waktu itu berjanji untuk meng’clear’kan semuanya.
“Brian,…kamu mau nolong aku nggak?” pnta Marla setelah beberapa detik terdiam.
“Yep! Pasti,sista!” Brian terdengar sangat antusias, “What’s going on?”
“Hmm…Kamu undang Edwin kan?”
Yes…So?”
                                 
“Kalau gitu,…tolong juga undang Dennis juga…di pestamu….kamu kan kenal dia juga”
Brian terdiam,.”Apa mesti begitu La? Belum ada penyelesaian soal itu?”
“Edwin terlalu pengecut untuk menghadapiku, itu kenyataan yang baru aku tahu…”ujar Marla,”Aku ingin semua jelas dan cepat selesai…I have another huge problem! Sebaiknya masalah dengan Edwin tidak terus terusan menambah bebanku…Ngerti kan,Bri?”
But, Please don’t tell them you also invite me…”kata Marla lagi
Brian terdiam, “Hmm,….aku memang belum bilang Edwin kalau aku undang kamu,La…Oke…nggak masalah, semoga urusan kalian cepat selesai..”
“Thanks,Bro…Maaf harus menggunakan pestamu untuk hal hal norak kayak gini…aku seperti sedang menjebak seorang pengecut…”
“Nggak apa apa,La…Tapi kamu harus datang ya lusa, jangan mengecewakan aku dan Claire lho!”
“Pasti!! Pasti…” Marla berjanji.
“Dan…apapun yang kamu lihat nanti, kamu harus berbesar hati. Marla yang ku kenal di SMA dulu dan yang sekarang bukan gadis cengeng! Kalau Edwin nggak bisa menjaga mu, Aku akan kenalkan kamu sama teman temanku yang jauh lebih gentle dari Edwin…”
Sure! Aku suka cowok setengah bule…tolong carikan satu…”
 —-ooOOoo—
 “Rico!!” Marla berlari mengejar cowok tinggi berkacamata yang sedang menyebrangi Plaza kampus dengan menenteng beberapa map dan dengan tas berselempang.
Rico berhenti dan menunggu gadis itu datang mendekat. Tumben, pikirnya girang.
“Kenapaa…tenaangg…” katanya setelah Marla berhenti di hadapannya dengan nafas memburu.
Di tariknya lengan Marla dan duduk di salah satu bangku beton di depan Toko Buku.
“Kenapa sih,lari lari…panas panas begini..”
Marla terkekeh,”Sorry Co,..gue ada perlu!”
“Sama gue? Kok tumben…”
“Lo besok malam ada acara nggak ?”Tanya Marla.
“Besok?…Malam Minggu” kening Rico berkerut ,” Lo nggak sedang ngajak gue kencan kan?”
Marla menjotos bahu Rico keras, “Gue serius!…Boleh lah kalau dibilang nge date!…Temenin gue ke pesta pertunangan sahabat gue!”
“What??”
“Please Co,..temenin gue…kata lo berhubung rumah kita searah gue boleh nebeng eloo…” Marla merajuk.
“Iya, tapi…memangnya cowok lo kemana..?” Rico menatap gadis  itu heran. Setahunya, Marla sudah punya cowok yang kuliah di Australia. Itu menurut cerita Janet.
“Ahh, udah deh ga usah ngomongin cowok gue..yang penting, lo mau nggak?!!”
Rico dia sejenak. Berpikir. Menimbang dan memutuskan.
Oke, I’ll be your man besok…hmm.. gue perlu pakai baju kayak gimana?”
“Ahhh!! Thank you,darling!!”Marla mengguncang guncangkan tangan Rico keras, “Pakai apa aja deh yang pantes, Oya pestanya malem,..yang keren ya!”
“Hmm Oke….gue jemput lo jam setengah tujuh?”
Marla mengacungkan jempol nya,”Sip! Santi Sunyoto yaaaa”
“Apa sih?”
“Sampai Nanti See You Tomorrow!!”
Marla menepuk punggung Rico dan bergegas pergi.
 —ooOOoo—
  Sabtu Sore. Jam empat lewat tiga puluh menit.
Marla berdiam di depan lemari yang tebuka lebar. Sejak Semalam ia sibuk berpikir kemungkinan kemungkianan yang akan terjadi hari ini.
Bakalan ketemu nggak ya dengan Edwin dan Dennis. Lalu gimana, mesti bicara apa, mesti ber ekspresi bagaimana. Boleh dibilang gila, gadis itu sudah mencoba berbagai dialog untuk berbagai kemungkinan yang terjadi malam ini.
Untungnya ada Rico, setidaknya kalau ternyata ia shock dan pingsan, masih ada orang yang menyeretnya pergi dan mengantar pulang!
Hmm, harus pakai apa…Marla mengetuk ngetuk bibirnya dengan telunjuk sambil menatapi pakaian pakaian pestanya yang tergantung di lemari. Sekaligus memikirkan akan makeover seperti apa.Jangan terlalu menor, yang penting terlihat elegant.
Ia sudah membayangkan,…dan sudah latihan semalam,…dengan mengangkat sedikit dagu ke atas, menatapi Edwin dan Dennis dari atas sampai ujung sepatu. Menuai senyum mengembang dan ketenangan yang luar biasa bicara pada mereka.
“Hallo Edwin,ketemu di sini? Oww…nggak sangka ya? Ini siapa?…oooh Dennis..Hmm…Deniis yang..itu kah..?”
Lalu,
“Okey, have a nice party buat kalian berdua….Ehn Edwin,..masih perlu banyak waktu untuk membicarakan bisnis kita?”
Then,
Dengan mengangkat sedikit dagu, tersennyum manis, menepuk punggung Edwin tanda bersahabat dan menggandeng lengan Rico sambil berlalu.
Stop Stop! Marla merasakan dirinya mulai gila. Meskipun semua itu adalah wujud dari sakit dan arogansi yang yang tinggi. Kalaupun harus menangis, jangan di depan laki laki itu. Tidak boleh terjadi.
Ahh, untung ada Rico, meskipun ini cowok setengah hati menemaninya. Mungkin kalau Janet yang ngajak ,Rico akan langsung mengulurkan tangan.
Kenapa ngajak Rico? Sebetulnya ada beberapa kandidat yang akan dipilihnya untuk menemani ke pesta Brian. Lalu kenapa Rico,dari sekian banyak teman cowok itu, mungkin Rico termasuk kriteria aman. Dari segi fisik, lumayan good looking, wajahnya mencerminkan bahwa ia smart. Nggak kuper. Dan sepertinya tipe cowok gentle yang nggak akan ngiler ngiler lihat punggung terbuka teman perempuannya. Dan meskipun Rico termasuk juniornya di kampus, karena ia satu angkatan di bawah Marla,tapi potongan cowok itu oke, yang nggak tau akan mengira umur Rico 27 atau bahkan 30 tahun.
“Mau kemana,La…”
Marla sedikit terkejut. Tau tau Ibunya sudah berada di kamarnya, ikut ikutan memandang ke arah lemarinya .
Marla tersenyum, “Mam,..aku mau ke pestanya Brian, kakak kelas di SMA dulu…dia tunangan malam ini…Aku sedang pilih pilih baju…..hmmm…”
 “Sama siapa perginnya? Edwin?”
Eliana memandang anaknya.
Marla jadi kikuk, “Bukan…tapi dengan teman kampusku….”
Diraihnya lengan ibunya dan di bawa duduk di ranjang, “Mam…aku sudah nggak berharap banyak soal Edwin, jadi…Mama juga jangan berharap..”
“Mama sih terserah kamu, kamu yang menjalaninya….Mama ingin kamu didampingi laki laki yang baik dan bertanggung jawab! Nggak harus Edwin, kalau memang dia bukan jodoh kamu, ya cari lah yang lain…Pokoknya…jaga hatimu, jangan sampai tersakiti, jangan sampai menyimpannya berlarut larut…kita sudah cukup sakit ,kamu harus kuat..”
Marla memandang ibunya dengan dada sesak. Setelah seminggu Ayahnya pergi, badan ibunya susut sekali. Mungkin letih menangis dan menenangkan diri. Sementara itu harus berusaha tampil tegar di hadapan ketiga anak anaknya, terutama di hadapannya.
Allah Maha Besar, dia mendengar doa orang yang teraniaya…..Marla menguatkan diri.
“Ma, asal Mama janji, Mama juga nggak boleh down. Inget, ada kita bertiga di belakang Mama. Kalau mama down gimana aku..? Janji Ma?”
Eliana mengagguk pada anaknya. Ia bisa tersenyum dan tegar juga karena ketiga buah hatinya. Kalau tidak, sudah sebulan yang lalu ia sakit jiwa.
“Lalu siapa yang menemani kamu malam ini?”
“Ada Ma, temen kampus, rumahnya deket deket sini, hehe…nanti Marla kenalin deh…sama baiknya dengan Olson , Donnie dan Jeffry!”
“Salah satu kandidat pengganti Edwin?”
Marla terbahak bahak, “Waaah nggak Mam,…dia naksir Janet! Hihihi…lagi pula aku n ggak mikir ke sana kok! Just have fun!”
Eliana menoyor kening Marla,”Ya sudahlah,..sana siap siap!”
Sepergian Ibunya Marla kembali memandangi koleksi  gaun malamnya. Di tariknya yang menarik perhatian sejak tadi.
Sack Dress berleher segi empat, berlengan puff dengan renda di bagian leher dan ujung lengannya. Hm…ini sopan dan manis.
 Jam Enam sore setelah mandi dan sholat Magrib , Marla duduk di meja riasnya . Masih ada waktu setengah jam sampai Rico datang.
Ia mengulaskan Two Way Cake powder di wajah dan lehernya yang terbuka.
Setelah itu ia mengoleskan perona mata warna kuning emas lembut dan tipis pada kelopak mata, dan warna coklat muda di sudut luar mata. Dan memperjelasnya dengan membubuhkan mascara coklat tua pada bulu matanya yang panjang.
Di liriknya koleksi lipstick yang berjajar di etalase meja riasnya. Ia memang  suka mengoleksi beraneka warna lipstick. Diambilnya YSL warna coklat bronze dan menutupnya dengan lipgoss warna bening. Membuat bibirnya terlihat penuh, dan sensual.
Terakhir ia memulas  pemerah pipi dengan warna coklat muda campur peach.
Dan semprotan CK Summer, salah satu koleksi favoritnya. Ia mulai memikirkan untuk membeli lagi parfum ini secara CK Summer keluar limited edition. Di Jakarta sudah susah ditemukan.Hmm, mungkin harus minta tolong Laura, sepupunya yang kuliah di Singapore.
Tapi itu urusan nanti.
Terdengar suara mobil berhenti  di luar. Marla berlari ke jendela dan melihat Rico keluar dari mobilnya.
“Ricooo!! Aiih, rapi nya…ck ..ck.. hehehehe” sambut Marla di pintu masuk. Rico tersenyum lebar.
“Jarang jarang nih gue pake beginian!”
“Maa ini Rico, temen kuliah ku!” Marla menyeret Rico ketika ibunya muncul di ruang tamu.
“Malam , tante…” sapa Rico sopan.
“Malam,..kalian mau pergi sekarang? Jangan pulang terlalu larut lho!” pesan Eliana pada dua anak muda di hadapannya.
“Sip, Tante…”ujar Rico,”Berangkat La?”
Marla mengangguk dan mencium ibunya sebelum keluar.
 —-ooOOooo—-
 Marla tiba di hotel tempat perta berlangsung ketika pihak keluarga Brian juga baru datang.
Brian dan ayahnya mengenakan busana batik modern bermotif warna hijau. Sementara ibunya mengenakan gaun dengan motif dan warna serupa. Keluarga besar ini membawa sejumlah antaran, berupa buah-buahan dan makanan yang ditempatkan di keranjang yang dihias. Rombongan ini lalu disambut keluarga Claire di depan pintu utama.
Lucu sekali melihat  Ayah Ibu Claire juga menggunakan Busana semi tradisional Indonesia. Kelihatan mereka menghormati budaya di sini. Sebetulnya terbalik ya, kenapa bukan keluarga Brian yang datang ke kediaman Claire di sana ?
“Teman lo yang cowok atau yang cewek,La?” bisik Rico di sampingnya.
Marla menunjuk ke arah Brian. Mata gadis itu berkeliling. Mencari sosok  Edwin,pastinya.
“Co, tar kalo lo gue kenalin ke temen gue…lo relax aja ya..jangan kaku!”
 “Lo mau jadiin gue pajangan ya?”
Marla menggeleng, “Gue butuh tangan tangan kuat yang bisa nangkap gue kalau tiba tiba gue pingsan!”
Rico terkekeh, “Ah lo pasti mau bikin jelouse orang ya? Siapa sih? Cowok lo??”
 Ketika acara lamaran selesai, suasana menjadi berubah. Band yang sedari tadi hanya diam menyaksikan proses pertunangan sekarang mulai melantunkan lagu lagu yang energik. Kebanyakan  lagu lagu barat tahun enam puluhan dan tujuh puluhan.
Mulai dari Speak Softly love nya Andy Wiliams, Love Me tendernya Elvis Presley, dan lagu lagu lawas yang lain. Ketika Band menyanyikan Besame Mucho dengan irama Samba , para orang orang tua mulai turun ke pelataran dansa berpasang pasangan.
Marla mengangguk anggukkan kepala menikmati lagu itu. Ia teringat orang tuanya yang kadang suka berdansa berdua kalau ia memainkan lagu ini di keyboardnya di rumah. Bahkan ia sampai hafal di luar kepala teksnya yang rumit.
 Besame, besame mucho
como si fuera esta la noche
la ultima vez

Besame, besame mucho
que tengo miedo a tenerte y
perderte despues

Besame, besame mucho
como si fuera esta la noche
la ultima vez

Besame, besame mucho
que tengo miedo a tenerte y
perderte despues

Quiero sentirte muy cerca
mirarme en tus ojos
verte junto a mi
Piensa que tal vez mañana
yo ya estare muy lejos,
muy lejos de aqui…

Besame, besame mucho
como si fuera esta
la noche la ultima vez
Besame, besame mucho
que tengo miedo a tenerte y perderte despues
 Ibunya pintar sekali menari Tango dan Wals serta Cha Cha. Sesekali Marla mau juga mempelajarinya, meskipun kakinya masih kaku mengikuti aturan ketukan untuk kaki.
Ayah Ibunya memang suka musik, karena seringnya lagu lagu lawas di putar di rumahnya, Marla mau tidak mau jadi ketularan suka. Kadang bikin heran teman temannya dan jadi pertanyaan kenapa anak muda gaul seperti Marla suka lagu lagu jaman dulu. Tapi Marla nggak perduli. Buktinya, di setiap acara keluarga ia selalu di daulat untuk mengiringi nyanyi atau menari dengan permainan keyboardnya. Setelahnya, para orang tua pasti akan turun untuk berdansa.
            Marla sekejap lupa ada Rico di sisinya> Diliriknya cowok itu sedang asyik memperhatikan pasangan nenek nenek dan Kakek kakek menari samba di dance floor. Sesekali juga bibirnya ikut bernyanyi.
            “Eh ,Lu tau lagu lagi ini Co?” bisik Marla takjub.
            “Yoi,…hehehe kenapa,aneh? Selera musik gue memang jadul,LA! Hahahaha…”
            “Masa Sih?! Ehm…gue sih nggak apa-apa secara gue juga suka lagu lagu jaman dulu gara gara emak bapak gue nyetelin lagu lagu itu dari gue dalam perut Nyokap!”
            “TApi mungkin lo nggak separah gue….hahahah…lo belom lihat koleksi gue sih di mobil…”kata Rico, “Eh gue ambilin cocktail, mau?”
            Marla mengangguk, membiarkan Rico pergi. Matanya mulai menjelajagh lagi. DIcarinya Brian dan Claire yang sudah berkeliling menemui tamu tamunya.
            Claire terlihat cantik sekali. Ia sudah berganti gaun. Dengan gaun bertali spaghetti dan bagian dada memakai semacam pleats dan payet payet. Bagian bawah gaunnya berpotongan circle empire bervolume.Entah rancangan siapa, yang jelas bukan baju yang terlihat “umum”.
            Dan akhirnya matanya menangkap bayangan itu. Sedang bicara dengan Brian dan Claire, sepertinya mereka baru datang.
            Marla merasakan detak jantungnya berpacu keras. Tuhan, jangan sampai aku pingsan! Pintanya.
            Edwin berdiri mengenakan batik warna biru. Di sisinya seorang perempuan dengan warna baju senada duduk….ee..? Di kursi roda….mm…Itu..Dennis?
            Marla melongok longok kan kepalanya untuk memperjelas. Gadis di kursi roda itu mengulurkan tangannya, menerima gelas minuman dari Edwin.
            Di Kursi roda…?
            Rico sudah kembali dengan dua gelas cocktail dan mengulurkannya pada Marla.
            “La,…hei..kenapa? Kayak liat hantu!”
            Rico mengikuti pandangan Marla. Seorang cowok sedang bicara dengan yang bertunangan , dan seorang perempuan berkursi roda di sampingnya.
            “Hm…siapa dia,la?” bisik Rico halus.
            Marla terkesiap. Di tatapnya Rico dalam dalam. Apakah aku harus mengatakannya?pikirnya menimbang.
            “Ric,…lo lihat cowok yang bicara dengan Brian itu?”
            Rico mengangguk.
            “Itu cowok gue….dia alasan gue datang kesini. Ric…temenin gue…jangan pergi pergi dari gue ya…”Marla memohon pada cowok itu.
            Rico menyentuh rambut Marla yang dibiarkan tergerai,”Gue kan sudah janji kemarin..I’ll be your man…jadi, percaya sama gue…”
            Marla tersenyum lega. Tinggal meredakan denyut jantungnya yang nggak karuan. Serta pikiran pikiran yang berkecamuk.
            Tak lupa juga ‘drama’ yang sudah dipikirkan dan di praktekkannya di depan cermin semalaman.
            OkeyRelax Girl…,…close your eyes, your ears and breathe. ….Hmmmmh…..Fuuh…..Think positive……
            Satu,Dua,..Tiga….
            “Ok, kita kesana ya Co…” Marla menggamit lengan Rico. Entah kenapa ia merasa ‘save’ ada cowok itu di sisinya. Thank berat, friend…
            “Brian!”
            Brian terlihat canggung dan serba salah ketika Marla menghampiri dan mengulurkan pipinya. Claire segera merangkul gadis itu sambil mengucapkan terimakasih telah datang.
            “Selamat ya,Bro…” kata Marla serius,”You are so gentle deh!! Jadi kapan menikah?”
            “Mungkin tahun depan,La, ..menunggu Claire selesai juga…” Brian mencoba bersikap se netral mungkin, menyadari Wajah Edwin di hadapannya bersemu merah dan sangat terkejut.
            Marla berbalik. Oke, ingat ingat latihan ‘drama’ semalam.
            “Edwin..?” Diusahakannya mengeluarkan suara yang sedemikian tenang,”Datang juga?”
           
            “La,…” Edwin terlihat sangat canggung. Perempuan di sisinya memandang mereka berganti ganti.
            “Eh,..ini siapa?” Marla menatap wanita di atas kursi roda itu dengan tatapan yang super ramah dan senyum simpul,”Oww…Ini pasti Dennis…?”
            Wanita itu menyambut jabatan tangan Marla ragu,”Dennis…ini…?”
            “Aku Marla….eng….Edwin nggak pernah cerita..?”
            Marla memandang Dennis dan Edwin berganti ganti. Ya Tuhan, kuatkan..kuatkan…pintanya berulang ulang di dalam hati.
            “Aku permisi dulu ya, mau menyapa tamu yang lkain..” Brian menyingkir halus.
            Marla masih memandang Edwin menuntut jawaban di balik senyumnya.
            “Dennis,…ini Marla..” Edwin tak tau harus bicara apa. Mata gadis di hadapannya betul betul menusuk di balik senyum ramahnya. RAsanya Marla sengaja menghujamnya dengan sikap nya itu.
           
            “Oya, aku lupa, ini kenalkan …temanku Rico. Dia berbaik hati menemani ku ke pesta ini…Kalau nggak Aku akan sendirian!”
            Rico menjabat tangan Edwin. Marla terlihat puas.
Marla menepuk punggung tangan Edwin,“Okey, have a nice party buat kalian berdua….Ehm Edwin,..masih perlu banyak waktu untuk membicarakan bisnis kita?”
Rico melihat gelagat Marla mulai goyah. Dengan sigap di genggamnya tangan gadis itu dan perlahan di tariknya ,”Kita pulang,la?”
Marla mengangguk. Sambil berterima kasih dalah hati dengan sikap Rico yang tepat pada waktunya. Ia sudah hampir menangis tadi. Hampir saja!
Edwinnya! Lengan yang biasa digelayutinya kirin di genggam lengan perempuan lain.
“La,..La!” Edwin berlari menyusulnya, menaruik lengan kiri Marla.Dennis ditinggalkannya sendiriain di sudut ruang pesta.
“La, kita harus bicara…”
“Kita harus bicara?” ulang Marla ,matanya membelalak,”Kamu mengulang kata kata ku,Ed …”
“Selama ini aku yang selalu memintamu..bahwa kita harus bicara tentang hubungan yang aneh ini!”
Rico menghentikan langkah dan melepas genggamannya. Rasanya dua orang ini butuh tempat dan waktu berdua. Bicara.
“Maaf, bisa tinggalkan Marla sebentar…?” pinta Edwin pada Rico.
Rico mengangguk, menepuk pipi Marla untuk menguatkan gadis itu, “Aku tunggu di mobil,..be strong ,…” bisiknya di telinga Marla.
            Edwin menarik lengan Marla ke sudut relief air mancur di dekat pintu masuk. Karena sudah hampir tak ada lagi tamu yang baru datang jadi tempat itu agak sepi.
            “Kalau tidak bertemu denganku di sini, entah kapan kamu mau bicara Ed…” cetus Marla.
            “Oke,aku salah…aku perlu waktu ,La…Dennnis butuh aku…dia invalid sebulan yang lalu kecelakaan di Melbourne. Dia dalam kondisi yang betul betul rapuh!”
            Waaawww…sinetron lagi. Marla mengejek di dalam hati. Ini seperti cerita Fire Bird, drama seri Korea yang dua bulan DVD nya ia beli di ITC.
            “Ah,..yaya…jadi kamu yang menyebabkan kecelakaan itu?”tebak Marla.
            Edwin menggeleng, “memang bukan. Tapi dia butuh aku. ..dia tidak punya kakak atau adik , dia perlu seseorang untuk menguatkannya…”
            Marla mencibir. Kejam memang. Tapi ia tidak perduli.
            “Yeah memang kasihan,…dan pacarku adalah cowok yang luar biasa baiknya…”
            Edwin mencoba meraih bahu gadis itu, memaksa nya untuk menatap matanya.
            Marla menantangnya, “Lalu ..bagaimana Ed..”
            “Siapa cowok tadi…?”
            Marla mengerjapkan mata. Hey, lo cemburu?!! Pekiknya dalam hati.
            “Siapapun, jangan mengalihkan pembicaraan…Jadi..bagaimana?”
            “Tolong La, beri aku waktu untuk pelan pelan melepaskan Dennis, bagaimanapun dia pernah dekat denganku…Aku janji, akan mepersiapkannya untuk kuat melepasku..”
            Marla menghela nafas berat. Aku,…harus menunggu pacarku meladeni perempuan lain…? Halah, Bidadari kesiangan….Marla is not an Angel
            “Ed! Jauh sebelum pertemuan ini aku sudah mempersiapkan mentalku. Asal kamu tau, keadaanku sekarang tidak lebih baik dari Dennis. Aku sedang jatuh dan luka parah. Bukankah seharusnya aku mengandalkan kamu untuk menghiburku? Kenyataannya pacarku sedang sibuk menghibur perempuan lain!”
            Bintang bintang yang dulu bersinar di mata Edwin ketika menatapnya kini tak terlihat. Cuma guratan letih.
            “Ed,…aku prihatin atas keadaan Dennis….aku nggak keberatan kamu berada di sisinya. Tapi maaf, aku juga perempuan. Dan aku nggak mau menunggu….Cinta dan kasihan itu beda tipis Ed, apalagi kalian pernah saling mencintai…..”
            “Marla, tapi aku mencintaimu!”
            Aduuh ini bener bener main sinetron! Marla menggeleng gelangkan kepalanya.
            “Sikap kamu tidak menunjukkan itu…Kamu tidak gentle membuktikannya.Dan aku nggak ingin ini terus nmembebaniku. Persoalanku juga banyak Ed,…jadi lebih baik kamu dengan Dennis saja kembali. …Oke?”
            “Maksud kamu?”
            “Maksudku…kita sampai sini saja…”
            Rico muncul di waktu yang tepat.
            “Sudah la,..? Sudah malam. Inget, tadi gue janji sama Nyokap untuk nggak terlalu malam mengantar elo…”
            Aah Rico! You rock!!
            Kalau berlama lama lagi, Marla juga mengkhawatirkan pertahanannya akan jebol juga. Wajah yang begituuuu dirindukannya selama ini memandangnya dengan tatapan sedemikian rupa.
            “Aku pulang Ed,…hmm..lihat Bodyguard mama sudah kasih Alarm!” ujar Marla san mengulurkan tangannya pada Rico. Ia takut jatuh ketika berdiri. Sungguh sulit menahan desakan di dadanya untuk tidak menangis. Pleaseeeee Rico, take me home!!
           
            Rico menggamitnya dan tersenyum simpatik pada Edwin yang masih terduduk.
            “Sorry,Ed!”katanya.
            “Aku pulang dulu Ed…Oya,…salam dari Mama untuk Bapak. Mudah mudahan cepat pulih…kita belum tau kapan akan ke sana….”
            Marla berbalik dan membuang pandangannya ke luar. Tangannya masih dalam genggaman Rico.
            “Lo baik baik aja kan,La?”ujar Rico ketika mereka sudah berada di pelataran parkir
            “Apa lo lihat gue sedang mabok..?” bisik Marla.
            Marla menyandarkan kepalanya di jok mobil. Matanya mengatup.
            Baru pacaran saja sakitnya sudah seperti ini, apalagi Mama yang sudah tiga puluh tahun menikah?!! Bathinnya.
            Rico menjalankan mebilnya perlahan meninggalkan pelataran parkir. Di biarkannya Marla menenangkan diri, ia tak ingin mengganggu.
           
 KUCOOOBA BERTAHAN MENDAPINGI DIRIMU
WALAAAAUU KADANG KALA TAK SEIRING JALANN
 KUCARIIII DAN SELALU KUCARII JALANN TERBAAIIKK
AGAR TIADA PENYESALANN DAN AAAIR MATAA….
 Suara mendayu dayu dan agak seperti orang ‘ngeden’ itu pelan pelan terdengar dari CD player Rico, mengganggu ‘semedi’ Marla..
 Marla membuka matanya perlahan. Nggak salah nih?? Marla menajamkan pendengarannnya.
 “Co,…lu suka ..Pance..?”
 —ooOOoo—-

      BAB VI
On pain…

 Your pain is the breaking of the shell that encloses
your understanding.
Even as the stone of the fruit must break, that its
heart may stand in the sun, so must you know pain.
And could you keep your heart in wonder at the
daily miracles of your life, your pain would not seem
less wondrous than your joy;
And you would accept the seasons of your heart,
even as you have always accepted the seasons that
pass over your fields.
And you would watch with serenity through the
winters of your grief.
Much of your pain is self-chosen.
It is the bitter potion by which the physician within
you heals your sick self.
Therefore trust the physician, and drink his remedy
in silence and tranquillity:
For his hand, though heavy and hard, is guided by
the tender hand of the Unseen,
And the cup he brings, though it burn your lips, has
been fashioned of the clay which the Potter has
moistened with His own sacred tears.

On Pain by Khalil Gibran
 Semua telah berakhir. Pacar pergi, Bapak kawin lagi. Pas….
Ibarat makanan, bumbu bumbu dan bahan bahannya sudah cukup lengkap.
            Hujan di luar mengguyur Jakarta. Menurut TV News, hujannya merata. Semenjak tadi malah petir bersinar sinar di langit. Ahh, membangkitkan nuansa mellow, sedih, kelam.
            Marla menelungkup pada bantal bantalnya di kamar. Ini waktu yang tepat.Ia merasa perlu ruang dan sedikit waktu untuk sekedar manjerit , berteriak dan memaki. Untuk menguras airmata yang selama ini begitu pelit keluar , tertahan oleh arogansinya.
             Life can be hurtful and not always fair
Tapi ini sakitnya luar biasa, dan saling menghantam, jantungnya seperti dipilin, raganya seperti baru saja lebur dan berantakan ke tanah.
 

            Ia tak melakukan apa apa selain membiarkan tangisnya menggerung, dan air matanya membanjir. Tak ada usaha juga untuk menyekanya. Semua dibiarkan saja. Toh rumah sedang sepi. Dan di luar sedang hujan lebat. Ia memang ingin begini.

            Seperti sebuah slide film, wajah wajah para laki laki itu berganti ganti. Ada wajah Ayahnya sedang tersenyum,tertawa, marah , ada klip wajah Edwin sedang sumringah, tertawa, tatapan lembutnya sampai tatapan memohonnya malam itu.

            Tepatnya bukan memohon, tapi laki laki itu sedang dalam persimpangan yang ia sendiri tidak bisa memilih harus kemana. Jadi, dari pada harus menunggu yang tidak pasti ,Marla memilih menolong Edwin menikamkan pisau di dadanya. Ia memilih,lebih baik pisah.

            Pasti sakit. Sangat.

            Makanya, ia butuh waktu seperti ini. Agar lepas semua, meskipun tak mengurangi sakitnya.

              God, Pleaseeeee help mee……. Kalau selama ini ia berpikir ‘ya ampun cengeng sekali cewek cewek di sinetron itu ketika menghadapi masalah’, sekarang ia menelan bulat bulat bahwa ‘sakit parah’ itu dirasakannya juga . bahkan lebih sakit. Karena ia ditinggalkan dua orang sekaligus, di kecewakan dua orang sekaligus. Dan kedua duanya laki laki.

            Marla terus menenggelamkan wajahnya di bantal. Berteriak sekuat yang ia bisa ditingkahi suara derasnya hujan di luar.

            Slide itu berpendar pendar lagi. Wajah tua yang menghianatinya, dan wajah ganteng tapi tidak punya pendirian dan ternyata seorang pengecut. Datang…berganti..berganti…

            Oke, saat ini waktunya menikmati apa itu Sakit Hati, Stress,Depresi,Kecewa dan Sedih. Sekarang waktunya. Hayati. Nikmati. Marla mengumpulkan  hatinya yang koyak koyak.

            Ia merasakan sakit di kepalanya. Karena terlalu banyak menangis dan menjerit jerit di  bantal yang yang tak bersalah. Kepalanya berdenyut denyut. Sakit sekali.

            Teringat wajah mengibakan Ibunya. Yang selalu penuh harap bila memandangnya. Teringat wajah wajah tegas kakak kakaknya yang selalu mencoba menghiburnya meskipun mereka sendiri pastinya sedang sibuk mencari pelarian di luar sana. Semoga pacar pacar mereka bisa membantu mengikis kekecewaan pada kondisi keluarga ini.

              Pada separoh keinginannya, Marla ingin berbuat gila gilaan, mendeskripsikan perasaannya ,sakitnya kepada hal hal yang gila ,gila dan gila. Seperti, hmm..dugem semalam suntuk,narkoba mungkin,….

            Well,let’s stop the imagination! Marla mengetuk ngetuk kepalanya panik. Pelarian yang menghancurkan pastinya akan lebih mendorongnya ke jurang kesakitan dan bahkan Lumpur kenistaan permanen. Melemparkannya ke kerak neraka. Ia tak mungkin membiarkan Ibunya melihatnya hancur begitu. Tak mungkin.Tak bisa. Ia adalah semangat buat Ibunya.

              Marla membiarkan airmatanya pelan pelan mengering. Sampai benar benar tak lagi mengalir. Ia puas menangis.

            Gadis itu mulai beranjak duduk dan mendekap kedua lututnya. Sesak di dadanya masih terasa berat.  

            Ia mencari cari dalam tasnya. Mengeluarkan kotak rokok Slim Menthol  . Mengeluarkannya sebatang dan mulai menyalakannya dengan lighter. Benda  sepuluh sentimeter yang baru dikenalnya seminggu ini.

            Ia menghirup dalam dalam dan menghembuskannya.

            Gue nggak akan lebih “jauh” dari sekedar merokok. Nggak boleh!
            Marla mengepulkan janji itu. Ke langit langit kamar.

–ooOOoo—
         

           

           
           
                BAB VII
It’s time to move on!!
 

Suara Pensil Sibuk Berat. Tabloid edisi baru sudah siap cetak. Marla dan Jeffry sibuk bolak balik ke percetakan.

Dan sebentar lagi masa orientasi mahaiswa baru akan berlangsung. Seperti biasa, di Cibubur.

            Ruang sekertariat kini selalu ramai. Bahkan Olson sampai menginap segala.

            Marla memanfaatkan kesibukan ini untuk menghibur diri. Setiap pagi ia selalu melakukan ritual meneguhkan hati, “Oke, hari ini gue harus sibuk..lupakan Bokap..Lupakan Edwin..Go..Bangkit! Its Time to move on!”

            Kemarin ia sudah menerima Indeks Prestasi semester ini. Seperti dugaan. Angkanya sama dengan ukuran Rotring yang ia pakai. Satu Koma. Tapi, yang membuat Marla haru biru, ternyata Pak Ritonga memberi nilai B. Makanya, semenjak kemarin ia mencari dosen baik hati itu tapi belum bertemu.

            Ia juga sudah menemui Ayahnya di kantor,untuk menunjukkan IP yang yang ‘cemerlang’ itu dan juga meminta uang kuliah.

            “IP apa nih!! Seperti ini kamu tunjukkan pada Papa?!! Malu maluin saja…” Eldin Himawan melembar kertas fotokopi hasil semesteran anaknya .

            Marla memungut kerta itu sambil mengumpulkan kesabarannya, mengumpulkan harga dirinya di depan orang tua yang disebut Ayah.

            “Malu Pa?…KAu sih nggak malu. Memang hasilku segini. Kalau bicara malu, ada lagi yang bikin aku lebih malu…” Merla menantang mata Ayahnya tenang,”yaitu kenyataan bahwa Ayahku kawin lagi dengan perempuan seumur kakakku.!”

            “Marla, papa sedang bekerja! Sudah pulang saja kamu, kalau soal uang kuliah, nanti Papa transfer ke rekening kamu!”

            Marla meninggalkan kantor Ayahnya dengan nafas memburu. Kalau bukan bertitel “Ayah’ ia ingin menunjuk nunujuk di muka orang tua itu.

            “La, lo siap nggak bikin jurnal harian waktu orientasi nanti?” Ted mengusik kesibukan Marla yang sedang ketak ketik cerpen baru di laptop. Entah kapan datangnya cowok itu, tiba tiba suaranya dan Janet sudah menggaung di ruang yang tadinya lengang itu.

            “Sip! Lu ganggu gue aja ,lagi konsen neh!”

            Janet berdiri memandang beberapa puntung rokok menthol di dalam asbak di kaki Marla.

            “La,…lo ngerokok sebanyak ini..?”

            Marla menoleh sebentar lalu kembali konsentrasi pada tulisannya. Semenjak sakit dan depresi ternyata ia menjadi lebih produktif. Sudah ada beberapa cerpen yang siap dikirimkannya ke majalah remaja. Itu berarti akan ada dana yang bakal masuk ke rekeningnya ketika cerpen cerpennya di muat.

            Marla menoleh lagi pada Janet dan Ted yang masih memandangnya, “Kenapa sih…?? Gue kan hanya merokok!…”

            “Lo sadar kan kalo lo bengek?”

            Marla mengangguk,”Iya warisan leluhur dari Bokap gue..kenapa?”

            “Itu namanya cari masalah,neng..bukan cari solusi!” semprot Janet., “Siapa yang ngajarin lo ngerokok?”

            “Net, lo kayak emak gue aja! Ngerokok Aja pake belajar. Tiap hari gue liat abang gue , Olson, Jeffry, Rico ngerokok…sekali coba bisa lah…”

            Marla senewen. Toh ia Cuma merokok. Bukan mengkonsumsi narkoba atau pskotropi lainnya.

            Sebetulnya ia tahu bahwa rokok itu bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Menurut artikel yang ia baca di internet, rokok itu mengandung sekurangnya empat ribu racun, dengan tiga komponen terbesarnya Tar,Karbonmonoksida dan Nikotin. Tar itu bersifat lengket pada paru paru.Nikotin yang paling memicu kanker paru paru dan penyebab ketergantungan. Serta Karbonmonoksida menyebabkan gangguan sistem pernafasan. Bahkan yang lebih menyeramkan, katanya dalam rokok itu ada zat zat lain yang membuat merinding; ada zat Merkuri ,Formalin bahan pengawet mayat, zat Arsen yang dikenal sebagai bahan racun tikus dan bahkan zat Fenol yang biasa digunakan sebagai bahan pembersih lantai.
            Ia tau, tapi keinginan untuk terus mengepulkan asap nikotin itu lebih dominan semenjak isapan pertama nya yang lancar dua minggu lalu.

            “Gue aja yang cowok nggak ngerokok….Lu cewek…”Ted ,cowok yang biasanya lebih banyak diam sekarang ikut urun suara,”Eh La tau ga perokok itu dibanding yang bukan perokok punya resiko 14 kali menderita kanker paru,mulut dan tenggorokan,4 kali menderita kanker esophagus,2 kali kanker kandung kemih, dan 2 kali serangan jantung!”

            “Halah Ted, Siang begini lo ceramah…”Marla terkikik demi menyaksikan muka serius Ted.

            Ted mengemasi barangnya. Hari ini ia janji dengan Jeffry bertemu di percetakan.

            “Elu tuh..ada apa sih La…” gumam cowok itu sambil keluar.

            Janet duduk di sebelah Marla sambil ikut menatap ke monitor,”Lu sekarang aktif banget nulis La…”

            “Kalo nggak begini gue bisa sinting Net!” ujar Marla setelah me minimize page cerpennya supaya tidak terlalu banyak dibaca Janet.

            “Psikolog bilang, kalau kita mau terlepas dari stress ,banyak cara, salah satunya ya itu tadi melakukan hal hal yang menimbulkan kepuasan, bisa melakukan hobi atau apapun…Gue mencoba untuk itu.”

            “Pinter luh…Bagus La,…gue ga mau lo jadi sinting…kalau lo sinting gue ga mau deket deket sama elo…lo bikin geng aja sama Neneng sana!”

            Marla menoyor jidat Janet.

            “La, gue juga lagi stress. Calon yang dari Ibu gue itu datang terus ke rumah… makanya gue suka ngabur kalau tau dia mau datang…”

            “Hati hati lho, lama lama suka sama tuh orang…”

            Janet mendelik, “Orangnya aneh. Waktu pertama kali lihat gue dia bilang seperti familiar dengan wajah gue. Seperti pernah kenal dekat sebelumnya…”

            Marla tertawa ngakak, “Wah itu sih memang trik cowok …biasa ..cari bahan pembicaraan! Bentar lagi dia akan Tanya Lo kuliah dimana lalu kalau sudah tau  dia Tanya lagi..kenal si Tuti nggak, kenal si Budi nggak…hahaha..basii…”

            Janet ikut ikutan tertawa. Ia teringat bagaimana pedenya cowok ‘berumur’ itu mengajaknya ngobrol pada pertemuan pertama. Dibilang berumur karena usianya memang sudah lebih dari tiga puluh lima tahun. Cowok yang matang , cenderung mateng malahan sehingga kadang  tidak bisa click dengan gaya humor Janet.

            Pernah waktu Kang Mas Reno itu bilang alis mata Janet bagus sekali begitu alami. Janet tertawa ngakak.

            “Alami dari Hongkong ,Mas! Ini kan hasil lukisan pensil alis. Aslinya aku nggak ada alis mata!..Sudah dikerik!”

            Kang Mas Reno menampakkan wajah yang semakin terkagum kagum, “Siapa yang dari Hongkong ,Dik? Kamu? Wah kapan…kok Mama  nggak bilang bilang?”

            Giliran janet yang bengong.

            “Kamu belanja apa di Hongkong,Dik?”

            “Siapa yang dari Hongkong Mas!”

            “Lho tadi kamu bilang  dari Hongkong…” Kang Mas Reno memandangnya berbinar. Terbayang kan bagaimana tatapan penuh cinta pria berumur pada kembang yang sedang mekar mekarnya macam Janet?!

            “Aduuh udah ah,capek…pake dibahas lagi…” muka Janet bersungut sungut.

            “Pasti jalan jalan terus ya di hongkong..makanya capek sekarang…”

            Jedugg!! Janet menyesal setengah mati. Kenapa pakai bahas slank pada manusia purba ini.

            “Bukaaaannnn…….”

            “Ooh saya salah ya,..maaf yaa …mungkin maksud kamu ,kamu bikin alis seperti itu di Hongkong yaaa…”

            Janet kehabisan kata. Dia lalu mencari cari ibunya memohon pertolongan untuk lepas dari cowok ini.

            Marla tertawa ngakak mendengar cerita Janet soal Kang Mas Reno, apalagi waktu Janet memperlihatkan foto laki laki itu.

            “Dia ngasih foto ini ke elo???”

            Janet mengagguk sebal, “Katanya biar Dik Janet ingat terus sama saya…halah…”

            Marla memandangi wajah cowok berkulit hitam sedang berdiri berlatar belakang patung Buaya di Surabaya. Hmm, turis lokal. Dengan kacamata yang super hitam, dan kancing kemeja terbuka sedikit.

            “Ih bulunya….”Marla bergidik, “Ini cowok nafsunya besar nih! Hati hati lo, hehehehe…”

            “Ah , liat dari mana nafsunya besar?”

            “Percaya deeh sama guee…” jawab Marla.

            “Hmm…lo mulai suka sama Kang Mas ini?”

            Janet membelalakkan matanya,”Ryan mau dikemanain? Ada ada aja lo….kalaupun mau tuker cowok,…gue juga mesti  banyak pertimbangan!”

            “Rico kayaknya ada minta tuh sama elo…” kata Marla. Teringat kemarin ia melihat Janet dan rico ngobrol berdua di teras secretariat Rico.

            “Oohh Rico sih bedaa…hihihii…” Janet mengerling genit.

            “Tuh kan ekpresi lo saja sudah beda!” kata Marla,”Lo demen sama Rico?”

            “Hmm…menurut lo Rico gimana? Kan dia udah pernah lo ajak ke tunangan temen lo…giman amenurut elo?”

            Marla menerawang.

            “Rico itu..cukup gentle…dia tau bagaimana memperlakukan wanita hehe…tapi.. masalahnya ….eh…lo tau nggak kalau Rico penggemar berat Pance Pondag?”

            “Terus emang kenapa kalo dia penggemar Pance? Selera orang kan beda beda!”

            Marla tak bisa menahan tawanya ketika menceritakan betapa kagetnya ia menemukan keranjang CD di mobil Rico yang berisi lalu lagu lalu pop lama yang mendayu dayu. Dari Obbie Messakh, Tommy J Pissa, Oom Rinto,Nia Daniaty…bahkan Ramona Purba, penyanyi tunanetra yang terkenal dengan lagu ‘terlena’.(lho kok dia sendiri sampai hafal?!)

            “Net! Sini bentar…gue bisa ngomong nggak sama elo?” Panjang umur. Rico sudah muncul di pintu secretariat.

            “Nah tuh! Jodoh deh!” tukas Marla sambilmendorong dorong Janet keluar.

            “Kalo mau mesra mesra jangan depan gue sementara ini ya! Gue lagi snewen!”

            “Eh, siapa yang mau mesra mesra!” jawab Rico sambil cengar cengir, “Maksud gue, siapa yang mau mesra mesra di depan elo,La…”

—ooOOoo—

            Sudah dua minggu berlalu, tapi Marla  belum menerima kiriam uang kuliah dari Ayahnya. Sudah tiga kali datang dan beberapa kali mencoba telpon tapi Ayahnya selalu tak bisa menerima. Kalau datang ke kantor, Ayahnya mengatakan akan meeting dan sibuk sekali. Kalau telpon, sekertarisnya bilang sedang menerima tamu atau menerima telpon di saluran lain.

            Seperti  mengemis pada orang lain. Ayahnya memang berubah 180 derajat. Tak ada lagi ditemukannya tatapan penuh sayang padanya. Tak ada. Yang selalu nampak adalah sinar mata tegang dan kaku.

            Marla mencengkram kemudi mobilnya keras keras, menahan sakit hati dan juga mungkin dendam. Ia dalam perjalanan pulang ke rumah setelah mengikuti rapat terakhir suara pensil dan rapat panitia Orientasi Mahasiswa.

            Ia meraih HP nya.

            “Kak Fer, …”ia mulai bicara pada abangnya yang baru saja mulai bekerja satu bulan,”Papa belum kasih kasih gue uang kuliah…”

            “Iya, Eric juga tadi ngeluh , belum bayar untuk wisuda. Belum lagi dia perlu biaya banyak untuk skripsinya…” jawab Ferdian pada adiknya.

            “Gimana ya Kak,…gue stress…”

            “La,..lo jangan stress. Kita harus kuat. Soal Edwin, lupain aja, laki laki macam dia buat apa lo pikirin….Kita mesti kuat La, kasihan Mama kalau lihat kita kacau…”diseberang sana Ferdian sedang menahan suaranya untuk tidak bergetar. Ia karyawan baru di kantor ini, tapi mendengar suara memelas adiknya ia begitu hancur. Marla dan Eric belum selesai kuliah. Dan sepertinya Ayahnya ingin melepaskan tanggung jawab begitu saja. Entah apa yang ada di pikiran Ayahnya.

            Marla adik perempuan satu satunya. Ia harus menjaga si bungsu itu agar kuat. Sebab diantara mereka bertiga, mungkin pukulan paling keras sekarang sedang diterima Marla. Sudah ditinggalkan Ayahnya, putus juga dengan kekasihnya.

            “La, lo pulang ya…istirahat di rumah..nanti kita pikirkan sama Mama soal uang kuliah elo dan Eric…seandainya gue sudah mapan, gue pasti akan bayar…sabar ya La..”

            “Iya Kak,…gue sedang dalam perjalanan pulang kok…take care ya Kak…”

            Marla meletakkan HP nya ke dalam tas dan mencoba konsentrasi di jalan.

            Roda sedang berputar. Dan kehidupannya sedang lambat laun bergerak ke bawah.

            Dadanya terasa sesak sekali. Ia mencabut tissue dan menyeka pipinya yang basah.

            Gue nggak boleh cengeng…kuat..kuat…kuat… ia menguatkan hati.

–ooOOoo—
 

Surat panggilan dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat tergeletak di meja ruang tengah. Marla membacanya tak berkedip. Ternyata masih kurang juga ayahnya ingin mencabik cabik keluarga ini.

            “Maaam!…” Marla  masuk ke kamar Ibunya sambil mengacungkan surat itu.

            Eliana sedang duduk membaca berkas berkas di atas tempat tidur. Matanya sembab, tapi ada sinar kekerasan di mata setengah tua itu.

            “Mama sudah baca….Papa kamu menuntut cerai, maksutnya nanti harta akan di bagi dua…”

            Marla duduk di pinggir ranjang,” Lalu mama memangnya mau?”

            “Apa? Tentu saja nggak. Mama akan pakai pengacara perempuan yang bagus untuk mengalahkan papamu. Nggak mungkin mama membiarkan dia mengambil semua ini. Ini hak kalian. Tiga puluh tahun mama mendampingi papamu, dari mulai dia menganggur! Sekarang , setelah sukses dia buat mama begini…betul betul menyakitkan hati!”

            Marla menatap ibunya sambil tertegun. Kemana wajah letih dan kusut kemarin? Dimana sorot mata sakit dan memelas itu? Meskipun sembab oleh airmata tapi sinar mata Ibunya terlihat begitu keras dan tegar.

            “Mama barusan tadi telpon pengacara , namanya Ibu Ning. Dia yang akan bantu kita. Tidak akan sepeserpun istri muda papamu akan menikmati harta ini… “ ujar Eliana pada anaknya, “La, kamu , ferdi dan Erick harus bantu Mama. Kalian harus berdiri di belakang Mama. Tolong bantu mama untuk tegar. Kalian sekolah yang betul, lalu bekerja dan cari jodoh yang baik…”

            “Ma,…” panggil Marla ragu. Ia menimbang nimbang apakah harus mengatakan ini pada Ibunya.

            Eliana memandang anaknya dengan kening berkerut.

            Marla menelan ludah.Pahit.

            “Papa belum kasih Marla uang kuliah,…dan juga biaya tugas akhir Kak Eric…”

            Eliana tertegun. Ia seperti tidak mengenal lagi Eldin Himawan. Biasanya laki laki itu paling cepat kalau soal biaya sekolah anak anak. Tapi ini…

            Ia melihat anaknya sedang menahan diri untuk tidak menangis. Tapi ia tahu Marla panik.

            “Aku sudah berulang kali telpon dan datang ke kantor Papa, tapi sia sia,Mam…”sambung Marla hampir tak terdengar.

            Eliana membuka kacamata bacanya dan meletakkannya di atas nakas.Ia terdiam.

            “Marla….coba tolong tutup pintu kamar ini, dan kunci…”

            Marla memandang ibunya heran. Lalu berjalan menutup pintu kamar dan memasang slot nya.

            Eliana meletakkan berkas berkas yang ada di pangkuannya ke atas tempat tidur dan berjalan menuju sudut kamar. Di dekat meja kecil di sudut ia berhenti.

            “La, tolong bantu mama mendorong meja ini…”

            Marla masih bingung. Tapi diturutinya perintah ibunya.

            Tidak ada apa apa di bawah meja itu setelah di geser.

            Eliana mencari cari di laci lemari  dan mengeluarkan sebilah palu.

            “Bantu Mama,La…”

            “Mau diapakan ,Mam?”

            Ada satu petak ubin yang terlihat memang agak berbeda dengan yang lainnya. Eliana mengetuk ngetukkan palu ke pinggiran ubin tersebut dibantu Marla sampai ubin tersebut copot.

            Di bawahnya terlihat ruang sempit seluas sekitar 30 cm x 30 cm yang disemen dinding dinding dan dasarnya. Seperti bunker mini.Ada sebuah kaleng di dalam ‘bunker’ tersebut.

            “Tidak usah lagi telpon telpon ke Papamu…Cuma akan menyakiti kita saja…” ujar Eliana sambil meraih kaleng tersebut .

            Marla melongo ketika Ibunya membuka kaleng itu. Isinya adalah perhiasan perhiasan emas dan juga berlian.

            “Ini simpanan Mama….”kata Eliana sambil menyodorkan kaleng tersebut pada anaknya agar terlihat jelas.

            “Sejak dulu mama suka membeli dan menyimpan perhiasan….”

            Marla menyentuh perhiasan perhiasan itu. Mama menyimpan harta karun?…pikirnya tak percaya.

            “Papa..tau..mama menyimpan ini?”

            Eliana menggeleng sambil tersenyum, “Papamu hampir tak pernah mau tau dan tak pernah bertanya apa yang mama beli dan dimana mama menyimpannya …Bagus juga…Mama memang kolot, sebaik baiknya papamu selama ini, selalu ada rasa takut ia akan seperti laki laki lain, seperti suami suami teman mama yang bisa begitu saja meninggalkan istri dan anak anaknya…jadi Mama memilih menyimpan perhiasan perhiasan ini….untuk berjaga jaga”

            Tangan tuanya mengelus barang barang yang dikumpulkannya puluhan tahun itu. Ia teringat Si Kadir, tukang yang merenovasi rumah ini sempat bingung ketika diminta membuat bunker kecil di sudut kamar tidur. Setelah bunker selesai, Eliana menyemen sendiri ubin penutupnya ketika semua orang tidak berada di rumah.

            Sebuah sikap paranoid yang ternyata berguna.

            “Lalu, barang barang ini..?”

            Eliana menatap Marla serius, “Besok tolong antar mama ke kolektor berlian teman mama, sebagian kita jual saja. Lalu antar mama juga ke Bank, mama mau membuka safe deposit box untuk menyimpan sertifikat sertifikat penting..”

            Marla masih tertegun.

            “Kamu kaget..?”

            Marla  mengangguk ragu ragu sambil menatap mata ibunya. Ada semangat di mata itu. Lalu kenapa ia sendiri  harus tersungkur? Ibunya saja bisa bangkit dari keterpurukan, ia harus turut.

            “Mama sakit,La. Tapi kita mesti kuat. Mama banyak bertanya dan bercerita pada teman teman mama dan juga Ibu Ning pengacara kita. Disitulah Mama mendapat kekuatan. Kalau kita ada masalah, kita harus punya tempat sampah untuk memuntahkan semuanya. Setelah itu kita harus makan dan minum lagi untuk mendapat energi baru, supaya tidak sakit dan kemudian jatuh….”

           

—ooOOoo—
 

            Edwin muncul di kampus Marla. Marla tertegun, di kampus yang begitu luas, bagaimana cowok itu bisa tahu secretariat Suara Pensil tempat dimana ia selalu bercokol jika tak ada kegiatan kuliah.

            “Sstt..itu Edwin…” senggol Linda. Marla menajamkan pandangannya melihat sosok cowok itu berdiri di deretan kantor kantor sekertariat.

            “Nggapain kesini..?” Tanya Stacy “Emang lo dah balik sama dia?”

            Marla menggeleng, memberi tanda agar teman temannya berpisah.

            “Ed…”

            Edwin menoleh padanya dan tersenyum kikuk.

            “Ada apa kemari?”

            “Aku cari kamu…”Edwin meraih lengan Marla tapi gadis itu melengos dengan sopan.

            “KEnapa Ed..?”

            “La, aku mau ngomongin soal kamu dan aku. Aku tidak bisa putus sama kamu…”

            Marla berjalan mendahului dan duduk di bangku panjang di dekat deretan pohon akasia yang sedang banyak menggugurkan daun daunnya yang kuning.

            “Trus maunya gimana…mau punya dua pacar?”

            “La, jangan gitu lah….kita kan bisa bicara baik baik…”

            “Aku sudah sering lho ngajak kamu bicara baik baik…tapi justru kamunya sembunyi…”

            Edwin menatap wajah Marla dalam dalam. Menikmati wajah mungil dengan dimple tajam di pipi kanan dan kirinya. Bagian yang selalu saja membuatnya tertegun gemas setiap kali lekuk manis itu muncul di pipi Marla. Menuruti emosi, ia ingin sekali merengkuh wajah itu ,meletakkannya di dada atau menyenderkannya di bahu, seperti kebiasaannya setiap kali mereka bertemu.

            “La,…aku akan melepaskan Dennis…aku sudah pikirkan…”

            “Well,Ed….Apakah aku sudah pernah bilang padamu bahwa…saat inipun aku dalam keadaan sakit dan luka? I have a huge problem! Aku ingin menyudahi ini, dengan melanjutkan hubungan yang sudah cedera ini rasanya akan bikin aku tambah sakit aja…”

            Marla mengais ngais tumpukan daun daun akasia di ujung sepatunya. Kemana cinta itu…kenapa begitu hambar…

            “La….kamu kenapa…”

            Marla menoleh,”Aku kenapa…”

            Apakah harus dikatakannya? Apa perlunya? Tak akan mengobati hati.

            “Sudahlah…gimana kabar Bapak,…”

            Edwin menggeser duduknya lebih dekat. Kalau keadaannya berbeda Marla sudah akan merangkul lengan kokoh Edwin. Dan akan mengalir ratusan cerita cerita seputar hari harinya.

            Tapi saat ini berbeda. Selain karena lokasinya di kampus, dimana mahasiswa lalu lalang jumlahnya tak terhitung, tapi keinginan itu juga sudah tak ada.

            “La, Bapak nanyain kamu terus…”

            Aha!..Jadi karena itu Edwin bela belain datang ke kampusnya…

            “Kasihan ,apakaah Bapak sudah pulih..?”

            Edwin menggeleng,”Kami juga khawatir, karena bapak masih belum pulih juga…setiap ketemu aku dia Tanya kamu terus..”

            “Hmm,La…kamu nggak berniat ..lihat Bapak?”

            Marla tersennyum pahit. Di luar hubungannya dengan Edwin, ia sangat menghargai orang tua itu. Orang tua yang menuirut Edwin sangat keras, tapi begitu lembut dan baik hati setiap kali bicara dengannya.

            “Mohon Maaf,Ed…aku sih ingin..tapi belum sempat….kami sekeluarga sedang bermasalah yang cukup pelik…..”

            “Mau nggak cerita padaku?”

            Marla menelan ludah. Kata kata itu… kata kata yang sangat ingin di dengarnya waktu Ayahnya mengumumkan pernikahan keduanya. Kata kata yang sangat ingin di dengarnya ketika hujan lebat hari itu. Juga ketika Ayahnya menolak nolaknya di kantor waktu ia menagih uang kuliah.

            Pada saat itu,kamu dimana? Sibuk mndorong kursi roda Dennis dan menjanjikan rencana rencana manis untuknya? Marla menahan getaran di dalam dadanya yang mulai sesak.

            “La..”

            “hmm….bukan waktu yang tepat untuk cerita…dan aku sedang nggak ingin mengingatnya…Maaf ya Ed…”

            “I see….nggak apa apa. Ini kali pertama aku mendengar kamu menolak untuk curhat padaku…”

            Marla tersenyum.

            “La, aku ke sini juga ingin mengajakmu ke rumah, menjenguk Bapak….kalau kamu bersedia…”

            Dahi Marla berkerut. Seandainya bukan Ayahnya yang meminta , apakah Edwin akan tetap datang untuk sekedar mencarinya di kampus?

            Ayah Edwin,Pak Wira adalah orang yang baik. Rasanya tidak enak juga belum menengoknya sekalipun pasca operasi bypass jantung waktu itu.

            Ini baru pukul sebelas siang. Dan ia tak ada kegiatan lagi setelah ini. Sebetulnya tadi ada janji dengan Rico . Cowok itu minta ditemani ke ke Mall untuk cari kado untuk ibunya.

            “La…gimana…boleh kan La?”

            “Aku telpon Mama dulu ya,Ed…tapi nanti aku diantar pulang kan?”

            “Ya Ampun La….sudah pasti, masa aku biarin kamu pulang sendiri!”

            Marla mencoba menghubungi HP mamanya. Ternyata Ibunya sedang berada di kantor Ibu Ning, pengacara mereka.

            “Ya sudah La,…kamu tengok saya Pak Wira. Dia kan baik baik saja. Kalaupun hubungan kamu dan Edwin putus, tapi hubungan silaturahmi lebih bagus untuk tetap ada…” Eliana mengizinkan anaknya pergi, “Jangan lupa bawa buah tangan ya…”

            “Oke ,Ma…Daah Mama…”

            Marla melirik Edwin yang memandangnya penuh harap, “Nah, kita berangkat?”

            “Terimakasih ,La!”

            Mereka berpapasan denga Rico dan Janet di basement. Rico menatapnya bingung.

            “Lho La? Mau kemana?”

            Marla memandang Rico dan Janet berganti ganti. Lho, mereka juga mau kemana?

            “Sorry Co,..gue mau ikut Edwin. Mau jenguk Ayahnya…Hmm…gue janji deh besok gue temenin elo cari kado. Gimana? Lagian, oya…kenapa nggak minta Janet nemenin elo?”

            Rico menoleh pada Janet. Yang dilirik Cuma diam.

            “Ya sudahlah kalau lo ga bisa…”

            “Sorry ya Co….” bujuk Marla sambil mengguncang lengan Rico lembut.

            “La!”Janet memanggil Marla ketika ia dan Edwin sudah masuk ke dalam mobil Edwin.

            Janet mengetuk kaca mobil.

            “Kenapa Net?”

            “Lo hati hati ya…sudah izin Nyokap kan?”

            Marla terkekeh geli melihat wajah penuh permusuhan Janet pada Edwin.

            “Net, Marla nggak akan lecet…Percaya deh..” cetus Edwin.

            —ooOOoo—

 …………………………………………………………….belum selesai…..

           

           

  

KIDS 2:12 pm

        Kiky termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Tidak pernah ia turun dari ranking dua di kelas. Kalau tidak ranking satu ya ranking dua. Semua mata pelajaran dapat diserapnya dengan baik dan cepat. Bahkan pembagian rapor kemarin dia menjadi juara umum. Bunda dan Abi nya sangat bangga pada Kiky. Begitu juga Daffa, abangnya yang sekarang duduk di kelas 5 .

“Wah Kiky hebat bener ya,…juara umum…Abang aja nggak pernah tuh ..paling tinggi juara 5 di kelas…” ujar Abang Daffa kagum.

Kiky tertawa tawa. “Abi….mana, katanya mau belikan Kiky Play Station seperti punya Dika? Kan Kiky rapornya bagus!” rajuknya pada sang Abi yang masih tersenyum senyum melihat rapor Kiky.

“Iya nanti Abi belikan, tapi tidak sekarang sekarang ini yaa, sebab uang Abi belum cukup untuk membelinya. Sabar ya Ky.” Ujar Abi.

Kiky mengangguk setuju sambil membayangkan mainan yang dijanjikan Abi itu. Ia begitu menyukai permainan itu. Selama ini sering main di rumah Dika, tetangga sebelah. Dan seringkali Kiky bertanya tanya Kapan yaa aku punya…

      Sebulan yang lalu Abi menepati janjinya. Sepulang dari bekerja, Abi membawa sebuah Dus berukuran lumayan besar. Kiky bersorak sorak kegirangan ketika membukanya ketika dilihatnya Dus itu adalah sebuah Play Sation, beserta beberpa CD permainannya.

Mulai hari itu Kiky mulai keranjingan bermain PS. Sepulang sekolah , sepatu hanya dilempar sembarangan di rak sepatu , buka baju sambil berlari lalu duduk di depan TV di ruang tamu. Terkadang ia mengundang Dika untuk ikutan bermain. Suara teriakannya setiap kali gemas, menang atau kalah kadang terdengar ke seluruh rumah. Hari pertama , kedua,ke tiga, ke empat…Bunda masih mentolelir keasyikan Kiky bermain. Tetapi setelah berhari hari, Bunda dan Daffa mulai menegur Kiky karena mulai mengabaikan belajar. Pekerjaan rumahnya banyak terlantar. Kadang dikerjakan secara terburu buru untuk kemudian main PS lagi.

“Kiky, …coba lihat PR mu banyak yang salah!” Tegur Bunda. Bunda memang rajin setiap hari memeriksa pekerjaan rumah Kiky dan Daffa. “Masa sih Bund?” Kiky balik bertanya sambil matanya tetap di TV dan tangannya sibuk memencet mencet stick PS .

“Kiky…..berhenti dulu mainnya. Ayo betulkan dulu PR nya…” ujar Bunda lagi.

“Tapi Bunda, ini tanggu tuh tinggal satu putaran lagi finish..”

“Kiky…” Bunda berdiri tetap di samping Kiky. Mata menyorot tajam pada anaknya.

“Ya deh Bun…..” rungut Kiky sebal. Huuuh…..Bunda nggak bias lihat orang seneng dech! Kiky mengeluh dalam hati. Makin hari Kiky makin malas belajar. Setiap kali ditegur dia dengan yakinnya selalu bilang

“Tenang aja Bunda,….tetep juara deeeh!!” Bunda dan Abi percaya Kiky tetap bagus dalam pelajaran, tetapi sepintar pintarnya anak kalau tidak pernah berlatih dan belajar tidak ada gunanya. Tidak akan maksimal hasilnya. Tapi Kiky tidak bisa diberitahu. Sampai sampai Abi mulai marah ketika dilihatnya Kiky belum belajar untuk ulangan besok.

“Kiky, tutup PS nya, kamu harus ulangan besok. “

“Tadi siang sudah belajar kan Abi,…lagian Abi tenang aja deh…” Abi mulai tidak sabar, “Kiky,…kamu tidak boleh takabur. Iya betul Kiky pintar, juara kelas bahkan juara umum. Tapi dulu Kiky mendapatkan itu dengan tekun belajar dan tidak main main…..Abi belikan mainan itu untuk kamu untuk mengisi waktu senggang…”

“Iya Ki, ada saatnya main ada saatnya belajar!” sambung Daffa. Kiky menutup PS-nya kecut dan mulai membuka buku untuk ulangan besok. Tetapi konsentrasinya benar benar terpecah. Sebentar melihat buku , sementara pikirannya mengembara ke game yang tadi sedang asyik dimainkannya… Wah, padahal aku tinggal 1 putaran lagi tuh, udah di urutan dua…huhh kalau tidak diputus aku sudah di urutan satu tuh waktu finish….Mobilnya kan sudah kupilih yang keren….

________________________________________________

                              Besoknya Kiky bingung . Soal soal di hadapannya hanya sedikit yang bisa dikerjakannya. Apa yang berusaha dipelajarinya semalam hilang semua.

“Sst Ki,..nomor tiga doong…” Hari teman sebangkunya berbisik. Kiky menggelengkan kepala, sambil mencoba mengingat ingat yang semalam dibacanya.

“Sambong kamu ,Ki!”Sembur ketika mereka selesai ulangan.

“Aku bukannya sombong Hari, tapi aku tadi memang tidak bisa mengerjakannya!” Hari mencibir, ia tidak percaya Kiky tidak bisa mengerjakan soal soal tadi. “Semalam aku tidak konsentrasi belajar, kemarin kemarin juga begitu…jadinya banyak yang aku tidak bisa…”Kiky bergumam, sekaligus menjawab pertanyaan Hari.

Ah aku kan baru baru ini saja nggak bisanya, sebelumnya kan bagus bagus….hmm…Kiky kembali terbayang serunya game balap mobil di PS nya. Bunda dan Abi berembuk. Setiap kali Kiky dilarang sekarang ia malahan ngambek dan cemberut , kalau sudah begitu konsentrasi belajarnya juga terganggu. Pernah suatu kali kabel kabel Play Stationnya di cabut oleh Abi, karena gemasnya. Kiky menangis dan berguling guling di lantai. Bujukan Daffa juga tidak mempan. Kiky tetap menangis dan menghentak hentakkan kakinya kesal.

“Bagaimana nih Bi…..Kiky sudah keranjingan main, tetapi tetap takabur dengan kemampuannya…” Abi mengangguk anggukan kepala sambil berpikir. Sementara Bunda menunggu Abi bicara.

————————————–

                            Kiky heran bukan main, semenjak adegan guling guling gara gara kabel PS-nya di cabut Abi, kedua orang tuanya sekarang seperti membebaskannya. Berarti aksi ngambeknya ampuh. Sakti mandraguna donk! Kiky makin asyik main, sering lupa waktu dan lupa belajar. Namun begitu ,kelihatannya Bunda dan Abi tenang tenang saja. Malahan Daffa yang keheranan. Sementara Ulangan akhir semester semakin dekat. Kiky sangat yakin akan kemampuannya. Toh sesekali dia baca baca buku juga. Daffa kelihatan sangat tekun menjelang ulangan akhir. Ia tidak mau mengecewakan Bunda dan Abi. Bagaimanapun otaknya tidak seencer Kiky. Ia perlu belajar super tekun untuk mendapatkan ranking. Itupun tidak pernah masuk tiga besar.

“Bagaimana ulangan akhir kamu Daf?” tanya Bunda pada Bang Daffa yang baru saja pulang sekolah bersama Kiky.

“Alhamdulilah deh Bun,…mudah mudahan hasilnya bagus. Soalnya yang Daffa pelajari banyak yang keluar lho!” Bunda menepuk nepuk bahu Daffa memberi semangat.

“Kiky gimana..?” Kiky mencium tangan Bunda, kemudian melengos pergi dengan wajah kusut. Masih terbayang bagaimana susahnya ujian yang dilaluinya. Entah bagaimana hasilnya nanti. Kiky masuk ke kamarnya dan menelungkup. Otaknya berpikir keras. Minggu depan terima rapor ….hmmm apakah aku tetap berada di puncak? Ia mengacak acak rambutnya kisruh.

“Tumben, nggak negokin PS-nya ki?” Bunda muncul di kamar.

Kiky langsung menyembunyikan kekisruhan di wajahnya.

“Aku capek Bun…” lalu ia menelungkup lagi pula pura tidur. Bunda hanya tersenyum penuh arti.

Hari pembagian rapor telah tiba. Abi memandangi rapor Kiky dan Dafa bergantian.

“Daffa, banyak kemajuan nih, sedikit lagi kamu sudah masuk 3 besar lho…hmm..Abi sama Bunda juga bangga sama kamu…”

Kiky duduk di pojok ruang tamu. Hari ini sedih bukan main. Rapornya tidak seperti yang diharapkan. Ia hanya menempati rangking sepuluh. Oh betapa malunya! Semua teman temannya terheran heran melihat namanya berada di urutan ke sepuluh. Bahkan Hari teman sebangkunya sekarang rangking 4.

 “Kiky…” panggil Bunda.

“Kiky minta maaf Bunda,..Abi….” ujar Kiky berat. Sunggu sulit ya mengakui kesalahan.

“Kenapa minta maaf?” Abi mendekat dan mengelus kepala Kiky yang tertunduk.

 “Iya karena Kiky nggak ranking satu lagi. Karena nilai nilai ulangan Kiky jelek. ..”

 “Hmm….itu semua karena apa ya kira kira ,Ky?” tanya Bunda lembut.

“Kan Bunda sama Abi udah tau jawabannya…” rengek Kiky.

“Makanya Nak,…kita sebagai manusia tidak boleh takabur. Dan Ingat, segala yang berlebihan itu tidak baik. Kiky berlebihan main jadi tidak konsentrasi belajar. Jadinya apa….ulangan nya tidak bisa. …Ya kan?” jelas Abi bijaksana.

“Iya Abi…” “Dan orang Takabur juga tidak disukai Allah. Allah akan marah lho. Sepintar apapun kalau tidak belajar dan berlatih mana bisa mengerjakan soal ujian..?” Bunda menyambung.

Kiky menganggu angguk.

“Jadi? PS nya mau tetap dimainkan setiap hari?”tanya Abi. Menggeleng geleng kan kepalanya yakin.

Sejak itu ia hanya main kalau akhir pekan saja. Ia bersyukur mempunyai orang tua yang bijaksana seperti Abi dan Bunda.

MY FLASH FICTIONJanuary 18, 2007 2:00 pm

Aku menatapnya penuh tanda tanya. Sepagi ini sahabatku ini sudah termenung-menung saat berjemur di bawah sinar Matahari pagi. “Kenapa sih?” tanyaku

Ia menoleh dengan mata sayu,”Aku tidak tahan hidup seperti ini. Harga diriku seakan tak berarti…”

“Masih soal itu?” Ia mengangguk sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.

“Keluarga Dedi keterlaluan. Aku tertindas, terinjak injak. Mereka tidak mengerti perasaanku!” katanya serak menahan tangis, lalu menoleh padaku “ Memangnya kamu nggak?”

“Aku juga. Sama dengan kamu. Malah aku lebih parah kan? Yang lebih sering menindas dan menginjak harga diriku malahan pembantunya Dedi…lebih sakit kan” kataku menerawang. Teringat Wajah Si Tinem yang sok cakep dan belagu serta selalu saja memandang rendah aku.

“Aku lebih parah kan? Lihat nih rupaku nggak karuan begini, masih bagus rupamu! Tapi aku sudah biasa….Itu namanya Takdir” kataku lagi.

“Tineeemm!!!” Kami terkejut karena tiba tiba Ibunya Dedi sudah berada di dekat kami.

“Ini keset keset kaki sudah kering! Letakkan lagi di tempatnya! Dan ini keset dapur buang saja sudah compang camping begini!!”

Tinem datang tergopoh gopoh. Aku menatap temanku sedih.

“Iya Nyah! Saya buang deh!” Tinem merenggutku dari tali jemuran dan melemparkanku tanpa perasaan ke tempat sampah yang bau. Sebau badanku. Tapi lebih bau lagi.

Aku masih sempat melihat sahabatku si keset kaki teras depan menitikkan airmatanya.

Setidaknya kini tak ada lagi yang mau menginjak injak aku. (216 words)

ARTICLES 9:57 am

Panjang usia dan sehat, siapa pun pasti menghendaki
ini. Ada 10 cara yang sangat mudah asal disiplin
dilakukan untuk mencapainya. Apa sajakah itu?

1. Kontrol lingkar pinggang

Penelitian terakhir dari Universitas Birmingham
menemukan bahwa adalah lingkar pinggang, bukan berat
badan yang menjadi indikator terbaik untuk penyakit
diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Para ahli
percaya bahwa lemak yang terkumpul di perut lebih
berbahaya dibandingkan yang terakumulasi di paha
karena lemak di perut dapat merusak sistem insulin
tubuh.
Bila ini terjadi, risiko diabetes dan penyakit
jantung jadi meningkat. Karena itu, usahakan agar
lingkar pinggang pria tak lebih dari 94 cm dan wanita
tak lebih dari 80 cm.

2. Cari second opinion

Setiap menerima resep dari dokter, periksalah dengan
pihak apotek, obat-obatan apa yang tak boleh dicampur
dan apa efek sampingnya. Jika tak yakin, cari second
opinion. Peneliti dari University Liverpool, Inggris,
menemukan bahwa 10 ribu orang di Inggris mati karena
reaksi merugikan dari obat-obatan, yang meski tak
perlu, tetap diresepkan tetapi dalam dosis yang tidak
tepat.

3. Jaga kebersihan dapur

Dapur adalah hot spot atau tempat kuman paling banyak
di rumah. Penelitian para ahli di Universitas Arizona,
AS, menemukan bahwa spons di dapur adalah tempat
tinggal lebih dari 7 miliar bakteri. Tempat favorit
lain adalah bak cuci piring, pegangan keran dapur,
talenan, dan pegangan kulkas. Karena itu, sering
seringlah mengganti lap dapur serta cuci dan masak
sayuran dengan benar.

4. Rajin beramal

Penelitian di University of Michigan menemukan bahwa
orang yang sering membantu atau mendukung secara
emosional orang lain, risiko mati muda berkurang
hingga 60 persen. Sebaliknya, orang yang tak pernah
menolong, risiko mati meningkat dua kali lebih banyak
dibanding orang yang suka beramal.

5. Bersahabat dengan ibu

Kalau lama tak bertemu Ibu, segeralah menelepon.
Menurut peneliti di Harvard Medical School, orang yang
hubungannya jauh dengan sang ibu, lebih rentan kena
penyakit serius di masa tua seperti penyakit darah
tinggi dan jantung.

6. Bangun rasa percaya diri

Studi di Universitas Toronto menemukan bahwa orang
yang mendapat kepercayaan diri tinggi karena memenangi
Piala Oscar hidup 4 tahun lebih lama dibanding aktor
dan aktris yang tak pernah menang.
Para peneliti
percaya bahwa rasa damai dalam diri dan pencapaian
prestasi melatih tubuh untuk belajar mengatasi stres
dengan baik.

7. Sarapan oat

Oat mengandung fitokimia yang merupakan antioksidan
pelawan penyakit jantung dan kanker. Studi di
Universitas Tufts, AS, menemukan bahwa fitokimia dalam
oat efektif mengurangi jumlah plak dan molekul
berlemak yang melapisi dinding pembuluh arteri.

8. Tak perlu berlebihan minum suplemen alami

Memang sumber suplemen itu alami. Namun, jangan
sekalipun berasumsi bahwa jika satu tablet berkhasiat,
minum lebih dari satu pasti lebih berkhasiat. “Minum
vitamin berlebihan itu bukan tak mungkin menyebabkan
kerugian untuk tubuh Anda,” kata Rod Brennan, Direktur
Sydney’s Nature Care College. Ia merekomendasikan
minum vitamin dan suplemen hanya sesuai dosis yang
dianjurkan.

9. Makan pisang

Makan pisang sehari sekali baik untuk mengatasi
penyakit tekanan darah tinggi. Sebuah studi di AS
menemukan bahwa orang yang kekurangan potasium lebih
berisiko kena hipentensi, faktor pemicu penyakit
jantung dan stroke.
Pisang adalah sumber potasium yang
baik. Sumber potasium lain kentang, labu, dan alpukat.

10. Makan sup miso

Publikasi dari John Hopkins Medicine mengungkapkan
bahwa orang-orang di Pulau Okinawa, Jepang, 75 persen
lebih rendah dibanding orang Amerika Serikat untuk
kena kanker.
Itu karena mereka banyak mengonsumsi
makanan bersumber kedelai, khususnya sup miso. Kedelai
adalah sumber isoflavon, zat yang ampuh mencegah
kanker yang disebabkan oleh berlebihnya hormon
estrogen.

—–FROM MILIST LOCAL STAFF TTI—

ARTICLES 9:00 am
  1. Jangan pernah mengatakan, "Lho, bajunya kan masih banyak!" , terutama dalam konteks pakaian pesta. Ketahuilah, seorang perempuan nggak mungkin mengenakan baju yang sama berulang2 ke pesta2 yang dihadiri oleh satu komunitas tertentu. Misalnya kalau satu baju sudah dipakai ke pernikahan teman kantor, baju itu nggak bisa dipakai ke acara teman kantor lagi.
     
  2. Menyarankan berbelanja barang yang lebih murah bisa berakibat Anda harus menemani ke ITC dan sejenisnya. Ini jauh lebih melelahkan. Jadi pertimbangkan mana yang lebih menguntungkan: mahal & nyaman di mal atau murah & lelah di ITC.
     
  3. There’s no such thing as a pattern dalam mengunjungi toko/counter. Bisa linear, bisa acak sampai2 kalau ditarik garis akan menyerupai benang kusut. Siapkan kompas dan/atau peta gedung bila perlu, agar nggak kesulitan mencari pintu keluar.
     
  4. Selisih harga Rp.2500,- adalah alasan yang sangat valid untuk kembali ke toko pertama. Anda sebagai pengantar, harus siap menjawab di mana lokasi toko pertama tersebut.
     
  5. "Cuma lihat2 saja" seharusnya diartikan sebagai, "Cuma lihat2 saja, lalu dicoba sebentar, kemudian dibayar". Jangan pernah tertipu, apalagi jika Anda berprofesi sebagai penyandang dana.
     
  6. Jangan terkecoh dengan tujuan berbelanja. Niat membeli satu kemeja berarti akan membawa pulang setidaknya satu barang lain. Kemejanya? Bisa jadi beli juga, tapi seringkali nggak.
     
  7. Ingat bahwa sepatu baru memerlukan tas baru yang cocok, dan vice versa. Bahkan style nabrak pun harus dirancang, seberapa nabrak .
     
  8. Pertanyaan "Bagus nggak?" harus dijawab dengan tepat. Di sini diperlukan kemampuan membaca pikiran, karena jawaban "Nggak" ketika sang pembelanja sangat menginginkan barang tersebut, bisa fatal akibatnya. Jangan sekali2 menjawab dengan "Nggak tau", apalagi asal jawab biar cepat pulang.
     
  9. Pertanyaan "Aku pantas nggak pakai ini?" bisa diikuti dengan pertanyaan yang paling sulit dijawab di jagat raya: "Kenapa, aku gemuk ya?". Bersiap2lah dengan jawaban terbaik.
     
  10. Persiapkan stamina sebaik2nya. Pembelanja bisa tidur lelap dalam perjalanan pulang karena kelelahan dan puas (sounds like orgasm, no?), sementara Anda masih harus menyetir mobil menembus kemacetan.
     
    —-FROM MILIST LOCAL STAFF TTI —

.
 
KIDSJanuary 15, 2007 5:04 pm

Nenek Jingga emoticon  adalah tetangga baru yang menempati rumah di depan rumah Asti. Wajahnya sudah sangat keriput, dengan mata yang menyeramkan seperti nenek sihir di film film horor.
            Asti sering bergidik melihatnya. Setiap kali bertemu di depan rumah Asti langsung berlari kencang menghindar.
            “Aku takut Bun!” keluhnya pada Bunda yang menegur sikapnya, “Nenek itu seram  sekali wajahnya..”
            “Bukan seram,Asti..itu karena nenek sudah tua jadi wajahnya berkerut!”kata Bunda.
            Tapi tetap saja Asti takut berdekatan dengan Nenek Jingga. Kadang Nenek Jingga memanggilnya masuk ketika Asti melongok longok dipagar berharap menemukan keanehan dirumah Nenek itu.Ketika Nenek Jingga keluar, Asti lari masuk ke dalam.
            Malamnya ia suka bermimpi Nenek Jingga datang dengan giginya yang runcing dan topi kerucut ala nenek sihir.Asti menjerit terbangun.
            “Kenapa Asti?? Mimpi buruk?” Tanya Ayah yang ikut terkejut.
            “Asti mimpi Nenek Jingga datang Yah…” sungutnya. Bunda dan Ayah tertawa mendengarnya.
            “Ih sudah kelas tiga kok masih penakut. Nenek Jingga kan baik, di sering kirim kue Sus kesukaanmu tuh!”

            Asti bergidik. Di dalam pikirannya sekarang Nenek Jingga sedang membersihkan sapu terbangnya untuk kemudian berkeliling menculik anak anak perempuan seusianya.Hiiiihhh!!

            Pulang sekolah Asti menemukan rumahnya dalam keadaan kosong dan terkunci. Kemana bunda?
            “Cucu,…” sapaan serak itu mengejutkan Asti. Nenek Jingga sudah berdiri di belakangnya, menyeringai dengan mata menyipit.
            “Bundamu tapi titip pesan supaya kamu kerumah Nenek dulu karena Bunda harus ke rumah sakit, Bude mu sakit keras…”Nenek Jingga mengulurkan tangannya mengajak Asti ke rumahnya.
            Duuuh! Bunda kenapa nitipin aku ke Nenek sihir sih!! Gerutunya. Bulu kuduknya berdiri.
            Sementara hari mendung dan sebentar lagi kelihatannya akan turun hujan lebat.
            Asti menurut, mau tidak mau. Ia memberanikan diri mengikuti Nenek Jingga.
            Asti duduk di teras, dan benar saja…hujan mulai turun disertai petir. Asti melongok longokkan kepalanya ke sekitar. Takut menemukan sapu terbang milik Nenek Jingga.
            Plarrr!!! Tiba-tiba suara halilintar terdengar menyambar. Asti menjerit naik ke atas kursi dan berjongkok menekap tubuhnya.
            Nenek Jingga terkekeh melihat kelakuannya. Ia keluar menyuguhkan Kue Sus dan teh hangat.
            “Takut ya…?” katanya masih terkekeh,”Ayo minum teh ini supaya tubuhmu hangat,Cu…dan ini kue sus buatan Nenek, kata Bundamu kamu sangat suka….”
            Asti mendekat perlahan. Perutnya memang sedikit lapar karena belum makan siang.
            “Suara halilintar itu keras sekali…”gumamnya.
            Nenek Jingga terkekeh lagi, kulitnya yang keriput makin terlihat berkerut kerut.
            “Cucu tau apa penyebab Halilintar?”
            Karena sihirmu,…Abrakadabraaaaa!!! Asti masih berkhayal sebelum mengeleng ragu.
            “Halilintar itu adalah percikan listrik.Penyebabnya adalah loncatan listrik yang amat besar dari awan ke awan ,dan juga dari awan ke bumi….”terang Nenek Jingga.
            Asti mendengarkannya seksama.
            “Nanti kalau kamu sudah sekolah menengah kamu akan belajar adanya kutub negatif dan kutub positif. Nah , Halilintar itu terjadi karena perbedaan kutub yang besar antara awan ke awan atau awan ke bumi, karena perbedaan yang terlalu besar itu maka terjadi lah pelepasan listrik dan menimbulkan cahaya raksasa..”
            Asti memandang Nenek Jingga takjub. Ternyata nenek sihir ini sangat pintar. Sedikit demi sedikit Asti berani bertanya pada Nenek Jingga apa yang ingin di ketahuinya.
            “Itu yang dinamakan petir?”
            Nenek mengangguk,”karena petir berbahaya, makan hampir setiap bangunan tinggi punya penangkal petir di atapnya.Bentuknya seperti logam yang di letakkan di atas gedung…”
            Nenek menuangkan teh lagi pada gelas Asti yang tandas.
            Di luar masih terlihat petir menyambar dan hujan yang cukup lebat.
            “Hebat ya yang punya ide membuat penangkal petir itu…” gumam Asti.
            “Iya. Dia adalah seorang ilmuwan bernama Benjamin Franklin….”
            Asti jadi benar benar tertarik dengan cerita Nenek Jingga,”Nenek kok banyak tahu sih….”
            Nenek Jingga terkekeh lagi,” Nenek dulu adalah Guru Sekolah Dasar….dan Nenek senang membaca!”
            Asti tercengang. “Guru?”
            “Iya, tapi Nenek sudah lama pensiun…sekarang Nenek sering mengisi waktu untuk mendongeng dan bercerita tentang Ilmu pengetahuan di sekolah sekolah…” terang Nenek Jingga.
            Perlahan ketakutan Asti berubah menjadi kekaguman.  Di usia Nenek Jingga yang setua ini, beliau masih kuat mengerjakan semua sendiri dan bahkan masih kuat berkeliling sekolah sekolah untuk bercerita.

            Semenjak saat itu Asti jadi sering bertandang ke rumah Nenek Jingga. Ternyata dari Nenek yang dulu ditakutinya ini Asti bisa banyak menimba ilmu.
KIDS 5:02 pm

Hari ini aku kesal pada Rubi. Ia berulangkali marah dan menotok notok kepalaku ke meja. Padahal yang membuatnya marah bukan kesalahanku.
                Rubi kesal karena semenjak setengah jam yang lalu ia hanya bisa mengerjakan dua soal saja dari sepuluh soal Matematika yang diberikan Pak Guru.
                Sementara teman teman yang lain sudah mengerjakan sedikitnya enam soal.
                “Makanya belajar ,Bi!” kataku sebal. Rubi melotot ke arahku dan menggusal gusalkan lagi kepalaku ke meja.
                “Kasar banget sih!” seruku.
                “Rasain!” hardik Rubi.
                “Rubi!!” seru Pak Guru, “Kenapa sejak tadi tidak bisa tenang?”
                Rubi menunduk.
                “Rasain!” balasku. Ribu menyurengkan matanya menatap kepalaku.
                Ia mulai menulis beberapa rumus di kertas dan mencoba memecahkannya. Sayangnya , ia tetap saja tidak bisa.
                “Apa kata mama,Rub…makanya jangan terlalu sering keluar main Bola!” kataku menasehati,”Kamu membiarkanku menunggumu di rumah menemanimu belajar, tapi kamu malahan enak enakan main bola!!”
                “Coba kalau kamu sadar kalau hari ini ujian, kan kemarin seharusnya kamu belajar bersamaku!” keluhku lagi.
                “Padahal semalam aku kan belajar!” jawab Rubi.
                “Iya, kamu belajar Cuma sebentar, karena kecapean bermain Bola!” sergahku.
                “Sekarang giliran kamu nggak bisa mengerjakan soal, kamu marah marah ke semua, termasuk padaku!”
                “Harusnya kamu bisa membagi waktu antara waktu bermain dan belajar..” kataku lagi menasehati Rubi.
                “Aduuh,gawat nih kalau jelek ulangan, Mama Papa pasti marah” keluh Rubi.
                “Udah deh, pasrah aja…memang salah kamu kok!Eeeh jangan coba coba nyontek pada Beni!!” teriakku ketika Rubi mencuri curi lihat pekerjaan Beni.
                Rubi mencibir ketika Beni menutupi kertas ulangannya.
                “Bagus,Ben!” seruku senang.
                “Ini pelajaran buat kamu Bi,…lebih baik kamu banyak banyak bermain denganku. Lebih banyak manfaatnya!” kataku.
                Bel berbunyi. Semua bergegas mengumpulkan kertas ulangan pada Pak guru.
                Rubi meninggalkanku sambil berjalan loyo ke meja Pak guru.
                Beberapa menit kemudian ia kembali ke tempat duduk. Kelihatannya Rubi menyesal tidak belajar dengan benar semalam, padahal soal soal yang diberikan Pak guru semuanya mirip dengan yang di buku. Cuma angkanya saja yang berbeda.
                “Nggak bisa ya tadi,Bi?” Tanya Beni kepadanya.
                Rubi menggeleng.
                “Tenang Bi, kita akan harus banyak belajar bareng..oke?” kataku .

                Rubi menatapku lalu memasukan ku ke dalam kotak pensilnya. Aku berjanji akan setia menemaninya belajar, karena aku adalah pensil kesayangan Rubi.
ARTICLES, About POLIGAMI 5:00 pm

 Faqihuddin Abdul Kodir

UNGKAPAN "poligami itu sunah" sering digunakan sebagai pembenaran poligami. Namun, berlindung pada pernyataan itu, sebenarnya bentuk lain dari pengalihan tanggung jawab atas tuntutan untuk berlaku adil karena pada kenyataannya, sebagaimana ditegaskan Al Quran, berlaku adil sangat sulit dilakukan (An-Nisa: 129).
DALIL "poligami adalah sunah" biasanya diajukan karena sandaran kepada teks ayat Al Quran (QS An-Nisa, 4: 2-3) lebih mudah dipatahkan. Satu-satunya ayat yang berbicara tentang poligami sebenarnya tidak mengungkapkan hal itu pada konteks memotivasi, apalagi mengapresiasi poligami. Ayat ini meletakkan poligami pada konteks perlindungan terhadap yatim piatu dan janda korban perang.
Dari kedua ayat itu, beberapa ulama kontemporer, seperti Syekh Muhammad Abduh, Syekh Rashid Ridha, dan Syekh Muhammad al-Madan-ketiganya ulama terkemuka Azhar Mesir-lebih memilih memperketat.

Lebih jauh Abduh menyatakan, poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman (Tafsir al-Manar, 4/287).
Anehnya, ayat tersebut bagi kalangan yang propoligami dipelintir menjadi "hak penuh" laki-laki untuk berpoligami. Dalih mereka, perbuatan itu untuk mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW. Menjadi menggelikan ketika praktik poligami bahkan dipakai sebagai tolok ukur keislaman seseorang: semakin aktif berpoligami dianggap semakin baik poisisi keagamaannya. Atau, semakin bersabar seorang istri menerima permaduan, semakin baik kualitas imannya. Slogan-slogan yang sering dimunculkan misalnya, "poligami membawa berkah", atau "poligami itu indah", dan yang lebih populer adalah "poligami itu sunah".

Dalam definisi fikih, sunah berarti tindakan yang baik untuk dilakukan. Umumnya mengacu kepada perilaku Nabi. Namun, amalan poligami, yang dinisbatkan kepada Nabi, ini jelas sangat distorsif. Alasannya, jika memang dianggap sunah, mengapa Nabi tidak melakukannya sejak pertama kali berumah tangga?
Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan "poligami itu sunah".
Sunah, seperti yang didefinisikan Imam Syafi’i (w. 204 H), adalah penerapan Nabi SAW terhadap wahyu yang diturunkan. Pada kasus poligami Nabi sedang mengejawantahkan Ayat An-Nisa 2-3 mengenai perlindungan terhadap janda mati dan anak-anak yatim. Dengan menelusuri kitab Jami’ al-Ushul (kompilasi dari enam kitab hadis ternama) karya Imam Ibn al-Atsir (544-606H), kita dapat menemukan bukti bahwa poligami Nabi adalah media untuk menyelesaikan persoalan sosial saat itu, ketika lembaga sosial yang ada belum cukup kukuh untuk solusi.

Bukti bahwa perkawinan Nabi untuk penyelesaian problem sosial bisa dilihat pada teks-teks hadis yang membicarakan perkawinan-perkawinan Nabi. Kebanyakan dari mereka adalah janda mati, kecuali Aisyah binti Abu Bakr RA.
Selain itu, sebagai rekaman sejarah jurisprudensi Islam, ungkapan "poligami itu sunah" juga merupakan reduksi yang sangat besar. Nikah saja, menurut fikih, memiliki berbagai predikat hukum, tergantung kondisi calon suami, calon istri, atau kondisi masyarakatnya. Nikah bisa wajib, sunah, mubah (boleh), atau sekadar diizinkan. Bahkan, Imam al-Alusi dalam tafsirnya, Rûh al-Ma’âni, menyatakan, nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya. Demikian halnya dengan poligami. Karena itu, Muhammad Abduh dengan melihat kondisi Mesir saat itu, lebih memilih mengharamkan poligami.

Nabi dan larangan poligami
Dalam kitab Ibn al-Atsir, poligami yang dilakukan Nabi adalah upaya transformasi sosial (lihat pada Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 108-179). Mekanisme poligami yang diterapkan Nabi merupakan strategi untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ke-7 Masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka.
Sebaliknya, yang dilakukan Nabi adalah membatasi praktik poligami, mengkritik perilaku sewenang-wenang, dan menegaskan keharusan berlaku adil dalam berpoligami.
Ketika Nabi melihat sebagian sahabat telah mengawini delapan sampai sepuluh perempuan, mereka diminta menceraikan dan menyisakan hanya empat. Itulah yang dilakukan Nabi kepada Ghilan bin Salamah ats-Tsaqafi RA, Wahb al-Asadi, dan Qais bin al-Harits. Dan, inilah pernyataan eksplisit dalam pembatasan terhadap kebiasan poligami yang awalnya tanpa batas sama sekali.
Pada banyak kesempatan, Nabi justru lebih banyak menekankan prinsip keadilan berpoligami. Dalam sebuah ungkapan dinyatakan: "Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus" (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 168, nomor hadis: 9049). Bahkan, dalam berbagai kesempatan, Nabi SAW menekankan pentingnya bersikap sabar dan menjaga perasaan istri.
Teks-teks hadis poligami sebenarnya mengarah kepada kritik, pelurusan, dan pengembalian pada prinsip keadilan. Dari sudut ini, pernyataan "poligami itu sunah" sangat bertentangan dengan apa yang disampaikan Nabi. Apalagi dengan melihat pernyataan dan sikap Nabi yang sangat tegas menolak poligami Ali bin Abi Thalib RA. Anehnya, teks hadis ini jarang dimunculkan kalangan propoligami. Padahal, teks ini diriwayatkan para ulama hadis terkemuka: Bukhari, Muslim, Turmudzi, dan Ibn Majah.
Nabi SAW marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: "Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga." (Jâmi’ al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).
Sama dengan Nabi yang berbicara tentang Fathimah, hampir setiap orangtua tidak akan rela jika putrinya dimadu. Seperti dikatakan Nabi, poligami akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.
Jika pernyataan Nabi ini dijadikan dasar, maka bisa dipastikan yang sunah justru adalah tidak mempraktikkan poligami karena itu yang tidak dikehendaki Nabi. Dan, Ali bin Abi Thalib RA sendiri tetap bermonogami sampai Fathimah RA wafat.

Poligami tak butuh dukungan teks
Sebenarnya, praktik poligami bukanlah persoalan teks, berkah, apalagi sunah, melainkan persoalan budaya. Dalam pemahaman budaya, praktik poligami dapat dilihat dari tingkatan sosial yang berbeda.
Bagi kalangan miskin atau petani dalam tradisi agraris, poligami dianggap sebagai strategi pertahanan hidup untuk penghematan pengelolaan sumber daya. Tanpa susah payah, lewat poligami akan diperoleh tenaga kerja ganda tanpa upah. Kultur ini dibawa migrasi ke kota meskipun stuktur masyarakat telah berubah. Sementara untuk kalangan priayi, poligami tak lain dari bentuk pembendamatian perempuan. Ia disepadankan dengan harta dan takhta yang berguna untuk mendukung penyempurnaan derajat sosial lelaki.
Dari cara pandang budaya memang menjadi jelas bahwa poligami merupakan proses dehumanisasi perempuan. Mengambil pandangan ahli pendidikan Freire, dehumanisasi dalam konteks poligami terlihat mana kala perempuan yang dipoligami mengalami self-depreciation. Mereka membenarkan, bahkan bersetuju dengan tindakan poligami meskipun mengalami penderitaan lahir batin luar biasa. Tak sedikit di antara mereka yang menganggap penderitaan itu adalah pengorbanan yang sudah sepatutnya dijalani, atau poligami itu terjadi karena kesalahannya sendiri.
Dalam kerangka demografi, para pelaku poligami kerap mengemukakan argumen statistik. Bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah kerja bakti untuk menutupi kesenjangan jumlah penduduk yang tidak seimbang antara lelaki dan perempuan. Tentu saja argumen ini malah menjadi bahan tertawaan. Sebab, secara statistik, meskipun jumlah perempuan sedikit lebih tinggi, namun itu hanya terjadi pada usia di atas 65 tahun atau di bawah 20 tahun. Bahkan, di dalam kelompok umur 25-29 tahun, 30-34 tahun, dan 45-49 tahun jumlah lelaki lebih tinggi. (Sensus DKI dan Nasional tahun 2000; terima kasih kepada lembaga penelitian IHS yang telah memasok data ini).
Namun, jika argumen agama akan digunakan, maka sebagaimana prinsip yang dikandung dari teks-teks keagamaan itu, dasar poligami seharusnya dilihat sebagai jalan darurat. Dalam kaidah fikih, kedaruratan memang diperkenankan. Ini sama halnya dengan memakan bangkai; suatu tindakan yang dibenarkan manakala tidak ada yang lain yang bisa dimakan kecuali bangkai.
Dalam karakter fikih Islam, sebenarnya pilihan monogami atau poligami dianggap persoalan parsial. Predikat hukumnya akan mengikuti kondisi ruang dan waktu. Perilaku Nabi sendiri menunjukkan betapa persoalan ini bisa berbeda dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Karena itu, pilihan monogami-poligami bukanlah sesuatu yang prinsip. Yang prinsip adalah keharusan untuk selalu merujuk pada prinsip-prinsip dasar syariah, yaitu keadilan, membawa kemaslahatan dan tidak mendatangkan mudarat atau kerusakan (mafsadah).

Dan, manakala diterapkan, maka untuk mengidentifikasi nilai-nilai prinsipal dalam kaitannya dengan praktik poligami ini, semestinya perempuan diletakkan sebagai subyek penentu keadilan. Ini prinsip karena merekalah yang secara langsung menerima akibat poligami. Dan, untuk pengujian nilai-nilai ini haruslah dilakukan secara empiris, interdisipliner, dan obyektif dengan melihat efek poligami dalam realitas sosial masyarakat.Dan, ketika ukuran itu diterapkan, sebagaimaan disaksikan Muhammad Abduh, ternyata yang terjadi lebih banyak menghasilkan keburukan daripada kebaikan. Karena itulah Abduh kemudian meminta pelarangan poligami.Dalam konteks ini, Abduh menyitir teks hadis Nabi SAW: "Tidak dibenarkan segala bentuk kerusakan (dharar) terhadap diri atau orang lain." (Jâmi’a al-Ushûl, VII, 412, nomor hadis: 4926). Ungkapan ini tentu lebih prinsip dari pernyataan "poligami itu sunah".

Faqihuddin Abdul Kodir Dosen STAIN Cirebon dan peneliti Fahmina Institute Cirebon, Alumnus Fakultas Syariah Universitas Damaskus, Suriah

eXTReMe Tracker