Suara Pensil Marina

MY FLASH FICTIONJanuary 12, 2007 8:28 am

“Laki Laki itu memang biadab!” mata Laela menyalang, “Masa istri sedang hamil tiga bulan dia selingkuh!”

            Titin yang sejak tadi mendengarkan ikut menahan emosi, “Memangnya istrinya memergokinya selingkuh?”

            Laela mengetuk meja agak keras, “itu dia Tin! Si Rahman sendiri yang mengaku ke istrinya kalau dia punya pacar di luar dan berniat menikahi perempuan itu! Katanya hubungannya dengan perempuan bernama Iyem itu sudah berjalan enam bulan, semenjak Rahman sering datang ke warung nasi emaknya si Iyem untuk menyetok kerupuk!”

            “Titin menggeleng gelengkan kepalanya . Tidak habis pikir . Apakah memang ada laki laki sekejam Rahman?

            “Padahal istrinya Si Rahman itu baiknya bukan main…sholehah, pintar masak. Tapi memang ia nggak kenes seperti si Iyem!”

            “Lalu istrinya bagaimana waktu tau suaminya selingkuh?”

            “Yaa, istrinya nggak setuju lah. Mana ada sih perempuan yang mau di madu! Cuma perempuan munafik aja yang bisa bilang rela di madu. Iya kan,Tin?”

            Titin mengangguk setuju.

            “Rahman memaki maki istrinya waktu istrinya itu bilang ia keberatan suaminya menikah lagi. Lagipula hidup mereka susah. Anak sudah tiga, sedangkan penghasilan Rahman Cuma dari berdagang kerupuk putih!”

            “Lalu?”

            “Sepertinya si istri ini berniat menemui Iyem, untuk memberitahu Iyem bahwa Rahman itu lelaki beranak tiga dan berisitri yang sedang mengandung! Soalnya Si Rahman itu ngaku ke Iyem perjaka!”

            “Seru juga ya, La…Ngomong ngomong yang berperan sebagai Rahman siapa?”

            “Tora Sudiro…”  (216 word)

MY FLASH FICTION 8:27 am

 

Sudah kukatakan ,Ayah, tolong jangan ganggu aku saat ini. Aku sedang berkonsentrasi pada pekerjaan. Banyak di kepalaku yang belum kutuangkan . Aku perlu banyak berfikir  agar ceritaku menjadi seirama dan masuk akal dengan kalimat kalimat yang teratur dan menyentuh.
            Setiap kali aku bekerja, aku menunggu anak anakku terlelap agar konsentrasiku tidak buyar oleh celoteh dan rengekan mereka. Ayah lihat kan? Aku  butuh ketenangan.
            Tapi Ayah selalu saja menggangguku. Aku tidak bisa bekerja penuh kalau Ayah menungguiku seperti ini. Baiklah, aku tahu Ayah sayang padaku. Makanya kau ingin menemaniku bekerja dan duduk di ruang kerjaku.
            Dan, meskipun Ayah tidak bicara dan hanya duduk tenang melihatku, tetapi sebagai seorang penulis seperti aku, aku tidak bisa bekerja dalam pengawasan seperti itu.
            Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus ditemani saat belajar. Aku sudah punya dua putra lho,Yah!
            Aku akan membiarkanmu membaca surat ini, sebab walaupun berkali kali kukatakan secara lisan bahwa aku tidak ingin ditunggui tetapi Ayah tetap tidak mau mengerti.
            Anakmu bekerja untuk menghasilkan cerita cerita yang dapat dinikmati semua orang. Ayah kan tau itu.
            Terus terang aku agak kecewa pada sikap Ayah ini. Semoga Ayah dapat mengerti maksudku.

 

            Liana menekan tombol shutdown pada komputernya. Meninggalkan surat itu di meja sambil melirik pada Almarhum Ayahnya yang selalu datang dan duduk di kursi sudut ruang kerjanya setiap malam. (216 words)

POEMS 8:19 am


by Audrey Hepburn

 

 

For attractive lips,
Speak words of kindness.

 

For lovely eyes,
Seek out the good in people.

 

For a slim figure,
Share your food with the hungry.

 

For beautiful hair,
Let a child run his fingers through it once a day.

 

For poise,
Walk with the knowledge you’ll never walk alone.

 

People, even more than things, have to be restored, renewed, revived, reclaimed and redeemed.

 

Never throw out anybody.

 

Remember: if you ever need a helping hand, you’ll find One at the end of your arm.

 

As you grow older you will discover that you have two hands.

 

One for helping yourself, the other for helping others.

CERPEN 5:45 am

By: MARINA
(ditulis untuk HUT ke 3 milist Star Asia,2006 )
          Sore sedang bersahabat. Tidak mendung, tidak juga panas. Sangat di syukuri oleh pasutri  Kimmy dan Kim yang sedang duduk di bale2 di halaman rumah. Di bawah bale bale terhampar kolam ikan yang cantik.Kim terangguk angguk keenakan dikerok Kimmy. Biasa, umur sudah mulai sore, sesore saat itu. Jadi gampang masuk angin.
            “UUUEEEGGGHHHHHH..!!” emoticon  suara itu mengagetkan sekali. Kimmy, sang istri celingak celinguk kanan kiri dan ke arah kolam. Berharap melihat Kodok besar yang mengeluarkan suara seperti itu.
            “Itu suara ku sayang, kerokanmu ueaannaakkk…” emoticon  tegur Kim sambil menepuk pundak istrinya yang sibuk menunggu siapa tau sang kodok bertahak lagi.
            “Aduh sayang,kamu tho!! Kasihan tuh kodok, udah mau tak lempar bakiak karena ku kira dia yg bersuara…”tukas Kimmy, “Mangaap ya Dok…nggak lagi lagi dech…”emoticon
            “Laki luh yang betahak, gue yg dipelototin….emoticon   gue sendiri aja kaget” gerutu sang Kodok sambil bersungut dan loncat loncat di pinggir kolam.
            “Makanya Kang Kim,…udah deeh kaga usyah manggung lagi ato suting…..dah tuak nih…masuk angin melulu. Coba..sekali manggung aja mangapnya dah berapa lama, anginnya berapa banyak yang masuk….begini nih jadinya…”Kimmy menggerutuk sambil melukis garis2 merah di punggung Kim.
            “Darling,   emoticon Nyanyi dan main sinetron kan sekarang Cuma hobi. Bosen juga setiap hari ngurusin bisnis , sawah dan ternak….”
            “Dah baek nih punya bini yang rupawan dan pengertian. Dah ngasih banyak anak yang keren keren gitu,…aku kan nggak maksain Akang kerja. Semua sudah kita punya….Rumah bagus, sawah luas, ternak banyak, bisnis lancar, mobil dah bisa bikin showroom, spa punya, apa lagi….Money is no problem …” kata Kimmy serius. Deuh baik banget nih bini.emoticon
            “Iyaa…Money is no problem….the problem is no money…”sambung Kim.
            Telepon genggam Kim berbunyi, suara Ahn Jae Wook nyanyi jadi ringtone.
            “Yak, Hallow….”Kim kasih kode Kimmy untuk berhenti sebentar,”Ah  Hai! Ryu Shi Won, Apa kabar?!! Ha?…Masih jomblow….aduuh bagaimana yah…gue lagi ga ada stock….kebetulan di kompleks ini sudah bersuami semua….iya…ho oh…lalu? Ooh….iya iya..bahkan ada yang suaminya dua dan bahkan tiga….iya..betul….Ho oh….yayaya…mengerti…siapa? Syanti?? Ooh…dia juga sudah janji sehidup semati sama Lee Dong Wook, temen kita juga…iya…iyaa itu figuran gue waktu SECRET dulu…inget? Hehe iya dia itu…iya…gue ngerti keadaan elo….umur dah cukup, hasrat tak tersalurkan hehe..bukan begituh?….Ooh Lila? Hehe nggak jelas…dulu seinget saya suaminya Jerry, berhubung Jerry ketahuan mabok didepak dari sini, trus ganti sama Abojinya siapa gituh…iya iya…jadi semua sudah nggak single…..yayaya….betuul…mengerti….nanti deh kalau ada gw telpon….Yang setia setiap saat binik gue doank hehe….abis katanya gue tua tua juga legitt…HAHAHAHAHHAH…ya kan mam?…hehe iya dia lagi di sini…lagi ngerokin…biasaaa deh masuk angin…iyayayaya..iya..oke…iya..okee…siip…siip…jangan putus asa ya…pantang menyerah donk…oke? Sip…sampai nanti ya!!”
            “Siapa sih Kang….” emoticon  Kimmy merajuk karena kelamaan dicuekin.Gatell…
            “RSW…biasaa nanya nanya, sedang cari istri..kasihan tuh….dia ngebet sama syanti tuh…coba kamu tanya barangkali syanti mau…bilang RSW ini kaya raya lho….meskipun muka ngepas…”
            Sebuah Alphard metalik berhenti di depan pagar. Dari pintu depan dan belakang keluar satu satu mahkluk2  mungil ber tas ransel. Anak anak sudah datang!emoticonemoticonemoticonemoticon
            “Assalamualaikum!!!” teriak Marcell,Kevin,Luna,Keisya,Meisya,Dennis dan si bungsu Rachel.
            Satu satu mereka mencium tangan Kim dan Kimmy sambil berceloteh tentang pelajaran mengaji yang mereka terima barusan dari Ustad Ahn Jae Wook Al Buchary.
            Kim dan Kimmy terlihat sibuk meladeni celoteh mereka.
            “UeeGGHHHHHHH!” suara itu lagi. Kali ini lebih dahsyat. Kimmy melotot ke arah suaminya….emoticon
            “Kali ini bukan saya, sayang….itu bener bener suara kodok…..” ujar Kimmy.
            Sang kodok di pinggir kolam beringsut mundur ketakutan. “Waduh emoticon  padahal udah gue tahan tahan tuh kentut keluar juga..mati deh gue kena bakiak ..…”sesalnya.                                           THE END

KIDS 5:35 am

Ada anak baru di kelas Rafi. Namanya Dadang.Perawakannya kecil kurus. Rafi dan teman temannya tidak begitu menyukai Dadang. Mereka menganggap Dadang itu aneh, terlalu pendiam dan sok kalem.

 Ia tidak mau diajak bermain atau berolahraga bersama, bercanda atau melakukan kegiatan apa saja di luar jam sekolah. Pada jam istirahat, Dadang selalu duduk menekuri buku buku di perpustakaan sekolah.

“Sok alim banget ya,Ko?” bisik Rafi pada Koko ketika mereka melewati perpustakaan dan menemukan Dadang sedang membaca buku .

“Sok alim atau sok pinter?’ timpal Koko. Mereka tertawa jahil. Ketika melewati pintu masuk perpustakaan, Koko tiba tiba meledek Dadang yang kebetulan duduk di dekat pintu.

“Sst…Dang…..nggak makan? Jam istirahat nih…heheh….memangnya kenyang ya dengan baca buku..?”

Dadang mengankat wajahnya, ia hanya tersenyum sedikit pada teman temannya lalu kembali pada buku yang tengah di bacanya.

Rafi dan Koko tertawa tawa lagi.

 

“Bukan salah kita sih kalau kita tidak mau main sama dadang!” cetus Rafi ketika Nana teman sekelasnya menegur Rafi dan kelompoknya yang  suka mengolok olok Dadang.

“Dia yang nggak mau main sama kita” Koko menimpali. Rafi, Habil dan Dino mengangguk setuju.

“Tapi kan kasihan Dadang anak baru, harusnya kita  yang ajak dia untuk bergabung dengan kita. Mungkin saja dia pemalu..” kata Nana lagi.

“Pemalu atau malu maluin? Hehehhehe…”Rafi terkekeh.

Tiba-tiba Dadang masuk kelas, melewati mereka. Rafi dan teman-temannya terdiam tiba tiba.

“Maaf ya Raf, permisi…”sapa Dadang pada Rafi yang duduk di ujung meja Dadang. Rafi bergeser.

Nana dan Ika mencoba mencairka suasana, “dang sepulang sekolah kita ada latihan basket lho, mau ikut nggak? Sama anak anak kelas 4 juga…”

“Basket?!!” raut wajah Dadang terlihat sangat antusias. Tapi tiba tiba seperti teringat sesuatu wajahnya berubah lagi,”Ngg…maaf aku nggak bias ikut Na…”

“Lho kenapa Dang?” Ika terus mencoba membujuk Dadang. Dadang hanya menggeleng dengan senyum.

Rafi dan  kelompoknya saling berpandangan dengan sinis.

“Dadang kan sibuk Naaaa….” Sindir Rafi sambil melengos pergi melewati tempat duduk Dadang. Dadang Cuma memandang mereka sekilas lalu raut wajahnya kembali tidak perduli.

Rafi duduk di warung Mak Baedah yang berjualan makanan kecil dan kue kue di kantin belakang sekolah.

Jam pelajaran sekolah baru usai, ia sedang menunggu jam latihan basket.

“Mak, bakwannya enak juga ya…” ujar Rafi.

“Iya memang betul Raf, Emak juga senang jualannya laku banget. Pisang gorengnya juga enak kok!” kata Mak Baedah berpromosi.

Di kejauhan Rafi melihat Dadang berjalan kea rah kantin.

Hmm tumben Dadang ke kantin…,piker Rafi.

“Dang!”Mak Baedah melambaikan tangan. Dadang mempecepat langkahnya menghampiri warung Mak Baedah.

Rafi bergeser duduk agak sembunyi di pojok. Dadang tidak melihatnya.

“Nih Dang, sisa dua tuh bakwannya. Kalau pisangnya sih habis.” Mak Baedah memberikan sejumlah uang pada Dadang. Dadang tersenyum sambil menghitung uangnya.

“Bilang emakmu ya Dang, kalau hari Jumat itu buatnya agak banyak, sebab ada anak kelas 4 dan 5 latihan Basket dan Badminton”

“Iya Mak, nanti Dadang bilang ke emak. Tapi dengan ini laku semua saja sudah Alhamdulilah,Mak…Terimakasih ya Mak!” kata Dadang.

Rafi termenung sesaat.

“Raf, itu titipan Dadang, dia kan kelas 5 juga sekelsa sama kamu kan? Dia setiap pagi titip jualan kue buatan ibunya di sini”

Mak Baedah menjelaskan tanpa diminta ,sambil menata permen permen ke dalam toples.

Rafi mulai agak mengurangi keinginan untuk mengganggu Dadang. Cuma sesekali ikut tertawa kalau Koko meledek anak itu.

Terkadang ia memperhatikan Dadang dari jauh. Nak itu sangat tekun dalam pelajaran. Meskipun tidak mendapat rangking, tetapi angkanya tidak jelek.

Rafi sendiri tidak masuk sepuluh besar di kelas. Ia lebih banyak main main daripad amenggunakan waktunya untuk belajar. Sesekali mama menegurnya, meskipun tidak mekasakan Rafi. Mama Papa harus puas dengan tidak ada angka merah menghias rapornya.

 

Hari ini Mama tidak sempat memasak. Papa mengajak mereka untuk makan malam di rumah makan Soto Kudus langganan Papa.

Rafi dan Lili adiknya cukup senang meskipun bukan di restaurant  mahal seperti cerita teman temannya dengan orang tua mereka.

“Kalau makan itu yang bersih Raf, jangan bertebaran seperti itu…” tegur Mama melihat piring Rafi berantakan.

“Iya nih piring Kakak jadi mirip piringnya  si Manis. Rafi melotot marah.

“Enak aja nyamain piringku sama piring kucing piaraan kamu!”

Papa tertawa geli sambil sesekali matanya seperti mencari cari sesuatu di luar sana.

“Eh,Papa punya langganan tukang semir sepatu lho!” kata Papa ketika Rafi bertanya kenapa ayahnya  sering melongok ke luar.

“Semir,Oom!!” Seorang anak laki laki bertopi lusuh menghampiri Papa sambil berjongkok di kaki Papa.

“Aaah! Ya ya…Oom memang menunggu kamu sejak tadi” sahut Papa gembira sambil melepaskan sandal kulitnya.

“Rafi?”

Rafi hamper tersedak ketika penyemir sepatu itu memanggil namanya. Dadang tersenyum di balik topi lusuhnya.

“Kamu…?” Rafi melongo.

Dadang mengangguk.

“Kalian kenal ya?” kata Mama heran.

“Teman sekelas Rafi,Ma..” jawab Rafi tersendat.

“Oya..? Wah kok kebetulan sekali ya?” kata Papa, “Kalau begitu ayo Dang ikut makan dengan kami. Kamu belum makan malam kan?”

Dadang menggeleng menolak dengan sopan, “Terima kasih Oom, tapi di luar masih ada dua pasang sepatu yang harus saya semir…” ujarnya sambil beringsut berdiri,”Yuk Raf, aku keluar ya!”

Rafi masih melongi.

“Hebat ya Ma….temennya Kakak rajin banget…” celetuk Lili polos.

 

Selesai makan, Rafi menghampiri Dadang yang sedang menyemir sepatu Papa di lantai teras rumah makan. Sesekali ia berlari ke tempat parker untuk membantu menjadi tukang parker dan kemudian mendapat upah beberapa ratus rupiah.

“Dang,…mmmm….kamu setiap hari ke sini?” Rafi ikut berjongkok di dekat Dadang.

“Iya Raf, pulang sekolah aku ke sini, kerja apa saja deh. Menyemir sepatu, Bantu Bantu parkir, kadang kadang disuruh sama yang punya rumah makan ini mengantar Soto ke gedung perkantoran di seberang itu pada jam makan siang…”

“Oo…sampai malam?”

Dadang mengangguk bersemangat, “Iya! Lumayan Raf buat Bantu Bantu Emak Raf. Emak kasihan sih, sekarang lumpuh karena sakit, meskipun begitu ia tetap memakasakan diri membuat kue kue untuk ku jual di sekolah, di warung Mak Baedah”

“Hmm…” Rafi terdiam sambil terus memperhatikan gesitnya Dadang menyemir sepatu.

“Itu makanya Raf, waktuku belajar Cuma di sekolah saja. Aku bias masuk SD kita juga karena Mak Baedah kenal baik sama Pak Kepsek. Mak Baedah itu tetanggaku”

Dadang tersenyum melihat Rafi masih terdiam”Kenapa Raf..Kaget ya?Hm..Ya karena ini juga aku tidak sempat ikut latihan Basekt atau Badminton, padahal aku suka sekali kedua olahraga itu. Tapi kalau sehari tidak bekerja artinya jatah makan adik adikku berkurang…kasihan ah..”

Rafi tersadar bahwa semenjak tadi ia Cuma mengiyakan dan mengangguk. Baginya ini seperti tamparan cukup keras.

Dadang yang selama ini dianggap  remeh olehnya ternyata melalui hidupnya dengan penuh perjuangan tetapi tetap bersemangat. Sementara ia sendiri?

“Dang, maaf ya kalau aku suka jahil sama kamu, serta bersikap tidak baik padamu…Hmmm…aku tadinyaberprasangka jelek bahwa kamu itu anak yang sombong…”

Dadang terkekeh .Ia meniup ujung sepatu Papa seperti ingin meniupkan debu yang menempel. Diberikannya sepatu yang sudah mengkilap itu pada Rafi.

“Ayahmu baikk sekali….” Ujarnya.,”Eh Raf, aku nggak marah kok. Pesan Emak padaku, agar  aku tidak mengganggu dan menyakiri orang lain. Sebab aku tidak bias seperti teman teman yang lain di sekolah kita yang punyabanyak waktu untuk bermain….Aku sudah tidak punya Bapak, sekarang Emak jug asakit. Karena itu akulah yang harus bekerja supaya adik adikku bias tetap makan dengan teratur…”

Kelihatan sekali tidak ada kesedihan atau kemurungan di mata Dadang. Jelihatany sekali ia begitu lapang hati.

Rafi menjadi sangat malu. Ia jauh lebih beruntung, sementara orang lain di luar sana harus bersusah payah membanting tulang untuk dapat bersekolah dan makan.

“Ayo Raf!”Panggil Papa. Papa segera memberi uang upah semir pada Dadang yang diterima Daang dengan senang hati.

Dadang membantu menjadi tukang parkir ketika mobil Papa hendak keluar dari Halaman parkir.

Sementara Rafi masih termangu di dalam mobil.

Allah menitipkan sebuah pelajaran buatnya, lewat  Dadang. Bahwa hidup tidak selalu dapat dilalui dengan mudah. Karena itu kita harus pandai bersyukur  pada Allah dengan apa yang telah kita dapat.

KIDS 5:33 am

Maya berjongkok di sisi mama yang menangis tersedu-sedu. Ia sendiri baru terjaga dari tidur. Kepalanya masih sedikit pening.

            Rumah beratap dan berdinding putih ini sungguh asing baginya. Entah rumah siapa ini dan mengapa mama papanya ada disini.

            Ada kakeknya yang tadi membangunkannya dari tidur.

            “Masih pening, Maya?” Kakek Ahmad bertanya.

            Maya mengernyitkan kening menahan sakit Fuih!! Pasti tadi ada sesuatu benda yang menimpa kepalanya. Membuatnya sekarang pening.

            “Kakek, rapih amat sih…” kata Maya, “Mau kondangan ya Kek?”

            Kakek Ahmad tesenyum. Raut wajahnya yang teduh dan bercahaya membuat Maya merasa tentram memandangnya.

            “Kakek mau menemani mamamu….Kasihan dia sedih sekali… “ ujar Kakek dengan mata sendu.

            Maya mengangguk. Iya betul. Mama papa kelihatan sedih dan letih. Mama tak hentinya menangis meraung.

            Maya baru memperhatikan kalau mamanya menelungkup di atas seseorang yang sedang berbaring di tutupi kain panjang.

            :”Ssst..Kek!! Itu siapa yang tidur??” bisiknya pada Kakek tapi kakek Ahmad sudah menjauh berdiri lebih dekat dengan mama. Wajahnya penuh duka.

            “Sayang, Naak….Kenapa meninggalkan mama secepat ini..? “ gerung mama sambil menmgangkat wajah dan tubuhnya. Papa memapahnya .

            Meninggal..?!? Siapa yang meninggal?!

            “Ma, siapa yang meninggal??” Maya bertanya pada mama, tetapi mama terus saja menangis.

            Maya menggamit lengan papa yang juga bersimbah air mata. Papa kembali memeluk mama.

            Tak lama kemudian Oma Rani datang dan menghambur ke pembaringan itu.

            “Cucu Omaaaa…” jeritnya histeris.

 

            Maya sebal bukan main. Apakah karena ia masih kecil sehingga orang orang dewasa tidak perduli padanya?

            Siapa sih memangnya yang meninggal..? Maya berpikir keras.

            Gadis kecil itu menepi ke pojok ruangan.

            Hmm…tapi kok Oma berteriak Cucuku, lalu mama meraung Anakku…?
            Cucu Oma dan Anak mama kan Cuma aku dan…..MAS BIMO! Mas Bimo?? Apa, Mas Bimo Meninggal..????!!!!!

            Maya berpaling memandang mama, papa, Oma Kakek dan beberapa saudara yang mulai berdatangan.

            Kakek Ahmad juga terlihat diam saja di sisi jenazah.

            Maya merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekelebat kesedihan datang menghampiri.. Mas Bimo,…abangnya tersayang,sekarang tebujur kakku…Meninggal?…Kenapa…?
            Ya Allah,…kenapa tega merebut abangku? Dia kan baik banget!! Sholatnya rajin, ngajinya juga, alim dan dia yang paliiing sering mengajariku pelajaran sekolah.
            Ya Allah, lihatlah…Kasihan Mama Papaku dan kasihan juga dong aku, nggak punya abang lagi….

            Maya merasakan pipinya basah. Anak sungai di matanya mengalirkan airmata yang merembes kemana mana. Dada nya sesak oleh rasa sedih yang mendalam.

            Mas Bimo,…Banguun….Besok kan Maya ulangan matematika! Maya masih belum lancar niiih pelajaran pembagian. Mas Bimo kan janji mau mengajarkan?!…

            Gadis kecil itu merasa kakinya lemas. Ia kembali berjongkok di di sisi pembaringan Mas bimonya.

            Jadi benar Ya Allah,…orang baik itu selalu Kau panggil lebih dulu…

            Maya menangis tersedu sedu. Orang orang dewasa itu sibuk menghibur mama dan papa. Tak satupun menghiraukannya. Semua orang kehilangan Mas Bimo, abangnya tersayang. Abang satu satunya.

            “Kamu sudah berdoa,sayang…” Kakek Ahmad sudah berada lagi di sisinya. Sibuk membelai rambut Maya yang kuyup. Cuma kakek yangmasih memperhatikannya.

            “Berdoalah, semoga keluarga kita tabah menghadapinya…”

            “Iya Kek…” Maya mengangguk,”Nggak sangka secepat ini…Mas Bimo…”

            “Kecelakaan….” Bisik Tante Septi pada Oom Herman, tetangga sebelah rumah yang baru datang,”Bimo dan Maya ditabrak metromini ketika menyebrang jalan di depan sekolah…”

            Kecelakaan…?!!
            Ah, Ya Allah! Maya  baru ingat!

            Tadi, Mas Bimo seperti biasa  pulang sekolah bersamanya. Karena mereka satu sekolah. Maya kelas 2, Mas Bimo kelas 6 SD.

            Mas bimo seperti biasa menggandengnya menyebrangi jalan raya di depan sekolah. Sepanjang jalan, Maya ingat ia bercerita tentang kenakalan Bari teman sekelasnya dan membuat Mas Bimo terkikik  geli.

            Mereka sedang menyebrangi zebra cross bergandengan ketika sebuah Metromini melaju kencang ke arah mereka. Maya menjerit kecang. Ia masih sempat menyaksikan MAs Bimo tersungkur sebelum ia sendiri tak sadarkan diri.

            Jadi ,…Mas Bimo tidak bisa diselamatkan….?

            Maya makin lemas, serasa ada yang hilang. Rasa kehilangan yang amat dalam…

            Gadis itu meringkuk di ujung pembaringan.

            Ada papan putih di ujung kaki Mas bimo. Sebagian terhalang oleh tubuh Oma Rani yang masih histeris.

            Nama : M…

            Maya memalingkan wajah dari papan tersebut. Ia tidak tega untuk melihat nama M. Bimo Fikri tertulis di situ. Tidak!!

            Pintu ruangan terbuka lagi. Pemandangan yang terlihat membuat biji mata Maya serasa mau melompat keluar.

            Mas bimo dengan perban di kepala dan tangannya masuk di papah suster.

            Eee???Mas bimo..?? Maya mengerjapkan matanya, perlahan mendekati abangnya yang berusaha bergerak cepat ke arah pembaringan dengan mata berkaca kaca.

            “Mayaa….Maya…maafin aku  !!!” Mas bimo menggerung gerung.

            Maya menggosok gosok telinganya. Nggak salah denger nih? Dipertajamnya lagi pendengarannya.

            “Mama….Maya ma….Bimo nyesel ga bisa jagain Maya…Bangun ,Dik..Banguuun…” erang Bimo tak henti.

            Maya terhuyung. Kembali di lihatnya papan putih di ujung pembaringan. Tak sengaja Oma Rani bergeser menghampiri Mas Bimo yang makin menjadi jadi meraung.

            Sekarang terbaca jelas nama di papan itu.

            M…aya Anissa Putria (9th)

            Maya terhuyung lagi. Di cari carinya kakek Ahmad yang tadi masih disisinya. Serasa mimpi dilihatnya kakek Ahmad yang berpakain putih rapi berjalan keluar menembus tembok!

            “Mas Den….kita sudah menyiapkan  makam Maya. Dipemakaman keluarga. Disebelah makam Oom Ahmad,ayahnya Mbak Ria..”  kata Tante Siska berbisik pada Papa.

            Maya semakin tidak percaya.

            Ya Allah…Aku kah yang Kau panggil? Ia merasakan tubuhnya begitu ringan.

            Seberkas cahaya memancar dari atas. Seolah ruangan itu tidak beratap. Begitu terang. Begitu indah dan benderang.

            Maya melayang, masih memandangi mama papa, Mas Bimo dan orang orang yang kini menangisinya. Menangis di jasadnya.

            Dua bidadari cantik turun menggapainya, merangkul kedua tangan mungilnya.

            Innalilahi wailanilahi roji’un….

 

KIDS 5:31 am

Diaz mengayuh sepedanya perlahan. Terik matahari menyengat ubun ubun kepalanya. Kali ini, jalan yang dilewatinya tidak seperti biasanya . Menurut Rico teman sekelasnya, jarak sekolahnya ke rumah akan lebih dekat jika memotong melewati pasar.
            Hari ini ia ingin mencobanya. Ia melihat pasar tradisional di kejauhan. Ah, sekalian saja mencari komik Super Hero yang terbaru, pikirnya.
            Di pasar ia mengayuh sepeda perlahan mencari cari tukang majalah yang juga menjual komik.
            Pada sudut tempat parkir, Diaz menepikan sepedanya lalu berjalan menuju tukang majalah yang menggelar dagangannya menghampar beralaskan terpal.
            “Dik, komik superhero edisi 13 sudah terbit?” Tanya Diaz pada penjual komik yang masih belia itu. Mungkin seusia Deni, adiknya yang duduk di kelas 3 SD.
            Tiba tiba ia terpana. Penjaja komik cilik itu ternyata tubuhnya cacat. Membuat Diaz merinding. Kedua kakinya hanya sebatas lutut. Sepasang sandal japit diikat di ujung kakinya yang tidak berjari. Kedua tangannya tidak juga memiliki jari, hanya sampai pergelangan tangan.
            “Kenapa bengong ,Kak? Ini komiknya!” celetuk anak itu mengejutkan. Ia mencari cari komik yang ditanyakan Diaz dengan mengais ngaiskan tangannya ke tumpukan komik di atas terpal. Setelah itu ia menjepitnya dengan kedua lengannya dan menyodorkannya pada Diaz.
            Diaz masih terpaku.
            “Kak..?” tegur penjaga komik itu lagi..
            Diaz terjaga dari keterpanaan. Diamatinya wajah bersih bocah itu.
            “Umur kamu berapa?” Diaz bertanya penasaran.
            “Sembilan…” bocak itu memamerkan deretan giginya yang putih.,”Kakak kaget melihatku ya?”
            Diaz menggaruk garuk kepalanya, “Hmm…iya sih…Kamu hebat banget dengan kondisi seperti ini…”
            “Siapa nama kamu?” Tanya Diaz , lega dengan keterbukaan bocah itu.
            “Bayu, nama kakak siapa?” Bayu  menyodorkan lengan kanannya. Diaz menyentuhnya ragu ragu. Tetapi kemudian menggenggam lengan tak berjari itu hangat.
            “Aku Diaz! Kamu seusia adikku, Adikku kelas 3 , aku kelas 5!”
            Bayu kembali tersenyum. Kelihatan sekali ia tidak malu dengan keadaannya.
            “Kamu setiap hari berjualan di sini?”
            Bayu mengangguk. Diaz juga ikut ikut mengangguk. Sambil berpikir bagaimana cara anak itu mengangkut barang barang itu sebelum dan sesudah berjualan.
            “Oya,..Berapa harganya ?”
            “Biasa Kak, Lima ribu rupiah!” sahut Bayu.
            Diaz mengeluarkan uang jatah membeli komik yang diberikan Papa tadi pagi. Setiap minggu Papa memberi Lima ribu rupiah untuk membeli komik Super Hero kesukaan Diaz dan Deni.
            “Kamu jualan sampai pukul berapa,Yu?”
            “Jam empat ,kak. Kenapa?”
            Diaz mengernyitkan dahinya, “Kamu tidak sekolah?”
            Bayu menggeleng, wajahnya terlihat sedikit muram.
            “Emak Bapak tidak sanggup membiayaiku. Biarlah adik adik saja yang sekolah!”
            Ah, Kasihan….pikir Diaz sedih.

            Hari makin terik ketika Diaz menyadari ia sudah terlalu lama di situ, nanti Mama cemas menunggu di rumah. Setelah mengucapkan sampai jumpa, Diaz kembali mengayuh sepedanya dengan beribu pikiran di kepala tentang perkenalannya dengan Bayu.
            “Mau kemana,Diaz?” Tanya Mama ketika sore hari Diaz kelihatan bersiap siap pergi dengan sepedanya.
            “Ke pasar ,Ma…cari Komik…”
            “Lho kan tadi sudah beli komik?” Mama terheran heran.
            Diaz memandang Mamanya ragu. Akhirnya diceritakannya pertemuannya dengan Bayu di pasar tadi.
            Ketika Diaz menggambarkan bagaimana Bayu mengais-ngais dengan lengannya yang tumpul tak berjari, mata Mama tampak berkaca kaca. Bahkan Deni , adiknya,meninggalkan komiknya dan ikut mendengarkan cerita kakaknya.
            “Diaz mau ke sana ,Ma…Aku mau lihat bagaimana Bayu mengangkut barang2nya ketika selesai berdagang, dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Diaz lihat dia tidak menggunakan kursi roda atau kruk penyanggah lho ,Ma..”
            Mama mengizinkan Diaz pergi dengan pesan untuk pulang sebelum Azan Magrib tiba.
           
            Diaz berhenti kios tukang  The Botol tak jauh dari tempat Bayu berjualan.. Bayu nampak sibuk bersusah payah mengemasi Koran Koran , majalah dan komik dagangannya.
            Tidak lama kemudian seorang Bapak yang berpakaian lusuh datang menghampiri Bayu dengan mendorong sebuah gerobak sampah.
            Bapak itu membantu memindahkan dagangan Bayu ke dalam gerobak sebelum kemudian menggendong Bayu dan mendudukannya di dalam gerobak.
            “Itu Bapaknya,…” kata penjual The Botol seperti mengetahui kea rah mana Diaz termangu.
            Ah, jadi ayahnya yang setiap hari mengantar dan menjemput Bayu dengan gerobaknya. Mungkin Ayahnya adalah seorang tukang sampah, kalau dilihat dari gerobak yang digunakannya.
            “Kasihan ya,Pak…” tak sengaja Diaz menggumam, entah oada siapa. Tukang Teh Botol mengangguk angguk setuju.
            Betapa penuh  perjuangan hidup seorang anak seperti Bayu. Tubuhnya cacat, keluarganya sangat susah.
-
            Sejak saat itu Diaz  sering meluangkan waktu datang ke tempat Bayu berjualan. Terkadang hanya sekedar ngobrol, atau juga mencari komik yang setiap minggu keluar sambungannya.
            Dari pertemanannya dengan Bayu,Dias tahu bahwa Bayu sudah cacat sejak dilahirkan. Mungkin karena gizi yang kurang ketika Ibunya mengandung, jadi Bayu lahir dengan tidak sempurna. Tapi kata Mama semua sudah Allah  yang mengatur, kelebihan dan kekurangan manusia sudah digariskan Allah. Buktinya meskipun cacat, Bayu diberikan sifat periang dan menerima. Ia tidak pernah mengeluh.
            Meskipun dalam kekurangan, Bayu tetap bisa leluasa bergerak, kalau berjalan ia meggunakan ke dua lengannya untuk menopang tubuhnya bagian depan kemudian menggeser tubuh bagian belakang ke depan. Begitulah Allah memberikan kelebihan diantara kekurangan yang dimiliki Bayu. Diaz makin kagum pada anak itu.
            Setiap sore Ayahnya datang dengan gerobaknya , mengangkut Bayu beserta barang dagangannya. Ayah Bayu juga kelihatan tidak sehat. Terlalu kurus dan kuyu. Sering terdengar suara batuknya yang berat dan sesak.
            Setiap hari Diaz menceritakan pertemuannya dengan Bayu pada Mama, Papa dan Deni. Mama dan papa tidak melarangnya bermain dengan Bayu selepas pulang sekolah atau setelah mengerjakan PR di sore hari. Selama tidak  mengganggu pelajaran Diaz di sekolah, buat Papa Mama itu tidak masalah.
            Tetapi beberapa hari belakangan Diaz tampak kecewa sepulang ke rumah. Bayu sudah beberapa hari tidak nampak di pasar untuk berjualan. Tempatnya berjualan kosong, dan setelah dua hari Bayu tidak datang malah sudah diisi untuk parkir motor oleh penjaga parkir di sana.
            “Nggak tau tuh, sudah beberapa hari dia nggak jualan” kata penjual teh Botol di sana, “Denger denger sih Bapaknya meninggal…”
            Diaz terpukul. Kasihan Bayu, Ayahnya memang terlihat sangat kurang sehat, apalagi harus menarik-narik gerobak sebegitu berat setiap hari.
            Dengan bantuan tukang parkir yang biasa berada di dekat dekat tempat Bayu berjualan, Diaz dapat menemukan dimana Bayu tinggal. Melewati jalan jalan sempit yang berliku.
            Di sebuah rumah reyot, dengan atap dari genteng liat yang sudah pecah pecah, dan dinding bambu. Serta lantai yang tidak tertutup semen. Diaz menemukan Bayu duduk termenung di bale bale depan rumahnya. Anak itu begitu terkejut melihat Diaz muncul.
            “Kak Diaz!!” serunya kaget. Diaz menyodorkan bungkusan titipan Mama berisi baju baju dan biskuit untuk Bayu dan adik-adiknya.
            Diaz duduk di sisi Bayu  yang nampak kuyu,”Aku ikut berduka cita ya,Yu…semoga Ayahmu diterima di sisi Allah SWT”
            Bayu mengangguk angguk, “Nisaaa!!! Jangan jauh jauh mainnya!!” teriaknya pada adiknya yang sedang berlarian dengan anak tetangga.
            “Kamu tidak jualan lagi..?” tanya Diaz.
            Bayu menggeleng lemah,”Tidak ada lagi yang mengantar dan menjemputku ke pasar Kak…kan Bapak sudah tidak ada…”
            “Kan ada pasar dekat sini,Yu…nggak coba jualan di sana?”
            “Sudah, tapi daganganku habis di acak acak penjual koran di sana..mereka tidak suka pedagang majalah bertambah di sana…”
            “Emak sih masih kerja, cuci pakaian dan menyetrika di rumah rumah kompleks ABRI di sana” ujar Bayu lagi,”Tapi nggak cukup untuk uang sekolah Nissa dan Lutfi…”
            Malamnya Diaz tidak bisa tidur. Ia masih terbayang betapa reotnya  tempat tinggal Bayu, adik adiknya yang kurus kering dan hampir putus sekolah.
            Deni yang diajaknya bicara malam itu juga tercenung sedih. Apa ya yang harus dilakukannya untuk membantu Bayu? Mereka sulit menemukan jawabannya.
            “Mungkin temanmu itu perlu kursi roda !” cetus Saiful teman sekelas Diaz ketika ia menceritakan kegundahannya.
            “Tidak mungkin , dari mana Bayu bisa mendapat uang untuk membeli kursi roda!” sela Rico. Diaz mengangguk.
            Tetapi tiba tiba Diaz terkejut, ia teringat Kursi Roda Almarhumah neneknya dulu. Wah, dimana  ya kursi roda itu disimpan sekarang?
            Diaz tak sabar untuk sampai di rumah. Ia ingin menemukan kursi roda bekas Almarhumah Nenek dulu,mungkin saja masih bisa dipergunakan.
            “waduh sepertinya disimpan Papa di Gudang…coba kamu cari saja…” kata Mama ketika Diaz menanyakan letak kursi  roda Nenek di simpan.
            Mama hari itu sedang sibuk mengawasi tukang yang bekerja memperluas warung kelontong Mama di depan rumah.
            Diaz minta bantuan Deni yang juga baru pulang sekolah untuk mencari kursi roda nenek di gudang.
            Ternyata kursi roda itu memang ada di gudang, sudah berdebu dan sedikit berkarat. Maklum sudah hampir dua tahun tidak dipergunakan. Mereka menariknya ke luar. Mencoba mendorongnya maju mundur, sudah agak kesat sekali rodanya.
            Ketika kursi roda itu dikeluarkan dari gudang , Diaz menyentuh tumpukan triplek yang langsung jatuh berserakan. Brukk!!
            “Gimana sih Kak!” kata Deni terkejut.
            Di bawah tumpukan triplek itu ternyata adalah sebuah bidang yang di ke empat sudutnya terdapat roda.
            “Ini kan alas lemari es kita yang dulu,Kak!!…” seru Deni.Matanya berbinar seperti menemukan harta karun.
            “Iya betul…” jawab Diaz sambil sibuk menata kembali tumpukan triplek ke tempat asalnya.
            “Kak!!” seru Deni lagi melihat kakaknya tak acuh,”Ini juga bisa digunakan buat Bayu deh!!”
            Diaz memandang adiknya bingung,”Alas lemari es ini..?”
            Deni mengangguk dengan mata masih berbinar.
            “Coba kita minta tukang yang bekerja di warung Mama untuk membuat kotak diatas roda-roda ini sebagai wadah untuk meletakkan barang dagangan Bayu…” kata Deni.
            “Wah ide Bagus!!” Diaz mengertii sekarang arah pemikiran adiknya yang memang cerdas, “kalau bisa bagaimana caranya supaya kotak alas lemari es ini bisa menempel pada kursi roda, jadi, Bayu bisa pergi sendiri ke pasar untuk bedagang dengan membawa sendiri barang dagangannya!”
            Mereka berpandangan dengan gembira. Tukang tukang yang bekerja di warung Mama pasti bisa mengakali ide mereka.
            Mama mengalah ketika Diaz dan Deni meminta Seorang tukangnya membuatkan kotak dari kayu di atas alas lemari es yang beroda itu serta mengaitkannya di sisi belakang kursi roda Almarhumah Nenek sehingga menyerupai gerobak kecil yang ditarik oleh kursi roda.
            Dalam sehari gerobak unik itu telah selesai, mereka memberinya cat senada dengan warna jok kursi roda. Hijau Tua.
            Diaz sangat gembira. Begitu juga Deni. Meskipun belum pernah bertemu muka dengan Bayu tapi Deni sangat mengagumi Bayu dari cerita cerita kakaknya. Suatu saat nanti ia ingin berkenalan juga dengan Bayu.
            “Kak aku ikut ya ke rumah Bayu!” pinta Deni.
            Diaz memandang Mama meminta persetujuan. Mama memperbolehkan asal mereka tidak terlalu sore kembali ke rumah.
            Diaz mendorong gerobak kursi roda itu  , sementara Deni mengayuh sepeda, mereka melakukannya bergantian sampai ke rumah Bayu.
            Bayu sedang duduk di bale bale depan rumahnya sambil mengawasi adiknya bermain ketika Diaz dan Deni datang.
            “Bayu!! Lihat nih aku bawa apa!” teriak Diaz.
            Bayu beringsut turun dari bale bale reotnya.Matanya berbinar melihat gerobak mini dengan kursi roda di depannya. Di bagian belakang gerobak kecil itu ada tulisan “Bayu” tertulis dari Cat berwarna putih.
            “Ini Deni adikku…”kata Diaz memperkenalkan Deni,”Dia yang punya ide merakit kedua benda ini supaya kamu bisa berdagang lagi di pasar!”
            Mata Bayu berkaca kaca sambil menyalami Deni dengan pandangan berterimakasih. Ia mencoba menaiki kursi roda itu. Diaz mengajarinya cara menjalankan gerobak mini itu.
            Roda roda yang tadinya kesat sudah di olesi minyak oleh tukang yang bekerja di rumah.
            “Wah, mudah sekali!” seru Bayu, “Aku seperti mempunyai kaki dan leluasa bergerak…aku juga bisa pergi ke pasar sana dengan mudah membawa daganganku…”
            Mata anak itu berkaca kaca.
            Diaz dan Deni tersenyum haru,betapa nikmatnya bisa memberikan sedikit kebahagian kepada sahabat mereka ,Bayu.
            Terima kasih, Ya Allah….
(Kenangan pada seorang Bocah kecil tanpa lengan dan kaki pada salah satu jembatan penyebrangan di Jl Jend Sudirman,Jakarta)
           

General 4:24 am

SUARA PENSIL adalah ruang khusus buat aku.

Disinilah aku akan meletakkan tulisan tulisan ku.

So, …silahkan dengarkan Suara Pensilku!

eXTReMe Tracker