Burhan menatap taman di hadapan kami dengan mata nanar. Udara pagi ini terasa begitu dingin, menusuk tulang.
Aku merapatkan jaket, “Han,sudahlah…tidak usah dipikirkan… …”
Burhan menoleh padaku pelan pelan, “Seharusnya kita bisa menikah…”
Kutekan kepalaku dengan ujung jari yang terasa dingin. Sudah dua hari kami membicarakan tentang jalinan cinta ini.
Burhan menghela nafas pelan, “Kamu harus berjanji Rat, kamu akan baik baik saja,..menjaga kesehatanmu…seandainya mungkin aku ingin sekali selamanya berada di dekatmu. Menikahimu…”
Ah, betapa romantisnya. Telah berapa lama dari usiaku aku tak merasakan gejolak cinta seromantis dengan Burhan. Entah berapa lama.
Tapi demikian indahnya jalinan cinta ini kami sulit untuk bersatu.
“Aku akan selalu mengingatmu Rat,…”
Aku menitikkan airmata. Hari ini kami akan berpisah.
“Mbaah!!”
Tiga orang laki laki dan perempuan muda mendekati kami duduk. Yang satu menangis memeluk Burhan yang juga menitikkan airmata.
Jadi Burhan akan dijemput Oleh cicitnya setelah sekian lama berdiam di sini.
Seorang dari mereka menoleh ke arahku sambil mengangguk ragu.
Kenapa? Kalian aneh melihat kekasih Mbah Buyutmu ini? Begitu rentanya, duduk di atas kursi roda.
“Ini Mbah Ratini…” kata Burhan sambil menatapku dengan mata berair.
Lalu anak anak muda itu mendorong kursi roda Burhan menjauh. Meninggalkanku terpekur menatapnya sampai menghilang di pintu pagar panti werda tempat kami bertemu dan saling jatuh cinta. Di usiaku yang sembilan puluh delapan tahun ini. (216 words)
