Astaga! Hujan lebat sekali di luar. Baru pukul 7.25. Rambut Meli basah oleh hujan. Security gedung yang berdiri dekat lift menahan senyum melihatnya. Separah apa tampangku saat ini? Piker gadis itu sambil menerobos masuk lift.

“Pagi,Mbak!” sapa seorang office boy, ketika keluar dari lift di lantai 15. Meli mengagguk dan langsung mempercepat langkah ke Toilet untuk mengeringkan rambut dan memperbaiki dandanan yang…….Ups!!

“Sorry…” seseorang hampir ditabraknya  di koridor. Gile pagi begini sudah nongol di kantor., pikirnya takjub. Biasanya baru dia  saja bareng satpam sama office boy yang sudah hadir sepagi ini.

Hah!! Gadis itu  menjerit tertahan melihat rambut dan dandanannya yang porak poranda diterpa hujan pagi ini.

“Kemana aja? Sakit?” Diana menghampiri meja Meli yang sudah penuh dengan dokumen dokumen.

“He eh…” gadis itu  menelusuri satu persatu berkas berkas yang menumpuk. Satu minggu  absen, terbaring sakit di rumah. Dan mejanya sudah seperti kapal pecah.

“Heh!!” Meli mendongak. Mas Pram berdiri di hadapannya  dengan setumpuk lagi dokumen,” Yang itu belum seberapa ,say! Nih aku tambah! Jangan lupa minta tandatangan untuk Aplikasi Kredit Limitnya PT Sanur…Okey?”

Tuhan…keluhnya.

“Sudah baikkan kan,Mel…?” Mas Pram masih di depannya sambil tersenyum jahil.

            Gadis itu meraih map berisi berkas yang tadi diminta Mas Pram dan setengah belari menuju ruangan Pak Baskoro, direktur utama.            “He Mel ! Mo kemana??” sergah Mas Pram.

            “Ya ke ruangan Babe lah minta tandatangan!” jawab gadis itu meneruskan langkah. Masih terdengar lagi Mas Pram memanggil, tapi dia  cuek saja, pasti mau iseng lagi. Tebaknya.            “Babe lagi kosong, Ris?” Meli menghampiri meja  pada Rista sekretaris Pak Baskoro. Yang ditanya  Cuma mengangguk sambil memandangnya.

            Dibukanya handle pintu ruangan Pak Baskoro setelah mengetuknya pelan.            “Ya..?”

            Bukan Pak Baskoro yang ada di dalam ruangan. Seorang laki-laki muda memandang gadis itu dengan kening berkerut.            Meli menoleh lagi ke Rista yang sedang cengar cengir di luar,”Kok..?”

            “Itu Pak Jodie, anaknya Babe…”Rista berbisik di mejanya” Makanya ,jangan nyelonong aja!”            Meli  berpaling pada Laki laki yang masih duduk santai menikmati wajahnya yang merah padam.

            “Masuk saja…” katanya.            “Maaf Pak, saya tidak tau kalau….”

            “Kamu yang tadi pagi kehujanan kan…?” tebak laki-laki itu.            Oh, dia toh yang tadi pagi aku tabrak di koridor. Apes, mana nggak sepatahpun kata maaf keluar dari mulutku tadi pagi.
            Meli mengangguk kisruh. :”Saya mau minta tandatangan Pak Baskoro” lapornya.

            Jodie mengambil berkas di tangannya  dan meletakkannya di Meja “Sebentar Lagi juga Bapak datang…” katanya.            “Nanti saya kembali lagi, terimakasih” Meli  berbalik pergi.

            “Heh Nona….”            Jodie berdiri dari duduknya, baru terlihat posturnya yang tinggi langsing. Dengan kedua belah tangan di saku celana dia menghampiri Meli

“Sepertinya saya tidak pernah melihat kamu…”

            “Iya betul,Pak! Saya juga baru melihat Bapak….Saya karyawan kontrak untuk 6 bulan di bagian EXIM. Nama saya Meli…”

            Jodie menjabat tangan nya  erat,Meli jadi bisa melihat  tangannya yang putih bersih. Apa apaan sih?!! Jadi melantur.Bentaknya pada diri sendiri.            “Hmm…..Jodie Firmansyah Baskoro. Saya pun baru seminggu diminta Bapak untuk mulai membantu di sini.”

            Tapi kok dari tadi nggak ada senyumnya sama sekali. Garing.

            “Permisi Pak. Maaf soal tadi pagi.”            Jodie  mengangguk kecil.Meli  berjalan cepat dan menutup pintu dengan cepat juga. Lalu menarik nafas di balik pintu. Haahhh….

            “Woi…kenapa Mel…?”            Di depannya Mas Pram, Daniel dan Rista memandangk dengan  aneh.

            “Kok kayak kepiting rebus gitu. Kaget ya ngeliat cowok cakep di kamar Pak Baskoro…HAHAHAAA”            “Ih ngapain sih?!!”

            Terdengar suara mereka tertawa di belakang. Sial. Kok nggak ada yang kasih tau kalo ada bos baru, sungutnya.

            Jam 6. sore. Meli melirik orang orang di sekelilingnya. Sebagian besar meja sudah ditinggalkan pemiliknya untuk pulang. Cuma satu dua orang saja yang masih sibuk di muka komputer. Sama seperti dirinya.

            Meli merasa bersyukur karena minggu ini masih libur semester, jadi nggak harus kuliah sepulang kerja. Padahal kerjaan sedang lucu lucunya menumpuk. Dokumen ekspor, perhitungan royalty dan komisi,laporan bulanan, Debit note dan teman temannya.            Semenjak mulai masuk kembali tiga hari lalu, Meli merasa hampir  hampir tidak bisa melihat Matahari terbit sampai tenggelam lagi. Perkerjaan yang  selama seminggu terabaikan sedikit demi sedikit harus dikejar. Beberapa pekerjaan sudah dibantu oleh Mas Pram dan Diana, tapi sisanya masih terlalu banyak.

            Matanya berkunang-kunang , sudah sejak jam 3 tadi mencocokkan dan memasukkan data satu persatu. Rasanya mata terasa  berat dan berair.Kantuk mulai timbul.             Wuaaahhhh….!! Ia menguap dengan puasnya. Belom lagi mulutnya terkatup matanya yang juga belum sempurna terbuka menangkap bayangan di pelupuk mata.

            “Enak..?”            Meli mengatupkan mulut dan menelan ludah, “Maaf,Pak…” katanya kikuk. Sambil berpikir, sebesar apa lebarnya mulut tadi ya…astaga.
            Jodie meletakkan berkas aplikasi kredit di hadapan gadis itu, lalu berlalu dengan gayanya yang santai dan cuek. Beda banget sama Ayahnya yang baik hati, tapi tegas.

            “Mel, gak pulang?” Rudi berdiri di sampingnya,” Bareng gak…?”            Meli  menggeleng, “Aku belom selesai. Kamu duluan aja deh, makasih…”

            “Ya udah, eh..muka kamu pucet banget tau…ati ati ya say,..ntar kalo kamu ada apa apa aku  bisa sedih…”            “Hhhh dasar playboy cap ember….” Sungutnya.

            Perhitungan royalty dan komisi sudah hampir selesai, tinggal di setting saja. Dan kepalanya mulai senut senut. Wah kacau nih, sudah nggak bisa diajak kompromi. Rasanya apa yang dilihatnya mulai jugkir balik, ……….

            Meli membuka matanya perlahan. Rasa penat di kepala masih terasa. Diperhatikannya langit langit kamar yang  terasa asing. Dia bukan berada dikamarnya.

            “Bagus kamu sudah sadar….” Gumam seseorang.            Jodie  duduk di kursi dekatnya terbaring. Melia  langsung melonjak bangun.

            “Saya kenapa Pak…?”            “Kamu pingsan tadi. Lalu diboyong Slamet ke ruanganku…”

            Tangannya yang kokoh masih mengaduk aduk teh dan menyodorkannya             Melia meneguknya dengan susah payah.

            “Kalau sudah agak baikan, cepat habiskan minum kamu. Saya antar pulang…”            Ia melirik jam. Pukul 9.15 Malam!!! Berapa jam aku pingsan barusan?

            “Biar saya pulang sendiri Pak. Sepertinya saya sudah agak baik…” Meli beranjak berdiri, “Oya, terima kasih sudah menolong saya…”            “Hei! Kamu mau kemana…?”

            “Pulang…”            Wajah keras yang selalu terlihat muram itu mendadak berubah, sedikit demi sedikit menyembul senyum dan lesung di pipinya. Meli memandangnya takjub, orang ini seperti berganti topeng. Perubahan wajahnya begitu drastic.

            “Coba ngaca dulu Nona. Tampangmu jelek sekali!” Jodie masih terus tersenyum geli, diambilnya tas ransel Meli yang tergeletak di sofa, “Ayo pulang…”             

            Enak saja ini orang bilang tampangku jelek. Meli  melewati kaca wastafel di depan Toilet ketika mereka berjalan keluar. Astaga!!            “Pak, sebentar Pak!!” serunya  berlari ke dalam toilet. Rambutnya sangat berantakan, wajah sudah polos dan pucat seperti mayat.

            Sebetulnya apa yang dibilang orang itu bener juga,pikirnya sebal, Cuma…to the point amat sih!!

            “Saya turun di sini Pak,…”

            Jodie menepikan mobil di muka parkiran rumah susun. Matanya memandang ke arah Rumah susun di hadapan mereka.            “Kamu tinggal di sini…?”

            Melia mengangguk sambil membuka pintu mobil, “Terima kasih Pak, maaf merepotkan…”             “Tidak Apa-apa. Besok lebih baik kamu tidak usah masuk dulu. Saya lihat kondisi kamu masih belum beres….”

            “Ya, terimakasih…” sahut gadis itu  pelan. Kepalanya  masih pening dan tubuhnya masih terasa lemas. Ia juga menebak nebak apa yang ada dalam pikiran anak bosnya itu saat ini, soalnya sepanjang jalan dari kantor ke sini ia tertidur pulas.             Meli bergidik, …apa tadi mulut ku terbuka lebar waktu tidur…atau malahan sudah ngiler…?.ups…mudah mudahan nggak…

            Suara azan terdengar lamat-lamat. Meli bangun susah payah dengan kepala berat menuju kamar mandi untuk berwudhu.            “Ya, Tuhan…” seusai sholat, “ Berikanlah kebahagiaan bagi Bapak dan Ibuku di sisimu. Juga lindungilah aku selalu dan berikan aku kesehatan yang baik agar semua cita cita ku tercapai…Amin”

            Matanya basah.. Selalu begitu setiap kali selesai berdoa untuk Bapak dan Ibunya.            Selalu teringat wajah lembut Ibunya menyiapkan sarapan pagi , juga Bapak yang selalu memacu semangat belajarnya. Sampai kecelakaan itu memisahkan mereka.

            Selalu terbayang kembali tubuh Bapak dan Ibunya yang hancur  di dalam mobil butut mereka yang  terseret kereta. Sebuah keajaiban ia selamat meski lecet lecet sedikit.            Apa yang gadis itu tau adalah bahwa sepanjang hidup orangtuaya adalah perjuangan, setelah limabelas tahun  menanti kehadiran seorang anak, baru lah Tuhan menghadiahkan dirinya  untuk  Bapak dan Ibu.

            Sepanjang hidupnya  Bapak dan Ibu adalah kerja keras agar Ia dapat sekolah. Untung masih ada rumah ini untuk tempatnya berteduh. Ia  tak ingin hidup menumpang kerabat Bapak. Meskipun Pak De Dino berulang kali membujuk  untuk tinggal bersamanya, Meli tetap tidak bergeming.            Lebih nyaman baginya tinggal bersama kenangan dengan Bapak dan Ibu. Dan Meli merasa Tuhan juga berbaik hati padanya, Dia mengirimkan Pak Baskoro ;bekas komandan Bapak semasa perjuangan dulu datang melayat ketika Bapak dan Ibu dikebumikan dan menawarkannyau untuk bekerja secara kontrak diperusahaan yang dipimpinnya.

            Dengan gaji yang didapat Ia bisa menghemat untuk membiayai kuliah. Ia cukup bersyukur.

            Bapak, Ibu…jangan khawatir padaku. Meski di sana, kalian akan kubuat bangga terhadapku. Amien. Melia mengusap wajah mengakhiri doanya.

           

Supermarket Guardy agak sepi pengunjung. Meli  menebar pandang mencari ikan sarden kaleng. Sesekali makan makanan yang lumayan, Kebetulan baru dapat honor menulis sebuah artikel di majalah. Lagipula Ia masih ada dua hari izin dokter untuk tidak masuk kerja, jadi agak sempat untuk memasak.

            Tiba-tiba kerlingnya menangkap bayangan yang dikenalnya ketika melewati rak obat-obatan. Jodie. Tidak dengan pakaian formil, tapi berbalut kaos ketat lengan panjang warna hitam. Hm..kelihatan seribu kali lebih muda.            “Pak ….…” sapanya.

            Jodie menengok dan terlihat agak terkejut melihat siapa yang menyapanya. Senyumnya yang baru sekali sekalinya dilihat Meli  kemarin itu menyembul sedikit demi sedikit.            “Kamu. Bagaimana keadaanmu?” katanya sambil mengambil 3 strip obat sakit kepala.

            “Lumayan Pak! Bapak sama siapa?”            “Sendirilah ,cari obat ….” Pak Jodie memandang gadis itu  dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meli  mundur selangkah ketika mata bos-nya itu  sampai di kaki. Soalnya Ia tidak pakai sepatu, Cuma pakai sendal jepit.

            “Kenapa Pak…”            “Kalau begini, kamu terlihat masih anak-anak. Mungkin karena selama ini bedak kamu terlalu tebal…”

            Sial! Ini juga yang jadi pembicaraan cewek-cewek di kantor, cara bicara Pak Jodie yang seringkali tanpa saringan. Meli membathin            “Jangan marah, Non!” katanya.

            “Ah nggak marah kok. Ya udah, selamat belanja Pak,…” ujar Melia  sambil mengangguk dan meninggalkan Jodie            “He Nona,… kebetulan ketemu kamu. Saya mau makan di foodcourt di lantai 2 Mall ini. Mau temani saya?”

            Hah…makan bareng makhluk kelabu ini. Tidak terbayang deh, mau ngomongin apa nanti.??            “Yuk!”

            Meli seperti tersengat listrik ketika Jodie  tiba-tiba menarik lengannya  keluar dari Supermarket!

            Jodie dengan santai melahap Ifumie pesanannya.             “Saya suka sekali Ifumie…”

Sementara gadis di hadapannya merasa kaku menyantap Mie goreng.

            “Kamu tadi belanja apa?”

            Meli mengankat bahu, “Cuma cari Ikan sarden kalengan….”            “Sakitmu gimana…”

            “Mulai pulih. Sudah agak kuat sekarang, makanya berani pergi ke luar..”            Jodie  menyeruput minumannya perlahan. Dia begitu relax. Tidak seperti di kantor. Di sini senyumnya seringkali muncul, juga lesung di pipinya yang putih.

            Sebetulnya dia enak dipandang, Meli menilai, Kalau dilihat dari penampilannya juga mungkin umurnya tidak seberapa jauh dariku.

            “Apa….makanku terlihat rakus…?”kata Jodie  mengejutkan. Tangannya mengibas di depan wajah Meli            “Hh….?”

            “Kamu melihatku sedemikian rupa, apa aku terlihat terlalu rakus…?”            Wajah Meli memerah menyadari sejak tadi ia memandangi Jodie sedemikian rupa.

            “Nggak….Cuma saya yang belum berselera makan. ..” elaknya.            “Kamu bisa masak ya?”

            Meli  mengagguk, “Semua harus bisa saya kerjakan sendiri Pak….”            Cowok dihadapannya memandang sekilas” “Karena kamu hidup sendirian..” gumamnya.

            Lalu senyum itu mucul lagi,”Sudah deh,…sekarang kamu pelan pelan mesti habiskan makananmu. Saya antar kamu pulang. Tapi tidak perlu buru-buru….”            Di perjalanan pulang Jodie tidak banyak bicara, Meli juga  lebih banyak diam saja.

            “Pak Jodie suka Ifumie…?” tayanya ketika mobil menepi di muka Rumah susun.            Entah setan mana yang membuatnya  bertanya seperti itu.

            Terlihat jelas Jodie sedikit kaget.            “Suka banget.Kenapa…?”

            “Besok saya mau masak. Saya mau mengudang Bapak makan siang…”            “Makan siang..”gumamnya.

            Ini ide gila banget, pikir Meli, mengundang atasan makan siang!

            “Maaf Pak, kalau terlalu lancang..”            “Eh nggak ! Mmm…gimana kalau makan malam saja ,boleh…?” alis matanya laki-laki itu  bertaut, “Kalau siang waktuya sempit…”

            Senyum Meli mengembang,”Oke! Saya tunggu besok Pak. Dan terimakasih atas makan malamya malam ini  juga tumpangannya.            Jodie mengangguk dengan senyum khasnya yang sangat irit, tiba tiba menarik lengan Meli ketika gadis itu hendak melangkah keluar Mobil.

            “Saya punya satu syarat….” Ujarnya.            Meli mengerutkan dahi dengan heran.

            “Jangan panggil saya Bapak kalau di luar kantor…”             Meli tersenyum simpul, “Jadi …?”

            “Panggil saya Kakak, atau Jodie saja…”

            Meli mengangguk , barulah Jodie melepaskan cengkramannya di lengan gadis itu.

            Jodie melarikan mobilnya menerobos malam. Ada perasaan asing ketika disadarinya ia cepat sekali akrab dengan gadis kecil bernama Melia itu. Anak Alm. Pak Bambang, menurut ayahnya.

            Ia juga merasakan keheranan yang sama ketika dengan mudahnya menerima tawaran makan siang Meli, malahan merubahnya menjadi Makan Malam. Padahal beberapakali cewek2 di kantor menyampaikan undangan yang sama , tak satupun di gubrisnya. Ia lebih memilih pergi dengan George,  teman kuliahnya dari  London.

           

           

            Pukul 7 malam sudah lewat. Meli memandangi cap cay dan mie kering yang sudah dihidangkan di meja.            Belum ada kabar dari Jodie. Meli merengut kesal. Katanya jam enam sudah bakal di sini. Tapi jam segini belum muncul juga.

            Heran betul, aku juga sih yang sinting, berani beraninya ngundang makan anak babe, pikirnya, udah jelas korban sudah banyak berjatuhan. Diana, Rista, Dewi, undangan mereka satupun tak ada yang di terima Pak Jodie. Tentu saja dengan berbagai alasan yang masuk akal dan tidak menyakitkan. Tapi intinya tetap sama; Menolak.

            Meli melirik lagi jam butut di dinding. Jam 7 lewat empat puluh lima ketika pintu diketuk.            Jodie berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja kerja dan dasi yang sudah masuk di saku baju.

            “Sorry….”ujarnya sambil mengatur nafas yang memburu karena sedikit berlari menaiki tangga, “Tadi ada tamu dari Singapore, meeting sampai jam setengah tujuh. “            “Gak apa-apa…masuk yuk…”Meli menelan ludah menyurutkan marahnya ketika dilihat wajah lusuh itu di ambang pintu.

            Kasihan, dia pasti ngebut…pikirnya ge-er.            Jodie mengedarkan pandang ke seluruh ruangan yang sempit itu. Cuma ada satu set meja di ruang depan. Tidak ada meja makan.

            Makanan juga di sajikan Meli di meja itu.            “Langsung makan ya?” Melia menuangkan air putih ke gelas Jodie, “Maaf, nggak ada meja makan. Meja ini jadi meja serbaguna. Ya buat terima tamu, ya buat belajar dan buat makan….”

            “Silakan Pak…”            Jodie melotot,”Inget janji kamu kemaren…” gumamnya sambil menuangkan cap cay di piringnya.

            “Terus terang saya nggak sanggup panggil nama saja…”ujar Meli kikuk.            “Kalo nggak sanggup, panggil Kakak aja. Kan memang saya lebih tua dari kamu…….Itu dong aku mau sambelnya….”Jodie menujuk piring kecil berisi sambal di dekat siku Meli.

            “Oya memang umur kamu berapa sih? Sembilan belas? Dua puluh?” cowok itu bertanya lagi.            “Dua puluh….”

            “Ya sudah, cukup lah kalau kamu paggil saya kakak. Beda 7 tahu kan banyak! Lagi pula nggak ada yang pernah panggil saya kakak selama ini…”kata Jodie serius, “…..kamu kok dari tadi begong aja? Makan dong!”            Meli tertawa melihat ekspresi Jodie yang keheranan.

            “Enak nggak…?”            “Lumayan….Cuma kurang banyak!” ujar Jodie sambil memamerkan senyumya yang irit, “Jangan-jangan kamu nggak ikut makan karena takut nggak cukup ya…?”

            “Ih nuduh!” Meli bersungut sambil menuangkan sedikit cap cay di piringnya. Dia memang tidak begitu berselera.            “Aku mau tukar baju, boleh…?” pinta Jodie sambil mengambil bungkusan yang tadi dibawanya dari mobil, “Gerah nih pakai baju formil begini, mana habis makan lagi…”

            “Di kamar mandi?”tanya Meli.            “Kamar kamu juga boleeeh…” jawab Jodie seenaknya.

            Meli mencibir dan meunjukkan arah ke kamar mandi yang juga sempit. Tapi ia cukup terharu karena Jodie sama sekali tidak menujukkan rasa canggung melihat keadaan rumahnya.            Kalau sifatnya yang ini, Jodie mirip Pak Baskoro. Meli menaruh rasa hormat yang tinggi pada mantan atasan Bapak itu. Sikapnya samasekali tidak arogan ketika datag ke sini menengok Meli yang masih dalam keadaan berkabung. Itu kali ke dua Pak Baskoro datang, kali ini untuk menawarkan Meli bekerja di kantornya. Sekaligus mematahkan keinginan Pak De Dino untuk membawa Meli ke Jogja membantunya di Toko.

            “Mel…”            Meli terkesiap. Jodie sudah berdiri lagi di hadapannya, dengan kaos warna hijau lumut strech yang memperjelas bentuk tubuhnya yang atlletis.

            “Kenapa…?” Jodie duduk di hadapannya, “Kamu sedih ya makanannya saya habisin….?”            Meli mendadak terbahak bahak. Jodie melangkah mundur.

            “Mel…Woii!! Kenapa sih..?!”            “Abis  lucu banget sih! Ternyata. Padahal kalo di kantor boro boro mau senyum apalagi ngomong yang konyol-konyol kayak begini….”

            “Ya masak di kantor mesti senyam seyum begini, yang ada justru kalian nanti yang ngetawain saya…Lagipula saya orang yang susah untuk beramah tamah sama orang…apalagi cewek…”            “Iya sih, keliatan kok…” jawab Meli masih tersenyum, “Tapi sama saya buktinya bisa!”

            Ganti Jodie yang terdiam.            “Soalnya kamu memang orangnya aneh. Nggak biasa….tapi saya justru seneng yang model kamu. Orang lain di kantor, terutama cewek, kalau berhadapan dengan saya kalau bisa mungkin sampai kaki mereka menunduk. Dan banyak basa basi….Saya gak suka…”

            Mereka membereskan piring bersama sama. Meski Melia melarang tapi Jodie merasa tidak enak melihat tuan rumah beres beres sendirian.            “Sudah malam, saya pulang ya….?”

            Melia sudah selesai merapikan piring.            “Terima kasih mau memenuhi undangan saya,Pak…”

            “Ya, Mbok…Makanan Mbok  enak banget….besok besok jualan  aja di depan kantor saya…” sahut Jodie enteng.            “Tega banget sih!!”

            “Lagian kamu sudah saya bilang panggil saya KAKAK kalau di luar kantor! Kurang jelas apa?!”            “Oke….oke Kaakak….Rambut Kakak bagusss deeh…”

            Jodie tersenyum sambil geleng geleng. Ketika sampai di pintu ia berhenti sejenak.

            Meli bernyanyi kecil di belakangnya “Kakak…Kakak di dinding…diam diam merayap….datang seekor….”
            “Itu Cicak,Mel….”.

           

            Jodie menekuri laporan bulanan dari Pram satu persatu. Meski ingatannya sebagian tidak ke angka angka di hadapannya.            Barusan George menelponnya, “Kita bertemu di Muzi Café seperti biasa…Please…”

            Sudah beberapa kali cowok itu menghubunginya untuk bertemu meski belakangan ini kebanyakan rasa enggan yang timbul setiap kali George menghubunginya.             “Jod,….”

            Jodie tersentak. Ayahnya sudah berdiri di ambang pintu ruangan kerjanya.            “Kenapa lagi…?”

            Jodie meletakkan berkas berkas kerja di meja. Wajahnya yang putih kelihatan begitu kisruh. Ia menarik nafas resah, sambil menggeleng.            “George telpon…” gumamnya.

            Pak Baskoro duduk di hadapan anaknya, “Papa tak bisa memaksa kamu, tapi….cobalah untuk berubah…Cuma kamu satu satunya harapan Papa.”

            Jodie menatap Ayahnya putus asa.

           

            Melia terkejut ketika membuka pintu depan. Jodie berdiri di ambang pintu. Masih dengan pakaian kerja.

            “Sorry gak bilang bilang kalao mau datang…” kata cowok itu sambil tersenyum letih. Melia mempersilahkannya masuk.            Jodie menghempaskan di kursi tamu. Kemudian duduk menunduk , tangannya yang kukuh meremas rambutnya yang agak gondrong . Melia Cuma duduk terpaku di seberangnya, memandangnya dengan heran tapi lebih memilih mendiamkan saja sampai Jodie sendiri yang bicara.

            “Kenapa,Mel…” sapa Jodie pelan setelah disadarinya Meli Cuma melongo di hadapannya.            “Harusnya saya yang tanya, kamu kenapa?”sahut Meli, “Ada masalah?”

            Jodie menggeleng pelan, “Kita keluar yuk?”            Meli melirik jam. Pukul tujuh lewat seperempat.

            “Kemana..?”            “Kemana aja deh, pokoknya keluar…please…”Cowok itu memandang Melia memelas.

            Melia mengangguk dan masuk ke dalam untuk tukar pakaian.

            Sepuluh menit kemudian mereka sudah melesat meninggalkan rumah Meli, menembus malam. Dan Jodie banyak membisu.

            “Kenapa sih….” Melia membuka percakapan ketika mereka sudah duduk memesan makanan di Café Muzi. Jodie baru saja kembali dari rest room untuk tukar pakaian.

            Di panggung mini di sudut ruangan terdengar life musik dari penyanyi café. Baru saja terdengar lagu “Perbedaan” Ari Lasso mengalun lembut.            “Gak apa-apa,…Cuma mungkin sedikit capek…”ujar Jodie sambil memandang ke penyanyi yang sedang bernyanyi.

            “Maaf aku mungkin merepotkan dan mengejutkanmu malam ini. Tapi, aku membutuhkan seseorang untuk ku ajak bicara. Kamu tau sendiri, di sini aku tidak banyak teman. Temanku yang paling baik Cuma kamu…”            “Saya nggak keberatan…sejak pertama saya kenal, saya sudah tau kamu  pasti punya masalah. Tapi saya nggak bisa nebak masalahnya apa. Kadang kamu terlihat agak misterius…”

            Jodie tersenyum, “Sok tau kamu….”            “Tuh udah bisa senyum, udah bagus!”

            Mereka tertawa berdua. Melia menertawakan kelakuan Jodie yang umurnya jauh lebih dewasa tapi terkadang lebih kekanak kanakan. Mungkin karena cowok ini dibesarkan dalam lingkungan serba ada. Dan kasih sayang yang berlimpah dari Ayahnya.            “Hi!”

            Melia terkesiap ketika seorang cowok bule menghampiri meja mereka. Jodie juga terlihat agak kaget meski kemudian sikapnya biasa biasa saja.            “George…”

            Cowok yang bernama George itu menatap Jodie dan Melia berganti ganti seperti kebingungan. Melia mengamatinya sekilas. Wajah cowok itu sangat tampan, kalau dia perempuan pasti sangat cantik sekali. Garis wajahnya halus. Badannya tinggi tegap.            “Mil, Ini George, teman ku waktu di London dulu. Dia kerja di London, tapi sedang dinas beberapa bulan di sini….”ulas Jodie, “George this is Melia…”

            Melia menyambut jabatan tangan George. Cowok itu masih saja berdiri di sisi meja.            “Is she your girl ?” Tanyanya pada Jodie.

            Jodie menatap Melia sekilas, “I hope…” jawabnya pelan.             Melia merasa wajahnya merah mendengar jawaban Jodie barusan. Enak bener  nih cowok, nggak kompromi dulu sebelumnya.
            George tersenyum tipis, “Okey, I should meet someone. Enjoy your dinner…Bye” ia menepuk bahu Jodie pelan dan berlalu dengan cepat.

            Jodie kembali menatap ke panggung. Kali ini lagu “Reality”-nya Richard Anderson mengalun.            “kamu kok ngomong gitu sih?!!” protes Melia.

            Jodie meneguk Orange juice-nya, matanya yang selalu bersorot tajam itu menatap lurus ke arah Melia, “Ngomong apa…?”            “Waktu tadi George Tanya apa aku adalah pacar kamu, kamu jawab I hope!!”

            “Memang salah?”            “Ih! Ngomong kok nggak kompromi dulu…”sungut gadis itu

            Jodie meletakkan gelasnya , tangan kirinya meraih tangan Melia yang terkulai di meja. Wajah cewek itu makin merah. Darahnya terasa mengalir kian deras.            “Memangnya saya nggak pantas ya jadi pacar kamu…?” kata Jodie lebih seperti gumaman, “Apa saya terlihat seperti punya kelainan…?”

            Melia melepaskan tangannya pelan pelan. Membiarkannya dalam genggaman Jodie membuat detak jantungnya tidak normal, itu bahaya. Bisa bisa dia pingsan mendadak.            “Kak…kamu sedang mencoba mengatakan bahwa kamu suka sama saya??”

            Jodie tersenyum lebar, membuat lensung pipitnya menyembul, “Aku kan Cuma nanya, apa saya nggak pantas jadi pacar kamu??”            “Lho?! Jadi…?” Melia makin bingung .

            “Sudahlah, makan dulu tuh steak kamu…..habis ini kita pulang…”jawaban Jodie semakin membuat Melia geleng geleng. Aneh bener ini orang, pikirnya.

            Jodie menghabiskan steaknya pelan pelan. Melia tau dari mata cowok itu, pikirannya sedang mengembara entah ke mana.

            Mereka sampai lagi di depan pintu rumah Melia, di lantai dua rumah susun itu. Sepanjang perjalanan pulang tadi Jodie  lebih banyak diam. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing sambil mendengarkan alunan suara Sade dari CD player di mobil Jodie.

            “Mau masuk?”Melia melirik Jodie yang berdiri di sampingnya.            Jodie menggelang,”Sudah malam banget…”

            “Kalau gitu sampai ketemu besok. Aku besok kan mulai masuk kantor lagi…”ujar Melia kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.            Jodie menarik lengan Meli pelan, “Mel, terimakasih sudah mau menemani saya malam ini…”

            Melia menggeleng. Bukan apa-apa, detak jantungnya mulai tidak normal lagi. Ia mulai menggerutu dalam hati            “Kalau sikap saya menyinggung perasaan kamu, tolong maafkan saya… saya sama sekali tidak bermaksud mempermainkan atau mempermalukan kamu. Maafin saya ya…?”

            “Malam ini Saya juga senang kok. Jadi nggak ada masalah. …”            Jodie mengagguk, “Selamat Malam…sampai ketemu besok…”

            Melia melepaskan tangannya dari pegangan Jodie. Kali ini ia benar benar melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu. Dihempaskannya tubuh di kasur dalam kamarnya yang sempit.            Pikirannya berkelana. Sebagian terbesar adalah pikiran pikiran tentang Jodie. Sikap anehnya malam ini, sekaligus sentuhan sentuhan lembut yang tak terduga yang dilakukannya. Melia merasakan sensasi aneh setiap kali mengingat genggaman tangan Jodie dan tatapannya yang kadang keras dan bisa tiba tiba melembut kepadanya.

            Cowok yang aneh,…Melia menyimpulkan sambil menutup wajahnya dengan bantal dan mencoba untuk tidur.

            “Mel, enak benerrr abis cuti panjaaaang,…”celoteh Diana di mejanya.            Melia tertawa, baru saja menghempaskan pantat di kursi sudah ada yang berkotek!

            “Namanya juga orang sakit,Mbaaak…”            “Tapi kamu cukup beruntung , soalnya Bos muda nggak ngomel. Kemarin si Rahel absen  dua hari dia ngomel….” Mas Pram menyahut dari balik Note Book-nya.

            “Kan aku pake surat dokter! Masa orang sakit beneran diomel! Itu si Rahel gak ada suratnya kalee!” bela Melia, “Mm,…memangnya Pak Jodie suka ngomel juga…?”            “Eits, jangan salah Neng,…gitu gitu dia lebih teges dari Pak Baskoro lho! Mungkin karena kita udah kerja lama sama Pak Baskoro yang kekeluargaan kali, nah tiba tiba anaknya ikut masuk, suasana jadi berubah deh…”

            Melia tercenung. Diliriknya sekilas pintu kamar kerja Jodie yang tertutup rapat.            “Do’I gak masuk ya Mbak…?” tanyanya tiba tiba.

            Diana mengangkat bahu, “Nggak kelihatan dari pagi….kemaren sore keliatan agak suntuk tuh!”            Kemana dia? Pikir Melia. Tadi malam dia nggak bilang mau nggak masuk.

            “Hei! Pujaan hati nggak masuk?!” Rita sudah berdiri di dekatnya. Matanya melirik ke pintu kamar Jodie. Diana yang di ajak bicara terkekeh.            “Pujaan hati! Lo siap siap patah hati deh Riit, Do’i homreng tau!?” bisik Diana agak keras.

            Melia memandang mereka heran,”homreng…?”            “Ssst! Anak kecil nggak usah ikut campur!” hardik Rita sambil terkekeh kekeh berdua dengan Diana.

            Melia mengangkat bahu mencoba tidak perduli. Kasihan Jodie.pikirnya.            Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang, tapi Jodie belum muncul juga. Ia mengeluarkan HP dari tasnya dan mulai menulis SMS (short message service).

            Selama siang, …Tidak masuk kantor?

            Lama tak ada balasan sampai kemudian HP nya bergetar lagi.            Mungkin nggak. Kurang enak badan. Kamu nanti lembur atau On time?
            Melia menulis lagi; On time, hari ini saya mulai kuliah lagi. Selesai pukul 8 malam.Kenapa?
            Saya jemput di kampus kamu jam 8. balas Jodie.

            Melia memandang SMS dari Jodie barusan. Pikiranya berkecamuk.

            “Sudah lama?” sapa Melia ketika masuk ke dalam mobil.            Jodie menggeleng, “Berapa mata kuliah?”

            “Cuma satu. Semester ini saya nggak ambil banyak, soalnya fisikku nggak kuat.”            “Gimana tadi kantor?”

            Melia terdiam sesaat, teringat obrolan Diana dan Rita tadi pagi, “Biasa aja…Kita mau kemana?”            “Kamu capek…?”

            Melia menggeleng, dekat dengan Jodie sepertinya dia nggak pernah merasa capek. Kenapa ya…?            “Ngobrol di rumahku aja ,Mau?”         

            Jodie menggeleng, “Nggak enak sama tetangga kamu ngeliat aku sering datang dan lama lama di rumah kamu…..mm…kita ke pantai aja deh…”            —————

            Mereka duduk di dalam mobil menghadapi pantai. Udara di luar terlalu kencang, karena itu Jodie lebih memilih duduk di dalam mobil.            “Belakangan ini terus terang kamu keliatan aneh….” Ujar Melia ketika Jodie banyak terdiam.

            “Mungkin…” aku Jodie.            “Seringkali kamu ngajak aku keluar tanpa tujuan, seperti sekarang. Lalu sebagian besar waktu cuma ngeliatin kamu bengong. Sekalinya ngomong omonganmu banyak mengejutkanku……”Melia memiringkan posisi duduknya memandang Jodie. Memandang rambut gondrongya yang berkibar dan matanya yang kelam.

            “Walaupun kita baru bertemu, tapi sebetulnya hubungan kekeluargaan kita kan sudah ada jauh sebelum  kita lahir. Bapakku dan Pak Baskoro sangat dekat. Jadi, kamu bisa menganggap saya adik. Kalau ada masalah. Ceritain aja sama saya…mungkin sih saya nggak bisa Bantu cari solusi, tapi minimal kamu punya pendengar yang baik…”            Jodie mengalihkan pandangannya dari pantai ke wajah Melia yang terlihat sangat serius. Kalau sedang begini, gadis ini tidak lagi seperti gadis kecil yang baru  2 tahun lulus SMA. Tatapan matanya yang bersungguh sungguh sangat meneduhkan.

            “Terima kasih ya Mel,…kamu betul betul membesarkan hati saya…” gumam Jodie, “Saya Cuma bisa berharap, pandangan kamu terhadap saya akan selalu sebaik saat ini…”            “Memangnya kenapa sih…?”

            Jodie menatap mata Melia resah, “Nggak apa-apa. Cuma, kalau kamu tau bagaimana saya yang sebenarnya, Saya takut kamu akan berubah sama sekali.  Sungguh, saya betul betul nggak ingin itu terjadi. Saya ingin kamu tetap begini, berceloteh dengan bebas, berteman dengan leluasa dengan saya, penuh perhatian seperti saat ini….”            Melia menghela nafas putus asa. Semakin banyak Jodie bicara, dirinya makin tidak mengerti.

            “Jod, terus terang saya nggak ngerti, tapi kalau kamu keberatan untuk ceritapun saya tidak masalah.Dan  Saya tidak akan pernah berubah”            Jodie mengangguk. Baginya saat ini Melia mulai sangat memberi arti. Ada sedikit kelegaan setiap kali disadarinya ia sedang memikirkan gadis ini, entah di rumah, entah di kantor, entah sedang diskusi dengan Papanya, atau bahkan ketika sedang ngobrol dengan George.

            Padahal sebetulnya tak ada yang istimewa dalam diri Melia. Dibanding Diana, Rita, Rahel atau gadis gadis lain yang dikenalnya, Melia sangat biasa. Tapi gadis kecil ini punya sepasang mata yang selalu bersorot jujur dan jernih. Ia pun punya keberanian dalam hidupnya. Buktinya ia bisa berjuang seorang diri, menghidupi diri sendiri dan sangat mandiri. Sejak pertama kali bertemu, tak sedikitpun gadis itu menunjukkan sikap takut atau berbasa basi yang terlalu. Biasa saja.            Ayahnya mengambil langkah benar ketika memutuskan mempekerjakan Melia di kantor, dalam bekerja ia juga punya dedikasi tinggi.

            Jodie merasa keterbatasan Melia justru membuatnya melirik dan kagum. Sementara ini memang seperti itu yang di rasakannya.            Cowok itu menggigil ketika sesekali timbul keinginan untuk mengecup bibir mungil Melia ketika gadis itu sedang berceloteh di sisinya. Atau keinginan menyentuh matanya yang polos. Sebuah rasa yang sangat tidak biasa. Membuatnya sangat sedih.

            Ia teringat George, dan tiga  tahun berlalu di London bersama cowok itu. Berkali kali Ayahnya memintanya pulang tapi Jodie tak perduli. Ia mulai menyukai George pada tahun pertama kuliah. Cowok yang begitu modis itu amat sangat meneduhkannya. Menetramkan hatinya yang baru saja remuk rendam akibat perbuatan Mama yang ternyata punya pria lain dalam hidupnya dan meninggalkan Ayahnya.            Kadang sikap George yang labil juga membangkitkan hasrat nya untuk melindungi cowok itu. Tiga tahun bersama, George telah memberikan tahun tahun terbaik dalam hidup Jodie. Ia bisa menjadi Ibu, menjadi sahabat dan juga kekasih.

            Mereka sering mengabiskan waktu duduk di tepi sungai Themes, ngobrol dan bercanda.            Ayahnya pernah mengalami serangan jantung ringan ketika menyadari perubahan pada hidup Jodie. Anak satu satunya , tumpuan harapan dan hari tuanya ternyata telah menjadi seorang gay.

            Ia masih ingat bagaimana Ibunya melontarkan kata kata melecehkan ketika mengetahui keadaan Jodie. Jodie begitu sakit dan makin membenci wanita setengah bule itu.            Baru ketika Ayahnya mengalami serangan untuk ketiga kalinya, Jodie memutuskan untuk memenuhi panggilan ayahanya dan melepaskan pekerjaannya sebagai akuntan di London. Juga memutuskan untuk meninggalkan George. Meski berat.

            Jalan yang dilaluinya untuk menenenangkan George juga sangat berliku. Pernah beberapa waktu sebelum keberangkatannya, ia menemukan George terkapar penuh darah di kamar mandi mereka. Laki laki itu mencoba memotong nadinya. Untung nyawanya tertolong. Dan dunia Jodie semakin tak menentu.            Hal yang paling  tak diduganya adalah, Geroge meminta perusahaan tempatnya bekerja untuk pindah tugas sementara ke kantor cabang di Jakarta. Ia berkeras untuk mengikuti Jodie.

            Ia masih ingat tatapan terluka George ketika diperkenalkan pada Melia malam itu di Café Muzi. Tengah malam ia menerima telpon dari George yang penuh emosi dan setengah menangis.\            Tak ada keinginan untuk menyakiti hati George. Bagaimanapun perasaan sayang masih ada untuk cowok itu. Tapi Jodie cepat sadar, apalagi melihat kondisi Ayahnya yang mulai sakit dan penuh harapan kepadanya. Membuat keinginannya meninggalkan dunianya dan George semakin besar. Ditambah lagi kehadiran Melia dan perlahan lahan tapi banyak memberi arti.

            Tapi Jodie masih ragu untuk mendefinisikan itu cinta. Apalagi, kadang masih terasa kesakitan dalam dadanya setiap kali melihat George memohonnya untuk kembali padanya dan kembali ke London.            Jodie merasa kepalanya berat.  Rasanya ada berkarung karung beras di panggulnya. Membuat dada dan punggungnya terasa sakit. Hampir tak ada waktu baginya untuk besosialisasi dengan teman temannya semasa sekolah menegah dulu di Jakarta. Sebagian besar waktunya adalah untuk kerja, dan sibuk bebenah diri.

            “Jod,…” teguran Melia mengejutkannya. Di sekanya mata yang terasa panas sambil berharap agar Melia tidak melihat matanya yang mulai berkabut. Tapi semakin di tahannya, beban itu semakin menghimpit dan menyesakkan.            Melia mengulurkan tangan menyentuh punggung tangan Jodie yang erat menggenggam stir mobil. Jodie merasa seperti disiram air yang menyejukkan, hal yang tidak pernah dirasakannya selama kehidupannya bersama George.

            Cowok itu balas menggenggam tangan Melia lembut, dan perlahan menarik Melia dalam dekapannya. Ia menunduk dan mengecup kening gadis itu pelan.            Melia merebahkan kepalanya dalam rengkuhan tangan tangan Jodie yang kokoh. Ia sendiri tak mengerti apa yang terjadi, ia Cuma tahu bahwa perlakuan Jodie menghadirkan perasaan aman dan terlindungi. Ia tidak perduli masa lalu yang disembunyikan Jodie.Ia tidak perduli.

            “Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, …tapi kalau kamu mengizinkan, aku pasti akan terus mendukungmu.”            Jodie membelai rambut Meli,”Apa pernah ada yang memberitahukanmu soal masa laluku…?”

            Melia menggeleng, “Pak Baskoro pernah bercerita tentang kamu  kepadaku suatu saat, tapi tidak ada yang aneh dalam ceritanya. Cuma….”            “Cuma…?”

            Melia beranjak dari rangkulan Jodie ke posisi semula. Ditatapnya mata Jodie dengan hati hati.

            “Ada rumor yang saya dengar dari orang kantor bahwa….”

——–….sambungannya…ada deh….………