Maya berjongkok di sisi mama yang menangis tersedu-sedu. Ia sendiri baru terjaga dari tidur. Kepalanya masih sedikit pening.
Rumah beratap dan berdinding putih ini sungguh asing baginya. Entah rumah siapa ini dan mengapa mama papanya ada disini.
Ada kakeknya yang tadi membangunkannya dari tidur.
“Masih pening, Maya?” Kakek Ahmad bertanya.
Maya mengernyitkan kening menahan sakit Fuih!! Pasti tadi ada sesuatu benda yang menimpa kepalanya. Membuatnya sekarang pening.
“Kakek, rapih amat sih…” kata Maya, “Mau kondangan ya Kek?”
Kakek Ahmad tesenyum. Raut wajahnya yang teduh dan bercahaya membuat Maya merasa tentram memandangnya.
“Kakek mau menemani mamamu….Kasihan dia sedih sekali… “ ujar Kakek dengan mata sendu.
Maya mengangguk. Iya betul. Mama papa kelihatan sedih dan letih. Mama tak hentinya menangis meraung.
Maya baru memperhatikan kalau mamanya menelungkup di atas seseorang yang sedang berbaring di tutupi kain panjang.
:”Ssst..Kek!! Itu siapa yang tidur??” bisiknya pada Kakek tapi kakek Ahmad sudah menjauh berdiri lebih dekat dengan mama. Wajahnya penuh duka.
“Sayang, Naak….Kenapa meninggalkan mama secepat ini..? “ gerung mama sambil menmgangkat wajah dan tubuhnya. Papa memapahnya .
Meninggal..?!? Siapa yang meninggal?!“Ma, siapa yang meninggal??” Maya bertanya pada mama, tetapi mama terus saja menangis.
Maya menggamit lengan papa yang juga bersimbah air mata. Papa kembali memeluk mama.
Tak lama kemudian Oma Rani datang dan menghambur ke pembaringan itu.
“Cucu Omaaaa…” jeritnya histeris.
Maya sebal bukan main. Apakah karena ia masih kecil sehingga orang orang dewasa tidak perduli padanya?
Siapa sih memangnya yang meninggal..? Maya berpikir keras.
Gadis kecil itu menepi ke pojok ruangan.
Hmm…tapi kok Oma berteriak Cucuku, lalu mama meraung Anakku…?Cucu Oma dan Anak mama kan Cuma aku dan…..MAS BIMO! Mas Bimo?? Apa, Mas Bimo Meninggal..????!!!!!
Maya berpaling memandang mama, papa, Oma Kakek dan beberapa saudara yang mulai berdatangan.
Kakek Ahmad juga terlihat diam saja di sisi jenazah.
Maya merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekelebat kesedihan datang menghampiri.. Mas Bimo,…abangnya tersayang,sekarang tebujur kakku…Meninggal?…Kenapa…?Ya Allah,…kenapa tega merebut abangku? Dia kan baik banget!! Sholatnya rajin, ngajinya juga, alim dan dia yang paliiing sering mengajariku pelajaran sekolah.
Ya Allah, lihatlah…Kasihan Mama Papaku dan kasihan juga dong aku, nggak punya abang lagi….
Maya merasakan pipinya basah. Anak sungai di matanya mengalirkan airmata yang merembes kemana mana. Dada nya sesak oleh rasa sedih yang mendalam.
Mas Bimo,…Banguun….Besok kan Maya ulangan matematika! Maya masih belum lancar niiih pelajaran pembagian. Mas Bimo kan janji mau mengajarkan?!…Gadis kecil itu merasa kakinya lemas. Ia kembali berjongkok di di sisi pembaringan Mas bimonya.
Jadi benar Ya Allah,…orang baik itu selalu Kau panggil lebih dulu…Maya menangis tersedu sedu. Orang orang dewasa itu sibuk menghibur mama dan papa. Tak satupun menghiraukannya. Semua orang kehilangan Mas Bimo, abangnya tersayang. Abang satu satunya.
“Kamu sudah berdoa,sayang…” Kakek Ahmad sudah berada lagi di sisinya. Sibuk membelai rambut Maya yang kuyup. Cuma kakek yangmasih memperhatikannya.
“Berdoalah, semoga keluarga kita tabah menghadapinya…”
“Iya Kek…” Maya mengangguk,”Nggak sangka secepat ini…Mas Bimo…”
“Kecelakaan….” Bisik Tante Septi pada Oom Herman, tetangga sebelah rumah yang baru datang,”Bimo dan Maya ditabrak metromini ketika menyebrang jalan di depan sekolah…”
Kecelakaan…?!!Ah, Ya Allah! Maya baru ingat!
Tadi, Mas Bimo seperti biasa pulang sekolah bersamanya. Karena mereka satu sekolah. Maya kelas 2, Mas Bimo kelas 6 SD.
Mas bimo seperti biasa menggandengnya menyebrangi jalan raya di depan sekolah. Sepanjang jalan, Maya ingat ia bercerita tentang kenakalan Bari teman sekelasnya dan membuat Mas Bimo terkikik geli.
Mereka sedang menyebrangi zebra cross bergandengan ketika sebuah Metromini melaju kencang ke arah mereka. Maya menjerit kecang. Ia masih sempat menyaksikan MAs Bimo tersungkur sebelum ia sendiri tak sadarkan diri.
Jadi ,…Mas Bimo tidak bisa diselamatkan….?Maya makin lemas, serasa ada yang hilang. Rasa kehilangan yang amat dalam…
Gadis itu meringkuk di ujung pembaringan.
Ada papan putih di ujung kaki Mas bimo. Sebagian terhalang oleh tubuh Oma Rani yang masih histeris.
Nama : M…
Maya memalingkan wajah dari papan tersebut. Ia tidak tega untuk melihat nama M. Bimo Fikri tertulis di situ. Tidak!!Pintu ruangan terbuka lagi. Pemandangan yang terlihat membuat biji mata Maya serasa mau melompat keluar.
Mas bimo dengan perban di kepala dan tangannya masuk di papah suster.
Eee???Mas bimo..?? Maya mengerjapkan matanya, perlahan mendekati abangnya yang berusaha bergerak cepat ke arah pembaringan dengan mata berkaca kaca.
“Mayaa….Maya…maafin aku !!!” Mas bimo menggerung gerung.
Maya menggosok gosok telinganya. Nggak salah denger nih? Dipertajamnya lagi pendengarannya.
“Mama….Maya ma….Bimo nyesel ga bisa jagain Maya…Bangun ,Dik..Banguuun…” erang Bimo tak henti.
Maya terhuyung. Kembali di lihatnya papan putih di ujung pembaringan. Tak sengaja Oma Rani bergeser menghampiri Mas Bimo yang makin menjadi jadi meraung.
Sekarang terbaca jelas nama di papan itu.
M…aya Anissa Putria (9th)Maya terhuyung lagi. Di cari carinya kakek Ahmad yang tadi masih disisinya. Serasa mimpi dilihatnya kakek Ahmad yang berpakain putih rapi berjalan keluar menembus tembok!
“Mas Den….kita sudah menyiapkan makam Maya. Dipemakaman keluarga. Disebelah makam Oom Ahmad,ayahnya Mbak Ria..” kata Tante Siska berbisik pada Papa.
Maya semakin tidak percaya.
Ya Allah…Aku kah yang Kau panggil? Ia merasakan tubuhnya begitu ringan.
Seberkas cahaya memancar dari atas. Seolah ruangan itu tidak beratap. Begitu terang. Begitu indah dan benderang.
Maya melayang, masih memandangi mama papa, Mas Bimo dan orang orang yang kini menangisinya. Menangis di jasadnya.
Dua bidadari cantik turun menggapainya, merangkul kedua tangan mungilnya.
Innalilahi wailanilahi roji’un….

