Suara Pensil Marina

TAUSYIAHJuly 27, 2007 3:10 am

 

Oleh: CASNADI

 

Waaah, disini masih banyak burung ya ki………..” Kata Mauala, yang tengah duduk beristirahat digubuk ditengah ladang.

 

“Ya Nak, sengaja aki membiarkan pepohonan itu, agar populasi hewan disini, terutama burung-burung itu, tetap lestari………” Kata Ki Bijak.

 

“Iya ki, ditempat-tempat lain, sekarang sudah jarang dijumpai burung-burung bebas beterbangan seperti disini……….” Kata Maula.

 

“Kadang Aki malu pada burung-burung itu Nak Mas……………….” Kata Ki Bijak.

 

Malu pada burung ki…..?” Tanya Maula keheranan.

 

“Iya Nak, coba Nak Mas pikirkan, burung-burung itu sama sekali tidak punya cadangan makanan disarangnya, kemudian burung-burung itu juga tidak punya pekerjaan tetap, burung-burung itu tidak punya kantor, tidak punya saham apalagi memiliki perusahaaan………..” Kata Ki Bijak.

 

“Lalu ki……………..?” Tanya Maula penasaran.

 

“Dengan kondisi yang serba tidak punya itu, burung-burung tidak pernah merasa khawatir bagaimana mereka makan, bagaimana mereka bisa menghidupi anak-anaknya, tidak pernah resah esok makan apa, mereka menjalani kehidupannya dengan penuh keyakinan bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kepada setiap mahluk-Nya……….” Kata Ki Bijak.

 

“Burung tidak pernah resah hingga tidak bisa tidur misalnya, burung tidak pernah panik karena tak punya tabungan misalnya, mereka, dengan berbekal keyakinan kepada Allah, terbang dari sarangnya setiap pagi untuk mengais rezeki yang telah dipersiapkan Allah untuk mereka, dan seperti Nak Mas lihat, burung-burung itu, mereka sehat dan tidak kekurangan apapun…………..” Kata Ki Bijak.

 

Maula mulai tertarik untuk mengamati burung-burung yang datang dan pergi, hinggap dipucuk pepohonan, mereka nampak cantik dan anggun, bertengger sambil berkicau riang……

 

“Coba Nak Mas bandingkan dengan kehidupan kita, kita punya pekerjaan tetap, kita mempunyai penghasilan tetap, dirumahpun kita memiliki persediaan makanan minimal untuk satu minggu kedepan, tabungan pun kita masih memilikinya, bahkan banyak diantara kita yang memiliki saham dan perusahaan sendiri, tapi tengok kehidupan kita, hampir setiap hari kita dihinggapi perasaan tidak puas dengan pekerjaan dan penghasilan kita, hampir setiap hari kita dijangkiti rasa khawatir kalau persediaan kita habis, hampir setiap hari kita selalu dipusingkan dengan keinginan untuk menambah penghasilan, sehingga ketika pulang sore hari hingga menjelang tidur, mata kita sulit terpejam, sehingga ketika pagi tiba, tubuh dan pikiran kita pun lelah tak karuan, uring-uringan dan lain sebagainya, apa yang kurang pada kita……………?” Kata Ki Bijak.

 

Maula tertegun, menyadari kebenaran ucapan gurunya, karena ia pun kerap merakan hal yang sama seperti yang diucapkan gurunya, ia kerap merasa bingung meskipun baru sehari yang lalu gajian, ia pun kerap merasa resah meskipun persediaan makanan masih berkecukupan, ia pun kerap merasa khawatir dengan hari esok yang belum pasti dan masih dalam khayalan………..;

 

“Iya ya ki, Apa yang kurang dari kita ………?” Kata Maula setengah bertanya.

 

“Yang kurang dari kita adalah keimanan dan keyakinan kita terhadap kebenaran janji Allah, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki seluruh mahluk-mahluk-Nya………..” Kata Ki Bijak.

 

“Nak Mas perhatikan firman Allah berikut”  Kata ki Bijak menguti firman Allah dalam surat Huud:6

 

* $tBur `ÏB 7p­/!#yŠ ’Îû ÇÚö‘F{$# žwÎ) ’n?tã «!$# $ygè%ø—Í‘ ÞOn=÷ètƒur $yd§s)tFó¡ãB $ygtãyŠöqtFó¡ãBur 4 @@ä. ’Îû 5=»tGÅ2 &ûüÎ7•B ÇÏÈ   
6.  Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).

 

[709]  yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710]  menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.

 

“Semut yang berada didalam bumi paling bawah, ikan yang berada didasar laut yang paling dalam, beruang yang berada dikutub, kuman yang terkecil sekalipun, gajah dilebatnya hutan sekalipun, dan apalagi kita manusia, tidak ada satupun yang luput dari Allah, dan pasti mereka mendapatkan jatah rezeki dari Allah……..”Kata Ki Bijak.

 

“Apa yang harus kita lakukan agar kita bisa seperti burung-burung yang senantiasa riang, tanpa terlalu dipusingkan oleh urusan dunia yang berlebihan, ki………..’Tanya Maula.

 

“Berlakulah seperti burung-burung itu Nak Mas, yang pertama yang harus kita miliki adalah pondasi keimanan yang benar, bahwa Allah-lah yang menjamin rezeki kita, bukan atasan, bukan pula perusahaan, untuk itu jika kita berkerja, bekerja-lah untuk Allah saja, bukan semata demi gaji, bukan semata karena ingin dipuji, lillahita’ala, insya Allah,kita akan lebih rileks dan ringan menjalani kehidupan kita……….” Kata Ki Bijak

 

“Yang kedua,”terbanglah” setiap hari untuk menjemput rezeki kita, jangan malas, jangan bermimpin bahwa rezeki datang dari langit, sementara kita hanya berpangku tangan, karena kita masih berada dialam ihtiar, maka sempurnakan ihtiar kita, kemudian serahkan hasil ihtiar kita sepenuhnya kepada Allah …..”Kata Ki Bijak

 

“Yang ketiga, perkayalah diri kita dengan sikap qana’ah, rasa kecukupan, terlepas dari berapa pun yang kita dapatkan dari ihtiar kita, insya Allah, kita tidak lagi akan menanggung beban yang terlalu berat akibat keinginan kita untuk mendapatkan hasil yang berlebihan……….” Kata Ki Bijak lagi.

 

“dan jangan lupa, pandai-pandailah bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita, jangan menggerutu, jangan mengeluh, karena sesungguhnya Allah telah memberi kita jauh lebih banyak dari apa yang kita minta……..” Kata Ki Bijak.

 

“Lebih banyak ki…..?Tanya Maula.

 

“Ya, pemberian Allah kepada kita jauh melebihi apa yang kita minta,kesehatan yang hampir tak pernah kita minta, Allah telah memberinya, kelengkapan jasmani kita, tangan kita, mata kita, kaki kita dan lainnya, adalah pemberian Allah yang kita tidak pernah memintanya, tapi Allah telah memberikan semua itu sebagai modal kita untuk mengabdi kepada-Nya…….”Kata Ki Bijak.

 

“Allah-pun telah memuliakan kita melebihi kemulian yang diberikan Allah kepada mahluk-Nya yang lain, akal kita, iman dan islam kita, yang Allah tekah karuniakan kepada kita, jauh lebih banyak dan lebih besar dari sekedar permintaan kita untuk naik gaji, naik pangkat, minta jabatan dan lainnya……..”Kata Ki Bijak.

 

Tak terasa, air bening mengalir kepipi Maula, matanya memerah, nafasnya sedikit tersengal, Ki Bijak membiarkan muridnya untuk menumpahkan segenap rasa yang bergejolak didada Maula.

 

“Astaghfirullaaah…, astaghfirullah……..” rintih pelan terdengar dari mulut Maula.

 

Ki Bijak maklum dengan perasaan muridnya yang memang sensitif ketika mendengarkan wejangan-wejangannya,

 

 “Masih ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri jika selama ini kita masih banyak mengeluh, jika selama ini kita selalu saja menggerutu dan khawatir dan tidak yakin dengan janji Allah, bersegerlah bertobat, mumpung kita masih diberi waktu……….” Kata Ki Bijak.

 

Tak terdengar jawaban apapun dari Maula, hanya isaknya terdengar lebih menyesakan, air matanya berlinang, bersyukur bahwa Allah mengingatkannya melalui lisan Ki Bijak Gurunya.

 

Wassalam

 

Juli 26, 2007
TAUSYIAH 2:51 am

Oleh: CASNADI

Dalam sebuah acara pengajian di Masjid Mifthahusallam Cikampek beberapa waktu lalu, Pak Kyai membuka Tausiahnya dengan kata pembuka yang “tidak lazim” dan tidak seperti biasanya;
“Kepada para calon ahli kubur yang dimuliakan Allah……………………………dst” Demikian kata pembuka dari Pak Kyai.
Sambutan dan kata pembuka dengan kata ganti “ahli kubur” adalah mungkin pertama kali didengar oleh jama’ah yang hadir, sehingga mereka tampak sedikit “heran”
“Bapak, ibu ridha saya panggil calon ahli kubur?” Sambung Pak Kyai sepert mengerti keheranan dilubuk hati kami.
“Ridha…………….” Jawaban sebagian jama’ah, sementara sebagian yang lain masih tampak kebingungan.
“Bapak, ibu dan hadirin sekalian, sengaja saya membuka Tausiyah ini dengan menyapa hadirin dengan sebutan calon ahli kubur, karena sekarang ini sudah banyak diantara kita yang lupa akan kematian, sudah banyak diantara kita yang lupa bahwa suatu saat nanti, pasti ia akan menjadi mayat dan menghuni kubur…………………..” Jelas Pak Kyai selanjutnya.
Jama’ah yang hadir nampak mulai menemukan titik terang arah pembicaraan Pak Kyai, yakni untuk mengingatkan kepada jama’ah khususnya dan kepada semua manusia, bahwa kehidupan ini ada batasnya, bahwa hidup ini ada akhirnya, bahwa kita semua akan mati!
“Bapak, ibu hadirin sekalian, kenapa kita harus mengingat mati? Pancing Pak Kyai
Tanpa menunggu jawaban dari jama’ah yang hadir, Pak Kyai melanjutkan;
“Banyaknya orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta, hingga kadang lupa waktu, lupa kewajiban terhadap tuhannya, atau bahkan menghalalkan segala cara untuk mengumpulkan dan menumpuk harta kekayaan, salah satu faktornya adalah karena mereka lupa bahwa mereka akan mati”.
Harta kekayaan yang mereka kumpulkan sama sekali tidak akan mampu membebaskan mereka dari sunnatullah kematian, harta kekayaan mereka juga tak mungkin menolak kehadiran sang tamu terakhir yaitu Malaikat Maut.
Harta kekayaan yang mereka banggakan didunia, sama sekali tidak dapat dijadikan teman mereka didalam dekapan tanah kuburan yang dingin dan gelap serta sempit, sama sekali tidak!
“Kemudian kita juga sering menyaksikan dan menjumpai orang yang rela mengorbankan segalanya, termasuk akidah sekalipun untuk memperoleh pangkat dan jabatan, seolah-olah pangkat dan jabatan itu mampu menyelamatkan mereka dari kematian”.
Sekali-kali tidak! Kematian akan datang menjemput siapapun, karena itu merupakan sunnatullah, bahwa setiap yang bernyawa akan mati.
Kita juga sering menyaksikan betapa banyak orang yang berfoya-foya dalam hidupnya, menghabiskan waktu dan jatah umurnya hanya untuk berandai-andai dan panjang angan, betapa banyak orang yang menghabiskan jatah umurnya untuk melakukan berbagai aktivitas yang tidak berguna bahkan menyimpang jauh dari tujuan penciptaan mereka, mereka menghabiskan waktu dimeja judi, mereka menghabiskan waktu ditempat karaoke, mereka menghabiskan waktu untuk bercanda yang tiada guna, mereka menghabiskan waktu dengan mengumbar cerita dusta, seakan-akan mereka akan hidup selamanya, sehingga waktu yang menggeroti jatah hidupnya tak lagi dipedulikan dan diperhatikannya.
Kematian adalah nasehat….ajal yang menjemput seolah berkata-kata kepada kita;
“Kini saatnya engkau meninggalkan jasadmu dan meninggalkan semua yang kau cintai didunia ini”
“Tak guna apa yang kau usahakan diduniamu dengan keserakahan, karena pada hari ini, aku, maut menjemputmu tanpa menyertakan apapun yang kau miliki”
“Tak guna hartamu yang bertumpuk dan berlimpah, karena aku, sang maut tak pernah terhalang oleh tumpukan harta untuk mencabut nyawamu”
“Tak berarti tinggi pangkatmu, karena aku, sang maut tak pernah peduli setinggi apa kedudukanmu didunia”
“Tak mungkin aku, sang maut mengulur waktu barang sedetikpun untuk memberi kesempatan kepadamu untuk bertobat, karena selama ini engkau telah lalai dalam menghabiskan waktumu”
“Tak ada jatah tambahan bagimu, meski engkau menyesal seluas langit dan sepenuh bumi, karena saat ini adalah akhir bagi kehidupanmu”
Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersiap diri dengan bekal perjalanan abadi nanti, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita.
Kematian mengajarkan kepada kita untuk senantiasa menggunakan waktu dengan bijaksana, karena waktu dan jatah hidup kita bukan tanpa batas
Kematian mengajarkan kepada kita bahwa harta, pangkat dan jabatan yang kita sandang didunia menjadi tiada guna.
“Wahai sahabat, mungkin hari ini engkau yang mengantar jenazah saudaramu kesini, kekuburan ini, esok lusa mungkin tiba giliranmu untuk diusung dikeranda dan ditimbun dengan tumpukan tanah, sahabat, sanak keluarga serta semua orang yang mengantarmu, mereka beramai-ramai menimbunmu dengan tanah, menginjak-injak kuburanmu yang basah, dan setelah itu mereka berlalu meninggalkanmu sendirian dalam himpitan liang lahat yang gelap dan menakutkan, tanpa menoleh, tanpa peduli bagaimana kondisimu didalam kubur sana”
Jika engkau termasuk orang yang beriaman dan beramal shaleh, rajin dan baik amalmu selama didunia, maka kuburmu mungkin menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagimu selama menunggu kiamat tiba. Tapi jika engkau termasuk orang-orang dhalim lagi berdosa, maka kuburmu adalah neraka, karena disana engkau akan merasakan kedinginan, kegelapan, dan siksa.Naudzubullah.
“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa tertawa, tapi siapa yang menjamin besok kita bisa melakukannya? Esok lusa, ketika kematian datang, jangankan tertawa, untuk sekedar senyumpun kita tak akan mampu lagi, mulut kita akan tertutup rapat disumpal kapas putih yang akan menemani kita keliang lahat.
“Mulut dan lidah yang kala didunia digunakan untuk menyampai kebenaran dan dakwah, akan dibalasi Allah dengan rahmat-Nya, sementara mulut dan lidah yang kala didunia lebih banyak digunakan untuk ghibah dan fitnah, akan diberi minum dari cairan panas yang mendidih, yang akan menghancurkan rongga mulut dan lidah kita, Naudzubullah”
“Wahai sahabat, hari ini mungkin mata kita masih melihat matahari, tapi siapa yang tahu esok atau lusa, ketika kematian datang, mata kita akan terpejam rapat tanpa bisa berkedip sekalipun”
“Mata yang ketika didunia senantiasa menangis menyesali dosa dan bertaubat, mata yang ketika didunia digunakan untuk berjaga dalam jihad dijalan Allah, mata yang kala didunia terjaga dari pandangan nakal dan syahwat, adalah mata yang tidak akan menangis diakhirat kelak karena rahmat Allah, sementara mata yang liar tak terkendali dari hal-hal yang diharamkan Allah, mata yang tak pernah menangis menyesali dosa kala didunia,mata yang begadang karena hal yang tiada guna, akan menangis tersedu sedan menahan sakitnya siksa neraka, Naudzubillah”
“Wahai sahabat, hari ini mungkin kita masih bisa melangkahkan kaki dan mengerakan tangan kita, tapi esok atau lusa, ketika kematian menjelang, tangan dan kaki kita terbujur kaku tanpa daya”
“Tangan yang senatiasa bersedekah, tangan yang senantiasa tengadah berdo’a dan mohon ampun kepada Allah, tangan yang ringan untuk menolong sesama, tangan yang senatiasa terjaga dari berbuat kerusakan, tangan ini akan mendapat rahmat Allah Swt, sementara tangan yang selalu berbuat kerusakan, selalu bersembunyi dibalik punggung karena kekikiran, tangan yang tak pernah terulur untuk membantu sesamanya, adalah tangan yang akan mendapat azab dari Allah Swt, Naudzubilla”
“Kaki yang senantiasa ringan melangkah kemasjid, kaki yang senantiasa riang menuju majlis ilmu, kaki yang senantiasa berdiri kokoh untuk shalat, adalah kaki yang dirahmati, sementara kaki yang melangkah pasti ketempat maksiat, kaki yang malas melangkah kemasjid dan masjlis ilmu, kaki yang gontai kala shalat karena malas, adalah kaki-kaki yang dilaknati, Naudzubullah.
Maka dari itu, ingatlah akan kedatangan kematianmu yang pasti terjadi, agar engkau tidak lalai dalam menggunakan waktumu, agar engkau tidak silau dengan gemerlap duniamu, agar engkau sadar, bahwa kematian adalah sebuah kepastian.
Kematian, bagi orang beriman dan beramal shaleh adalah sebuah gerbang menuju perjumpaan dengan sang Pencipta.
Kematian, bagi orang yang kafir lagi durjana, adalah gerbang yang akan menggiring mereka kedalam tungku neraka.
Maka dari itu, mari kita segera bersujud mengumpulkan bekal terbaik kita untuk perjalanan panjang nanti, dan bekal itu bisa berupa harta yang dinafkahkan dijalan Allah dengan Ikhlas, Ilmu yang diamalkan, bisa pangkat dan jabatan yang digunakan untuk menegakan agama Allah, jihad fi amwalikum wan anfusikum, agar kelak menjelang kepulangan kita kekampung abadi, buah amal harta kita, buah amal ilmu kita, buah amal pangkat dan jabatan kita, buah amal jihad kita, dapat menjadi bekal yang akan menemani perjalanan panjang nanti.
Wassalam
April 11, 2007
General, CERPENJuly 25, 2007 9:01 am


“Mbak kenalin, ini Mutia …Mutia ini Mbak Rieka…”

            Aku mendongak dari kertas kerjaku mendapati  Ben adikku dan seorang gadis di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya kepadaku.

            “Hai,…aku Rieka, mudah mudahan Ben cerita yang baik baik saja tentang aku..”selorohku sambil mataku menyisir gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.

            “Ben cerita tentang Mbak baik semua kok Mbak..” gadis itu menuai senyum.

            Ben mengajak Mutia ke ruang keluarga meninggalkan kamar kerjaku setelah sedikit berbasa basi aku meneriakkan Surti menghidangkan minuman.

            Melihat mereka keluar aku tersandar di kursi kerjaku. Tulisan yang sejak sejam lalu berusaha kurampungkan terabaikan.

            Kuperhatikan punggung mereka berdekatan di depan TV di ruang keluarga. Kulit Ben yang putih bersih begitu kontras dengan Mutia, gadis itu. Menurut ku seperti iklan Benetton.

            Aku berpikir apakah Ben sedang mabuk atau kena trauma di suatu tempat, sehingga belakangan ini ceritanya padaku melulu soal Mutia yang ditemuinya di kampus. Dalam bayanganku selama ini, gadis bernama Mutia itu..pastinya cantik, berkulit putih bersih, berambut lurus berkilau seperti iklan shampoo. Minimal tidak kurang cantik dengan mantan mantan Ben yang dulu ; Shirley yang wajahnya kerap muncul di cover majalah ,Mitha pramugari sebuah Maskapai nomor satu di Indonesia, Clara dan Susan, dua nama terakhir itu teman sekampusnya. Aku pernah sampai pusing menerima puluhan sms dari gadis gadis itu ,meratapi hubungannya dengan Ben yang kandas satu persatu.

            Ben adikku memang berbeda. Wajahnya mewarisi wajah Papa. Hidungnya bangir, kulitnya bersih dengan garis laki laki yang membuatnya terlihat begitu jantan. Dia seperti pangeran pangeran tampan di komik komik jepang. Tubuhnya begitu atletis padahal ia tidak begitu rajin meluangkan waktunya untuk kebugaran. Berjalan dengan Ben di pertokoan terkadang membuatku risih juga, karena pastinya beberapa pasang mata akan menoleh kesekian kalinya pada Ben, bahkan para pencari bakat yang gemar duduk duduk di Mall untuk mencari bintang bintang baru kerap menyambangi kami. Ben Cuma tertawa dan bilang tidak.

            Kini Ben kembali memperkenalkan seorang gadis yang dicintainya padaku. Apa yang kubayangkan tentang seorang Mutia buyar sudah. Yang dibawa Ben ke hadapanku bukan seorang gadis cantik berparas bak manekin di toko baju, tapi seorang gadis biasa. Sangat sangat biasa. Tidak semampai, rambutnya tidak terurai lurus berkilau tapi ikal dan tambah aneh dengan diikat bergelung, dan berkulit hitam.

            “Mbak, kita mau pesan Pizza, Mbak mau apa?” tiba tiba Ben sudah di hadapanku lagi, berdiri dengan tubuhnya yang menjulang atletis. Adikku yang ganteng ini.

            “Mbak…Mbak nggak kenapa kenapa kan?”

            Aku berdehem mengusir halusinasiku barusan. Walaupun itu nyata bukan ilusi belaka.

            “Ben, itu…Mutia yang itu ..kan?”

            Alis mata Ben bertaut, kelihatan sekali ia bingung. Ia melirik ke arah ruang TV dimana Mutia-nya masih duduk manis di situ.

            “Ya…iya…yang belakangan ini aku cerita ke Mbak…pacarku….kenapa sih..?”

            “Ooh…ya nggak apa apa…”kataku sambil memusatkan pandangan ke laptop.

            “Mbak pesenin salad saja,Ben…”

            Ben berlalu lagi dari hadapanku. Aku menatap punggungnya gamang.

————–ooOOoo———————

            Memangnya waktu itu kenapa putus dengan Ben?

            Aku menekan tombol send pada ponselku. Dan gambar amplop terbang muncul di layar. Baru saja aku membalas  sms dari Susan, pacar terakhir Ben sebelum Mutia. Susan masih uring uringan dan belakangan sering berbasa basi menelponku atau kirim sms sekedar ingin tau perkembangan mantan pacarnya, adikku. Aku selalu meladeni teman teman Ben dengan sabar, karena menurutku sebagai kakak aku harus bisa masuk ke  ke hidupan adikku, aku harus bisa menjadi teman bagi Ben, menjadi kakak dan bahkan menjadi ibu. Karena kami Cuma tinggal berdua semenjak Papa dan  mama meninggal tiga tahun lalu.

            Ponsel ku mengeluarkan bunyi Bip Bip dua kali.

            Ben naksir anak fakultas lain,semenjak kenal itu cewek sifatnya berubah drastic padaku,Mbak. Namanya Mutia. Sudah dikenalin,Mbak?

            Hee…?? Ben bisa berpaling dari Susan yang wajahnya lebih cantik dari model iklan sabun di TV ..karena Mutia?

            Aku meletakkan ponselku di sisi laptop. Menerawang  ke luar jendela kantorku yang berada di lantai dua puluh.

            Ada apa dengan adikku. Kenapa seleranya jadi drop begitu. Kalau dia akan bilang karena cinta aku akan berpaling muka menyembunyikan senyum sinisku. Aku tak percaya  cinta bisa membuat  buta mata.

            Belum lagi, Ben harus berhadapan dengan keluarga besar kami. Aku tak mau membayangkan apa yang ada dalam kepala mereka jika suatu saat Ben ternyata serius dan memperkenalkan Mutia.

            Sepertinya aku harus bicara dengan Ben. Mungkin Ben bisa memberikan alasan yang bisa membuatku mengerti tentang pilihannya.

            “Ben,temenin Mbak ngopi yuk…”sapaku lewat ponsel.

            Kami bertemu setengah jam kemudian di coffee shops lantai dasar kantorku.

            “Ben, Mbak mau Tanya….kamu tuh beneran sama Mutia..?” aku mengaduk  cappuccino ku tanpa memandang wajah adikku.

            “Bener Mbak….nggak ada yang salah kan sama dia..?”

            “Memang nggak ada yang salah sih Ben,..Cuma kok yang ini beda sekali sama pacar pacar kamu dulu….”

            “Bedanya..?”

            Aku meneguk minumanku. Apa yang ada dalam pikiran Ben saat ini. Dia bertanya bedanya padaku..??

            “Hm…yaa secara..secara…penampilan begitu…”

            “Fisik?”

            “Yaa begitulah, tumben banget kamu pilih yang tipe ini….sampai bisa bikin kamu mutusin Susan?”

            Ben terkekeh pelan. Wajah tampannya terlihat memerah sedikit. Tepatnya merona merah. Rasanya dulu waktu pun ia pacaran dengan si model Shirley dia tidak pernah merona rona merah seperti ini, persis ABG yang baru merasakan jatuh cinta.

            “Susan nggak ada apa apanya dengan Mutia Mbak….dan yang minta putus itu Susan…bukan aku”

            Aku hampir tersedak waktu Ben bilang Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia,sembari kuingat ingat apakah sebetulnya Ben mengatakan sebaliknya cuma aku salah dengar? Harusnya Mutia yang nggak ada apa apanya dibanding Suzan?

            “Dalam hal apa Susan nggak ada apa apanya dibanding Mutia?”

            Ben memandangku, rona merahnya sudah hilang. Kali ini yang menatapku adalah mata serius nya.

            “Aku nggak bisa mendefinisikannya Mbak…semuanya dari hati sih….Pokoknya Mutia the best buat aku..susah ya dijelasin,Mbak..”

            Dan sore itu berlalu tidak seperti yang kuharapkan. Tetap saja aku tidak mendapatkan jawaban yang logis. Kalau atas nama cinta aku tidak bisa menerima dalam pikiran sehatku.

            Semenjak sore itu, Ben makin sering membawa Mutia ke rumah, dan semakin dalam ketidakpercayaanku akan apa yang di lihat Ben dari Mutia. Gadis itu pendiam pula, dengannya lebih banyak aku yang bertanya dan bicara. Dan dia hanya menjawab apa yang kutanyakan selebihnya hanya senyumnya mengembang.

            Gadis itu pencinta alam, dia sudah mendaki Everest bersama tim pendaki kampusnya. Terlihat sih di tangan tangannya yang berurat. Dan kalau sedang digenggam oleh tangan Ben aku lebih baik tidak melihatnya. Terlalu kontras. Kadang terpikir untuk memberikan ide perawatan kulit buat Mutia pada Ben, misalnya ikut therapy memutihkan kulit, menghaluskan dan sebagainya. Tapi selalu urung kulontarkan.

            Mutia terlihat sangat mencintai Ben. Pasti lah. Ben ganteng dan walaupun  kami yatim piatu kami masih bisa hidup serba berkecukupan dengan peninggalan orang tua kami. Kami tak kurang suatu apapun.

            Gadis itu terkadang datang sendiri, dan tidak selalu pada saat Ben ada di rumah. Misalnya sehabis mengajar anak anak jalanan di rumah singgah dia suka mampir ke rumah.

            Seperti hari ini ketika aku sudah dua hari tidak bisa masuk kantor karena vertigo ku kumat. Maklum, bekerja kadang tak kenal waktu dan tidak cukup memanjakan tubuh dengan istrirahat.

            Mutia datang dengan menenteng satu kotak donut. Pandanganku masih berputar putar ketika gadis itu menghampiriku di kamar.

            “Mbak, makan yuk….” Katanya sambil menyentuh lenganku dengan telapak tangannya yang mungkin tidak pernah tersentuh hand body lotion.

            Aku menggeleng,sejak tadi aku sibuk mencari posisi berbaring yang enak supaya mual dan peningku tidak menjadi jadi, “Nggak Mut….belom bisa makan…kamu dari mana?”

            “Dari habis ngajar ,Mbak…Mbak ada obat yang harus diminum nggak, biar ku ambilkan?”

            Aku menggeleng, dalam keadaan mata tertutup pun semua yg kurasakan  berputar hebat.Isi perutku bergejolak ingin keluar.

            “Mut…mbak mau…”

            Hoeekkk !! Aku terlonjak kearah Mutia dan keluarlah isi perutku. Aku bisa melihat muntahku membasahi baju dan roknya.

            Mutia membantuku duduk dan mengurut leherku lembut,”Keluarkan semuanya mbak, muntahkan saja, supaya lega…muntahakan saja Mbak!”

            Aku masih muntah beberapa kali. Mutia menggapai minyak angin dan menggosokkannya ke leher dan kepalaku. Tubuhnya basah sudah. Oleh mutahku. Yang aku sendiri jijik, tapi ekspresi wajah gadis itu biasa saja. Tidak sedikitpun tersirat rasa jijik atau geli. Dengan sigapnya ia menggantikan bajuku dan mengelap bekas bekas muntahku dibantu Surti yang baru datang beberapa menit terakhir.

            Aku merasakan kelegaan di kepala dan perutku.

            “Mut..maaf kamu jadi kotor begitu…ambil saja baju Mbak..pakai dulu Mut…” ujarku.

            Mutia masuk ke kamar mandi yang letaknya di dalam kamarku dan keluar dengan mengenakan baju rumah milikku. Wajah dan tubuhnya sudah bersih, dan dia kembali duduk di sisiku.

            “Mut maaf ya jadi ngerepotin kamu…”aku merasa betul betul sungkan. Kalau aku jadi dia mungkin aku sudah ikut muntah muntah di tempat karena jijiknya.

            “Ah Mbaak nggak apa apa kok…namanya juga sedang sakit. Mbak mesti isi perut tuh kan sudah keluar semua isinya…”

            Aku menemukan sorot mata  yang lembut di balik poninya yang tidak menarik itu, begitu lembut dan bening. Begitu tulus.

            Ketika sore Ben pulang dari kampus dan bingung mendapatiku dan Mutia mengobrol akrab di kamarku dan Mutia dengan mengenakan bajuku.

            Ada binar binar di mata adikku itu. Entah haru entah apapun. Dan rona merah itu menyemburat lagi.

            Dan ketika Ben pamit untuk mengantar Mutia pulang aku mengiyakan dengan tulus. Kali ini betul betul tulus tanpa ada banyak pertanyaan di pikiranku. Aku merangkul Mutia. Entah kenapa aku ingin melakukan itu. Aku bisa merasakan aroma shampo samar samar dari rambutnya, yang kutahu pasti bukan shampoo mahal seperti yang kupakai.

            Sekali lagi kuucapkan terimakasih yang tulus padanya. Mutia hanya tersenyum saja. Dan aku baru menyadari juga kalau senyum nya itu begitu biasa tapi penuh keihlasan.

            ————————oooOOooo—————-

            Malamnya Ben pulang dari mengantar Mutia dan langsung kupanggil masuk ke kamarku.

            “Ben…antar Mutia sampai rumah kan?”

            Ben mengangguk,”Kenapa Mbak…”

            “Mutia cerita nggak kejadian siang ini…”

            Ben adikku memandangku  dengan wajah bingung,”Cuma bilang Mbak pusing pusing dan muntah aja…”

            Hmm…gadis itu bahkan tidak menceritakan betapa menjijikkannya mendapat hadiah muntahanku ke seluruh baju dan roknya.

            “Ben…sekarang Mbak ngerti kenapa kamu mencintai Mutia….dia..memang beda…”

            Adikku duduk di hadapanku dengan kening bertaut,”Mbak, sebetulnya Mutia belum bilang menerimaku…dia Cuma bilang jalanin aja dulu yang bisa kita jalani…nggak perlu mengumbar kata kata cinta atau apalah…”

            Wow…!

            Mungkin buat seorang gadis biasa seperti Mutia, kata kata cinta itu tidak perlu. Sementara perempuan lain di sekitar Ben sangat ingin mendengar kata itu keluar dari mulut Ben dan akan segera menganggukkan kepala.

            Mungkin kata kata cinta justru membuat gadis itu jengah?

            Sekarang aku mengerti apa yang ada dalam kepala adik laki lakiku. Dan memang ternyata Shirley atau Susan atau siapaun tidak ada apa apanya dibanding Mutia.

            “Kamu jaga saja hubungan kamu Ben,…dia gadis yang baik..Kakak mengakui deh…” ujarku pelan,”soal fisik…hmm kulitnya itu…mungkin …bisa pakai braso atau apa gitu…supaya lebih cemerlang….buktinya..pajangan Mama yang menghitam saja bisa  lebih bersih pakai braso…”

            Ben memapahku ke tempat tidur seolah aku sedang sakit parah,”Mbak perlu istirahat banyak nih mbak…” ujarnya.

—————-ooOOoo————————–

                                                                                                                                                    24-07-2007

           

           

           

eXTReMe Tracker