Suara Pensil Marina

MY FLASH FICTIONFebruary 3, 2007 4:27 pm

Burhan menatap taman di hadapan kami dengan mata nanar. Udara pagi ini terasa begitu dingin, menusuk tulang.

            Aku merapatkan jaket, “Han,sudahlah…tidak usah dipikirkan… …”

            Burhan menoleh padaku pelan pelan, “Seharusnya kita bisa menikah…”

            Kutekan kepalaku dengan  ujung jari yang terasa dingin. Sudah dua hari kami membicarakan tentang jalinan cinta ini.

            Burhan menghela nafas pelan, “Kamu harus berjanji Rat, kamu akan baik baik saja,..menjaga kesehatanmu…seandainya mungkin aku ingin sekali selamanya berada di dekatmu. Menikahimu…”

            Ah, betapa romantisnya. Telah berapa lama dari usiaku aku tak merasakan gejolak cinta seromantis dengan Burhan. Entah berapa lama.

            Tapi demikian indahnya jalinan cinta ini kami sulit untuk bersatu.

            “Aku akan selalu mengingatmu Rat,…”

            Aku menitikkan airmata. Hari ini kami akan berpisah.

            “Mbaah!!” 

            Tiga orang laki laki dan perempuan muda mendekati kami duduk. Yang satu menangis memeluk Burhan yang juga menitikkan airmata.

            Jadi Burhan akan dijemput Oleh cicitnya setelah sekian lama berdiam di sini.

            Seorang dari mereka menoleh ke arahku sambil mengangguk ragu.

            Kenapa? Kalian aneh melihat kekasih Mbah Buyutmu ini? Begitu rentanya, duduk di atas kursi roda.

            “Ini Mbah Ratini…” kata Burhan sambil menatapku dengan mata berair.

            Lalu anak anak muda itu mendorong kursi roda Burhan menjauh. Meninggalkanku terpekur menatapnya sampai menghilang di pintu pagar panti werda tempat kami bertemu dan saling jatuh cinta. Di usiaku yang sembilan puluh delapan tahun ini. (216 words)

MY FLASH FICTIONJanuary 25, 2007 3:13 am

“Memang kenapa sih Bu? “

“Pokoknya kamu nggak boleh main lagi ke rumah Ricky. Ibu Nggak suka! Titik!”

“Iyaa tapi kenapa? Ricky kan baik. Dia selalu mau jagain aku, setiap hari!”

Meira menatap anaknya dengan tatapan marah. Luna ,yang diajak bicara malah melengos dan berjalan menjauh. Meira berdiri dan mengejarnya.

“Hei! Ibu belum selesai!” teriak Meira gemas.

“Pokoknya Ricky baik! Ibu nggak tau sih!” Luna berhenti dan memandang ibunya marah.

 Ia duduk dengan kesal.Kenapa Ibu nggak ngerti sih. Ricky itu cowok yang paling baik yang dikenalnya. Dewasa dan pengertian. Setiap sore ia selalu siap di halaman menunggu Ricky pulang kuliah. Lalu cowok ganteng itu akan menyapanya dengan sayang, dengan gemas dan dengan matanya yang bagus itu. Ketika malam datang, ia sering memimpikan cowok tetangga sebelah itu.

“Bu, tau nggak sih. Ricky itu selalu bilang aku cantik! “

Luna menerawang…karena itulah ia sekarang rajin bersolek.

Ketika Luna kembali berdiri dan siap siap untuk pergi,Meira menangkap lengan putrinya lalu menariknya ke kursi. Di dudukkannya gadis cilik itu. Luna menjulurkan kakinya dengan sebal dan membiarkan Ibunya memasang kaus kaki pink itu.

“Kamu itu baru kelas satu sekolah dasar! Seharusnya juga memanggil Ricky itu dengan Oom! Oom Ricky mau ujian skripsi, kamu jangan ganggu dia terus!”

Luna menghentakkan kakinya kesal.

“Dan satu lagi,jangan suka pakai Lipstick Mama! Kamu masih kecil!” (216 words)

MY FLASH FICTIONJanuary 18, 2007 2:00 pm

Aku menatapnya penuh tanda tanya. Sepagi ini sahabatku ini sudah termenung-menung saat berjemur di bawah sinar Matahari pagi. “Kenapa sih?” tanyaku

Ia menoleh dengan mata sayu,”Aku tidak tahan hidup seperti ini. Harga diriku seakan tak berarti…”

“Masih soal itu?” Ia mengangguk sambil menggoyang goyangkan tubuhnya.

“Keluarga Dedi keterlaluan. Aku tertindas, terinjak injak. Mereka tidak mengerti perasaanku!” katanya serak menahan tangis, lalu menoleh padaku “ Memangnya kamu nggak?”

“Aku juga. Sama dengan kamu. Malah aku lebih parah kan? Yang lebih sering menindas dan menginjak harga diriku malahan pembantunya Dedi…lebih sakit kan” kataku menerawang. Teringat Wajah Si Tinem yang sok cakep dan belagu serta selalu saja memandang rendah aku.

“Aku lebih parah kan? Lihat nih rupaku nggak karuan begini, masih bagus rupamu! Tapi aku sudah biasa….Itu namanya Takdir” kataku lagi.

“Tineeemm!!!” Kami terkejut karena tiba tiba Ibunya Dedi sudah berada di dekat kami.

“Ini keset keset kaki sudah kering! Letakkan lagi di tempatnya! Dan ini keset dapur buang saja sudah compang camping begini!!”

Tinem datang tergopoh gopoh. Aku menatap temanku sedih.

“Iya Nyah! Saya buang deh!” Tinem merenggutku dari tali jemuran dan melemparkanku tanpa perasaan ke tempat sampah yang bau. Sebau badanku. Tapi lebih bau lagi.

Aku masih sempat melihat sahabatku si keset kaki teras depan menitikkan airmatanya.

Setidaknya kini tak ada lagi yang mau menginjak injak aku. (216 words)

MY FLASH FICTIONJanuary 12, 2007 8:28 am

“Laki Laki itu memang biadab!” mata Laela menyalang, “Masa istri sedang hamil tiga bulan dia selingkuh!”

            Titin yang sejak tadi mendengarkan ikut menahan emosi, “Memangnya istrinya memergokinya selingkuh?”

            Laela mengetuk meja agak keras, “itu dia Tin! Si Rahman sendiri yang mengaku ke istrinya kalau dia punya pacar di luar dan berniat menikahi perempuan itu! Katanya hubungannya dengan perempuan bernama Iyem itu sudah berjalan enam bulan, semenjak Rahman sering datang ke warung nasi emaknya si Iyem untuk menyetok kerupuk!”

            “Titin menggeleng gelengkan kepalanya . Tidak habis pikir . Apakah memang ada laki laki sekejam Rahman?

            “Padahal istrinya Si Rahman itu baiknya bukan main…sholehah, pintar masak. Tapi memang ia nggak kenes seperti si Iyem!”

            “Lalu istrinya bagaimana waktu tau suaminya selingkuh?”

            “Yaa, istrinya nggak setuju lah. Mana ada sih perempuan yang mau di madu! Cuma perempuan munafik aja yang bisa bilang rela di madu. Iya kan,Tin?”

            Titin mengangguk setuju.

            “Rahman memaki maki istrinya waktu istrinya itu bilang ia keberatan suaminya menikah lagi. Lagipula hidup mereka susah. Anak sudah tiga, sedangkan penghasilan Rahman Cuma dari berdagang kerupuk putih!”

            “Lalu?”

            “Sepertinya si istri ini berniat menemui Iyem, untuk memberitahu Iyem bahwa Rahman itu lelaki beranak tiga dan berisitri yang sedang mengandung! Soalnya Si Rahman itu ngaku ke Iyem perjaka!”

            “Seru juga ya, La…Ngomong ngomong yang berperan sebagai Rahman siapa?”

            “Tora Sudiro…”  (216 word)

MY FLASH FICTION 8:27 am

 

Sudah kukatakan ,Ayah, tolong jangan ganggu aku saat ini. Aku sedang berkonsentrasi pada pekerjaan. Banyak di kepalaku yang belum kutuangkan . Aku perlu banyak berfikir  agar ceritaku menjadi seirama dan masuk akal dengan kalimat kalimat yang teratur dan menyentuh.
            Setiap kali aku bekerja, aku menunggu anak anakku terlelap agar konsentrasiku tidak buyar oleh celoteh dan rengekan mereka. Ayah lihat kan? Aku  butuh ketenangan.
            Tapi Ayah selalu saja menggangguku. Aku tidak bisa bekerja penuh kalau Ayah menungguiku seperti ini. Baiklah, aku tahu Ayah sayang padaku. Makanya kau ingin menemaniku bekerja dan duduk di ruang kerjaku.
            Dan, meskipun Ayah tidak bicara dan hanya duduk tenang melihatku, tetapi sebagai seorang penulis seperti aku, aku tidak bisa bekerja dalam pengawasan seperti itu.
            Aku kan bukan anak kecil lagi yang harus ditemani saat belajar. Aku sudah punya dua putra lho,Yah!
            Aku akan membiarkanmu membaca surat ini, sebab walaupun berkali kali kukatakan secara lisan bahwa aku tidak ingin ditunggui tetapi Ayah tetap tidak mau mengerti.
            Anakmu bekerja untuk menghasilkan cerita cerita yang dapat dinikmati semua orang. Ayah kan tau itu.
            Terus terang aku agak kecewa pada sikap Ayah ini. Semoga Ayah dapat mengerti maksudku.

 

            Liana menekan tombol shutdown pada komputernya. Meninggalkan surat itu di meja sambil melirik pada Almarhum Ayahnya yang selalu datang dan duduk di kursi sudut ruang kerjanya setiap malam. (216 words)

eXTReMe Tracker