Aku menatapnya penuh tanda tanya. Sepagi ini sahabatku ini sudah termenung-menung saat berjemur di bawah sinar Matahari pagi. “Kenapa sih?” tanyaku
Ia menoleh dengan mata sayu,”Aku tidak tahan hidup seperti ini. Harga diriku seakan tak berarti…”
“Masih soal itu?” Ia mengangguk sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.
“Keluarga Dedi keterlaluan. Aku tertindas, terinjak injak. Mereka tidak mengerti perasaanku!” katanya serak menahan tangis, lalu menoleh padaku “ Memangnya kamu nggak?”
“Aku juga. Sama dengan kamu. Malah aku lebih parah kan? Yang lebih sering menindas dan menginjak harga diriku malahan pembantunya Dedi…lebih sakit kan” kataku menerawang. Teringat Wajah Si Tinem yang sok cakep dan belagu serta selalu saja memandang rendah aku.
“Aku lebih parah kan? Lihat nih rupaku nggak karuan begini, masih bagus rupamu! Tapi aku sudah biasa….Itu namanya Takdir” kataku lagi.
“Tineeemm!!!” Kami terkejut karena tiba tiba Ibunya Dedi sudah berada di dekat kami.
“Ini keset keset kaki sudah kering! Letakkan lagi di tempatnya! Dan ini keset dapur buang saja sudah compang camping begini!!”
Tinem datang tergopoh gopoh. Aku menatap temanku sedih.
“Iya Nyah! Saya buang deh!” Tinem merenggutku dari tali jemuran dan melemparkanku tanpa perasaan ke tempat sampah yang bau. Sebau badanku. Tapi lebih bau lagi.
Aku masih sempat melihat sahabatku si keset kaki teras depan menitikkan airmatanya.
Setidaknya kini tak ada lagi yang mau menginjak injak aku. (216 words)

