“Memang kenapa sih Bu? “

“Pokoknya kamu nggak boleh main lagi ke rumah Ricky. Ibu Nggak suka! Titik!”

“Iyaa tapi kenapa? Ricky kan baik. Dia selalu mau jagain aku, setiap hari!”

Meira menatap anaknya dengan tatapan marah. Luna ,yang diajak bicara malah melengos dan berjalan menjauh. Meira berdiri dan mengejarnya.

“Hei! Ibu belum selesai!” teriak Meira gemas.

“Pokoknya Ricky baik! Ibu nggak tau sih!” Luna berhenti dan memandang ibunya marah.

 Ia duduk dengan kesal.Kenapa Ibu nggak ngerti sih. Ricky itu cowok yang paling baik yang dikenalnya. Dewasa dan pengertian. Setiap sore ia selalu siap di halaman menunggu Ricky pulang kuliah. Lalu cowok ganteng itu akan menyapanya dengan sayang, dengan gemas dan dengan matanya yang bagus itu. Ketika malam datang, ia sering memimpikan cowok tetangga sebelah itu.

“Bu, tau nggak sih. Ricky itu selalu bilang aku cantik! “

Luna menerawang…karena itulah ia sekarang rajin bersolek.

Ketika Luna kembali berdiri dan siap siap untuk pergi,Meira menangkap lengan putrinya lalu menariknya ke kursi. Di dudukkannya gadis cilik itu. Luna menjulurkan kakinya dengan sebal dan membiarkan Ibunya memasang kaus kaki pink itu.

“Kamu itu baru kelas satu sekolah dasar! Seharusnya juga memanggil Ricky itu dengan Oom! Oom Ricky mau ujian skripsi, kamu jangan ganggu dia terus!”

Luna menghentakkan kakinya kesal.

“Dan satu lagi,jangan suka pakai Lipstick Mama! Kamu masih kecil!” (216 words)