Suara Pensil Marina

KIDSJanuary 20, 2007 2:12 pm

        Kiky termasuk anak yang berprestasi di sekolahnya. Tidak pernah ia turun dari ranking dua di kelas. Kalau tidak ranking satu ya ranking dua. Semua mata pelajaran dapat diserapnya dengan baik dan cepat. Bahkan pembagian rapor kemarin dia menjadi juara umum. Bunda dan Abi nya sangat bangga pada Kiky. Begitu juga Daffa, abangnya yang sekarang duduk di kelas 5 .

“Wah Kiky hebat bener ya,…juara umum…Abang aja nggak pernah tuh ..paling tinggi juara 5 di kelas…” ujar Abang Daffa kagum.

Kiky tertawa tawa. “Abi….mana, katanya mau belikan Kiky Play Station seperti punya Dika? Kan Kiky rapornya bagus!” rajuknya pada sang Abi yang masih tersenyum senyum melihat rapor Kiky.

“Iya nanti Abi belikan, tapi tidak sekarang sekarang ini yaa, sebab uang Abi belum cukup untuk membelinya. Sabar ya Ky.” Ujar Abi.

Kiky mengangguk setuju sambil membayangkan mainan yang dijanjikan Abi itu. Ia begitu menyukai permainan itu. Selama ini sering main di rumah Dika, tetangga sebelah. Dan seringkali Kiky bertanya tanya Kapan yaa aku punya…

      Sebulan yang lalu Abi menepati janjinya. Sepulang dari bekerja, Abi membawa sebuah Dus berukuran lumayan besar. Kiky bersorak sorak kegirangan ketika membukanya ketika dilihatnya Dus itu adalah sebuah Play Sation, beserta beberpa CD permainannya.

Mulai hari itu Kiky mulai keranjingan bermain PS. Sepulang sekolah , sepatu hanya dilempar sembarangan di rak sepatu , buka baju sambil berlari lalu duduk di depan TV di ruang tamu. Terkadang ia mengundang Dika untuk ikutan bermain. Suara teriakannya setiap kali gemas, menang atau kalah kadang terdengar ke seluruh rumah. Hari pertama , kedua,ke tiga, ke empat…Bunda masih mentolelir keasyikan Kiky bermain. Tetapi setelah berhari hari, Bunda dan Daffa mulai menegur Kiky karena mulai mengabaikan belajar. Pekerjaan rumahnya banyak terlantar. Kadang dikerjakan secara terburu buru untuk kemudian main PS lagi.

“Kiky, …coba lihat PR mu banyak yang salah!” Tegur Bunda. Bunda memang rajin setiap hari memeriksa pekerjaan rumah Kiky dan Daffa. “Masa sih Bund?” Kiky balik bertanya sambil matanya tetap di TV dan tangannya sibuk memencet mencet stick PS .

“Kiky…..berhenti dulu mainnya. Ayo betulkan dulu PR nya…” ujar Bunda lagi.

“Tapi Bunda, ini tanggu tuh tinggal satu putaran lagi finish..”

“Kiky…” Bunda berdiri tetap di samping Kiky. Mata menyorot tajam pada anaknya.

“Ya deh Bun…..” rungut Kiky sebal. Huuuh…..Bunda nggak bias lihat orang seneng dech! Kiky mengeluh dalam hati. Makin hari Kiky makin malas belajar. Setiap kali ditegur dia dengan yakinnya selalu bilang

“Tenang aja Bunda,….tetep juara deeeh!!” Bunda dan Abi percaya Kiky tetap bagus dalam pelajaran, tetapi sepintar pintarnya anak kalau tidak pernah berlatih dan belajar tidak ada gunanya. Tidak akan maksimal hasilnya. Tapi Kiky tidak bisa diberitahu. Sampai sampai Abi mulai marah ketika dilihatnya Kiky belum belajar untuk ulangan besok.

“Kiky, tutup PS nya, kamu harus ulangan besok. “

“Tadi siang sudah belajar kan Abi,…lagian Abi tenang aja deh…” Abi mulai tidak sabar, “Kiky,…kamu tidak boleh takabur. Iya betul Kiky pintar, juara kelas bahkan juara umum. Tapi dulu Kiky mendapatkan itu dengan tekun belajar dan tidak main main…..Abi belikan mainan itu untuk kamu untuk mengisi waktu senggang…”

“Iya Ki, ada saatnya main ada saatnya belajar!” sambung Daffa. Kiky menutup PS-nya kecut dan mulai membuka buku untuk ulangan besok. Tetapi konsentrasinya benar benar terpecah. Sebentar melihat buku , sementara pikirannya mengembara ke game yang tadi sedang asyik dimainkannya… Wah, padahal aku tinggal 1 putaran lagi tuh, udah di urutan dua…huhh kalau tidak diputus aku sudah di urutan satu tuh waktu finish….Mobilnya kan sudah kupilih yang keren….

________________________________________________

                              Besoknya Kiky bingung . Soal soal di hadapannya hanya sedikit yang bisa dikerjakannya. Apa yang berusaha dipelajarinya semalam hilang semua.

“Sst Ki,..nomor tiga doong…” Hari teman sebangkunya berbisik. Kiky menggelengkan kepala, sambil mencoba mengingat ingat yang semalam dibacanya.

“Sambong kamu ,Ki!”Sembur ketika mereka selesai ulangan.

“Aku bukannya sombong Hari, tapi aku tadi memang tidak bisa mengerjakannya!” Hari mencibir, ia tidak percaya Kiky tidak bisa mengerjakan soal soal tadi. “Semalam aku tidak konsentrasi belajar, kemarin kemarin juga begitu…jadinya banyak yang aku tidak bisa…”Kiky bergumam, sekaligus menjawab pertanyaan Hari.

Ah aku kan baru baru ini saja nggak bisanya, sebelumnya kan bagus bagus….hmm…Kiky kembali terbayang serunya game balap mobil di PS nya. Bunda dan Abi berembuk. Setiap kali Kiky dilarang sekarang ia malahan ngambek dan cemberut , kalau sudah begitu konsentrasi belajarnya juga terganggu. Pernah suatu kali kabel kabel Play Stationnya di cabut oleh Abi, karena gemasnya. Kiky menangis dan berguling guling di lantai. Bujukan Daffa juga tidak mempan. Kiky tetap menangis dan menghentak hentakkan kakinya kesal.

“Bagaimana nih Bi…..Kiky sudah keranjingan main, tetapi tetap takabur dengan kemampuannya…” Abi mengangguk anggukan kepala sambil berpikir. Sementara Bunda menunggu Abi bicara.

————————————–

                            Kiky heran bukan main, semenjak adegan guling guling gara gara kabel PS-nya di cabut Abi, kedua orang tuanya sekarang seperti membebaskannya. Berarti aksi ngambeknya ampuh. Sakti mandraguna donk! Kiky makin asyik main, sering lupa waktu dan lupa belajar. Namun begitu ,kelihatannya Bunda dan Abi tenang tenang saja. Malahan Daffa yang keheranan. Sementara Ulangan akhir semester semakin dekat. Kiky sangat yakin akan kemampuannya. Toh sesekali dia baca baca buku juga. Daffa kelihatan sangat tekun menjelang ulangan akhir. Ia tidak mau mengecewakan Bunda dan Abi. Bagaimanapun otaknya tidak seencer Kiky. Ia perlu belajar super tekun untuk mendapatkan ranking. Itupun tidak pernah masuk tiga besar.

“Bagaimana ulangan akhir kamu Daf?” tanya Bunda pada Bang Daffa yang baru saja pulang sekolah bersama Kiky.

“Alhamdulilah deh Bun,…mudah mudahan hasilnya bagus. Soalnya yang Daffa pelajari banyak yang keluar lho!” Bunda menepuk nepuk bahu Daffa memberi semangat.

“Kiky gimana..?” Kiky mencium tangan Bunda, kemudian melengos pergi dengan wajah kusut. Masih terbayang bagaimana susahnya ujian yang dilaluinya. Entah bagaimana hasilnya nanti. Kiky masuk ke kamarnya dan menelungkup. Otaknya berpikir keras. Minggu depan terima rapor ….hmmm apakah aku tetap berada di puncak? Ia mengacak acak rambutnya kisruh.

“Tumben, nggak negokin PS-nya ki?” Bunda muncul di kamar.

Kiky langsung menyembunyikan kekisruhan di wajahnya.

“Aku capek Bun…” lalu ia menelungkup lagi pula pura tidur. Bunda hanya tersenyum penuh arti.

Hari pembagian rapor telah tiba. Abi memandangi rapor Kiky dan Dafa bergantian.

“Daffa, banyak kemajuan nih, sedikit lagi kamu sudah masuk 3 besar lho…hmm..Abi sama Bunda juga bangga sama kamu…”

Kiky duduk di pojok ruang tamu. Hari ini sedih bukan main. Rapornya tidak seperti yang diharapkan. Ia hanya menempati rangking sepuluh. Oh betapa malunya! Semua teman temannya terheran heran melihat namanya berada di urutan ke sepuluh. Bahkan Hari teman sebangkunya sekarang rangking 4.

 “Kiky…” panggil Bunda.

“Kiky minta maaf Bunda,..Abi….” ujar Kiky berat. Sunggu sulit ya mengakui kesalahan.

“Kenapa minta maaf?” Abi mendekat dan mengelus kepala Kiky yang tertunduk.

 “Iya karena Kiky nggak ranking satu lagi. Karena nilai nilai ulangan Kiky jelek. ..”

 “Hmm….itu semua karena apa ya kira kira ,Ky?” tanya Bunda lembut.

“Kan Bunda sama Abi udah tau jawabannya…” rengek Kiky.

“Makanya Nak,…kita sebagai manusia tidak boleh takabur. Dan Ingat, segala yang berlebihan itu tidak baik. Kiky berlebihan main jadi tidak konsentrasi belajar. Jadinya apa….ulangan nya tidak bisa. …Ya kan?” jelas Abi bijaksana.

“Iya Abi…” “Dan orang Takabur juga tidak disukai Allah. Allah akan marah lho. Sepintar apapun kalau tidak belajar dan berlatih mana bisa mengerjakan soal ujian..?” Bunda menyambung.

Kiky menganggu angguk.

“Jadi? PS nya mau tetap dimainkan setiap hari?”tanya Abi. Menggeleng geleng kan kepalanya yakin.

Sejak itu ia hanya main kalau akhir pekan saja. Ia bersyukur mempunyai orang tua yang bijaksana seperti Abi dan Bunda.

KIDSJanuary 15, 2007 5:04 pm

Nenek Jingga emoticon  adalah tetangga baru yang menempati rumah di depan rumah Asti. Wajahnya sudah sangat keriput, dengan mata yang menyeramkan seperti nenek sihir di film film horor.
            Asti sering bergidik melihatnya. Setiap kali bertemu di depan rumah Asti langsung berlari kencang menghindar.
            “Aku takut Bun!” keluhnya pada Bunda yang menegur sikapnya, “Nenek itu seram  sekali wajahnya..”
            “Bukan seram,Asti..itu karena nenek sudah tua jadi wajahnya berkerut!”kata Bunda.
            Tapi tetap saja Asti takut berdekatan dengan Nenek Jingga. Kadang Nenek Jingga memanggilnya masuk ketika Asti melongok longok dipagar berharap menemukan keanehan dirumah Nenek itu.Ketika Nenek Jingga keluar, Asti lari masuk ke dalam.
            Malamnya ia suka bermimpi Nenek Jingga datang dengan giginya yang runcing dan topi kerucut ala nenek sihir.Asti menjerit terbangun.
            “Kenapa Asti?? Mimpi buruk?” Tanya Ayah yang ikut terkejut.
            “Asti mimpi Nenek Jingga datang Yah…” sungutnya. Bunda dan Ayah tertawa mendengarnya.
            “Ih sudah kelas tiga kok masih penakut. Nenek Jingga kan baik, di sering kirim kue Sus kesukaanmu tuh!”

            Asti bergidik. Di dalam pikirannya sekarang Nenek Jingga sedang membersihkan sapu terbangnya untuk kemudian berkeliling menculik anak anak perempuan seusianya.Hiiiihhh!!

            Pulang sekolah Asti menemukan rumahnya dalam keadaan kosong dan terkunci. Kemana bunda?
            “Cucu,…” sapaan serak itu mengejutkan Asti. Nenek Jingga sudah berdiri di belakangnya, menyeringai dengan mata menyipit.
            “Bundamu tapi titip pesan supaya kamu kerumah Nenek dulu karena Bunda harus ke rumah sakit, Bude mu sakit keras…”Nenek Jingga mengulurkan tangannya mengajak Asti ke rumahnya.
            Duuuh! Bunda kenapa nitipin aku ke Nenek sihir sih!! Gerutunya. Bulu kuduknya berdiri.
            Sementara hari mendung dan sebentar lagi kelihatannya akan turun hujan lebat.
            Asti menurut, mau tidak mau. Ia memberanikan diri mengikuti Nenek Jingga.
            Asti duduk di teras, dan benar saja…hujan mulai turun disertai petir. Asti melongok longokkan kepalanya ke sekitar. Takut menemukan sapu terbang milik Nenek Jingga.
            Plarrr!!! Tiba-tiba suara halilintar terdengar menyambar. Asti menjerit naik ke atas kursi dan berjongkok menekap tubuhnya.
            Nenek Jingga terkekeh melihat kelakuannya. Ia keluar menyuguhkan Kue Sus dan teh hangat.
            “Takut ya…?” katanya masih terkekeh,”Ayo minum teh ini supaya tubuhmu hangat,Cu…dan ini kue sus buatan Nenek, kata Bundamu kamu sangat suka….”
            Asti mendekat perlahan. Perutnya memang sedikit lapar karena belum makan siang.
            “Suara halilintar itu keras sekali…”gumamnya.
            Nenek Jingga terkekeh lagi, kulitnya yang keriput makin terlihat berkerut kerut.
            “Cucu tau apa penyebab Halilintar?”
            Karena sihirmu,…Abrakadabraaaaa!!! Asti masih berkhayal sebelum mengeleng ragu.
            “Halilintar itu adalah percikan listrik.Penyebabnya adalah loncatan listrik yang amat besar dari awan ke awan ,dan juga dari awan ke bumi….”terang Nenek Jingga.
            Asti mendengarkannya seksama.
            “Nanti kalau kamu sudah sekolah menengah kamu akan belajar adanya kutub negatif dan kutub positif. Nah , Halilintar itu terjadi karena perbedaan kutub yang besar antara awan ke awan atau awan ke bumi, karena perbedaan yang terlalu besar itu maka terjadi lah pelepasan listrik dan menimbulkan cahaya raksasa..”
            Asti memandang Nenek Jingga takjub. Ternyata nenek sihir ini sangat pintar. Sedikit demi sedikit Asti berani bertanya pada Nenek Jingga apa yang ingin di ketahuinya.
            “Itu yang dinamakan petir?”
            Nenek mengangguk,”karena petir berbahaya, makan hampir setiap bangunan tinggi punya penangkal petir di atapnya.Bentuknya seperti logam yang di letakkan di atas gedung…”
            Nenek menuangkan teh lagi pada gelas Asti yang tandas.
            Di luar masih terlihat petir menyambar dan hujan yang cukup lebat.
            “Hebat ya yang punya ide membuat penangkal petir itu…” gumam Asti.
            “Iya. Dia adalah seorang ilmuwan bernama Benjamin Franklin….”
            Asti jadi benar benar tertarik dengan cerita Nenek Jingga,”Nenek kok banyak tahu sih….”
            Nenek Jingga terkekeh lagi,” Nenek dulu adalah Guru Sekolah Dasar….dan Nenek senang membaca!”
            Asti tercengang. “Guru?”
            “Iya, tapi Nenek sudah lama pensiun…sekarang Nenek sering mengisi waktu untuk mendongeng dan bercerita tentang Ilmu pengetahuan di sekolah sekolah…” terang Nenek Jingga.
            Perlahan ketakutan Asti berubah menjadi kekaguman.  Di usia Nenek Jingga yang setua ini, beliau masih kuat mengerjakan semua sendiri dan bahkan masih kuat berkeliling sekolah sekolah untuk bercerita.

            Semenjak saat itu Asti jadi sering bertandang ke rumah Nenek Jingga. Ternyata dari Nenek yang dulu ditakutinya ini Asti bisa banyak menimba ilmu.
KIDS 5:02 pm

Hari ini aku kesal pada Rubi. Ia berulangkali marah dan menotok notok kepalaku ke meja. Padahal yang membuatnya marah bukan kesalahanku.
                Rubi kesal karena semenjak setengah jam yang lalu ia hanya bisa mengerjakan dua soal saja dari sepuluh soal Matematika yang diberikan Pak Guru.
                Sementara teman teman yang lain sudah mengerjakan sedikitnya enam soal.
                “Makanya belajar ,Bi!” kataku sebal. Rubi melotot ke arahku dan menggusal gusalkan lagi kepalaku ke meja.
                “Kasar banget sih!” seruku.
                “Rasain!” hardik Rubi.
                “Rubi!!” seru Pak Guru, “Kenapa sejak tadi tidak bisa tenang?”
                Rubi menunduk.
                “Rasain!” balasku. Ribu menyurengkan matanya menatap kepalaku.
                Ia mulai menulis beberapa rumus di kertas dan mencoba memecahkannya. Sayangnya , ia tetap saja tidak bisa.
                “Apa kata mama,Rub…makanya jangan terlalu sering keluar main Bola!” kataku menasehati,”Kamu membiarkanku menunggumu di rumah menemanimu belajar, tapi kamu malahan enak enakan main bola!!”
                “Coba kalau kamu sadar kalau hari ini ujian, kan kemarin seharusnya kamu belajar bersamaku!” keluhku lagi.
                “Padahal semalam aku kan belajar!” jawab Rubi.
                “Iya, kamu belajar Cuma sebentar, karena kecapean bermain Bola!” sergahku.
                “Sekarang giliran kamu nggak bisa mengerjakan soal, kamu marah marah ke semua, termasuk padaku!”
                “Harusnya kamu bisa membagi waktu antara waktu bermain dan belajar..” kataku lagi menasehati Rubi.
                “Aduuh,gawat nih kalau jelek ulangan, Mama Papa pasti marah” keluh Rubi.
                “Udah deh, pasrah aja…memang salah kamu kok!Eeeh jangan coba coba nyontek pada Beni!!” teriakku ketika Rubi mencuri curi lihat pekerjaan Beni.
                Rubi mencibir ketika Beni menutupi kertas ulangannya.
                “Bagus,Ben!” seruku senang.
                “Ini pelajaran buat kamu Bi,…lebih baik kamu banyak banyak bermain denganku. Lebih banyak manfaatnya!” kataku.
                Bel berbunyi. Semua bergegas mengumpulkan kertas ulangan pada Pak guru.
                Rubi meninggalkanku sambil berjalan loyo ke meja Pak guru.
                Beberapa menit kemudian ia kembali ke tempat duduk. Kelihatannya Rubi menyesal tidak belajar dengan benar semalam, padahal soal soal yang diberikan Pak guru semuanya mirip dengan yang di buku. Cuma angkanya saja yang berbeda.
                “Nggak bisa ya tadi,Bi?” Tanya Beni kepadanya.
                Rubi menggeleng.
                “Tenang Bi, kita akan harus banyak belajar bareng..oke?” kataku .

                Rubi menatapku lalu memasukan ku ke dalam kotak pensilnya. Aku berjanji akan setia menemaninya belajar, karena aku adalah pensil kesayangan Rubi.
KIDS 4:52 pm

“Lihat nih aku dapat uang banyak!” kata Udin beberapa saat setelah turun dari bus kota. Rupanya ia baru saja mengamen. Uang receh dan uang kertas di dalam bekas bungkus permen di genggamannya terlihat penuh. Wajah anak itu berbinar senang.
                “Wah, pasti kamu nyanyinya bagus banget sehingga penumpang kasih kamu uang banyak!” kata Genta, tukang semir sepatu , teman Udin.
                Mereka selalu berkumpul di perempatan jalan dekat terminal untuk beristirahat. Genta sehari harinya adalah penyemir sepatu di warung warung sekitar terminal. Sedangkan Udin , Bambang dan Leman mengamen sendiri sendiri..
                “Begitulah!” kata Udin gembira sambil menghitung uangnya. Genta terlihat senang juga melihat hasil yang didapat Udin, Ibu Udin saat ini sedang sakit, ia perlu uang banyak untuk berobat karena itu sudah seminggu ini Udin mulai ikut mengamen di dalam Bus.
                “Padahal kamu ngamen nggak pakai alat musik ya,Din?” cetus Leman heran, “Terus kamu nyanyi Cuma pakai tepuk tepuk tangan saja ya?”
                Leman sendiri mengamen dengan menggunakan  gitar kecil pemberian mendiang kakeknya. Suara Leman bagus sekali dan ia sangat mahir memainkan gitar kecil itu. Tetapi uang yang didapatnya tidak pernah sebanyak yang didapat Udin setiap hari.
                Mereka berempat adalah teman satu sekolah dan rumah mereka berdekatan, ketika  mereka tahu Ibu Udin sakit, mereka menganjurkan Udin untuk ikut mengamen atau jadi penyemir sepatu di terminal.Udin menerima ajakan teman temannya.
                “Tuh Bambang datang,kok dia lesu amat…” tunjuk Genta pada temannya yang terlihat baru turun dari Bus.
                “Lesu,Bang?”
                “Yaah, mungkin karena suaraku tidak  bagus yaa jadi nggak banyak yang kasih aku uang, lagian katanya Bang Poltak kondektur PPD ada pengamen yang suaranya bindeng yang ngamen sebelum aku, penumpang semua kasihan sama dia…”
                Genta dan teman temannya berpandangan,”Pengamen Bindeng??”
                Bambang mengangguk, “Sebetulnya sih bukan ngamen, suaranya aja hampir nggak ada  katanya…jadi orang kasihan sama dia…”

                “Yang mana ya orangnya? Aku kok nggak pernah lihat? Kalian pernah lihat?” tanya Udin. Genta dan Leman menggeleng. Tetapi memang begitu banyak pengamen di terminal ini, tidak semua yang mereka kenal.

                Genta berlari lari menyetop Bus Mayasaribakti  yang merapat di halte. Ia mau ke daerah Tebet, ke rumah Pakdhe Santoso yang mau hajatan sunat Rio,sepupunya. Ia diminta datang menginap.
                Ia duduk di kursi belakang, terhimpit himpit oleh penuhnya penumpang. Genta sudah terbiasa turun naik Bus kalau kemana mana. Meskipun baru berusia sepuluh tahun tapi ia tidak pernah takut pergi sendirian.
                Di halte berikutnya Bus terasa merapat. Genta tidak bisa melihat keluar karena terhalang penumpang penumpang dewasa yang berdiri.
                Dari arah depan Bus kemudian terdengar suara suara yang aneh. Suara bindeng , seperti orang bisu yang berusaha mengeluarkan suara. Antara sengau dan bindeng. Genta berusaha melongok kearah suara itu tapi tak bisa.
                “Kasihan ya, bindeng begitu masih berusaha ngamen…” kata seorang Bapak yang berdiri dekat Genta.
                “Ooh pengamen ya Pak…” ujar Genta mengangguk ngangguk. Mungkin pengamen ini yang kemarin diceritakan Bambang. Dilihatnya seusai pengamen itu menyanyikan lagu yang tidak jelas bunyinya, orang orang kelihatan mengeluarkan uang receh mereka untuk siap siap diberikannya pada pengamen bindeng itu.
                Pengamen itu terdengar menggoyangkan kantong uangnya yang sudah berisi uang receh. Genta juga sudah menyiapkan uang logam seratus rupiah untuk diberikan pada pengamen itu.
                “Te..i..ma.a..iih” terdengar suara pemngamen itu berusaha mengucapkan terimakasih pada penumpang yang memberinya uang.
                Ketika pengamen itu menyeruak diantara rapatnya penumpang di belakang, Genta kaget bukan main. Pengamen itu juga terlihat sangat terkejut melihatnya.
                “Udin…?” desis Genta terpana.
                Udin yang mengenakan topi lusuh dan baju yang sebagian sudah robek langsung bergegas menembus penumpang lalu melompat turun dari pintu belakang ketika Bus merapat ke halte berikutnya.
                Genta juga begegas turun di halte tersebut.
                “Din!!!” ia berlari mengejar Udin yang berusaha menghindarinya di halte.
                Ketika langkahnya sudah menjajari Udin, Genta menarik lengan temannya ke pinggir dimana tidak begitu banyak orang disana.
                Udin menunduk malu.
                “Jadi begitu cara kamu ngamen,Din?”tanya  Genta”Pantas orang banyak kasih kamu uang…”
                Udin mengangguk, “Iya Gen,…soalnya aku nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik juga,jadi aku berpura pura jadi pengamen bindeng saja…”
                “Tapi itu namanya menipu,Din…” ujar Genta prihatin menyadari apa yang telah dilakukan Udin, “Dan itu dosa. Kalau kamu nggak bisa nyanyi, nggak bisa main alat musik, kamu kan bisa nyemir kayak aku….asal Halal…”
                “Tapi aku perlu banyak uang untuk Ibu!” kata Udin sengit.
                “Tapi kan bisa bisa dicari dengan cara yang Halal,Din…Allah Maha Mengetahui kok. Kalau kamu sudah berusaha sebaik baiknya, dengan cara yang di ridhoi Allah, Allah pasti akan kasih kamu jalan…itu yang dibilang Ustad Adam, inget nggak?” tukas Genta, “Kalau dengan cara menipu orang seperti ini, Allah malah marah Din…”
                Udin terdiam. Sebetulnya jauh di dalam hatinya ia juga tak ingin melakukan ini. Tetapi setiap kali teringat wajah pucat Ibunya, ia jadi tidak perduli dengan jalan yang ditempuhnya.
                “Sudah lah,Din…aku juga nggak mau memaksa kamu kok…Yang penting aku sudah ngingetin kamu…bahwa yang kamu tempuh ini salah…Sudah ya, aku mau melanjutkan perjalanan ke rumah Pakde ku….”kata Genta sambil bergegas meninggalkan Udin yang masih menunduk.
                “Gen!!” panggil Udin ketika Genta sudah agak menjauh, “jangan bilang bilang teman teman yang lain ya…aku malu…Mulai besok aku boleh ikut nyemir bareng kamu?”
                Genta mengangguk pasti, “Tentu Din! Kau masih punya kotak semir cadangan di rumah, kamu bisa pakai dulu…”
                Seminggu kemudian ketika Genta dan teman temannya sedang beristirahat di perempatan jalan seperti biasa, Genta mendengar Bambang bicara pada Leman.
                “Heran, kata Bang Poltak, pengamen bindeng itu seminggu ini sudah nggak kelihatan ngamen lho ,Man..”
                Udin memandang Genta dengan pandangan berterimakasih karena Genta tidak menceritakan apa yang diketahuinya pada teman temannya.
KIDS 4:48 pm

Firli terkadang iri pada Sofi dan Anto , teman sekelasnya. Mereka berdua punya kepandaian yang mengagumkan.
Sofi pintar sekali bermain piano, selain sekolah, ia juga belajar piano  pada Sekolah Musik terkenal. Waktu Firli main ke rumahnya, ada beberapa piala berderet di ruang tamunya. Piala piala Sofi ketika mengikuti berbagai kontes piano. Kalau ada acara acara Musik di sekolah pasti Sofi tampil memainkan lagu lagu klasik dan pop yang membuahkan tepuk tangan para orangtua murid yang hadir….
Anto lain lagi, ia jago melukis. Beberapa kali ia mewakili sekolah pada lomba lukis tingkat sekolah dasar sampai tingkat Nasional. Hampir di semua lomba ia menyabet gelar juara.
Ah, seandainya aku punya kepintaran seperti dia, pasti bangga deh. Mama Papa juga pasti bangga sekali. Ia membayangkan menikmati tepukan tangan penontonnya seusai memainkan sebuah lagu yang indah dengan alunan piano.
            Sayangnya Firli merasa tidak punya kelebihan atau bakat apa apa yang bisa menonjol seperti mereka. Baca Not Balok saja ia nggak bisa. Melukis? Aduuh, Daffa adiknya yang hobi menggambar sering mencela gambarnya seperti gambar anak TK. Padahal untuk  membuat gambar itu Firli sudah kerja keras.
            Malam Didie…
            Aku berkhayal menjadi seorang pianist terkenal, minimal terkenal di sekolah seperti Sofi. Di hadapan tuts tuts piano . Dari tarian tanganku di atas bilah hitam putih itu mengalir lagu lagu yang sangat indah. Membelai telinga dan hati yang menontonku.
Penelitian telah membuktikan bahwa musik bisa mempengaruhi suasana hati kita. Dengan musik yang kumainkan, orang yang sedih bisa mendapat keceriaan, atau bahwa tambah bersedih.
Diary,..kubayangkan tanganku menari,berlari dan meloncat di atas tuts piano….

…dan seterusnya. Setiap hari Firli menuangkan perasaannya dalam buku harian merah muda yang diberinya nama Didie. Ia begitu karena setiap kali bicara pada Mama dan Papa pasti jawabannya sama.
“Setiap orang kan di beri Allah kelebihan dalam dirinya. Namanya Bakat. Sofi dan temanmu Anto itu sudah terlihat bakatnya pada Musik dan Melukis…jadi jangan berkecil hati,Nak….suatu saat Firli pasti akan mengetahui kemana Bakat Firli. Bakat bisa membuat orang berprestasi kalau ada kemauan juga…”
            Jawaban Papa juga setali tiga uang dengan Mama.
            Melukis pegunungan di hadapanku dan menuangkannya ke atas kanvas. Memainkan warna hijau yang meneduhkan pada sawah sawah di kaki gunung. Serta Matahari yang menyembulkan kepalanya diantara lekukan gunung. Masih malas karena ia baru saja keluar dari peraduan….
                        Tulisnya lagi di malam yang lain tentang betapa inginnya ia bisa seperti Anto yang bisa menghasilkan lukisan indah dari tangannya….
————————————————————–
                       
            Tante Rima datang di akhir minggu dan menginap semalam. Firli senang bukan kepalang. Tante Rima itu baik sekali. Ia suka menceritakan kejadian kejadian lucu saat peluncuran buku karangannya. Tante Rima adalah seorang penulis. Beberapa bukunya sudah beredar di toko toko buku.
            “Tante tidur sama aku ya!!” bujuk Firli semangat.
            “Beres,Non!”
            Malamnya Tante Rima tidur di kamar Firli. Firli bercerita tentang sekolahnya, teman temannya dan juga keinginan keinginanya bisa seperti Sofi dan Anto.
Ketika Firli terlelap ia menyelimuti keponakaannya itu dengan selimut pink kesayangan Firli.
            Tanpa sengaja Tante Rima menemukan buku harian Firli di bawah bantal. Pelan pelan dibacanya buku harian itu. Kadang ia tersenyum, kadang ia terlihat serius bahkan sedih. Kata kata yang tertuang di buku harian itu tidak seperti kata kata yang ditulis oleh anak perempuan berusia 9 tahun. Begitu manis, indah dan  menyentuh.

            “Ah sayang….siapa bilang kamu tidak punya bakat?” Tante Rima menghela nafas sambil membelai Firli yang terlelap. Ia menutup buku harian itu dan berjalan keluar kamar menemui Mama dan Papa.
            “Tante lihat Buku harianku?” Tanya Firli pada Tante Rima yang sedang sarapan bersama Mama dan Papa.
            “Ada tuh sama Tantemu..”jawab Papa sambil senyum senyum.
            Firli duduk di sebelah Tante Rima dan menatapnya, “Huuuh! Tante baca ya?”
            “Waah, semalam tante ketemu buku yang isinya indaah sekali…..karangan anak berusia 9 tahun!!”” kata Tante Rima ikut ikutan senyum senyum sambil mengerling nakal pada keponakannya,”kata katanya indah…daya imajinasinya bagus….eh tau nggak sayang, ternyata kamu  itu bakat lho menulis…!”
            Firli mengerutkan dahinya bingung,”Setiap hari juga aku menulis!”
            “Bukan menulis biasa,….Tante lihat Firli mampu menghasilkan rangkaian kata kata yang bisa bikin pembaca terbawa. Begitu indah dan teratur. Itu bagus! Tante yakin, kalau kamu ikut lomba mengarang pasti kamu menang!”
            “Kata Mama juga apa kan Fir…. Setiap orang kan di beri Allah kelebihan dalam dirinya.Bakat adalah sebuah kelebihan. Sepertinya bakatmu adalah menulis. Dengan bakat seperti ini kamu bisa jadi pengarang , bisa ikut lomba lomba mengarang. Sama seperti Sofi dan Anto. Kamu juga bisa berprestasi seperti mereka, dengan bakat yang ada padamu….” Kata Mama lembut.
            “Oya??! Betul Tante? Aku bisa jadi pengarang kayak Tante?”
            Tante Rima mengangguk, “Tentu! Dan tante yakin!…Oya bulan depan ada lomba mengarang yang diselenggarakan penerbit buku buku tante. Kamu ikut ya..?”
            Firli merasa terbang melayang. Khayalannya membumbung tinggi. Hatinya sangat gembira. Terimakasih Allah! Doaku telah Kau Jawab!
            Kata kata indah mengalir dari goresan penaku di kertas. Mengalir indah seperti aliran sungai. Musik dapat memanjakan telinga. Tulisanku memanjakan mata tapi juga hati yang membaca…..Anugrah Allah Swt yang begitu indah…
(Buat Firlita…..)

KIDSJanuary 12, 2007 5:35 am

Ada anak baru di kelas Rafi. Namanya Dadang.Perawakannya kecil kurus. Rafi dan teman temannya tidak begitu menyukai Dadang. Mereka menganggap Dadang itu aneh, terlalu pendiam dan sok kalem.

 Ia tidak mau diajak bermain atau berolahraga bersama, bercanda atau melakukan kegiatan apa saja di luar jam sekolah. Pada jam istirahat, Dadang selalu duduk menekuri buku buku di perpustakaan sekolah.

“Sok alim banget ya,Ko?” bisik Rafi pada Koko ketika mereka melewati perpustakaan dan menemukan Dadang sedang membaca buku .

“Sok alim atau sok pinter?’ timpal Koko. Mereka tertawa jahil. Ketika melewati pintu masuk perpustakaan, Koko tiba tiba meledek Dadang yang kebetulan duduk di dekat pintu.

“Sst…Dang…..nggak makan? Jam istirahat nih…heheh….memangnya kenyang ya dengan baca buku..?”

Dadang mengankat wajahnya, ia hanya tersenyum sedikit pada teman temannya lalu kembali pada buku yang tengah di bacanya.

Rafi dan Koko tertawa tawa lagi.

 

“Bukan salah kita sih kalau kita tidak mau main sama dadang!” cetus Rafi ketika Nana teman sekelasnya menegur Rafi dan kelompoknya yang  suka mengolok olok Dadang.

“Dia yang nggak mau main sama kita” Koko menimpali. Rafi, Habil dan Dino mengangguk setuju.

“Tapi kan kasihan Dadang anak baru, harusnya kita  yang ajak dia untuk bergabung dengan kita. Mungkin saja dia pemalu..” kata Nana lagi.

“Pemalu atau malu maluin? Hehehhehe…”Rafi terkekeh.

Tiba-tiba Dadang masuk kelas, melewati mereka. Rafi dan teman-temannya terdiam tiba tiba.

“Maaf ya Raf, permisi…”sapa Dadang pada Rafi yang duduk di ujung meja Dadang. Rafi bergeser.

Nana dan Ika mencoba mencairka suasana, “dang sepulang sekolah kita ada latihan basket lho, mau ikut nggak? Sama anak anak kelas 4 juga…”

“Basket?!!” raut wajah Dadang terlihat sangat antusias. Tapi tiba tiba seperti teringat sesuatu wajahnya berubah lagi,”Ngg…maaf aku nggak bias ikut Na…”

“Lho kenapa Dang?” Ika terus mencoba membujuk Dadang. Dadang hanya menggeleng dengan senyum.

Rafi dan  kelompoknya saling berpandangan dengan sinis.

“Dadang kan sibuk Naaaa….” Sindir Rafi sambil melengos pergi melewati tempat duduk Dadang. Dadang Cuma memandang mereka sekilas lalu raut wajahnya kembali tidak perduli.

Rafi duduk di warung Mak Baedah yang berjualan makanan kecil dan kue kue di kantin belakang sekolah.

Jam pelajaran sekolah baru usai, ia sedang menunggu jam latihan basket.

“Mak, bakwannya enak juga ya…” ujar Rafi.

“Iya memang betul Raf, Emak juga senang jualannya laku banget. Pisang gorengnya juga enak kok!” kata Mak Baedah berpromosi.

Di kejauhan Rafi melihat Dadang berjalan kea rah kantin.

Hmm tumben Dadang ke kantin…,piker Rafi.

“Dang!”Mak Baedah melambaikan tangan. Dadang mempecepat langkahnya menghampiri warung Mak Baedah.

Rafi bergeser duduk agak sembunyi di pojok. Dadang tidak melihatnya.

“Nih Dang, sisa dua tuh bakwannya. Kalau pisangnya sih habis.” Mak Baedah memberikan sejumlah uang pada Dadang. Dadang tersenyum sambil menghitung uangnya.

“Bilang emakmu ya Dang, kalau hari Jumat itu buatnya agak banyak, sebab ada anak kelas 4 dan 5 latihan Basket dan Badminton”

“Iya Mak, nanti Dadang bilang ke emak. Tapi dengan ini laku semua saja sudah Alhamdulilah,Mak…Terimakasih ya Mak!” kata Dadang.

Rafi termenung sesaat.

“Raf, itu titipan Dadang, dia kan kelas 5 juga sekelsa sama kamu kan? Dia setiap pagi titip jualan kue buatan ibunya di sini”

Mak Baedah menjelaskan tanpa diminta ,sambil menata permen permen ke dalam toples.

Rafi mulai agak mengurangi keinginan untuk mengganggu Dadang. Cuma sesekali ikut tertawa kalau Koko meledek anak itu.

Terkadang ia memperhatikan Dadang dari jauh. Nak itu sangat tekun dalam pelajaran. Meskipun tidak mendapat rangking, tetapi angkanya tidak jelek.

Rafi sendiri tidak masuk sepuluh besar di kelas. Ia lebih banyak main main daripad amenggunakan waktunya untuk belajar. Sesekali mama menegurnya, meskipun tidak mekasakan Rafi. Mama Papa harus puas dengan tidak ada angka merah menghias rapornya.

 

Hari ini Mama tidak sempat memasak. Papa mengajak mereka untuk makan malam di rumah makan Soto Kudus langganan Papa.

Rafi dan Lili adiknya cukup senang meskipun bukan di restaurant  mahal seperti cerita teman temannya dengan orang tua mereka.

“Kalau makan itu yang bersih Raf, jangan bertebaran seperti itu…” tegur Mama melihat piring Rafi berantakan.

“Iya nih piring Kakak jadi mirip piringnya  si Manis. Rafi melotot marah.

“Enak aja nyamain piringku sama piring kucing piaraan kamu!”

Papa tertawa geli sambil sesekali matanya seperti mencari cari sesuatu di luar sana.

“Eh,Papa punya langganan tukang semir sepatu lho!” kata Papa ketika Rafi bertanya kenapa ayahnya  sering melongok ke luar.

“Semir,Oom!!” Seorang anak laki laki bertopi lusuh menghampiri Papa sambil berjongkok di kaki Papa.

“Aaah! Ya ya…Oom memang menunggu kamu sejak tadi” sahut Papa gembira sambil melepaskan sandal kulitnya.

“Rafi?”

Rafi hamper tersedak ketika penyemir sepatu itu memanggil namanya. Dadang tersenyum di balik topi lusuhnya.

“Kamu…?” Rafi melongo.

Dadang mengangguk.

“Kalian kenal ya?” kata Mama heran.

“Teman sekelas Rafi,Ma..” jawab Rafi tersendat.

“Oya..? Wah kok kebetulan sekali ya?” kata Papa, “Kalau begitu ayo Dang ikut makan dengan kami. Kamu belum makan malam kan?”

Dadang menggeleng menolak dengan sopan, “Terima kasih Oom, tapi di luar masih ada dua pasang sepatu yang harus saya semir…” ujarnya sambil beringsut berdiri,”Yuk Raf, aku keluar ya!”

Rafi masih melongi.

“Hebat ya Ma….temennya Kakak rajin banget…” celetuk Lili polos.

 

Selesai makan, Rafi menghampiri Dadang yang sedang menyemir sepatu Papa di lantai teras rumah makan. Sesekali ia berlari ke tempat parker untuk membantu menjadi tukang parker dan kemudian mendapat upah beberapa ratus rupiah.

“Dang,…mmmm….kamu setiap hari ke sini?” Rafi ikut berjongkok di dekat Dadang.

“Iya Raf, pulang sekolah aku ke sini, kerja apa saja deh. Menyemir sepatu, Bantu Bantu parkir, kadang kadang disuruh sama yang punya rumah makan ini mengantar Soto ke gedung perkantoran di seberang itu pada jam makan siang…”

“Oo…sampai malam?”

Dadang mengangguk bersemangat, “Iya! Lumayan Raf buat Bantu Bantu Emak Raf. Emak kasihan sih, sekarang lumpuh karena sakit, meskipun begitu ia tetap memakasakan diri membuat kue kue untuk ku jual di sekolah, di warung Mak Baedah”

“Hmm…” Rafi terdiam sambil terus memperhatikan gesitnya Dadang menyemir sepatu.

“Itu makanya Raf, waktuku belajar Cuma di sekolah saja. Aku bias masuk SD kita juga karena Mak Baedah kenal baik sama Pak Kepsek. Mak Baedah itu tetanggaku”

Dadang tersenyum melihat Rafi masih terdiam”Kenapa Raf..Kaget ya?Hm..Ya karena ini juga aku tidak sempat ikut latihan Basekt atau Badminton, padahal aku suka sekali kedua olahraga itu. Tapi kalau sehari tidak bekerja artinya jatah makan adik adikku berkurang…kasihan ah..”

Rafi tersadar bahwa semenjak tadi ia Cuma mengiyakan dan mengangguk. Baginya ini seperti tamparan cukup keras.

Dadang yang selama ini dianggap  remeh olehnya ternyata melalui hidupnya dengan penuh perjuangan tetapi tetap bersemangat. Sementara ia sendiri?

“Dang, maaf ya kalau aku suka jahil sama kamu, serta bersikap tidak baik padamu…Hmmm…aku tadinyaberprasangka jelek bahwa kamu itu anak yang sombong…”

Dadang terkekeh .Ia meniup ujung sepatu Papa seperti ingin meniupkan debu yang menempel. Diberikannya sepatu yang sudah mengkilap itu pada Rafi.

“Ayahmu baikk sekali….” Ujarnya.,”Eh Raf, aku nggak marah kok. Pesan Emak padaku, agar  aku tidak mengganggu dan menyakiri orang lain. Sebab aku tidak bias seperti teman teman yang lain di sekolah kita yang punyabanyak waktu untuk bermain….Aku sudah tidak punya Bapak, sekarang Emak jug asakit. Karena itu akulah yang harus bekerja supaya adik adikku bias tetap makan dengan teratur…”

Kelihatan sekali tidak ada kesedihan atau kemurungan di mata Dadang. Jelihatany sekali ia begitu lapang hati.

Rafi menjadi sangat malu. Ia jauh lebih beruntung, sementara orang lain di luar sana harus bersusah payah membanting tulang untuk dapat bersekolah dan makan.

“Ayo Raf!”Panggil Papa. Papa segera memberi uang upah semir pada Dadang yang diterima Daang dengan senang hati.

Dadang membantu menjadi tukang parkir ketika mobil Papa hendak keluar dari Halaman parkir.

Sementara Rafi masih termangu di dalam mobil.

Allah menitipkan sebuah pelajaran buatnya, lewat  Dadang. Bahwa hidup tidak selalu dapat dilalui dengan mudah. Karena itu kita harus pandai bersyukur  pada Allah dengan apa yang telah kita dapat.

KIDS 5:33 am

Maya berjongkok di sisi mama yang menangis tersedu-sedu. Ia sendiri baru terjaga dari tidur. Kepalanya masih sedikit pening.

            Rumah beratap dan berdinding putih ini sungguh asing baginya. Entah rumah siapa ini dan mengapa mama papanya ada disini.

            Ada kakeknya yang tadi membangunkannya dari tidur.

            “Masih pening, Maya?” Kakek Ahmad bertanya.

            Maya mengernyitkan kening menahan sakit Fuih!! Pasti tadi ada sesuatu benda yang menimpa kepalanya. Membuatnya sekarang pening.

            “Kakek, rapih amat sih…” kata Maya, “Mau kondangan ya Kek?”

            Kakek Ahmad tesenyum. Raut wajahnya yang teduh dan bercahaya membuat Maya merasa tentram memandangnya.

            “Kakek mau menemani mamamu….Kasihan dia sedih sekali… “ ujar Kakek dengan mata sendu.

            Maya mengangguk. Iya betul. Mama papa kelihatan sedih dan letih. Mama tak hentinya menangis meraung.

            Maya baru memperhatikan kalau mamanya menelungkup di atas seseorang yang sedang berbaring di tutupi kain panjang.

            :”Ssst..Kek!! Itu siapa yang tidur??” bisiknya pada Kakek tapi kakek Ahmad sudah menjauh berdiri lebih dekat dengan mama. Wajahnya penuh duka.

            “Sayang, Naak….Kenapa meninggalkan mama secepat ini..? “ gerung mama sambil menmgangkat wajah dan tubuhnya. Papa memapahnya .

            Meninggal..?!? Siapa yang meninggal?!

            “Ma, siapa yang meninggal??” Maya bertanya pada mama, tetapi mama terus saja menangis.

            Maya menggamit lengan papa yang juga bersimbah air mata. Papa kembali memeluk mama.

            Tak lama kemudian Oma Rani datang dan menghambur ke pembaringan itu.

            “Cucu Omaaaa…” jeritnya histeris.

 

            Maya sebal bukan main. Apakah karena ia masih kecil sehingga orang orang dewasa tidak perduli padanya?

            Siapa sih memangnya yang meninggal..? Maya berpikir keras.

            Gadis kecil itu menepi ke pojok ruangan.

            Hmm…tapi kok Oma berteriak Cucuku, lalu mama meraung Anakku…?
            Cucu Oma dan Anak mama kan Cuma aku dan…..MAS BIMO! Mas Bimo?? Apa, Mas Bimo Meninggal..????!!!!!

            Maya berpaling memandang mama, papa, Oma Kakek dan beberapa saudara yang mulai berdatangan.

            Kakek Ahmad juga terlihat diam saja di sisi jenazah.

            Maya merasakan bulu kuduknya berdiri. Sekelebat kesedihan datang menghampiri.. Mas Bimo,…abangnya tersayang,sekarang tebujur kakku…Meninggal?…Kenapa…?
            Ya Allah,…kenapa tega merebut abangku? Dia kan baik banget!! Sholatnya rajin, ngajinya juga, alim dan dia yang paliiing sering mengajariku pelajaran sekolah.
            Ya Allah, lihatlah…Kasihan Mama Papaku dan kasihan juga dong aku, nggak punya abang lagi….

            Maya merasakan pipinya basah. Anak sungai di matanya mengalirkan airmata yang merembes kemana mana. Dada nya sesak oleh rasa sedih yang mendalam.

            Mas Bimo,…Banguun….Besok kan Maya ulangan matematika! Maya masih belum lancar niiih pelajaran pembagian. Mas Bimo kan janji mau mengajarkan?!…

            Gadis kecil itu merasa kakinya lemas. Ia kembali berjongkok di di sisi pembaringan Mas bimonya.

            Jadi benar Ya Allah,…orang baik itu selalu Kau panggil lebih dulu…

            Maya menangis tersedu sedu. Orang orang dewasa itu sibuk menghibur mama dan papa. Tak satupun menghiraukannya. Semua orang kehilangan Mas Bimo, abangnya tersayang. Abang satu satunya.

            “Kamu sudah berdoa,sayang…” Kakek Ahmad sudah berada lagi di sisinya. Sibuk membelai rambut Maya yang kuyup. Cuma kakek yangmasih memperhatikannya.

            “Berdoalah, semoga keluarga kita tabah menghadapinya…”

            “Iya Kek…” Maya mengangguk,”Nggak sangka secepat ini…Mas Bimo…”

            “Kecelakaan….” Bisik Tante Septi pada Oom Herman, tetangga sebelah rumah yang baru datang,”Bimo dan Maya ditabrak metromini ketika menyebrang jalan di depan sekolah…”

            Kecelakaan…?!!
            Ah, Ya Allah! Maya  baru ingat!

            Tadi, Mas Bimo seperti biasa  pulang sekolah bersamanya. Karena mereka satu sekolah. Maya kelas 2, Mas Bimo kelas 6 SD.

            Mas bimo seperti biasa menggandengnya menyebrangi jalan raya di depan sekolah. Sepanjang jalan, Maya ingat ia bercerita tentang kenakalan Bari teman sekelasnya dan membuat Mas Bimo terkikik  geli.

            Mereka sedang menyebrangi zebra cross bergandengan ketika sebuah Metromini melaju kencang ke arah mereka. Maya menjerit kecang. Ia masih sempat menyaksikan MAs Bimo tersungkur sebelum ia sendiri tak sadarkan diri.

            Jadi ,…Mas Bimo tidak bisa diselamatkan….?

            Maya makin lemas, serasa ada yang hilang. Rasa kehilangan yang amat dalam…

            Gadis itu meringkuk di ujung pembaringan.

            Ada papan putih di ujung kaki Mas bimo. Sebagian terhalang oleh tubuh Oma Rani yang masih histeris.

            Nama : M…

            Maya memalingkan wajah dari papan tersebut. Ia tidak tega untuk melihat nama M. Bimo Fikri tertulis di situ. Tidak!!

            Pintu ruangan terbuka lagi. Pemandangan yang terlihat membuat biji mata Maya serasa mau melompat keluar.

            Mas bimo dengan perban di kepala dan tangannya masuk di papah suster.

            Eee???Mas bimo..?? Maya mengerjapkan matanya, perlahan mendekati abangnya yang berusaha bergerak cepat ke arah pembaringan dengan mata berkaca kaca.

            “Mayaa….Maya…maafin aku  !!!” Mas bimo menggerung gerung.

            Maya menggosok gosok telinganya. Nggak salah denger nih? Dipertajamnya lagi pendengarannya.

            “Mama….Maya ma….Bimo nyesel ga bisa jagain Maya…Bangun ,Dik..Banguuun…” erang Bimo tak henti.

            Maya terhuyung. Kembali di lihatnya papan putih di ujung pembaringan. Tak sengaja Oma Rani bergeser menghampiri Mas Bimo yang makin menjadi jadi meraung.

            Sekarang terbaca jelas nama di papan itu.

            M…aya Anissa Putria (9th)

            Maya terhuyung lagi. Di cari carinya kakek Ahmad yang tadi masih disisinya. Serasa mimpi dilihatnya kakek Ahmad yang berpakain putih rapi berjalan keluar menembus tembok!

            “Mas Den….kita sudah menyiapkan  makam Maya. Dipemakaman keluarga. Disebelah makam Oom Ahmad,ayahnya Mbak Ria..”  kata Tante Siska berbisik pada Papa.

            Maya semakin tidak percaya.

            Ya Allah…Aku kah yang Kau panggil? Ia merasakan tubuhnya begitu ringan.

            Seberkas cahaya memancar dari atas. Seolah ruangan itu tidak beratap. Begitu terang. Begitu indah dan benderang.

            Maya melayang, masih memandangi mama papa, Mas Bimo dan orang orang yang kini menangisinya. Menangis di jasadnya.

            Dua bidadari cantik turun menggapainya, merangkul kedua tangan mungilnya.

            Innalilahi wailanilahi roji’un….

 

KIDS 5:31 am

Diaz mengayuh sepedanya perlahan. Terik matahari menyengat ubun ubun kepalanya. Kali ini, jalan yang dilewatinya tidak seperti biasanya . Menurut Rico teman sekelasnya, jarak sekolahnya ke rumah akan lebih dekat jika memotong melewati pasar.
            Hari ini ia ingin mencobanya. Ia melihat pasar tradisional di kejauhan. Ah, sekalian saja mencari komik Super Hero yang terbaru, pikirnya.
            Di pasar ia mengayuh sepeda perlahan mencari cari tukang majalah yang juga menjual komik.
            Pada sudut tempat parkir, Diaz menepikan sepedanya lalu berjalan menuju tukang majalah yang menggelar dagangannya menghampar beralaskan terpal.
            “Dik, komik superhero edisi 13 sudah terbit?” Tanya Diaz pada penjual komik yang masih belia itu. Mungkin seusia Deni, adiknya yang duduk di kelas 3 SD.
            Tiba tiba ia terpana. Penjaja komik cilik itu ternyata tubuhnya cacat. Membuat Diaz merinding. Kedua kakinya hanya sebatas lutut. Sepasang sandal japit diikat di ujung kakinya yang tidak berjari. Kedua tangannya tidak juga memiliki jari, hanya sampai pergelangan tangan.
            “Kenapa bengong ,Kak? Ini komiknya!” celetuk anak itu mengejutkan. Ia mencari cari komik yang ditanyakan Diaz dengan mengais ngaiskan tangannya ke tumpukan komik di atas terpal. Setelah itu ia menjepitnya dengan kedua lengannya dan menyodorkannya pada Diaz.
            Diaz masih terpaku.
            “Kak..?” tegur penjaga komik itu lagi..
            Diaz terjaga dari keterpanaan. Diamatinya wajah bersih bocah itu.
            “Umur kamu berapa?” Diaz bertanya penasaran.
            “Sembilan…” bocak itu memamerkan deretan giginya yang putih.,”Kakak kaget melihatku ya?”
            Diaz menggaruk garuk kepalanya, “Hmm…iya sih…Kamu hebat banget dengan kondisi seperti ini…”
            “Siapa nama kamu?” Tanya Diaz , lega dengan keterbukaan bocah itu.
            “Bayu, nama kakak siapa?” Bayu  menyodorkan lengan kanannya. Diaz menyentuhnya ragu ragu. Tetapi kemudian menggenggam lengan tak berjari itu hangat.
            “Aku Diaz! Kamu seusia adikku, Adikku kelas 3 , aku kelas 5!”
            Bayu kembali tersenyum. Kelihatan sekali ia tidak malu dengan keadaannya.
            “Kamu setiap hari berjualan di sini?”
            Bayu mengangguk. Diaz juga ikut ikut mengangguk. Sambil berpikir bagaimana cara anak itu mengangkut barang barang itu sebelum dan sesudah berjualan.
            “Oya,..Berapa harganya ?”
            “Biasa Kak, Lima ribu rupiah!” sahut Bayu.
            Diaz mengeluarkan uang jatah membeli komik yang diberikan Papa tadi pagi. Setiap minggu Papa memberi Lima ribu rupiah untuk membeli komik Super Hero kesukaan Diaz dan Deni.
            “Kamu jualan sampai pukul berapa,Yu?”
            “Jam empat ,kak. Kenapa?”
            Diaz mengernyitkan dahinya, “Kamu tidak sekolah?”
            Bayu menggeleng, wajahnya terlihat sedikit muram.
            “Emak Bapak tidak sanggup membiayaiku. Biarlah adik adik saja yang sekolah!”
            Ah, Kasihan….pikir Diaz sedih.

            Hari makin terik ketika Diaz menyadari ia sudah terlalu lama di situ, nanti Mama cemas menunggu di rumah. Setelah mengucapkan sampai jumpa, Diaz kembali mengayuh sepedanya dengan beribu pikiran di kepala tentang perkenalannya dengan Bayu.
            “Mau kemana,Diaz?” Tanya Mama ketika sore hari Diaz kelihatan bersiap siap pergi dengan sepedanya.
            “Ke pasar ,Ma…cari Komik…”
            “Lho kan tadi sudah beli komik?” Mama terheran heran.
            Diaz memandang Mamanya ragu. Akhirnya diceritakannya pertemuannya dengan Bayu di pasar tadi.
            Ketika Diaz menggambarkan bagaimana Bayu mengais-ngais dengan lengannya yang tumpul tak berjari, mata Mama tampak berkaca kaca. Bahkan Deni , adiknya,meninggalkan komiknya dan ikut mendengarkan cerita kakaknya.
            “Diaz mau ke sana ,Ma…Aku mau lihat bagaimana Bayu mengangkut barang2nya ketika selesai berdagang, dengan kondisi tubuhnya yang seperti itu. Diaz lihat dia tidak menggunakan kursi roda atau kruk penyanggah lho ,Ma..”
            Mama mengizinkan Diaz pergi dengan pesan untuk pulang sebelum Azan Magrib tiba.
           
            Diaz berhenti kios tukang  The Botol tak jauh dari tempat Bayu berjualan.. Bayu nampak sibuk bersusah payah mengemasi Koran Koran , majalah dan komik dagangannya.
            Tidak lama kemudian seorang Bapak yang berpakaian lusuh datang menghampiri Bayu dengan mendorong sebuah gerobak sampah.
            Bapak itu membantu memindahkan dagangan Bayu ke dalam gerobak sebelum kemudian menggendong Bayu dan mendudukannya di dalam gerobak.
            “Itu Bapaknya,…” kata penjual The Botol seperti mengetahui kea rah mana Diaz termangu.
            Ah, jadi ayahnya yang setiap hari mengantar dan menjemput Bayu dengan gerobaknya. Mungkin Ayahnya adalah seorang tukang sampah, kalau dilihat dari gerobak yang digunakannya.
            “Kasihan ya,Pak…” tak sengaja Diaz menggumam, entah oada siapa. Tukang Teh Botol mengangguk angguk setuju.
            Betapa penuh  perjuangan hidup seorang anak seperti Bayu. Tubuhnya cacat, keluarganya sangat susah.
-
            Sejak saat itu Diaz  sering meluangkan waktu datang ke tempat Bayu berjualan. Terkadang hanya sekedar ngobrol, atau juga mencari komik yang setiap minggu keluar sambungannya.
            Dari pertemanannya dengan Bayu,Dias tahu bahwa Bayu sudah cacat sejak dilahirkan. Mungkin karena gizi yang kurang ketika Ibunya mengandung, jadi Bayu lahir dengan tidak sempurna. Tapi kata Mama semua sudah Allah  yang mengatur, kelebihan dan kekurangan manusia sudah digariskan Allah. Buktinya meskipun cacat, Bayu diberikan sifat periang dan menerima. Ia tidak pernah mengeluh.
            Meskipun dalam kekurangan, Bayu tetap bisa leluasa bergerak, kalau berjalan ia meggunakan ke dua lengannya untuk menopang tubuhnya bagian depan kemudian menggeser tubuh bagian belakang ke depan. Begitulah Allah memberikan kelebihan diantara kekurangan yang dimiliki Bayu. Diaz makin kagum pada anak itu.
            Setiap sore Ayahnya datang dengan gerobaknya , mengangkut Bayu beserta barang dagangannya. Ayah Bayu juga kelihatan tidak sehat. Terlalu kurus dan kuyu. Sering terdengar suara batuknya yang berat dan sesak.
            Setiap hari Diaz menceritakan pertemuannya dengan Bayu pada Mama, Papa dan Deni. Mama dan papa tidak melarangnya bermain dengan Bayu selepas pulang sekolah atau setelah mengerjakan PR di sore hari. Selama tidak  mengganggu pelajaran Diaz di sekolah, buat Papa Mama itu tidak masalah.
            Tetapi beberapa hari belakangan Diaz tampak kecewa sepulang ke rumah. Bayu sudah beberapa hari tidak nampak di pasar untuk berjualan. Tempatnya berjualan kosong, dan setelah dua hari Bayu tidak datang malah sudah diisi untuk parkir motor oleh penjaga parkir di sana.
            “Nggak tau tuh, sudah beberapa hari dia nggak jualan” kata penjual teh Botol di sana, “Denger denger sih Bapaknya meninggal…”
            Diaz terpukul. Kasihan Bayu, Ayahnya memang terlihat sangat kurang sehat, apalagi harus menarik-narik gerobak sebegitu berat setiap hari.
            Dengan bantuan tukang parkir yang biasa berada di dekat dekat tempat Bayu berjualan, Diaz dapat menemukan dimana Bayu tinggal. Melewati jalan jalan sempit yang berliku.
            Di sebuah rumah reyot, dengan atap dari genteng liat yang sudah pecah pecah, dan dinding bambu. Serta lantai yang tidak tertutup semen. Diaz menemukan Bayu duduk termenung di bale bale depan rumahnya. Anak itu begitu terkejut melihat Diaz muncul.
            “Kak Diaz!!” serunya kaget. Diaz menyodorkan bungkusan titipan Mama berisi baju baju dan biskuit untuk Bayu dan adik-adiknya.
            Diaz duduk di sisi Bayu  yang nampak kuyu,”Aku ikut berduka cita ya,Yu…semoga Ayahmu diterima di sisi Allah SWT”
            Bayu mengangguk angguk, “Nisaaa!!! Jangan jauh jauh mainnya!!” teriaknya pada adiknya yang sedang berlarian dengan anak tetangga.
            “Kamu tidak jualan lagi..?” tanya Diaz.
            Bayu menggeleng lemah,”Tidak ada lagi yang mengantar dan menjemputku ke pasar Kak…kan Bapak sudah tidak ada…”
            “Kan ada pasar dekat sini,Yu…nggak coba jualan di sana?”
            “Sudah, tapi daganganku habis di acak acak penjual koran di sana..mereka tidak suka pedagang majalah bertambah di sana…”
            “Emak sih masih kerja, cuci pakaian dan menyetrika di rumah rumah kompleks ABRI di sana” ujar Bayu lagi,”Tapi nggak cukup untuk uang sekolah Nissa dan Lutfi…”
            Malamnya Diaz tidak bisa tidur. Ia masih terbayang betapa reotnya  tempat tinggal Bayu, adik adiknya yang kurus kering dan hampir putus sekolah.
            Deni yang diajaknya bicara malam itu juga tercenung sedih. Apa ya yang harus dilakukannya untuk membantu Bayu? Mereka sulit menemukan jawabannya.
            “Mungkin temanmu itu perlu kursi roda !” cetus Saiful teman sekelas Diaz ketika ia menceritakan kegundahannya.
            “Tidak mungkin , dari mana Bayu bisa mendapat uang untuk membeli kursi roda!” sela Rico. Diaz mengangguk.
            Tetapi tiba tiba Diaz terkejut, ia teringat Kursi Roda Almarhumah neneknya dulu. Wah, dimana  ya kursi roda itu disimpan sekarang?
            Diaz tak sabar untuk sampai di rumah. Ia ingin menemukan kursi roda bekas Almarhumah Nenek dulu,mungkin saja masih bisa dipergunakan.
            “waduh sepertinya disimpan Papa di Gudang…coba kamu cari saja…” kata Mama ketika Diaz menanyakan letak kursi  roda Nenek di simpan.
            Mama hari itu sedang sibuk mengawasi tukang yang bekerja memperluas warung kelontong Mama di depan rumah.
            Diaz minta bantuan Deni yang juga baru pulang sekolah untuk mencari kursi roda nenek di gudang.
            Ternyata kursi roda itu memang ada di gudang, sudah berdebu dan sedikit berkarat. Maklum sudah hampir dua tahun tidak dipergunakan. Mereka menariknya ke luar. Mencoba mendorongnya maju mundur, sudah agak kesat sekali rodanya.
            Ketika kursi roda itu dikeluarkan dari gudang , Diaz menyentuh tumpukan triplek yang langsung jatuh berserakan. Brukk!!
            “Gimana sih Kak!” kata Deni terkejut.
            Di bawah tumpukan triplek itu ternyata adalah sebuah bidang yang di ke empat sudutnya terdapat roda.
            “Ini kan alas lemari es kita yang dulu,Kak!!…” seru Deni.Matanya berbinar seperti menemukan harta karun.
            “Iya betul…” jawab Diaz sambil sibuk menata kembali tumpukan triplek ke tempat asalnya.
            “Kak!!” seru Deni lagi melihat kakaknya tak acuh,”Ini juga bisa digunakan buat Bayu deh!!”
            Diaz memandang adiknya bingung,”Alas lemari es ini..?”
            Deni mengangguk dengan mata masih berbinar.
            “Coba kita minta tukang yang bekerja di warung Mama untuk membuat kotak diatas roda-roda ini sebagai wadah untuk meletakkan barang dagangan Bayu…” kata Deni.
            “Wah ide Bagus!!” Diaz mengertii sekarang arah pemikiran adiknya yang memang cerdas, “kalau bisa bagaimana caranya supaya kotak alas lemari es ini bisa menempel pada kursi roda, jadi, Bayu bisa pergi sendiri ke pasar untuk bedagang dengan membawa sendiri barang dagangannya!”
            Mereka berpandangan dengan gembira. Tukang tukang yang bekerja di warung Mama pasti bisa mengakali ide mereka.
            Mama mengalah ketika Diaz dan Deni meminta Seorang tukangnya membuatkan kotak dari kayu di atas alas lemari es yang beroda itu serta mengaitkannya di sisi belakang kursi roda Almarhumah Nenek sehingga menyerupai gerobak kecil yang ditarik oleh kursi roda.
            Dalam sehari gerobak unik itu telah selesai, mereka memberinya cat senada dengan warna jok kursi roda. Hijau Tua.
            Diaz sangat gembira. Begitu juga Deni. Meskipun belum pernah bertemu muka dengan Bayu tapi Deni sangat mengagumi Bayu dari cerita cerita kakaknya. Suatu saat nanti ia ingin berkenalan juga dengan Bayu.
            “Kak aku ikut ya ke rumah Bayu!” pinta Deni.
            Diaz memandang Mama meminta persetujuan. Mama memperbolehkan asal mereka tidak terlalu sore kembali ke rumah.
            Diaz mendorong gerobak kursi roda itu  , sementara Deni mengayuh sepeda, mereka melakukannya bergantian sampai ke rumah Bayu.
            Bayu sedang duduk di bale bale depan rumahnya sambil mengawasi adiknya bermain ketika Diaz dan Deni datang.
            “Bayu!! Lihat nih aku bawa apa!” teriak Diaz.
            Bayu beringsut turun dari bale bale reotnya.Matanya berbinar melihat gerobak mini dengan kursi roda di depannya. Di bagian belakang gerobak kecil itu ada tulisan “Bayu” tertulis dari Cat berwarna putih.
            “Ini Deni adikku…”kata Diaz memperkenalkan Deni,”Dia yang punya ide merakit kedua benda ini supaya kamu bisa berdagang lagi di pasar!”
            Mata Bayu berkaca kaca sambil menyalami Deni dengan pandangan berterimakasih. Ia mencoba menaiki kursi roda itu. Diaz mengajarinya cara menjalankan gerobak mini itu.
            Roda roda yang tadinya kesat sudah di olesi minyak oleh tukang yang bekerja di rumah.
            “Wah, mudah sekali!” seru Bayu, “Aku seperti mempunyai kaki dan leluasa bergerak…aku juga bisa pergi ke pasar sana dengan mudah membawa daganganku…”
            Mata anak itu berkaca kaca.
            Diaz dan Deni tersenyum haru,betapa nikmatnya bisa memberikan sedikit kebahagian kepada sahabat mereka ,Bayu.
            Terima kasih, Ya Allah….
(Kenangan pada seorang Bocah kecil tanpa lengan dan kaki pada salah satu jembatan penyebrangan di Jl Jend Sudirman,Jakarta)
           

eXTReMe Tracker