Kiky termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Tidak pernah ia turun dari ranking dua di kelas. Kalau tidak ranking satu ya ranking dua. Semua mata pelajaran dapat diserapnya dengan baik dan cepat. Bahkan pembagian rapor kemarin dia menjadi juara umum. Bunda dan Abi nya sangat bangga pada Kiky. Begitu juga Daffa, abangnya yang sekarang duduk di kelas 5 .

“Wah Kiky hebat bener ya,…juara umum…Abang aja nggak pernah tuh ..paling tinggi juara 5 di kelas…” ujar Abang Daffa kagum.

Kiky tertawa tawa. “Abi….mana, katanya mau belikan Kiky Play Station seperti punya Dika? Kan Kiky rapornya bagus!” rajuknya pada sang Abi yang masih tersenyum senyum melihat rapor Kiky.

“Iya nanti Abi belikan, tapi tidak sekarang sekarang ini yaa, sebab uang Abi belum cukup untuk membelinya. Sabar ya Ky.” Ujar Abi.

Kiky mengangguk setuju sambil membayangkan mainan yang dijanjikan Abi itu. Ia begitu menyukai permainan itu. Selama ini sering main di rumah Dika, tetangga sebelah. Dan seringkali Kiky bertanya tanya Kapan yaa aku punya…

      Sebulan yang lalu Abi menepati janjinya. Sepulang dari bekerja, Abi membawa sebuah Dus berukuran lumayan besar. Kiky bersorak sorak kegirangan ketika membukanya ketika dilihatnya Dus itu adalah sebuah Play Sation, beserta beberpa CD permainannya.

Mulai hari itu Kiky mulai keranjingan bermain PS. Sepulang sekolah , sepatu hanya dilempar sembarangan di rak sepatu , buka baju sambil berlari lalu duduk di depan TV di ruang tamu. Terkadang ia mengundang Dika untuk ikutan bermain. Suara teriakannya setiap kali gemas, menang atau kalah kadang terdengar ke seluruh rumah. Hari pertama , kedua,ke tiga, ke empat…Bunda masih mentolelir keasyikan Kiky bermain. Tetapi setelah berhari hari, Bunda dan Daffa mulai menegur Kiky karena mulai mengabaikan belajar. Pekerjaan rumahnya banyak terlantar. Kadang dikerjakan secara terburu buru untuk kemudian main PS lagi.

“Kiky, …coba lihat PR mu banyak yang salah!” Tegur Bunda. Bunda memang rajin setiap hari memeriksa pekerjaan rumah Kiky dan Daffa. “Masa sih Bund?” Kiky balik bertanya sambil matanya tetap di TV dan tangannya sibuk memencet mencet stick PS .

“Kiky…..berhenti dulu mainnya. Ayo betulkan dulu PR nya…” ujar Bunda lagi.

“Tapi Bunda, ini tanggu tuh tinggal satu putaran lagi finish..”

“Kiky…” Bunda berdiri tetap di samping Kiky. Mata menyorot tajam pada anaknya.

“Ya deh Bun…..” rungut Kiky sebal. Huuuh…..Bunda nggak bias lihat orang seneng dech! Kiky mengeluh dalam hati. Makin hari Kiky makin malas belajar. Setiap kali ditegur dia dengan yakinnya selalu bilang

“Tenang aja Bunda,….tetep juara deeeh!!” Bunda dan Abi percaya Kiky tetap bagus dalam pelajaran, tetapi sepintar pintarnya anak kalau tidak pernah berlatih dan belajar tidak ada gunanya. Tidak akan maksimal hasilnya. Tapi Kiky tidak bisa diberitahu. Sampai sampai Abi mulai marah ketika dilihatnya Kiky belum belajar untuk ulangan besok.

“Kiky, tutup PS nya, kamu harus ulangan besok. “

“Tadi siang sudah belajar kan Abi,…lagian Abi tenang aja deh…” Abi mulai tidak sabar, “Kiky,…kamu tidak boleh takabur. Iya betul Kiky pintar, juara kelas bahkan juara umum. Tapi dulu Kiky mendapatkan itu dengan tekun belajar dan tidak main main…..Abi belikan mainan itu untuk kamu untuk mengisi waktu senggang…”

“Iya Ki, ada saatnya main ada saatnya belajar!” sambung Daffa. Kiky menutup PS-nya kecut dan mulai membuka buku untuk ulangan besok. Tetapi konsentrasinya benar benar terpecah. Sebentar melihat buku , sementara pikirannya mengembara ke game yang tadi sedang asyik dimainkannya… Wah, padahal aku tinggal 1 putaran lagi tuh, udah di urutan dua…huhh kalau tidak diputus aku sudah di urutan satu tuh waktu finish….Mobilnya kan sudah kupilih yang keren….

________________________________________________

                              Besoknya Kiky bingung . Soal soal di hadapannya hanya sedikit yang bisa dikerjakannya. Apa yang berusaha dipelajarinya semalam hilang semua.

“Sst Ki,..nomor tiga doong…” Hari teman sebangkunya berbisik. Kiky menggelengkan kepala, sambil mencoba mengingat ingat yang semalam dibacanya.

“Sambong kamu ,Ki!”Sembur ketika mereka selesai ulangan.

“Aku bukannya sombong Hari, tapi aku tadi memang tidak bisa mengerjakannya!” Hari mencibir, ia tidak percaya Kiky tidak bisa mengerjakan soal soal tadi. “Semalam aku tidak konsentrasi belajar, kemarin kemarin juga begitu…jadinya banyak yang aku tidak bisa…”Kiky bergumam, sekaligus menjawab pertanyaan Hari.

Ah aku kan baru baru ini saja nggak bisanya, sebelumnya kan bagus bagus….hmm…Kiky kembali terbayang serunya game balap mobil di PS nya. Bunda dan Abi berembuk. Setiap kali Kiky dilarang sekarang ia malahan ngambek dan cemberut , kalau sudah begitu konsentrasi belajarnya juga terganggu. Pernah suatu kali kabel kabel Play Stationnya di cabut oleh Abi, karena gemasnya. Kiky menangis dan berguling guling di lantai. Bujukan Daffa juga tidak mempan. Kiky tetap menangis dan menghentak hentakkan kakinya kesal.

“Bagaimana nih Bi…..Kiky sudah keranjingan main, tetapi tetap takabur dengan kemampuannya…” Abi mengangguk anggukan kepala sambil berpikir. Sementara Bunda menunggu Abi bicara.

————————————–

                            Kiky heran bukan main, semenjak adegan guling guling gara gara kabel PS-nya di cabut Abi, kedua orang tuanya sekarang seperti membebaskannya. Berarti aksi ngambeknya ampuh. Sakti mandraguna donk! Kiky makin asyik main, sering lupa waktu dan lupa belajar. Namun begitu ,kelihatannya Bunda dan Abi tenang tenang saja. Malahan Daffa yang keheranan. Sementara Ulangan akhir semester semakin dekat. Kiky sangat yakin akan kemampuannya. Toh sesekali dia baca baca buku juga. Daffa kelihatan sangat tekun menjelang ulangan akhir. Ia tidak mau mengecewakan Bunda dan Abi. Bagaimanapun otaknya tidak seencer Kiky. Ia perlu belajar super tekun untuk mendapatkan ranking. Itupun tidak pernah masuk tiga besar.

“Bagaimana ulangan akhir kamu Daf?” tanya Bunda pada Bang Daffa yang baru saja pulang sekolah bersama Kiky.

“Alhamdulilah deh Bun,…mudah mudahan hasilnya bagus. Soalnya yang Daffa pelajari banyak yang keluar lho!” Bunda menepuk nepuk bahu Daffa memberi semangat.

“Kiky gimana..?” Kiky mencium tangan Bunda, kemudian melengos pergi dengan wajah kusut. Masih terbayang bagaimana susahnya ujian yang dilaluinya. Entah bagaimana hasilnya nanti. Kiky masuk ke kamarnya dan menelungkup. Otaknya berpikir keras. Minggu depan terima rapor ….hmmm apakah aku tetap berada di puncak? Ia mengacak acak rambutnya kisruh.

“Tumben, nggak negokin PS-nya ki?” Bunda muncul di kamar.

Kiky langsung menyembunyikan kekisruhan di wajahnya.

“Aku capek Bun…” lalu ia menelungkup lagi pula pura tidur. Bunda hanya tersenyum penuh arti.

Hari pembagian rapor telah tiba. Abi memandangi rapor Kiky dan Dafa bergantian.

“Daffa, banyak kemajuan nih, sedikit lagi kamu sudah masuk 3 besar lho…hmm..Abi sama Bunda juga bangga sama kamu…”

Kiky duduk di pojok ruang tamu. Hari ini sedih bukan main. Rapornya tidak seperti yang diharapkan. Ia hanya menempati rangking sepuluh. Oh betapa malunya! Semua teman temannya terheran heran melihat namanya berada di urutan ke sepuluh. Bahkan Hari teman sebangkunya sekarang rangking 4.

 “Kiky…” panggil Bunda.

“Kiky minta maaf Bunda,..Abi….” ujar Kiky berat. Sunggu sulit ya mengakui kesalahan.

“Kenapa minta maaf?” Abi mendekat dan mengelus kepala Kiky yang tertunduk.

 “Iya karena Kiky nggak ranking satu lagi. Karena nilai nilai ulangan Kiky jelek. ..”

 “Hmm….itu semua karena apa ya kira kira ,Ky?” tanya Bunda lembut.

“Kan Bunda sama Abi udah tau jawabannya…” rengek Kiky.

“Makanya Nak,…kita sebagai manusia tidak boleh takabur. Dan Ingat, segala yang berlebihan itu tidak baik. Kiky berlebihan main jadi tidak konsentrasi belajar. Jadinya apa….ulangan nya tidak bisa. …Ya kan?” jelas Abi bijaksana.

“Iya Abi…” “Dan orang Takabur juga tidak disukai Allah. Allah akan marah lho. Sepintar apapun kalau tidak belajar dan berlatih mana bisa mengerjakan soal ujian..?” Bunda menyambung.

Kiky menganggu angguk.

“Jadi? PS nya mau tetap dimainkan setiap hari?”tanya Abi. Menggeleng geleng kan kepalanya yakin.

Sejak itu ia hanya main kalau akhir pekan saja. Ia bersyukur mempunyai orang tua yang bijaksana seperti Abi dan Bunda.