Ada anak baru di kelas Rafi. Namanya Dadang.Perawakannya kecil kurus. Rafi dan teman temannya tidak begitu menyukai Dadang. Mereka menganggap Dadang itu aneh, terlalu pendiam dan sok kalem.

 Ia tidak mau diajak bermain atau berolahraga bersama, bercanda atau melakukan kegiatan apa saja di luar jam sekolah. Pada jam istirahat, Dadang selalu duduk menekuri buku buku di perpustakaan sekolah.

“Sok alim banget ya,Ko?” bisik Rafi pada Koko ketika mereka melewati perpustakaan dan menemukan Dadang sedang membaca buku .

“Sok alim atau sok pinter?’ timpal Koko. Mereka tertawa jahil. Ketika melewati pintu masuk perpustakaan, Koko tiba tiba meledek Dadang yang kebetulan duduk di dekat pintu.

“Sst…Dang…..nggak makan? Jam istirahat nih…heheh….memangnya kenyang ya dengan baca buku..?”

Dadang mengankat wajahnya, ia hanya tersenyum sedikit pada teman temannya lalu kembali pada buku yang tengah di bacanya.

Rafi dan Koko tertawa tawa lagi.

 

“Bukan salah kita sih kalau kita tidak mau main sama dadang!” cetus Rafi ketika Nana teman sekelasnya menegur Rafi dan kelompoknya yang  suka mengolok olok Dadang.

“Dia yang nggak mau main sama kita” Koko menimpali. Rafi, Habil dan Dino mengangguk setuju.

“Tapi kan kasihan Dadang anak baru, harusnya kita  yang ajak dia untuk bergabung dengan kita. Mungkin saja dia pemalu..” kata Nana lagi.

“Pemalu atau malu maluin? Hehehhehe…”Rafi terkekeh.

Tiba-tiba Dadang masuk kelas, melewati mereka. Rafi dan teman-temannya terdiam tiba tiba.

“Maaf ya Raf, permisi…”sapa Dadang pada Rafi yang duduk di ujung meja Dadang. Rafi bergeser.

Nana dan Ika mencoba mencairka suasana, “dang sepulang sekolah kita ada latihan basket lho, mau ikut nggak? Sama anak anak kelas 4 juga…”

“Basket?!!” raut wajah Dadang terlihat sangat antusias. Tapi tiba tiba seperti teringat sesuatu wajahnya berubah lagi,”Ngg…maaf aku nggak bias ikut Na…”

“Lho kenapa Dang?” Ika terus mencoba membujuk Dadang. Dadang hanya menggeleng dengan senyum.

Rafi dan  kelompoknya saling berpandangan dengan sinis.

“Dadang kan sibuk Naaaa….” Sindir Rafi sambil melengos pergi melewati tempat duduk Dadang. Dadang Cuma memandang mereka sekilas lalu raut wajahnya kembali tidak perduli.

Rafi duduk di warung Mak Baedah yang berjualan makanan kecil dan kue kue di kantin belakang sekolah.

Jam pelajaran sekolah baru usai, ia sedang menunggu jam latihan basket.

“Mak, bakwannya enak juga ya…” ujar Rafi.

“Iya memang betul Raf, Emak juga senang jualannya laku banget. Pisang gorengnya juga enak kok!” kata Mak Baedah berpromosi.

Di kejauhan Rafi melihat Dadang berjalan kea rah kantin.

Hmm tumben Dadang ke kantin…,piker Rafi.

“Dang!”Mak Baedah melambaikan tangan. Dadang mempecepat langkahnya menghampiri warung Mak Baedah.

Rafi bergeser duduk agak sembunyi di pojok. Dadang tidak melihatnya.

“Nih Dang, sisa dua tuh bakwannya. Kalau pisangnya sih habis.” Mak Baedah memberikan sejumlah uang pada Dadang. Dadang tersenyum sambil menghitung uangnya.

“Bilang emakmu ya Dang, kalau hari Jumat itu buatnya agak banyak, sebab ada anak kelas 4 dan 5 latihan Basket dan Badminton”

“Iya Mak, nanti Dadang bilang ke emak. Tapi dengan ini laku semua saja sudah Alhamdulilah,Mak…Terimakasih ya Mak!” kata Dadang.

Rafi termenung sesaat.

“Raf, itu titipan Dadang, dia kan kelas 5 juga sekelsa sama kamu kan? Dia setiap pagi titip jualan kue buatan ibunya di sini”

Mak Baedah menjelaskan tanpa diminta ,sambil menata permen permen ke dalam toples.

Rafi mulai agak mengurangi keinginan untuk mengganggu Dadang. Cuma sesekali ikut tertawa kalau Koko meledek anak itu.

Terkadang ia memperhatikan Dadang dari jauh. Nak itu sangat tekun dalam pelajaran. Meskipun tidak mendapat rangking, tetapi angkanya tidak jelek.

Rafi sendiri tidak masuk sepuluh besar di kelas. Ia lebih banyak main main daripad amenggunakan waktunya untuk belajar. Sesekali mama menegurnya, meskipun tidak mekasakan Rafi. Mama Papa harus puas dengan tidak ada angka merah menghias rapornya.

 

Hari ini Mama tidak sempat memasak. Papa mengajak mereka untuk makan malam di rumah makan Soto Kudus langganan Papa.

Rafi dan Lili adiknya cukup senang meskipun bukan di restaurant  mahal seperti cerita teman temannya dengan orang tua mereka.

“Kalau makan itu yang bersih Raf, jangan bertebaran seperti itu…” tegur Mama melihat piring Rafi berantakan.

“Iya nih piring Kakak jadi mirip piringnya  si Manis. Rafi melotot marah.

“Enak aja nyamain piringku sama piring kucing piaraan kamu!”

Papa tertawa geli sambil sesekali matanya seperti mencari cari sesuatu di luar sana.

“Eh,Papa punya langganan tukang semir sepatu lho!” kata Papa ketika Rafi bertanya kenapa ayahnya  sering melongok ke luar.

“Semir,Oom!!” Seorang anak laki laki bertopi lusuh menghampiri Papa sambil berjongkok di kaki Papa.

“Aaah! Ya ya…Oom memang menunggu kamu sejak tadi” sahut Papa gembira sambil melepaskan sandal kulitnya.

“Rafi?”

Rafi hamper tersedak ketika penyemir sepatu itu memanggil namanya. Dadang tersenyum di balik topi lusuhnya.

“Kamu…?” Rafi melongo.

Dadang mengangguk.

“Kalian kenal ya?” kata Mama heran.

“Teman sekelas Rafi,Ma..” jawab Rafi tersendat.

“Oya..? Wah kok kebetulan sekali ya?” kata Papa, “Kalau begitu ayo Dang ikut makan dengan kami. Kamu belum makan malam kan?”

Dadang menggeleng menolak dengan sopan, “Terima kasih Oom, tapi di luar masih ada dua pasang sepatu yang harus saya semir…” ujarnya sambil beringsut berdiri,”Yuk Raf, aku keluar ya!”

Rafi masih melongi.

“Hebat ya Ma….temennya Kakak rajin banget…” celetuk Lili polos.

 

Selesai makan, Rafi menghampiri Dadang yang sedang menyemir sepatu Papa di lantai teras rumah makan. Sesekali ia berlari ke tempat parker untuk membantu menjadi tukang parker dan kemudian mendapat upah beberapa ratus rupiah.

“Dang,…mmmm….kamu setiap hari ke sini?” Rafi ikut berjongkok di dekat Dadang.

“Iya Raf, pulang sekolah aku ke sini, kerja apa saja deh. Menyemir sepatu, Bantu Bantu parkir, kadang kadang disuruh sama yang punya rumah makan ini mengantar Soto ke gedung perkantoran di seberang itu pada jam makan siang…”

“Oo…sampai malam?”

Dadang mengangguk bersemangat, “Iya! Lumayan Raf buat Bantu Bantu Emak Raf. Emak kasihan sih, sekarang lumpuh karena sakit, meskipun begitu ia tetap memakasakan diri membuat kue kue untuk ku jual di sekolah, di warung Mak Baedah”

“Hmm…” Rafi terdiam sambil terus memperhatikan gesitnya Dadang menyemir sepatu.

“Itu makanya Raf, waktuku belajar Cuma di sekolah saja. Aku bias masuk SD kita juga karena Mak Baedah kenal baik sama Pak Kepsek. Mak Baedah itu tetanggaku”

Dadang tersenyum melihat Rafi masih terdiam”Kenapa Raf..Kaget ya?Hm..Ya karena ini juga aku tidak sempat ikut latihan Basekt atau Badminton, padahal aku suka sekali kedua olahraga itu. Tapi kalau sehari tidak bekerja artinya jatah makan adik adikku berkurang…kasihan ah..”

Rafi tersadar bahwa semenjak tadi ia Cuma mengiyakan dan mengangguk. Baginya ini seperti tamparan cukup keras.

Dadang yang selama ini dianggap  remeh olehnya ternyata melalui hidupnya dengan penuh perjuangan tetapi tetap bersemangat. Sementara ia sendiri?

“Dang, maaf ya kalau aku suka jahil sama kamu, serta bersikap tidak baik padamu…Hmmm…aku tadinyaberprasangka jelek bahwa kamu itu anak yang sombong…”

Dadang terkekeh .Ia meniup ujung sepatu Papa seperti ingin meniupkan debu yang menempel. Diberikannya sepatu yang sudah mengkilap itu pada Rafi.

“Ayahmu baikk sekali….” Ujarnya.,”Eh Raf, aku nggak marah kok. Pesan Emak padaku, agar  aku tidak mengganggu dan menyakiri orang lain. Sebab aku tidak bias seperti teman teman yang lain di sekolah kita yang punyabanyak waktu untuk bermain….Aku sudah tidak punya Bapak, sekarang Emak jug asakit. Karena itu akulah yang harus bekerja supaya adik adikku bias tetap makan dengan teratur…”

Kelihatan sekali tidak ada kesedihan atau kemurungan di mata Dadang. Jelihatany sekali ia begitu lapang hati.

Rafi menjadi sangat malu. Ia jauh lebih beruntung, sementara orang lain di luar sana harus bersusah payah membanting tulang untuk dapat bersekolah dan makan.

“Ayo Raf!”Panggil Papa. Papa segera memberi uang upah semir pada Dadang yang diterima Daang dengan senang hati.

Dadang membantu menjadi tukang parkir ketika mobil Papa hendak keluar dari Halaman parkir.

Sementara Rafi masih termangu di dalam mobil.

Allah menitipkan sebuah pelajaran buatnya, lewat  Dadang. Bahwa hidup tidak selalu dapat dilalui dengan mudah. Karena itu kita harus pandai bersyukur  pada Allah dengan apa yang telah kita dapat.